
Ridwan tiba di rumah dengan bagasi penuh belanjaan. Si calon ayah itu bahkan tak membiarkan istrinya membantu barang sedikit pun. “Masuk aja, biar aku yang bawa semua. Nggak boleh kecapean.”
“Aku nggak apa-apa. Mas Ridwan berlebihan deh.”
Ridwan menatap tajam Zoya yang tengah mengambil salah satu kantong belanjaan. Gadis itu langsung meletakan kembali barang yang ia pegang. “Iya-iya aku taruh lagi nih.” Zoya sedikit cemberut dan pergi lebih dulu.
Mami Jesi yang sedang menonton TV sampai khawatir melihat menantunya datang dengan wajah cemberut.
“Kenapa wajahnya nggak happy gitu?”
Zoya tersenyum paksa, “Nggak apa-apa, Mi. Aku langsung ke kamar yah. Kata Mas Ridwan nggak boleh kecapean.”
Mami Jesi menatap heran, baru kali ini Zoya terlihat murung padahal biasanya selalu ceria. Ia langsung menghampiri Ridwan yang baru masuk dengan seabreg belanjaannya.
“Mi, aku minta tolong bantuin bawa sisa belanjaan di mobil.”
Mami Jesi menghela nafas dalam, belum sempat ia bicara putranya sudah menyela lebih dulu. Tak ada pilihan lain Mami Jesi membantu mengambil sisa belanjaan Ridwan karena sebelum ia menjawab putranya sudah berlalu pergi ke dapur.
Mami Jesi meletakan belanjaan Ridwan di meja dapur. Putra bungsunya langsung membereskannya ke dalam wadah penyimpanan khusus. Untuk buah, sayur dan daging masing-mading di tempatkan dalam wadah terpisah.
“Lanjutin terus aja kamu belanja kayak gini, Mami jadi nggak usah belanja mingguan.” Ucap Mami Jesi.
“Beda lagi lah, Mi. Ini stok khusus buat Zoya. Preventif aku tuh supaya jangan sampe dia ngidam kesulitan nyarinya.” Tanpa mengalihkan perhatiannya dari bahan makanan yang tengah ia pisahkan.
“Ini juga masih ada yang kurang, besok deh aku lengkapin.” lanjutnya.
“Segitu kamu bilang kurang, Rid? Kayaknya semenjak Zoya hamil kamu jadi error. Istri nggak ngidam apa-apa tapi kamu nya sibuk sendiri.”
“Namanya juga jaga-jaga, Mi.”
“Sekalian aja kamu bangn toserba di samping rumah biar stok aman.” sindir Mami Jesi.
“Oke dipertimbangkan, Mi.” jawab Ridwan.
“Bener-bener nggak waras. Kamu ke kamar aja, nggak usah masak makan malam biar Mami aja.” Mami Jesi merebut sayuran yang sedang dibereskan Ridwan.
“Mending temenin Zoya aja, datang-datang dia murung.” lanjutnya.
“Iya nanti aku ke kamar kalo udah selesai, Mi. Zoya juga sekarang pasti lagi bareng Jeli kan? Aku beresin masak dulu. Bentar kok, cuma mau bikin sayur bening.”
“Terserah kamu lah.” Mami Jesi menyerah membujuknya. Semenjak Zoya hamil, Ridwan memang jadi super posesif. Beberapa hari kebelakang ia kira wajar karena awal-awal tau kondisi kehamilan Zoya. Ia tak menyangka jika perlakuan berlebihan Ridwan malah berlangsung terus menerus.
Mami Jesi masuk ke kamar Ridwan. Menantunya sedang asik ngobrol sambil sesekali tertawa bersama gadis kecil yang terus menempelkan kepalanya di perut Zoya. Semenjak tau Zoya hamil, Jeli jadi makin rajin menginap di rumah Oma nya.
“Oma, lihat nih aku tadi ngegambar Tante Zoya.” Jeli beranjak mengambil buku gambarnya dan menunjukan gambar yang katanya Tante Zoya tapi nggak ada mirip-miripnya sedikit pun.
“Sekarang perutnya masih kecil, tapi nanti kalo perutnya udah besar bakal Jeli gambarin juga yang besar. Kayak perut Tante Sasa.” Jelasnya.
“Anak pinter.” Puji Mami Jesi.
“Nanti kalo Dedeknya udah lahir mau Jeli ajarin ngegambar. Jeli beliin jajan juga nanti. Pokoknya Jeli temenin deh.”
“Iya, sayang. Nanti dedek nya dijagain yah sama Jeli kalo udah lahir.”
“Siap Oma.”
“Anak pinter. Sekarang lanjutin dulu sana gambarnya. Oma pengen digambarin Om Ririd yang lagi masak di dapur.”
“Siap, Oma.” Bukannya pergi ke dapur untuk melihat objek yang hendak di gambar, Jeli hanya turun dari ranjang dan berpindah duduk lesehan lantai. Gadis kecil itu langsung sibuk sendiri dengan aktivitasnya.
“Langsung sibuk dia, Mi. Udah kayak pelukis beneran aja.” Ucap Zoya.
“Biarin. Mami mau ngomong serius biar Jeli nggak ganggu.”
“Bukan Mami yang ada masalah, tapi kamu. Kenapa tadi cemberut? bilang sama Mami.”
“Nggak apa-apa, Mi.”
“Jujur! bilang sama Mami kenapa? kamu pengen sesuatu tapi nggak diturutin sama Ridwan?” Tebak Mami Jesi.
Zoya menggelengkan kepala.
“Terus kenapa?”
“Nggk apa-apa, Mi. Beneran.” Jawab Zoya. “Tadi cuma sedikit kesel aja. Aku pengen bantuin Mas Ridwan bawa belanjaan tapi nggak di bolehin. Sekarang banyak hal yang nggak bisa aku lakuin.” Zoya sedikit menghela nafas.
“Ini itu nggak dibolehin. Padahal kan aku pengen aktivitas kayak biasanya, Mi. Pengen masak, bantu Mami di dapur, pengen ini itu kayak biasanya aja.” lanjutnya.
Mami Jesi ikut menghela nafas panjang. “Udah Mami duga. Kamu pasti bosen kan banyak aktivitas yang dikurangin. Ridwan bener-bener over, dia kebalikan dari Papi nya.”
“Mami bilangin dong ke Mas Ridwan biar aku bisa aktivitas kayak biasanya. Lagian kata dokter juga kan aku baik-baik aja.”
“Susah, Mami nyerah. Tadi udah dibilangin aja malah nggak digubris. Katanya preventif, jaga-jaga.” Jawab Mami Jesi.
“Kamu yang sabar yah, nikmatin aja. Di luar sana banyak istri-istri yang ngidam nggak keturutan, kamu malah dikasih suami yang super over. Mami tau, mungkin nggak nyaman diperhatikan berlebihan, tapi percaya deh semua tuh karena Ridwan sayang banget sama kalian berdua.” Mami Jesi mengelus perut menantunya.
“Sekarang belum terbiasa, nanti lama-lama juga biasa diposesifin.”
“Iya, Mi. Aku juga bersyukur banget dapat suami kayak Mas Ridwan. Seneng juga di perhatiin kayak gini, semua perhatian banget sama aku. Tapi yah gitu kadang gemes sendiri sama kelakuan Mas Ridwan yang berlebihan.”
“Semua karena cinta. Udah jangan dibahas lagi, orangnya datang tuh.” Mami Jesi menunjuk Ridwan yang datang membawa nampan.
“Sayur beningnya udah mateng. cobain yah? aku suapin.” Ridwan menyodorkan satu sendok pada Zoya.
“Makasih, Mas. Enak.”
“Jeli mau, mau, mau.” Si kecil yang sudah selesai menggambar menghampiri Ridwan dan langsung membuka mulutnya. Alhasil Ridwan menyuapi istri dan keponakannya.
Mami Jesi tersenyum senang melihatnya. “Mami juga dong sekalian disuapin.” si Oma ikut-ikutan membuka mulutnya minta disuapi.
Meskipun kadang masih merasa kesal jika Ridwan memperlakukannya dengan berlebihan tapi kini Zoya sudah mulai terbiasa. Seperti kata mertuanya, ia menikmatinya. Ia tak meminta banyak hal konyol seperti yang disarankan Sisil. Berbagi makanan ke anak-anak di panti maupun jalanan yang membutuhkan lebih menyenangkan bagi Zoya.
“Hari ini mau pesen berapa nasi box nya? mau di kirim ke panti apa bagi-bagi di jalan aja hm?” tanya Ridwan.
“Ke Panti aja, Mas.”
“Siap, sayang. Anak Ayah pasti bakal jadi anak baik nih kalo udah lahir nanti. Ibu nya ngidam bagi-bagi terus.” Ridwan mengelus perut istrinya.
“Aamiin.” Jawab Zoya.
“Jadi nggak sabar pengen cepet-cepet dia lahir. Pasti seru banget nanti. Kita bisa main, jalan-jalan, kesana kemari bareng-bareng. Pokoknya Ayah bakal bikin kamu selalu happy.” Kalo sudah seperti ini Ridwan tak ada bedanya dengan Jeli yang langsung mengutarakan apa yang akan ia lakukan bersama kelak.
Berbeda dengan Ridwan yang tengah membayangkan betapa sempurna keluarga kecilnya setelah memiliki anak, Lea justru tengah mengantri di salah satu klinik ilegal untuk menggugurkan anaknya. Kini ia tengah menandatangani persetujuan aborsi yang berisi kerahasian tempat praktek hingga penyelesaian masalah jika terjadi hal yang tak diinginkan, dimana pihak pasien menanggung akibat sepenuhnya tanpa memberatkan klinik.
“Hanya untuk jaga-jaga. Kami tidak pernah gagal melakukan tugas. Semua pasien selamat dan rahasia terjamin.” Jelas petugas. “Tapi jika anda ragu-ragu bisa dibatalkan, hanya uang muka yang sudah masuk akan hangus.” lanjutnya.
“Saya tidak ragu, lakukan dengan bersih.” jawab Lea dengan penuh keyakinan.
“Baik. Silahkan menunggu. Dua jam lagi giliran anda.”
“Iya.” Lea kemudian kembali ke tempat tunggu. Ia duduk di sofa dengan sedikit gelisah tapi tetap mencoba menenangkan diri.
Melihat orang lain datang bersama pasangannya, Lea menelpon Refan. Berharap lelaki itu juga mau menemaninya tapi hasilnya nihil. Panggilannya tak di jawab, chat nya pun tak dibaca sama sekali. Lea tak menyerah, ia terus mencoba menghubungi Refan hingga dirinya tak bisa berkata-kata saat mendapati sang Ibu berada di depan ruangannya.
“Lea, kamu…” tak melanjutkan kalimatnya, Ria sudah terjatuh tak sadarkan diri.