
Sebelum pergi Ridwan mengganti pakaiannya lebih dulu, bahkan ia sengaja tak menggunakan sabun yang biasa ia gunakan di rumah malah membeli sabun Batangan murah meriah yang sama seperti di kontrakan Zoya supaya gadis itu tak curiga lagi perkara wangi parfum.
Seperti biasa mobil ia tinggal di depan indoapril berikut HP mahal dan dompetnya, ia hanya mengambil uang secukupnya untuk setor pada Zoya. Kali ini ia tak akan memberikan banyak uang karena bukannya senang gadis itu malah berfikir yang tidak-tidak, serba salah memang menghadapi patner kontrakannya itu.
“Jam Sembilan baru pulang, Mas Ridwan nyasar lagi?” tanya Zoya begitu ia masuk ke dalam kontrakan.
Ridwan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan memberikannya pada Zoya, “nggak nyasar, macet aja tadi di jalan.”
Zoya menghitung uang yang ia terima, “akhir-akhir ini uangnya pada bagus-bagus terus. Jadi sayang mau dipake.”
“Kalo gitu simpen aja nggak usah dipake.”
“Ya nggak bisa gitu dong, besok aja mesti restock barang. Btw, Mas Ridwan udah makan belum?”
“Ud-
“Aku belum makan loh nungguin Mas Ridwan.” Ucap Zoya.
“Iya, gue juga belum makan.” Jawab Ridwan berbohong, jelas-jelas ia sudah makan malam di rumah tadi sebelum pergi.
“Lain kali makan aja di luar kalo lapar nggak apa-apa Mas, takutnya Mas Ridwan sakit kalo telat makan. Aku ambilin yah.” Ucapnya seraya menyiapkan makanan untuk Ridwan.
Selesai makan Zoya beranjak tidur lebih dulu sementara Ridwan hanya berpura-pura terlelap. Setelah memastikan gadis itu tidur, ia beranjak dan mengambil laptop Zoya, memeriksa rekaman CCTV hotel yang ia dapatkan siang tadi. Setelah semua fasilitasnya kembali tak ada yang tak mungkin bagi Ridwan, semua terasa mudah.
Karena terlanjur terjaga sampai subuh Ridwan tak tidur, bahkan saat Zoya bangun dirinya sudah selesai beres-beres kontrakan sekaligus menyiapkan sarapan. Zoya senang bukan main mendapati hal itu, ia mengira Ridwan kini jauh lebih rajin karena bangun lebih awal dari dirinya.
“Bekalnya jangan lupa dimakan nanti.” Ucap Ridwan sebelum Zoya berangkat kerja, seperti biasa di jemput si songong.
“Siap, Mas. Makasih yah, aku berangkat kerja dulu.” Pamit Zoya.
Akibat semalaman tak tidur pagi ini selesai mandi Ridwan malah ketiduran di kamarnya hingga siang menjelang. Ia bangun saja gara-gara HP kentangnya terus berbunyi, ternyata si KinderZoy yang memberi kabar jika dirinya sudah berhasil merestock barang untuk jualan besok.
“Buset jam sebelas! Bisa-bisanya gue malah ketiduran.” Gumam Ridwan. Buru-buru ia bersiap kemudian berangkat ke kantor.
“Eh kamu masih di rumah? Mami kira udah berangkat dari pagi.” Seru Mami Jesi yang sedang membereskan kaktus-kastus mahalnya.
“Ketiduran, Mi.” balas Ridwan sekenanya.
Sampai kantor Ridwan memberikan kunci mobilnya pada petugas dan memintanya untuk memarkirkan, dirinya sudah sangat-sangat telat. “Jam segini si KinderZoy pasti di ruangannya, aman lah gue lewat sini.” Ucapnya lirih.
Namun baru beberapa langkah masuk ke lobi seorang gadis sudah menarik paksa dirinya, membawanya ke sudut ruang. “Mas Ridwan ngapain kesini sih?” ucap Zoya.
“Gue…”
“Kan tadi di telpon udah aku bilang tunggu di kontrakan aja, barang-barang yang aku restock ntar ada yang nganter kesana. Ngapain Mas Ridwan malah nyusul kesini.” Cerocos Zoya sebelum Ridwan selesai berucap.
Zoya memandangi penampilan Ridwan yang sangat berbeda dari biasanya, “ini juga ngapain pake jas segala? Mas Ridwan mau gaya-gayaan?” tanyanya seraya memegang ujung jas Ridwan.
Belum selesai Zoya dengan segala omelannya, kepala bagian marketing menghampirinya. Zoya cukup heran karena kakak dari sahabatnya itu tiba-tiba mengangguk begitu sopan di depannya.
“Mba Rika, nanti aku balik ke ruangan. Mau nganterin temen aku dulu sampe depan.” Ucap Zoya seraya menarik paksa Ridwan. “Ayo Mas, pulang! Aku mau kerja lagi ini.” Lanjutnya.
“Zoya, sebentar. Mau kamu bawa kemana Pak Ridwan? Beliau ada rapat sebentar lagi.” Ucap Rika.
Zoya reflek menatap Ridwan yang hanya tersenyum padanya. “Beliau? Rapat?” ucapnya lirih.
“Anaknya Pak Darmawan yang pernah mba ceritain kemaren-kemaren.” Bisik Rika. “Mari Pak Ridwan, saya antar ke atas.” Ucap Rika dengan sopan pada Ridwan.
Zoya mematung mendengarnya, dia hanya bisa menatap Ridwan lekat-lekat tanpa bicara sama sekali. “gue rapat dulu yah kinderZoy!” bahkan ucapan Ridwan sebelum pergi tak membuat tubuhnya bergeser sedikit pun, tetap mamatung sambil menatap Ridwan dan Rika yang kian menjauh.
Setelah Ridwan dan Rika menghilang ke dalam lift, Zoya ambruk begitu saja dan terduduk di lantai. Tiba-tiba bayangan ia menyuruh Ridwan memasak, beres-beres kontrakan hingga berjualan misting terlintas di pikirannya. “Tamat udah Riwayat aku kalo kayak gini.” Zoya meratapi kebodohannya sambil menjambak rambutnya sendiri, frustasi.
.
.
.
Ya udah yah tamat wkwkwkwk
Jangan lupa like, komen sama hadiahnya gaes!!