MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
PHK



Zoya sedang berada di atas Gedung seraya melihat pemandangan bangunan, orang dan kendaraan yang berlalu Lalang tanpak begitu kecil. Zoya menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Entah kenapa meski sudah melakukan hal itu berulang kali untuk menenangkan diri rasanya tetap saja sesak. Padahal biasanya pergi ke ketinggian dengan suasana sepi dan menghirup nafas dalam selalu berhasil menenangkan dirinya. Tapi kali ini gagal terus, dadanya tetap terasa sesak, air matanya masih ingin menerobos keluar meski sudah ditahan-tahan.


“Jangan bunuh diri! Lo belum buktiin diri ke gue!”


Zoya menengok ke belakang, “mba Sarah? Mba ngapain disini?”


Sarah yang tangannya memengan rokok menghampiri Zoya. meng hi sap rokoknya kemudian meniupkan asapnya tepat di depan wajah Zoya hingga gadis itu terbatuk.


“Harusnya gue yang nanya lo ngapain disini? Ini wilayah gue. Paling enak ngerokok di tempat luas kayak gini, bebas.” Jawab Sarah. Setiap kali pusing ia memang selalu pergi ke atap Gedung untuk melepas penat sambil merokok. Alasan ia berada disini saat ini tentu gara-gara kalah mendapat proyek baru di rapat tadi.


“Cuma gara-gara calon istri pak Ridwan yang asli muncul gitu? Lo ngerasa jadi simpenan gitu? Harusnya dari awal lo tuh sadar, kalo lo sama dia kayak bumi sama langit, jauh.” Lanjutnya lagi-lagi sambil menyemburkan asap.


“Nggak kok mba, aku cuma lagi nyari angin aja disini. Sejak awal juga aku tau kok aku ini bukan siapa-siapanya. Karyawan lain aja yang suka pada bikin berita dan pembenaran sendiri.” Jawab Zoya. “Sekarang aku mau balik lagi ke dalam, Mba Rika pasti nungguin berkasnya.” Imbuh Zoya.


“Bagus kalo gitu. Tunjukin ke gue kalo cerita Rika soal lo yang pinter banget jualan itu bukan hoax.” Sarah menyusul Zoya dan merangkul gadis itu.


“Semangat! Nggak usah dengerin omongan orang, focus aja kerja.” Ucapnya sebelum pergi mendahului Zoya dan meninggalkannya.


Zoya berjalan dengan pelan sambil menatap Sarah yang sudah kian jauh, “mba Sarah itu sebenernya baik apa jahat sih? Tadi aja ngebentak-bentak eh sekarang baik banget malah ngasih semangat.”


“Tapi kata Mba Sarah bener, yang penting kerja aja.”


“Lagian harusnya aku seneng dong Mas Ridwan udah ada calon istri, jadi aku bebas nggak dauber-uber mulu ngajakin nikah.”


“Lagian siapa juga yang mau nikah muda.” Gerutunya.


“Zoya!” baru masuk beberapa langkah saja ia sudah bertemu Ridwan yang berjalan cepat menghampirinya. Tiba-tiba rasa kesalnya kembali naik meski sudah susah payah ditenangkan tadi.


“Lo tuh kemana aja sih? Gue cariin kesana kemari!” Ridwan memegang kedua bahu Zoya yang langsung ditepis kasar oleh gadis itu.


“Gue bisa jelasin semuanya! Yang tadi itu bukan calon istri gue.”


“Maaf, Pak. Itu bukan urusan saya.” Jawab Zoya dengan sopan. Ia bersikap sebiasa mungkin layaknya karyawan pada atasan.


“Tadi itu mantan gue. Eh bukan mantan, gue nggak pernah jadian.” Ralatnya cepat.


“Zoya, denger! Gue tau lo bisa bersikap dewasa. Kenapa mendadak kekanakan gini sih? Gimana gue bisa jelasin kalo lo nggak mau denger?” Ridwan berdiri di depan Zoya dan menghalangi langkah gadis itu, sehingga mau tak mau Zoya jadi berhenti.


“Maaf Pak, saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang Bapak bicarakan. Saya permisi, masih banyak yang harus saya kerjakan.” Pamitnya dengan datar.


“Heh KinderZoy! Lo nggak boleh kayak gini. Gue pecat mau?” ancam Ridwan. Biasanya ancaman itu paling bisa digunakan untuk membujuk Zoya. “Dengerin penjelasan gue dulu!” lanjutnya. Ridwan lumayan lega karena gadis itu kembali berhenti.


“Pak Ridwan jika mau memecat saya silahkan saja, bisa langsung beri saya surat pemutusan hubungan kerja.” Jawab Zoya dengan santai. “Saya tunggu surat PHK nya.” Lanjutnya kemudian berlalu melewati Ridwan.


“Apa!” Ridwan jadi frustasi dengan jawaban Zoya. Biasanya gadis itu selalu menurut jika diancam dengan pemecatan.


“Zoya!” teriak Ridwan, gadis itu tak bergeming sama sekali malah kian menjauh.


“Huh!” Ridwan menjambak rambutnya sendiri, “ngembekan, bocil, kekanakan, nggak bisa banget denger penjelasan. Heran gue!”


.


.


.


Saya tunggu like sama komentar kalian. Permisi.


Maaf pendek, aku udah lesmes banget ini baru pulang dari RS.


Jangan lupa vote nya buat Ririd sama kinderZoy.


See u next part.