MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Caper



"Sekalian pesenin buat aku juga, Zoy.” Ucap Gilang yang baru saja datang. Saat itu Zoya sedang melihat buku menu dengan seorang pelayan di samping meja mereka.


“Belum pesen, A. aku masih pilih-pilih nih.” Zoya melihat aneka menu disana, ia lantas memberikan buku menu pada Gilang. “A Gilang aja yang pesen, aku ikut aja kayak biasa.”


“Udah kamu aja yang pesen, apa pun yang kamu mau.” Gilang mendorong kembali buku menu pada Zoya.


Ck! Ridwan berdecak keras melihat sikap keduanya yang menurutnya memuakan. Tanpa permisi ia mengambil buku menu yang masih didorong kesana-kemari oleh Gilang dan Zoya. “Ribet banget lo berdua! biar gue aja yang pesen!"


"Mau yang ini, ini, ini sama ini.” Ridwan menunjuk banyak menu yang seketika membuat Zoya menginjak kakinya.


“Aw sakit Kinderzoy!”


Zoya tak peduli, ia mengambil buku menu dan meralat pesanan yang dibuat Ridwan. “nggak jadi pesen itu mba, kebanyakan. Ini aja mba bikin tiga.” Zoya memesan menu paling murah di cafe itu. Paketan chicken steak yang dapat gratis lemon tea.


“Elah jauh-jauh ehm…” Ridwan seketika bungkam saat Zoya membungkan mulutnya.


“Nggak udah protes kan Mas Ridwan nggak bayar. Tinggal makan aja bawel. Kita tuh dibayarin, jangan pesen yang mahal-mahal.” Bisiknya kemudian.


“Iya-iya paham, udah lepasin. Engap gue susah nafas.” Ucap Ridwan.


“Maaf yah A, Mas Ridwan emang gini ngeselin.” Ucap Zoya. “Gimana kalo sambil nunggu makanannya datang kita mulai bikin lamarannya dulu?”


“Setuju.” Balas Gilang.


“Makan dulu baru bener, susah mikir kalo perut kosong. Lagian tuh makanan udah otw.” Ridwan menunjuk pelayan yang datang.


“Makasih, mba.” Seperti biasa Gilang bersikap sopan, membuat Zoya semakin kagum padanya. Hal itu juga menjadi salah satu poin penting kenapa Zoya begitu mengharmati Gilang walaupun usia mereka hanya berbeda beberapa bulan. Menurut Zoya, Gilang itu luar biasa selain baik dimata Zoya lelaki itu tak pernah absen mengucapkan kata ajaib dalam kehidupan sehari-hari. Tolong, maaf dan terimakasih, dimana banyak anak muda sekarang yang menganggap remeh hal tersebut.


Berbeda dengan Zoya dan Gilang langsung menyantap makanan mereka dengan tenang, Ridwan justru hanya menatap makananya. Ia tak menyentuhnya sama sekali, hanya meminum lemon tea gratisan yang menurutnya kurang manis.


“Kenapa nggak dimakan, Mas?” tanya Zoya.


“Ada jagungnya, gue nggak suka jagung.” Ridwan menunjuk campuran jagung pipil, buncis, wortel dan kacang polong di hot plate nya.


“Kayak bocah TK aja makan pilih-pilih. Kalo nggak suka ya udah nggak usah makan.” Sindir Gilang.


“Gue mau pesen yang lain aja!” ketus Ridwan yang hendak memanggil pelayan.


Ish! Zoya mendelik kesal. “Makan yang ada jangan rewel! Biasanya di kontrakan aja segala dimakan.”


“Tapi nggak jagung, Kinderzoy! Biar gue pesen yang lain aja.”


“Udah biarin dia kagak makan, Zoy. Udah dewasa tapi kelakuan kayak bocah!” ejek Gilang.


“Biar aku ambilin jagungnya, aku pilihin. Mas Ridwan nggak usah pesen lagi.” Ucap Zoya.


Gilang seketika kehilangan selera makannya melihat Zoya dengan begitu telaten meemilah jagung pipil diantara sayuran lain dan memindahkannya ke piring miliknya. Gadis yang sebelumnya tak pernah mengalihkan perhatian selama bersama dirinya kini malah terang-terangan bersikap seperti saat ini dirinya tak ada di sana. Menyebalkan, ditambah lagi dengan si gelandangan tak tau diri yang justru merilik padanya penuh ejekan.