MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Gimana ntar aja!



Hei, maaf yah kemaren nggak up. Mama Mertuaku masuk RS, hari ini aja masih di rawat. Aku baru banget pulang gantian jaga sama bapak mertua. Do’ain beliau cepat sembuh yah biar aku bisa up rutin lagi. Btw, Aslinya sekarang aku ngantuk banget, tapi kangen Ririd. Kita corat coret dulu sebelum bobo.


.


.


.


Ditinggal Zoya berangkat kuliah, Ridwan membereskan kotak bekal dan berniat pulang tapi ia malah bertemu dengan Bang Ahmad dan teh Ismi yang baru saja keluar dari kontrakan.


“Semalem nggak pulang lo?” tanya Bang Ahmad.


“Lembur, Bang. Majikan minta anter ke luar kota, baru pulang tadi subuh.” Jawab Ridwan sekenanya.


“Oh. Lo nggak bilang ke Neng Zoya apa kalo lembur? Dia nungguin sampe sampe jam sepuluh gue liat masih keluar masuk kontrakan.”


“HP lowbat, Bang. Jadi nggak bisa ngabarin.” Jawabnya jujur.


“Lain kali kasih kabar. Kasihan sepupu kamu! Yang namanya nungguin orang yang kerjanya nyupir kan campur aduk, takut kenapa-kenapa.” Timpal teh Ismi.


“Iya teh, siap.”


“Btw, hari ini nggak kerja?” teh Ismi melirik mobil mewah yang terparkir di depan kontrakan.


“Nggak, teh. Minggu libur, bos nggak kemana-mana.”


“Kalo gitu anterin teteh belanja keperluan bayi, masih ada yang kurang beberapa.” Pinta Teh Ismi, “belum pernah nih naik mobil mahal, biasa Cuma naik angkot. Paling banter taksi online juga mobilnya dapat Ay la.” Lanjutnya.


Ridwan mengambil kunci mobilnya dan memberikannya pada Bang Ahmad. “sama Bang Ahmad aja yah teh.”


“Gue nggak bisa bawa mobil. Lo supirin yah! Inget waktu itu udah janji loh.” Tolak Bang Ahmad.


“Cepetan! Anak aku ntar ngiler nih.” Seru Teh Ismi seraya menarik Ridwan.


“Ya udah ayo.” Jawab Ridwan. Sialnya hari ini dia benar-benar menjadi supir untuk tetangga kontrakan, mereka layaknya tuan dan nyonya yang duduk di belakang dengan santai sambil memberikan instruksi kemana ia harus pergi.


Ridwan kira kedua tetangganya itu tak akan menghabiskan waktu luangnya, berharap hanya sejam atau dua jam malah bablas sampai sore. Yang dibeli memang tak banyak tapi karena terus berpindah-pindah toko dengan alasan mencari harga lebih dulu membuat mereka menghabiskan waktu lama. Ternyata tak ada bedanya mengantar perempuan belanja itu selalu menghabiskan waktu, kecuali Zoya tentunya. Bagi Ridwan, Zoya termasuk perempuan paling sat set saat belanja, bahkan sebelum pergi saja gadis itu sudah membuat list barang yang akan dibeli. Paling mentok hanya mengganti beberapa produk yang ada di list dengan produk lain yang sama jika ada diskon.


“Makasih yah. Ini buat ganti bensin.” Teh Ismi memberikan uang seratus ribu yang langsung dimasukan ke saku baju Ridwan, “nggak usah kembalian.” Lanjutnya kemudian masuk ke kontrakan.


Ridwan melihat jam di ponselnya, sudah menunjukan pukul dua siang, seharusnya Zoya sudah kembali ke kontrakan tapi pintu masih terkunci rapat.


Ridwan masuk ke dalam kontrakan Zoya dengan kunci cadangan miiliknya. Ia sudah menghubungi berulang kali bahkan mengirim pesan tapi tak ada jawaban, pesannya hanya contreng biru dua garis tanpa di balas.


Sambil menunggu Zoya pulang, Ridwan memasak untuk makan malam gadis itu. Orak arik telur dicampur kol dan wortel, ditambah saus tiram, kecap asin, saus tomat dan kaldu jamur secukupnya. Menurutnya menu baru ciptaannya ini lumayan enak, hasil browsing internet tadi. Disana disarankan membawa pasangan yang sedang marah ke restoran untuk makan malam romantic, tapi bagi Ridwan hal itu terlalu biasa. Membuat makanan langsung untuk orang yang ia sayangi akan lebih bermakna dari pada membeli di restaurant.


“KinderZoy pasti bangga nih gue bisa masak menu baru.” Ucapnya setelah mencicipi masakannya sendiri.


Tepat setelah ia selesai mencuci peralatan masak, Zoya kembali dengan paper bag pink di tangannya. “Masih disini?”


“Masih lah, kan nungguin calon istri pulang. Kemana aja sih jam segini baru pulang hm? Gue telepon nggak diangkat, chat nggak dibales juga.”


“Main.” Jawab Zoya seraya mengeluarkan boneka kecil berwarna pink. Dia memeluk erat boneka itu, “gemes banget sih.” Gumamnya tapi masih bisa terdengar jelas oleh Ridwan.


“Main sama siapa?” tanya Ridwan, “Gilang?” tebaknya kemudian.


Zoya tak menjawab. Ia masih asik dengan benda lucu di pelukannya.


Ridwan menarik paksa boneka pink itu dari pelukan Zoya. “Buang! Gue beliin yang lebih bagus, lebih besar, lebih lembut juga nanti.”


“Nggak! Besok gue beliin yang baru. Lo nggak boleh nerima apa pun dari Gilang. Lo kalo mau apa-apa tinggal bilang ke gue.”


Perkara boneka yang diambil paksa membuat Zoya semakin kesal pada Ridwan. Bagaimana tidak? Boneka itu ia beli dengan harga lumayan mahal untuk kado pada Raizel yang ulang tahun besok. Rencana mau dibungkus secantik mungkin malah dibawa kabur oleh Ridwan. Zoya tak tau nasib boneka lucunya kini, mungkin sudah berakhir di tempat sampah. Sampai berangkat kerja pun mood Zoya jadi ambyar karena harus menggeluarkan double anggaran untuk kado. Sampai setengah hari Zoya benar-benar tak merespon panggilan Ridwan yang memintanya ke untuk datang ke ruangannya. Bahkan saat Mikayla datang memanggilnya saja ia hanya mengiyakan tanpa pergi ke ruangan Ridwan, hingga akhirnya Ridwan sendiri yang mengunjungi ruangan Zoya.


Semua orang berdiri dan mengangguk penuh hormat saat Ridwan memasuki ruangan, tak terkecuali dengan Gilang. Ia mulai bisa menerima jika untuk bersaing dengan Ridwan tak akan mudah, terlebih Zoya semakin menjauh darinya.


“Lanjutkan pekerjaan kalian, saya ada perlu dengan Zoya.” ucap Ridwan seraya menghampiri meja Zoya dan meletakan sebuah kotak putih dengan ukuran cukup besar.


“Pake buat nanti malem, jam tujuh gue jemput.” Ucapnya lirih kemudian berlalu pergi.


Setelah Ridwan pergi, Sisil langsung beranjak ke meja Zoya dan kepo akan apa yang baru saja diterima rekan kerjanya. “Gue boleh lihat yah, Zoy?” izinnya yang langsung membuka kotak sebelum pemiliknya menjawab.


“Gila cantik banget.” Mata sisil berbinar melihat gaun, sepatu dan tas cantik di dalam sana.


“Zoy, kalo udah jadi nyonya Ridwan jangan sampe lupa sama gue yah.” Lanjutnya.


“Apaan sih ngawur!” jawab Zoya. “Gue sadar diri kali, Sil.” Lanjutnya.


“Nggak! Nggak! Nggak! Gue mau hari ini lo menolak sadar, Zoy. Liat deh! Bajunya cakep banget, tas sama sepatunya juga cantik. Gue tebak Pak Ridwan pasti mau ngelamar lo deh.” Ucap Sisil penuh semangat.


Pulang kerja Ridwan langsung bersiap-siap supaya tak telat menjemput Zoya. Mami nya yang minta berangkat bersama ke rumah Raizel saja ia tolak.


“Awas kamu kalo sampe telat! Mama mau ngenalin kamu ke temennya Jeli. Dia cocok jadi istri kamu, mami udah klop banget."


"Kalo Mami udah klop ya udah mami aja yang nikah sama dia. Aku udah punya calon sendiri!” jawab Ridwan kemudian berlalu pergi meski mami nya masih misuh-misuh di belakang sana.


Ridwan memacu mobilnya ke kontrakan Zoya. Ia membawa serta cincin yang sudah ia beli kemarin untuk mengikat gadis itu sebagai calon istrinya secara resmi. Siang tadi ia sudah menerima banyak pelajaran dari Mikayla terkait cara menyenangkan pasangan, katanya pernyataan itu penting. Baju, sepatu dan tas yang cantik juga penting untuk wanita. Jadilah siang tadi ia mendadak memesan baju dan lainnya untuk Zoya sesuai rekomendari Mikayla.


“Gue ngomongnya gimana yah ntar?” gumam Ridwan.


“KinderZoy, nikah yuk!”


“Ah nggak! Kalo yang itu kemaren aja gagal malah dianggap bercanda.”


“KinderZoy, mau yah jadi istri gue? Pokoknya harus mau!”


“Tapi kalo kayak gitu kesannya maksa banget.”


“Masa iya gue harus bilang will you marry me? Ah terlalu lebay.” Ridwan menggelengkan kepala, membayangkannya saja ia tak kuat.


“Ah bodo amat! Gimana ntar aja!”


.


.


.


.


Nggak sabar yah Ririd, EnZoy sama mamjes ketemu?


Sama aku juga.


Next part yah semoga mereka ketemu. Tinggalin jejaknya dulu sebelum lanjut!