
Zoya sedang berbincang dengan Mami Jesi saat Ridwan pulang sehabis menemui Refan. Ia segera menghampiri Zoya dan merangkul gadis itu tanpa malu meski kedua orang tuanya berada disana. “Kangen, kangen, kangen banget. Lagi ngapain sih?”
“Lagi nyabutin rumput! Jelas-jelas lagi nonton TV masih nanya aja.” Sindir Mami Jesi.
Mengabaikan sang Mami Ridwan malah membuka kantong kresek yang ia bawa dan mengeluarkan satu kotak martabak. “Aku beliin rasa cokelat kismis kesukaan kamu.” Ucapnya seraya menyuapkan satu potongan pada Zoya.
“Mas…” ucap Zoya lirih. Matanya melirik ke arah Papi Rama dan Mami Jesi, “ada Mami sama Papi loh…” lanjutnya.
“Biarin aja. Aaa…” Ridwan memaksa Zoya untuk buka mulut, alhasil Zoya mengigit sedikit martabaknya meski malu.
“Udah nggak usah malu-malu anggap aja Papi sama Mami nggak ada.” Sindir Mami Jesi.
“Tuh kan nggak apa-apa, lagi sayang.” Ridwan kembali menyuapinya tapi kali ini Zoya mengambil alih dan memakannya sendiri.
“Mami sama Papi nggak mau nyobain martabaknya? Ini enak loh.” Tawar Zoya.
“Emangnya boleh? Ridwan kan pelit. Kalo dia masak aja Mami minta aja nggak dikasih.”
“Boleh lah, Mi. Lagian kan ini martabaknya udah punya aku.” Jawab Zoya.
“Aku tuh bukannya pelit, sayang. Waktu itu Cuma masak dikit special buat kamu, masa Mami mau minta.” Ridwan tak terima dibilang pelit.
“Mami kalo mau martabaknya tinggal ambil aja, toh Zoya nggak bakal abis sendiri. Iya kan, sayang?” lanjutnya.
“Iya, Mas.” jawab Zoya di sela-sela makannya. “Ini enak banget. Beli di tempat langganan kita yang biasanya yah?” Ridwan hanya mengangguk menjawabnya.
“Mas Ridwan nggak mau? Ini enak loh, manis.” tanyanya kemudian.
Ridwan menggeleng, “nggak. Aku mau yang lain aja. Kalo udah selesai langsung ke kamar yah.”
Hingga menjelang terlelap Zoya merasa tenang karena Ridwan hanya memeluknya tanpa melakukan hal lain sampai ia bangun. Semua berjalan normal hingga mereka selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah.
“Abis ini aku langsung bantu Mami masak yah, Mas?” tanya Zoya seraya mencium punggung tangan suaminya.
“Nggak usah bantu Mami, ada bibi yang bantuin. Kamu bantuin aku aja. Ada kerjaan yang nggak bisa aku kerjain sendiri.”
“Nanti aku bantuin Mas Ridwan kalo udah selesai bikin sarapan. Kan hari ini libur nggak ngantor, aku juga nggak kuliah. Tadi malem dapat info dari grup kalo dosennya ada seminar jadi hari ini tugas terstruktur.” Jawab Zoya seraya melipat mukena yang baru saja ia lepas.
“Wah bagus dong kalo kamu nggak ngampus, jadi bisa bantuin aku sampe siang. Atau sampe seharian sekalian.”
“Bantuin apa sih, Mas? nanti aja, aku masak dulu.”
“Nggak bisa. Aku mau sekarang.” Ridwan merebuk mukena yang sedang Zoya lipat dan melemparnya asal, ia buru-buru menggendong Zoya ke ranjang.
Diperlakukan seperti ini, Zoya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. “Mas bentar lagi pagi, nanti malem aja yah.”
“Mau sekarang kan tadi malam udah libur.”
“Ta ta ta pi Mas…” tapi-tapi tetap saja pada akhirnya Zoya pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya. Hingga akhirnya mereka terlelap dalam kenikmatan saat yang lain menikmati sarapan. Baik Mami Jesi maupun Papi Rama tak mempermasalahkan ketidakhadiran pengantin baru itu di meja makan, kecuali Raizel yang terus merengek ingin menemui tante dan Om Malaikatnya. Gadis kecil itu pagi-pagi sekali sudah datang ke rumah neneknya untuk menghabiskan hari libur disana seperti biasa.
Raizel yang sedang menggambar langsung menghampiri Zoya dan Ridwan yang tengah menuruni tangga. Jam Sembilan pagi pasangan itu baru keluar dari kamar mereka.
“Kakak botol… Jeli udah nungguin dari tadi loh.” Teriak Raizel.
“Tante Jeli, tante!” ucap Ridwan.
“Iya, Om. Maksud Jeli, tante Botol.”
“Tante Zoya, Jeli. Bukan botol.” Ralat Ridwan lagi. Gemas, Ridwan menggendong keponakannya dan membawanya ke dapur.
“Iya-iya Jeli sayang.” Ridwan mencubit gemas pipi gembul ponakannya.
“Lucu banget yah Jeli, Mas.” Ucap Zoya.
Ridwan berbisik di telinga Zoya, “nanti anak kita juga lucu sayang.”
“Mas!”
“Om, kok Jeli nggak dibisikin sih?” jiwa kepo bocil cerewet itu meronta-ronta melihat tantenya tersipu setelah dibisiki sang Om.
Ridwan tersenyum kemudian berbisik di telinga ponakannya, “nanti Om beliin crayon baru.” Raizel langsung mengangguk senang.
“Ngajarin apa lo sama anak gue!” seru Kara yang baru datang. Ia langsung menghampiri putrinya, “mama cariin kemana-mana ternyata disini. Abisin dulu susunya di depan.”
“Iya, Mama.” Jawab Raizel patuh. “Tapi sebentar, Jeli mau bisik-bisik dulu ke Tante.” Lanjutnya.
Melihat Raizel yang kesulitan turun dari kursi, Zoya berinisiatif menghampiri gadis itu dan menyodorkan telinganya pada Raizel. “mau bisikin apa sayang?”
Bukannya berbisik, Raizel malah gagal focus pada bekas kemerahan di leher Zoya yang tak sengaja ia lihat saat menyibakkan rambut. “Tante ini kenapa? Tante botol sakit, Ma. Mama lihat ini deh.” Raizel menunjuk tanda merah di leher Zoya.
Zoya langsung gugup dan menutup lehernya dengan rambut. Seingatnya tadi sudah ia tutupi dengan foundation tapi sepertinya ada yang terlewat. “Tante nggak apa-apa sayang.”
“Tapi itu merah loh Tante. Apa Tante Botol digigit semut, Ma? Apa nyamuk?” tebak Raizel. “Tapi waktu Jeli digigit nyamuk nggak kayak gitu merahnya.” Lanjutnya.
“Om, Tante Botol bawa ke rumah sakit takut infeksi.”
“Apa dipakein minyak telon aja dulu. Jeli kalo digigit semut atau nyamuk suka dioles minyak telon sama Mama.”
“Ma, minyak telonnya mana? Jeli minta buat Tante Botol, mama bawa kan?” gadis kecil itu heboh sendiri.
“Kaleng, please lah bocil lo ini.” Ridwan melirik Kakaknya yang tersenyum santai.
Kara tersenyum puas melihat adik dan iparnya yang gelagapan menanggapi ocehan Raizel tapi lama-lama ia kasihan juga. “Itu bekas kerokan Jeli, sayang. Nanti juga ilang sendiri.” Jelas Kara, bohong.
“Oh gitu. Yang kayak Mama waktu itu yah?” Raizel mengangguk paham.
“Iya, sayang.” Jawab Kara. Putrinya pernah mendapati kiss mark di lehernya, beruntung Raizel pernah melihatnya mengerok punggung Dirga yang masuk angin hingga keluar warna merah, hingga akhirnya ia tak perlu repot-repot menjelaskan karena gadis itu menyimpulkan sendiri.
“Ke depan yuk, abisin dulu susunya.” Kara menuntun putrinya meninggalkan dapur.
Setelah Kara dan Raizel pergi, Zoya langsung melotot kesal pada Ridwan. “Lain kali jangan bikin di leher!”
“Iya, sayang. Siap.” Jawab Ridwan.
Zoya mencebikkan bibirnya. “Awas aja kalo Cuma iya-iya. Buktinya tadi bilangnya iya Cuma sekali nyatanya tiga kali.” Zoya menghela nafas panjang.
“Ya maaf sayang, kebablasan. Nanti tambah sekali lagi deh.”
"Mas!"
"Apa sayang? mau sekarang? ya udah ayo lagi." ledek Ridwan.
"Mas Ridwan ih!" Zoya cemberut.
"Bercanda, sayang. Sini aku suapin." ucapnya seraya mengambil alih sendok dari tangan Zoya.