MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Hilang



Romi ingin segera menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa pulang lebih awal karena hari ini pacarnya ulang tahun. Baginya harus bekerja sama dengan Zoya sangat menguntungkan, gadis itu bukan tipikal manja dan lambat dalam melakukan perkerjaan. Jika dibandingkan dengan Sisil, Romi lebih memilih Zoya. Sisil itu kalo tugas luar selalu banyak cing cong, kebanyak mampir-mampir, ingin ini itu yang menyebabkan waktu banyak terbuang. Sementara dengan Zoya, makan pun bisa di skip dan mengutamakan tugas lebih dulu.


“Mall terakhir. Semangat, Zoy!” ucap Romi sebelum mereka turun.


“Semangat, A. Biar cepet pulang.” Jawab Zoya.


Akhirnya, selesai juga mereka dengan setumpuk laporan penjualan. Zoya memasukan semua berkas ke dalam tas nya. “Biar aku aja yang bawa, A Romi bisa pulang duluan. Salam buat tetehnya, selamat ulang tahun. Aku do’ain kalian bahagia terus.”


“Aamiin. Makasih, Zoy. Beneran lo nggak apa-apa nggak gue anterin pulang?”


“Nggak apa-apa, A. Aku naik ojeg aja nanti.”


“Oke kalo gitu gue duluan.” Pamit Romi dan Zoya membalasnya dengan anggukan.


Zoya melihat jam di ponselnya, belum terlalu sore. Ia memutuskan untuk membeli kebutuhan bulanan aneka sabun dan beberapa stok makanan mumpung berada di Mall. Tak banyak yang ia beli, hanya mengambil yang benar-benar susuai dengan kebutuhan. Bahkan Zoya membandingkan beberapa harga antara produk yang ukuran besar dengan yang kecil, dia akan mengambil harga yang termurah. Bahkan bisa mendadak ganti ke produk sejenis yang sedang diskon, baginya kalo ada yang murah kenapa mesti ambil yang mahal?


Zoya sedang menghitung harga cairan pembersih lantai kamar mandi lebih hemat mana antara yang kemasan kecil dengan yang besar saat sebuah tangan mungil menarik roknya hingga ia menoleh. Zoya tercengang melihat anak kecil yang sedang makan es krim tersenyum sembari menatapnya. “Ternyata bener kakak botol…” ucapnya dengan bibir yang blepotan es krim.


Zoya berjongkok menyamakan tingginya, mengambil tisu di tasnya kemudian mengelap bibir Raizel. “Kakak botol?”


“Iya, kakak yang jualan botol di taman kan? Ini Jeli loh, masa kakak lupa. Jeli yang beli botol.” Lanjutnya seraya melepaskan tas dengan susah payah.


Melihat gadis kecil di depannya kesulitan, Zoya membantu melepaskan tas Raizel. Gadis itu mengeluarkan botol yang sebelumnya ia beli dari Zoya di taman beberapa minggu lalu. “Ini loh botolnya…”


“Oh iya… iya…” jawab Zoya. Jujur, ia tak ingat sama sekali. Pasalnya banyak anak kecil yang ia rayu hingga membeli produk jualannya.


“Kamu kesini sama siapa? Mama nya mana?” tanya Zoya.


“Jeli sama Oma, tapi Oma nya ilang. Ini Jeli lagi nyari Oma.” Jawab Raizel. “Nanti anter Jeli ke tempat yang buat halo-halo yah, Kak. Jeli mau laporan kalo Oma Jeli ilang, ntar kan di halo-halo sama bapak-bapak yang jaga. Kata Om Malaikat kalo Jeli pergi ke Mall terus kepisah nggak boleh panik tinggal nyari tempat halo-halo aja.” Lanjutnya.


“Anak pinter, kalo gitu kakak antar ke tempat bikin pengumuman yah.” Ucap Zoya.


“Iya, kakak. Tapi nanti dulu, Jeli masih pengen jajan. Sekalian bayarin yah, nanti di ganti sama Oma nya Jeli.”


“Ambil aja apa yang Jeli mau, biar kakak yang bayar.” Jawab Zoya seraya mengusak gemas rambut gadis pintar di hadapannya.


Sementara itu di lantai satu Mami Jesi sedang ketar ketir karena cucunya hilang. Bukan menghampiri pusat informasi untuk meminta bantuan, Mami Jesi justru panik bukan main dan menghubungi suaminya. "Karam, cepetan kesini. Jeli hilang.”


“Bibi gimana sih saya titip Jeli kok malah ditinggalin! Gimana ini cucu saya ilang.” Gerutunya pada asisten rumah tangga.


"Maaf, Bu. Tadi saya ke toilet, Non Jeli juga ikut. Saya suruh tunggu di depan pintu eh pas saya keluar sudah tidak ada. Saya benar-benar minta maaf, Bu.”


“Udah nggak apa-apa, kita cari Jeli sekarang. Pasti masih di sekitar sini. Saya ke lantai dua, bibi lantai tiga.” Setelah memberi istruksi, Mami Jesi lantas pergi mencari cucu ceriwis kesayangannya. Akibat terlalu focus mengikuti Lea, ia sampai harus kehilangan Jeli. Mami Jesi meniupkan udara ke atas hingga poninya turun naik terkena hembusan udara.


“Ngeselin banget sih hari ini! Udah punya calon mantu nggak ada akhlak, eh sekarang Jeli malah nggak tau kemana. Pantesan si Ririd lebih milih minggat dari pada nikah.” Gumamnya begitu geram.


“Jeli sayang… kamu dimana sih?”


.


.


.


Gimana lanjut nggak nih?


Like sama komen dulu dong kan udah double up.