
“Enak nggak? Perlu aku tambah cabe lagi nggak supaya lebih pedes?” tanya Ridwan. Mereka sedang sarapan bersama pagi ini. Ridwan menyiapkan pecel lengkap dengan tempe mendoan untuk sarapan istrinya.
“Enak, Mas. Makasih.”
“Sama-sama sayang. Makan yang banyak biar anak kita sehat.” Ridwan mengelus perut Zoya.
Semua orang yang ada di meja makan menikmati sarapan meski tanpa nasi, kecuali Raizel. Gadis kecil itu cemberut gara-gara dipaksa Ridwan untuk ikut-ikutan makan pecel padahal jelas-jelas anak seusia Raizel itu sangat susah disuruh makan sayuran. Hampir setiap hari makanan bocah itu melulu telur ceplok, ayam, mie, sosis, nugget dan sejenis makan lain kecuali sayuran. Kara sampai pusing tujuh keliling jika meminta anaknya untuk makan sayur.
‘’Jeli nggak suka sama makanannya yah? Mau Tante bikinin ayam goreng hm?” tanya Zoya. Meski tau kakak iparnya tak keberatan anaknya dipaksa makan sayur tapi tetap saja ia tak tega melihat gadis kecil itu tak menikmati makanannya.
“Jeli suka kok, meskipun nggak suka banget. Nggak apa-apa demi dedek bayi, kan yang lain juga makan sayuran.” Jawabnya sambil mengaduk-aduk pecel dan memakannya sedikit demi sedikit.
Kara melirik Zoya penuh kode, “biarin aja.” Ucapnya lirih. “kalo perlu tiap hari kamu ngidam sayuran biar si Jeli makan sayur.” Lanjutnya.
Zoya mengangguk paham, “Jeli abisin sayurnya yah. Nanti pulang kerja Tante beliin ayam goreng kesukaan Jeli.”
“Beneran Tante?”
“Iya, sama crayon baru juga deh.”
“Asik. Makasih Tante.” Mendengar akan mendapat crayon baru Jeli langsung semangat menghabiskan sarapannya.
Selesai sarapan seperti biasa gadis kecil itu pergi ke sekolah diantar sang mama. Sebenarnya Ridwan tak keberatan jika harus mengantar Raizel lebih dulu sebelum ke kantor, tapi Kara merasa segan karena kini adiknya sudah memiliki istri, terlebih Zoya tengah hamil, ia tak mau jika adik iparnya sampai kelelahan mengingat putrinya yang super aktif pasti terus menganggu Zoya.
“Kita berangkat dulu, Mi.” Pamit Ridwan seraya menyalami Mami nya. Zoya pun melakukan hal yang sama.
“Iya, hati-hati di jalan. Kalo kerjaan di kantor tak terlalu sibuk Mami mau minta tolong.”
“Hari ini kayaknya nggak sibuk. Mami mau minta tolong apa?” tanya Ridwan.
“Begini, tadi pagi Mami dapat kabar dari Papi kalo ibunya Lea masuk rumah sakit. Kamu tau kan, Papi sama ayahnya Lea ada perjalanan bisnis sampe besok. Kalo kalian nggak sibuk nanti mampir ke rumah sakit, jengukin. Meskipun Mami kesel sama Lea tapi ibunya tetep orang baik, lagi pula ayahnya juga rekan bisnis papi.” Ucap Mami Jesi.
“Itu pun kalo Zoya nggak keberatan.” Imbuhnya, takut menyebabkan kesalahpahaman diantara mereka.
“Tante Ria sakit apa, Mi? tentu aja aku nggak keberatan. Nanti aku jenguk bareng Mas Ridwan.” Ucap Zoya.
“Mami nggak tau pastinya, tapi kata Papi masuk ICU. Suaminya aja jadi nyepetin jadwal pulang.”
“Oh iya Mi. Nanti Zoya kesana. Bisa kan Mas?”
“Kalo kamu yang minta tentu bisa.” Jawab Ridwan. “Nanti aku kesana sama Zoya.”
Sesuai permintaan mertuanya, hari ini Zoya hanya bekerja hingga jam makan siang saja. Ia berpamitan pulang lebih dulu karena ada urusan yang harus di selesaikan.
“Urusan apa sih, Zoy? Gue masih butuh banyak info ini.” Tanya Sisil. Akhir-akhir ini ia terus mencari tau segala sesuatu yang disukai Gilang. Laki-laki itu juga lambat laun sudah mulai menerima kehadirannya meski masih sering pembicaraan keduanya mentok-mentok ke Zoya lagi. Bisa disimpulkan membuat Gilang move on dari Zoya itu tak mudah tapi Sisil tentu tak mau menyerah begitu saja.
“Besok aku cerita, sekarang udah ditunggu Pak Ridwan tuh.” Zoya melirih suaminya yang tengah menghampiri mejanya.
“Oke deh. Hati-hati yah Nyoya Ridwan.”
“Siap. Aku duluan yah.” Pamit Zoya.
Sebelum ke rumah sakit Ridwan membelokan mobilnya ke salah satu Mall. “Beli HP dulu, Yang. Aku kira kemaren HP ketinggalan di kantor tapi tadi aku cari-cari nggak ada.”
“Iya, Mas. Lain kali jangan teledor, Mas. Bisa-bisanya HP ilang, mana mahal lagi.” Ucap Zoya. meski sudah jadi istri orang kaya jiwa perhitungannya tetap jalan.
“Iya, sayang.” Jawab Ridwan.
Selain membeli HP, Ridwan dan Zoya juga membeli buah tangan untuk dibawa ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit ia langsung menuju ruang ICU. Berbeda dengan ruangan lain yang memperbolehkan pasien ditemani oleh keluarga, di ruang ICU tidak diperbolehkan. Bahkan jam jenguk pun diatur secara tebatas dengan aturan yang lebih ketat dari ruangan lain.
Tak diperbolehkan ditunggui oleh keluarga bukan berarti pihak keluarga sama sekali tak boleh berada di sana, tapi disediakan ruangan khusus untuk penunggu pasien secara terpisah.
Saat Ridwan dan Zoya datang, Lea tak ada di ruang tunggu. “Mungkin lagi keluar, Mas. Mau aku dulu apa Mas Ridwan duluan yang jenguk Tante Ria?”
“Aku aja. Kamu tunggu disini aja. Duduk sini.” Ridwan meminta Zoya duduk di depan ruang ICU.
“Aku nggak lama kok.” Ucapnya sebelum pergi.
“Iya, Mas.” jawab Zoya.
Sambil menunggu, Zoya membalas banyak pesan masuk dari Sisil. Dasar, patner kerjanya itu terus bertanya tentang Gilang. Zoya membalas setiap pertanyaan dengan begitu detail, ia juga ingin Sisil dan Gilang bisa bersama. Gilang lelaki yang baik akan cocok untuk Sisil yang juga baik meski sering usil. Selain pesan dari Sisil, ia juga melihat banyak pesan dari Teh Ismi. Tetangga kontrakannya itu selalu rutin mengirim video-vidio anaknya yang menggemaskan. Zoya jadi tertawa melihat kegemasan anak teh Ismi.
“Ngapain lo disini? Pake ketawa pula! Seneng kan lo nyokap gue sekarat.” Sentak Lea yang entah datang dari mana tapi langsung marah-marah.
Zoya menyimpan ponselnya. Ia berdiri dan memberikan buah yang bawa. “Mba Lea, Maaf baru bisa jenguk ibunya mba. Mas Ridwan ada di dalem lagi jenguk ibunya Mba Lea.”
Bukannya menerima buah pemberian Zoya, Lea malah melempar sekeranjang buah itu dengan kasar. “Nggak usah sok perhatian!” teriaknya yang langsung membuat orang-orang disekitar menatap ke arah mereka.
“Mana suami lo? Pasti lo berdua seneng banget kan liat gue kayak gini hah!” Lea bahkan hampir berhasil mendorong Zoya jika saja Ridwan tak datang tepat waktu.
“Jaga sikap lo! Kita kesini datang baik-baik buat jengukin tante Ria.” Sentak Ridwan. “Kamu nggak apa-apa?" tanyanya seraya merangkul Zoya.
“Nggak apa-apa, Mas.” jawab Zoya lirih. Ia baru kali ini melihat perempuan sekasar Lea di depan matanya. Kalo di sinetron sih sering ia jumpai.
“Datang baik-baik lo bilang? Setelah semua yang udah lo lakuin?” Lea meninggikan suaranya. Tak bisa mendorong Zoya karena di halangi Ridwan, gadis itu malah memukul Ridwan dengan keras.
Ridwan menangkis kasar tangan Lea. “Jaga mulut lo! Ini rumah sakit jangan bikin ribut!”
“Lo yang bikin ribut disini! Kalo bukan gara-gara lo nyokap gue nggak bakal masuk rumah sakit!” Lea mengambil ponsel ibunya dan memberikannya pada Ridwan dengan kasar.
“Maksudnya apa ini? Gue nggak pernah nganggu lo lagi sesuai kesepakatan. Kenapa lo kayak gini!”
Tak hanya RIdwa, Zoya sampai menutup mulutnya yang menganga begitu melihat video yang ditunjukan Lea. Terlebih lagi kontak pengirim video itu adalah nama suaminya.
“Mas?”
“Jam segitu aku udah nggak pegang HP sayang. Kamu tau sendiri kan dari kemaren HP aku ilang.” Jelas Ridwan.
“Iya. Bener mba, dari kemaren Mas Ridwan nggak pegang HP. Ini aja baru beli HP di jalan tadi.” Imbuh Zoya.
“Nggak usah alasan lo berdua!” lagi-lagi Lea berusaha mendorong Zoya. “Lo bikin nyokap gue masuk ICU, istri lo juga harus masuk ICU!”
“Lea!”
Plak! Kohar yang baru datang menampar putrinya dengan keras.
“Ayah…” Lea memegang pipinya seraya menangis. “Ayah nampar aku?”
“Minta maaf sama mereka sekarang juga!” ucap Kohar.
“Tapi ayah… Ibu masuk ICU gara-gara Ridwan.”
“Ibu kamu masuk ICU gara-gara kamu! Minta maaf sekarang!”
“Nggak!”
Plak! Kohar menampar Lea sekali lagi.
“Kita pulang aja.” Ucap Ridwan, ia tak mau menonton drama keluarga lebih jauh lagi. “Om, kami permisi.”
“Iya. Atas nama Lea, Om minta maaf yah.” Jawab Kohar.
Ridwan mengangguk. “Iya, nggak apa-apa Om.”
“Kami permisi, Om. Semoga Tante Ria cepet sehat kembali.” Imbuh Zoya.
Lea tersenyum sinis mendengarnya. “Halah pada pura-pura lo berdua!”
Ridwan tak peduli dengan sindiran Lea. Ia membawa istrinya menjauh dari sana.
“Kamu bener-bener udah bikin malu!” setelah Ridwan pergi, Kohar mencoba menenangkan dirinya. Ada sedikit rasa bersalah telah menampar putrinya tadi. Meski Lea salah tapi tetap saja gadis itu adalah putrinya.
“Jelasin sama ayah! Siapa ayah dari janin di perut kamu?”
“Maksud ayah?”
“Jangan pura-pura lagi! Ayah tau semuanya!”
“Ayah aku nggak hamil.” Bohong Lea, “Apa Ridwan juga ngirim video yang sama ke Ayah? Itu bisa aja editan ayah. Ayah tau kan zaman sekarang semua bisa dimanipulasi.”
“Lea, cukup!” sentak Kohar.
“Ayah sudah menghabiskan banyak uang untuk menutupi kelakuan be jad kamu. Ayah nggak nyangka kamu seperti itu.”
“Ayah…” Lea menghiba.
Kohar menunjukan banyak pesan serta bukti transfer sejumlah uang yang tak sedikit. “Ayah tidak bodoh, Lea. Ayah sudah periksa keaslian video itu.”
Lea langsung ambruk lemas tak berdaya. Terlebih melihat nomor yang mengacam ayahnya, Refan.
“Breng sek!” umpatnya dalam hati.
“Kalo kamu masih mau dianggap anak ayah sama ibu, bawa laki-laki yang bikin kamu hamil dan minta dia buat tanggungjawab sebelum perut kamu makin membesar.”
“Tapi ayah…”
“Jangan membuat keluarga kita lebih malu, Lea.” Pungkas Kohar kemudian berlalu ke ruangan untuk melihat istrinya.
.
.
.
Kalo udah kayak gini sih lebih dari sekedar malu.
Ini senin yah jangan lupa vote nya.
Like sama komentarnya juga kencengin dong!