MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Kacau



“Mas Ridwan nih nyasar kemana sih? Sekarang jam sebelas loh, baru pulang.” Tanya Zoya yang setengah mati berusaha bersikap biasa saja setelah melepaskan pelukan Ridwan. Sementara orang yang membuat jantungan berdegum tak karuan malah dengan santai pergi ke dapur dan kembali dengan membawa segelas air putih.


“Nyasar jauh deh pokoknya, cape banget sampe haus.” Jawabnya asal. “Gimana hari pertama kerja? Happy?” tanyanya kemudian.


“Happy lah. Kepala tim marketing nya kan kakaknya A Gilang. Aku satu tim sama A Gilang juga, jadi udah pada kenal yah baik-baik.”


“Oh syukur deh kalo gitu. Tidur gih udah malem, besok lo kerja kan? Takutnya telat.” Ridwan sudah lebih dulu menata bantal dan berbaring di samping kasur Zoya.


“Mas Ridwan jangan tidur dulu lah!”


“Kenapa? Kangen yah seharian nggak liat gue.” Ledek Ridwan.


“Nggak, bukan itu.” Bantah Zoya, padahal jauh dilubuk hatinya memang masih ingin berbicara banyak dengan Ridwan.


“Mas Ridwan belum setor! Mana uangnya? Jangan pura-pura lupa deh.” Lanjutnya.


“Elah berati lo tadi hampir mewek bukan khawatir gue pulang telat tapi nangisin duit gitu? Ampun dah.” Gerutu Ridwan sambil mengeluarkan uang yang sudah ia siapkan sebelum pergi tadi.


“Tuh, dapat bonus. Lo pasti seneng kan?”


“Banyak banget Mas.” Zoya menghitung uangnya. Matanya mulai menelisik curiga pada Ridwan, “dari hasil jualan aja kan bukan yang lain?”


“Iya jualan lah, Kinderzoy! Emangnya gue mau ngapain lagi? Heran deh dapat duit banyak dicurigain, nggak dapat duit dimarahin.” Cibir Ridwan.


“Bukan gitu Mas. Takutnya uang sebanyak ini hasil pura-pura jadi cowok temen aku.” Tuduh Zoya. Ia ingat betul kemarin Ridwan sempat membicarakan hal itu.


“Jujur! Mana pulang-pulang Mas Ridwan wangi banget pula.” Zoya sungguh curiga. Pasalnya Ridwan kan ia belikan parfum bahkan selama ini tak memakai parfum, kenapa hari ini ia begitu wangi. Bahkan wanginya berbeda, hidung Zoya saja bisa menebak jika wangi itu berasal dari parfum mahal.


“Cemburu lo?” ledek Ridwan.


“Nggak, bodo amat! Mas Ridwan kan bukan siapa-siapanya aku.” Ketus Zoya.


“Ya udah kalo gitu jadiin siapa-siapanya lo dong.” Ledeknya lagi. “Nggak usah manyun, ini parfum sampel dari yang jualan tadi, tuh orang asal semprot aja. Wanginya enak yah? Lo suka? Mau coba cium wanginya lagi? Sini reka ulang.” Lanjutnya seraya meregangkan tangan bersiap memeluk.


“Nggak usah, makasih. Tidur udah malem!” Zoya segera meringkuk di kasurnya. Tubuhnya ia selimuti sampai menutup kepala.


“HP nya di cas Mas sebelum tidur, kalo nyasar lagi besok bisa telpon aku.” Lanjutnya lirih.


“Hm.” Jawab Ridwan pelan. Ia benar-benar menuruti perintah Zoya sebelum terlelap.


Pagi harinya seperti biasa Ridwan melakukan tugas rutin bersih-bersih dan masak. Hanya saja jika biasanya Zoya pergi kerja ia juga akan pergi jualan, kini saat Zoya pergi dirinya buru-buru pulang ke rumah dengan membawa aneka dagangan. Sampai indoapril ia langsung membuka bagasi dan memasukan barang jualannya. Sebelum melajukan mobilnya Ridwan memeriksa ponsel baru pemberian mami nya kemarin, sudah lengkap dengan nomor lama yang ia diaktivasi ulang. Puluhan chat dan panggilan tak terjawab dari mami nya ada di sana.


“Otw pulang, Mi. Semalem ketiduran di kosan Davin.” Jawabnya berbohong, kemudian mengakhiri panggilan dari mami nya.


Ridwan menghela nafas Panjang, “ribet banget hidup gue sekarang.” Gumamnya.


Sampai rumah Ridwan langsung bergabung sarapan. Mood nya langsung anjlog melihat Lea juga ada di sana.


“Pagi Kak…” sapanya dengan manis.


“Pagi.” Jawab Ridwan sekenanya.


“Calon istri kamu mau buka butik loh, keren kan? Mandiri banget dia sampe sibuk semalaman.” Lanjutnya.


“Oh…” Ridwan hanya mengangguk acuh, dia memilih segera menghabiskan sarapannya. “mandiri sampe sibuk semalaman, paling juga sibuk ngamer sama cowok.” Batin Ridwan seraya melirik sinis pada Lea yang justru membalasnya dengan senyuman manis ala-ala cewek lugu.


“Kak Ridwan mau aku ambilin lagi makannya? Atau mau aku bikini jus jeruk?” tawar Lea.


“Nggak, makasih. Aku udah selesai sarapan Pi, Mi. Aku ke kamar dulu.” Pamit Ridwan.


“Jangan lama-lama, Rid. Anterin Lea ke butiknya.” Ucap Mami Jesi.


“Maaf, Mi. Nggak bisa, aku sibuk.” Jawabnya kemudian berlalu pergi.


“Haduh… maafin Ridwan yah sayang, dia nggak bisa nganterin kamu.” Ucap Mami Jesi pada calon menantunya.


“Nggak apa-apa, Mi. Kak Ridwan pasti sibuk karena hari ini mulai kerja di kantor Papi kan?”


“Iya, sayang. Beruntung banget Ridwan punya calon istri seperti kamu, pengertian. Makasih yah udah selalu sabar ngadepin anak mami yang cueknya minta ampun.”


Sesuai kesepakatannya dengan sang Papi, pagi ini Ridwan pergi ke perusahaan. Tak ingin buru-buru bertemu Zoya dirinya mengikuti Papi Rama yang menggunakan lift khusus direktur. “Lain kali kita lewat pintu utama sambil nyapa karyawan. Hari ini pake lift khusus aja yang deket dari parkiran, Papi ada meeting pagi ini sama semua kepala bagian. Nanti Papi sekalian kenalin kamu ke mereka.”


Ridwan hanya mengangguk setuju.


Hari pertama kerja yang seharusnya digunakan oleh Ridwan untuk mempelajari berkas-berkas yang sudah Papi Rama siapkan, tapi alih-alih berada di ruangnya Ridwan justru pergi ke ruang keamanan untuk meminta akses CCTV setiap ruangan.


“KinderZoy nya gue emang karyawan panutan.” Puji Ridwan saat melihat Zoya focus dengan komputernya sementara teman-temannya nampak asik berkumpul di meja bundar, entah membicarakan apa tapi terlihat begitu antusias dan heboh.


Malam harinya Ridwan kembali ke kontrakan Zoya. Seperti biasa gadis itu menadahkan tangan minta setoran hasil jualan hari ini.


“Wah Alhamdulillah makin hari Mas Ridwan makin pinter jualannya. Banyak banget ini, bisa cepet kaya aku kalo kayak gini terus.” Ucap Zoya.


“Uangnya bagus-bagus banget ini dapat jualan di komplek mana Mas? kayaknya sultan semua yah yang beli? Uangnya kagak ada lecek-leceknya sama sekali.” Lanjutnya.


“Iya komplek sultan. Belinya pada Borongan. Gimana kerjanya hari ini? Seru?” tanya Ridwan.


“Hari ini perusahaan kacau Mas.”


“Kacau?”


“Iya kacau. Karyawan cewek pada geger gara-gara Mba Rika kan tadi pagi abis meeting sama Pak Darmawan. Nah katanya ada anaknya ikut, orangnya tinggi, ganteng. Semua jadi pada kepo sama anaknya Pak Darmawan. Sampe pada dandan mulu katanya kali aja anaknya Pak Darmawan keliling ke ruangan kita.” Jelas Zoya.


“Aku juga sebenernya penasaran sih seganteng apa anaknya Pak Darmawan sampe mba Rika seterpesona itu. Sampe katanya kalo aja Mba Rika belum nikah, mau banget deh daftar jadi calon mantunya Pak Darmawan. Kira-kira seganteng apa sih yah, Mas?” Lanjutnya.


“Seganteng gue lah, Zoy. Kalo lo penasaran sama anaknya Pak Darmawan tinggal liat gue aja nih!”


“Hih! Orang serius malah bercanda. Habisin aja makanannya terus cuci piring!” ketus Zoya.


“Ya ampun Zoy, lo berani yah nyuruh anaknya pak Darmawan cuci piring.” Jawab Ridwan sambil tertawa.


Zoya memutar kedua bola matanya, jengah. “Kalo Mas Ridwan anaknya Pak Darmawan berarti aku anaknya presiden.” Ejek Zoya. “Khayalan Mas Ridwan tuh nggak kira-kira.” Cibirnya kemudian.