
“Kalo mau ke kantor tinggal berangkat aja, Mas. Anak kita belum mau lahir kok, hari ini peresmian autlet baru kan? Harus hadir loh.” Zoya mengusap kepala Ridwan yang sedang menciumi perutnya berulang kali. Sudah tiga hari mereka menginap di rumah sakit. Bukan hanya mereka, tapi kedua orang tua mereka pun ikut tidur di sana. Pokoknya rumah sakit sudah seperti rumah sendiri. Raizel saja setiap pulang sekolah selalu berkunjung kesana. Mereka sudah mencoba menasehati Ridwan yang super berlebihan itu tapi tetap saja lelaki itu tak menerima masukan apa pun. Baginya jaga-jaga paling utama meskipun lebay dimata semua anggota keluarga.
“Beneran nggak apa-apa kalo aku tinggal? Takutnya dia lahir pas aku nggak ada.” Ridwan mendongak dengan tatapan khawatir pada Zoya.
“Udah ngantor aja sana. Sepet Mami lihat kamu yang lebay nggak ketulungan.” Sindir Mami Jesi.
“Nanti kalo anak aku lahir terus aku nggak ada gimana?” protes Ridwan.
“Nggak apa-apa lah, toh ada dokter. Lagian nanti kalo mau lahiran juga mesti nunggu pembukaan nggak bakal tiba-tiba langsung lahir. Nanti kan bisa Mami telpon kamu kalo Zoya udah mules-mules mau lahiran." jawab Mami Jesi.
"Iya bener kata Mami, Mas. Mas Ridwan berangkat aja nggak apa-apa. Lagian aku belum mules sama sekali kok.” Zoya menambahkan.
“Ya udah kalo gitu aku ke kantor dulu sama Papi.” Pamit Ridwan seraya mengecup kening Zoya. Ibu hamil itu mengangguk setuju.
Ridwan beralih mengecup perut Zoya, “pokoknya jangan lahir dulu kalo Ayah belum pulang yah.” Ucapnya yang langsung dihadiahi jeweran oleh Mami Jesi.
“Mami… apa-apaan sih! Sakit tau.”
“Lagian kalo ngomong nggak dijaga banget!” ketus Mami Jesi. “Udah berangkat sana! Nggak usah ngomong lagi! Ntar manjang nggak jadi kerja kamu.” Usir Mami Jesi.
Ridwan mendumel lirih, pergi mengikuti Papi nya. Sebelum pergi ia menitipkan Zoya pada mertuanya. Kedua orang tua Zoya mengiyakan penuh pengertian. Empat hari bersama, mereka mulai bisa menerima jika semua yang tindakan berlebihan yang dilakukan menantunya semata-mata karena kasih sayangnya pada Zoya dan calon anak mereka yang begitu dalam.
“Suami kamu itu lucu, Neng.” Ledek Bu Iis.
“Maaf yah Bu, anak saya lebay.” Bukan Zoya, justru Mami Jesi yang menimpali. Mereka tengah menonton acara gossip pagi ini. Sementara Rahman sedang sibuk telpon sana sini. Gara-gara beberapa hari lalu mendadak pergi ke Bandung, ia jadi kehilangan lelang tanah yang hendak dibayar. Jadilah sekarang ayah Zoya itu menelpon sana sini mencari tanah baru yang sekiranya cocok untuk dibeli. Meskipun tinggal di kampung dengan penampilan super sederhana tapi keluarga Zoya termasuk kalangan terpandang. Rumah boleh sederhana, mobil pun tak punya tapi soal tanah jangan ditanya, sawahnya luas.
"Saya bisa maklum bu Jesi, namanya juga baru mau punya anak, belum pengalaman.” Jawab Bu Iis. “sekarang bener kan kata ibu dulu, kalo kamu tuh beruntung punya suami seperti Ridwan.” Lanjutnya.
Zoya hanya tersenyum malu. Yang dikatakan ibunya benar adanya. Meski dulu menikah sedikit terpaksa tapi nyatanya ia benar-benar bahagia dengan Ridwan. Orang yang ia kira akan bunuh diri dulu. Zoya kian tersenyum mengingat pertemuan mereka. Apalagi saat teringat bagaimana dirinya habis-habisan menawarkan produk loverware di depan indoapril.
Zoya menepuk keningnya sendiri, “konyol.” Ucapnya lirih yang sedetik kemudian beralih menahan perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.
“Kenapa? Sakit perutnya?” tanya Bu Iis saat melihat Zoya meringis sambil memegangi perut.
Zoya menggeleng, “nggak apa-apa, Bu. Barusan sakit dikit tapi sekarang udah nggak kok.”
Lama kelamaan perutnya semakin sering merasakan sakit. Rasa sakitnya hilang timbul dan hilang timbul terus seperti itu hingga semakin lama semakin terasa sakit.
“Jangan, Mi. Nanti aja kalo udah pembukaan lengkap, kata dokter ini masih lama.” Jawab Zoya. Ia berusaha tenang meski keringatnya bercucuran. Toh ia sudah pernah menemani Teh Ismi yang mau melahirkan dulu, sedikit banyak ia masih ingat kata-kata dokter yang membantu persalinan teh Ismi. Persis seperti yang dikatakan dokternya saat ini. Harus tenang dan jalan-jalan santai, jangan lupa makan supaya saat melahirkan nanti memiliki tenaga.
Semakin sering sakit yang dirasakannya, Zoya mulai tak bisa menenangkan diri. Mami Jesi akhirnya menelpon Ridwan meski pembukaan Zoya belum lengkap. Bukannya menerima panggilan, yang di telpon malah sudah muncul dengan tampang panik.
“Sayang…” teriaknya begitu melihat Zoya yang berjalan dipapah oleh ibunya di dalam kamar.
“Aku bilang juga apa tadi! Bener kan feeling aku.” Ucapnya seraya menghampiri Zoya.
Entah karena si anak memang menunggu ayahnya atau karena pesan yang diucapkan Ridwan sebelum pergi tadi, yang jelas setelah Ridwan datang, tak lama Zoya sudah mencapai pembukaan lengkap. Dokter dan perawat langsung melakukan tindakan. Selama proses persalinan Ridwan berada di samping Zoya. Ia tak sedetik pun mengalihkan pandangan dari sang istri yang bersusah payah melahirkan anak mereka. Pegangan erat tangan Zoya, teriakan, hingga wajah penuh keringat campur air mata membuat Ridwan ikut menangis selama menemani Zoya bersalin.
Saat tangis anak pertama mereka terdengar Ridwan memeluk erat Zoya dan menciumi seluruh wajah istrinya. Bahkan saat dokter mengangkat anak mereka dan memeriksa kondisi bayi dari mulai menghitung jari jemari dan lainnya, Ridwan belum memperhatikan. Ia sibuk bersyukur karena istri dan anaknya selamat.
“Anak kita, Mas.” ucap Zoya lirih.
“Ah iya anak kita.” Jawab Ridwan lirih. Ia menyeka air matanya.
“Anaknya laki-laki, tidak ada kekurangan suatu apa pun. Selamat yah.” Dokter menunjukkan bayi mungil itu pada Zoya dan Ridwan.
“Anak kita laki-laki sayang. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.” Ucap Ridwan. Ia memandangi putranya yang sedang dibersihkan oleh suster sambil terus membelai sayang kepala sang istri.
Kembali ke ruangan mereka di sambut oleh keluarga yang sudah menunggu sejak tadi. Satu persatu anggota keluarga melihat si kecil yang anteng tertidur di tempat bayi setelah diadzani oleh Ridwan. Sementara si ayah tak mau beranjak sedikit pun dari tempat tidur putranya, ia terus berdiri di samping keranjang bayi.
“Lihat, Mi! dia mirip aku yah.” Ridwan menyentuh pipi putranya. Bayi dengan berat tiga ribu delapan ratus gram dan panjang empat puluh sembilan centi itu tak terganggu sama sekali saat sang ayah menyentuh pipinya berulang kali.
“Ya ampun karya aku.” Lagi-lagi Ridwan menoel pipi putranya.
“Gemes banget sih ini anak ayah.” Ridwan seolah tak ada puasnya berbicara dengan bayi baru lahir yang bahkan tak mengerti ucapannya. Mami Jesi dan Zoya hanya bisa tersenyum melihat Ridwan yang terus menatap putranya.
“Sayang, nanti kita bikin satu lagi yang mirip kamu yah?” Mami Jesi yang ada di sampingnya langsung menoyor kepala Ridwan.
“Apaan sih, Mi! untung nggak kena anak aku.” Ridwan menggerutu sambil mengelus-elus putranya lagi.
“Abisnya enteng banget kalo ngomong! ini aja belum ada sehari udah mau nambah lagi!”
“Kan biar adil, Mi. Yang ini mirip aku, ntar adeknya mirip Zoya. Iya kan, sayang?” Zoya hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Ia tak bisa berkata-kata melihat Ridwan begitu bahagia atas kehadiran anak pertama mereka membuat semua rasa sakit yang ia rasakan tadi tak sia-sia. Wajah semua orang begitu penuh dengan binar bahagia, mereka bergantian melihat putranya.