MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Kecewa



Zoya kembali ke ruangannya dengan mulut komat-kamit tanpa suara. Ia lantas duduk di kubikelnya dan melanjutkan pekerjaan yang ia tinggal tadi. Suasana ruangan sedang kosong karena semua anggota tengah pergi ke kantin untuk makan siang. Sementara dirinya sudah curi start makan siang lebih dulu tadi.


“Ini udah, ini udah juga. Sip lah udah oke laporan aku.” Ucap Zoya dengan jari tengah yang terus mencscroll laporan yang ia baca ulang.


Tak mau waktu luangnya terbuang sia-sia, Zoya mengirim pesan pada para pelanggannya. Tentu saja ia memberikan katalog baru serta produk-produk yang menurutnya rekomended. Semenjak kerja dan patner kontrakannya menjelma jadi bos, Zoya mulai menggunakan metode pemasaran baru untuk produknya. Larangan menjual produk loveware di market place karena dirinya tak punya official tak membuatnya patah semangat. Ia meniru cara tim marketing dalam pemasaran hanya dalam skala kecil. Jika tim marketingnya punya market place official, Zoya membentuk WA grup khusus pelanggan-pelanggan setia yang ia golongkan dengan berbagai kelompok. Ada kelompok emak sosialita yang beranggotakan pelanggan VIP dimana mereka selalu membeli produk-produk yang mahal demi terlihat uwow. Ada pula grup mahmud berisikan ibu muda yang baru merintis rumah tangga dengan ekonomi pas-pasaan dimana Zoya akan merekomdasikan produk rumah tangga standar dengan cara angsuran. Ada juga grup bocil takut emak berisikan anak-anak yang langganan menghilangkan tutup loveware hingga di marahi ibunya, disini juga menggunakan system kresdit dengan angsuran murah meski jumlah angsurannya lebih banyak. Menurut Zoya dengan cara ini membuat pekerjaannya lebih efektif dan efisien. Pulang kerja ia hanya perlu packing barang dan mengirimnya via kurir, ia tak perlu cape-cape lagi keliling mencari pelanggan. Meskipun hasilnya tak sebanyak saat dirinya keliling tapi cukup lumayan untuk sampingan.


“HP mulu! gue di kantin lama tapi lo nggak keliatan, udah makan?” tanya Sisil yang baru saja kembali bersama Gilang dan Romi.


“Mau gue beliin makanan ke kantin, Zoy? Waktu istirahat udah habis sih tapi cemal cemil boleh kok.” Tawar Gilang.


“Nggak usah, A. Makasih, aku udah makan tadi.” Jawab Zoya.


“Makan apa lo, Zoy? Di kantin kagak keliatan, makan angin lo?” timpal Romi.


“Masuk angin dong akunya kalo makan angin. A Romi ada-ada aja. Aku udah makan sama Mas Ridwan tadi, dia bawain aku bekal lagi.” Jawab Zoya.


“Cie Mas…” Ledek Romi yang langsung mendapat sikutan dari Gilang.


“Maksud aku Pak Ridwan.” Ralat Zoya.


“Disini gue mencium bau-bau gosong.” Sindir Romi. Sontak Sisil melirik ke arah Gilang. Ia tau betul lelaki itu menaruh hati pada Zoya, meski tak pernah terang-terangan berkata tapi sikap dan perhatian yang diberikan tak bisa ditutupi.


“Masa sih? Aku nggak nyium bau apa-apa tuh A.” Zoya mengendus udara di sekitarnya dalam-dalam. “A Gilang nyium bau gosong juga? Kalo aku nggak.” Lanjutnya pada Gilang.


“Nggak.” Jawab Gilang. “Udah focus kerja lagi aja, jangan dengerin omongan mereka. Ngawur.”


Zoya mengangguk dan kembali menekuni pekerjaannya. Tak lama ketua tim mereka datang, Mba Rika menugaskan dua orang untuk pergi ke counter mereka di beberapa mall guna mengambil laporan penjualan untuk dibahas dalam rapat mendatang.


“Gilang, kamu ada kerjaan lain yang harus kamu handle. Nanti di bantu sama Sisil. Yang ngambil rekap penjualan Zoya sama Romi aja.”


“Siap, Mba.” Jawab Romi, ia memang paling suka bekerja di luar kantor bisa sekalian jalan-jalan. “Ready, Zoy?” lanjutnya pada Zoya penuh semangat.


“Ready banget.” Balas Zoya tak kalah semangat. “Sisil, aku pergi dulu yah. A Gilang juga, aku pamit.” Ucapnya sebelum berlalu pergi.


Gilang mengangguk meski terpaksa, dalam hatinya kecewa berat. Kenapa kini kakaknya seolah menutup mata padanya? Padahal dia tau betul jika dirinya mengejar Zoya. Tapi saudaranya malah terkesan sengaja menjauhkannya.


“Gilang, heloooo!” Sisil menaik turunkan telapak tangannya di depan wajah Gilang. “malah ngelamun! Ayo buruan kerjain ini.” Lanjutnya.


Berbeda dengan Gilang yang menjalani pekerjaannya dengan setengah hati, Zoya dan Romi justru semangat empat lima mengunjungi satu persatu counter yang tersebar di beberapa Mall. Mereka tim sat set sat set supaya cepat selesai, pasalnya mereka diperbolehkan langsung pulang jika sudah selesai dan melaporkan hasil pekerjaan mereka esok hari.


.


.


.


Tahan!


Like sama komen dulu sebelum lanjut gaes!


Semangatin dulu Aa Gilang, aku nggak tega loh kalo dia sedih gitu.