MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Biar cepet



Tak seperti Papi Rama yang sudah rapi dengan setelan kerjanya, Ridwan bergabung ke meja makan dengan setelan santai, hanya kaos dan celana pendek, rambutnya saja dibiarkan berantakan.


“Nggak ngantor?” tanya Papi Rama saat putranya datang dan langsung mengambil makanan. Niatnya sih mau mogok makan tapi baru jam tujuh perutnya sudah keroncongan. Sepertinya efek selalu sarapan pagi selama di kontrakan Zoya.


“Nggak, Pi. Aku ijin, sakit.”


“Sakit apa? Kamu sehat gitu kok. Jangan suka pura-pura sakit, nanti sakit beneran.”


“Sakit beneran, Pi. Hati aku ini yang sakit. Gara-gara Mami nih main jodoh-jodohin dulu, jadikan sekarang aku yang kena imbasnya, Zoya ngambek.” Keluh Ridwan.


“Mana nggak mau bantuin ngebujuk lagi.” Imbuhnya.


“Bukannya kamu yang dulu bilang nggak butuh bantuan Mami?” ejek Mami Jesi. “Katanya mogok makan.” Sindir Mami Jesi.


“Mami nggak asik.” Ridwan menyudahi sarapannya yang belum selesai. Ia beranjak ke kamar setelah mengambil dua buah roti panggang.


“Pokoknya aku nggak ngantor, Pi. Ijin dulu, sampe Zoya mau jengukin kesini.” Ucapnya sebelum pergi.


Papi Rama menatap putranya yang berlalu pergi. Punya anak dua dengan karakter yang sangat berbeda. Lengkara yang super ceria, agresif, dan selalu semangat non stop sampe apa yang ia inginkan tercapai hingga bisa merubah sosok yang awalnya anti dengannya menjadi orang yang paling mencintainya. Sementara Ridwan? Anak itu lebih sat set ingin simple tanpa ribet. Andai Ridwan seperti Kara, pasti dirinya tak perlu repot seperti sekarang.


“Bantuin Ridwan, Mi. Kalo nggak dibantu bisa-bisa kita gagal punya calon mantu.” Ucap Papi Rama.


“Biarin aja, Pi. Mami pengen tau usaha Ridwan.”


“Ridwan bukan Kara, Mi. Lihat! Bukannya berusaha ngebujuk dia malah nggak ngantor.” Jawab Papi Rama.


Di kantor, Papi Rama mengamati Zoya yang terlihat lesu dari pada biasanya. Pekerjaannya selesei dengan baik, hanya saja gadis itu tak banyak bicara. Saat jam kerja hampir habis, Papi Rama meminta Mikayla memanggil Zoya ke ruangannya.


“Saya mau di PHK yah, bu?” tanya Zoya, sedikit takut. Ia mengira Ridwan benar-benar mewujudkan ancamannya kemarin. Pantas saja sejak diusir dari kontrakan lelaki itu tak menelpon ataupun mengirim pesan padanya hingga saat ini.


“Masuk aja dulu.” Jawab Mikayla seraya membukakan pintu.


Zoya mengangguk sopan saat melihat Papi Rama yang sudah menunggunya.


“Duduk, Zoya.” ucap Papi Rama.


“Iya, Pak.” Jawab Zoya.


“Gimana prospek pemasaran produk baru? Udah mulai?” tanya Papi Rama sekedar berbasa-basi.


“On Process, Pak.” Jawab Zoya.


“Hm sebenernya ada yang mau saya bicarakan pada Bapak.” Zoya tampak berfikir sebentar.


“Ini terkait Pak Ridwan. Saya harap Bapak bisa bersikap bijaksana dan tidak memecat saya. Bagaimana pun semua pekerjaan saya kerjakan dengan baik. Jadi saya mohon jangan pecat saya hanya karena Pak Ridwan yang memintanya, Pak.”


“Saya ada sedikit masalah dengan Pak Ridwan, tapi saya pastikan hal itu tidak akan mengurangi kinerja saya.” Lanjutnya Panjang lebar.


“Saya manggil kamu Cuma buat nanya prospek pemasaran produk, Zoya. Soal kamu sama Ridwan ada masalah apa saya tidak tau.” Ucap Papi Rama. “Tapi hari ini anak itu sakit, nggak keluar kamar sama sekali. Nggak mau makan juga.”


Mami Jesi yang sedang merapikan kaktus-katusnya segera berlari ke dalam rumah saat mendapati sang suami datang bersama Zoya. Ia tentu harus mengamankan putranya yang asik main game di ruang keluarga.


“Ke kamar sekarang!”


“Apaan sih, Mi! jangan ganggu deh, ini satu-satunya cara biar nggak keinget Zoya terus.” Jawab Ridwan tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel miring.


“Ke kamar sekarang! Papi pulang sama Zoya.” tak sabar, Mami Jesi menyeret putranya ke kamar.


“Sama Zoya, Mi?”


“Iya buruan. Katanya sakit, malah main game!” ucap Mami Jesi.


“Ya ampun kenapa Papi nggak ngabarin dulu sih!” Ridwan bergegas berlari ke kamarnya. Mengacak-ngacak rambutnya dan segera berbaring di ranjang dengan selimut yang full menutup tubuhnya.


Zoya masuk ke kamar Ridwan diantar oleh Mami Jesi.


“Mami tinggal yah, nanti kita makan malam bareng.” Ucap Mami Jesi sebelum meninggalkan kamar Ridwan.


“Iya, Tante.” jawab Zoya.


Zoya menghampiri Ridwan dan berdiri di samping ranjang, menatap dalam diam lelaki menyebalkan yang membuatnya tak bisa tidur semalaman. Tak dipungkiri setelah mengusir Ridwan tapi malam dirinya tak bisa tidur. Meski sudah mencoba tenang dan bersikap biasa saja tapi hatinya tak bisa bohong jika hatinya juga sakit.


Ridwan berpura-pura menggeliat layaknya orang bangun tidur. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, “KinderZoy….” Ucapnya lirih seraya menatap Zoya.


“Iya. Mas Ridwan mau minum?” Zoya mengeluarkan botol air dari tasnya dan memberikannya pada Ridwan.


Ridwan menggeleng. Ia menerima botol pemberian Zoya dan meletakannya asal. Ia membenarkan duduknya dan menarik Zoya ke dekatnya, “gue maunya lo. Kangen.” Ucapnya seraya memeluk Zoya yang masih berdiri. Gadis itu mematung sejenak, tapi tangannya reflek mengelus sayang kepala Ridwan.


“Jangan ngambek lagi, gue sampe nggak doyan makan. Kepikiran lo terus. Pokoknya gue tuh nggak ada hubungan apa-apa sama cewek mana pun selain lo, Zoy. Kalo nggak percaya lo tanya aja deh Mami atau papi. Mau tanya ke Jeli juga boleh.” Lanjutnya tanpa melepas pelukan.


Zoya hanya diam karena di kantor tadi Papi Rama sudah menceritakan tentang Lea dan pertunangan mereka yang sudah dibatalkan.


“Lagian bukannya ngejelasin baik-baik Mas Ridwan malah ngancam mau mecat.” Ucap Zoya.


“Ya kan abisnya lo nggak mau ngedengerin. Gue udah ngomong sampe capek juga. Nih sampe sakit kayak gini.” Ridwan kian memperat pelukannya. Membenamkan wajahnya di perut Zoya dengan manja.


“Iya, maaf. Sekarang lepasin! Aku masakin buat Mas Ridwan.” Zoya berusaha melepaskan pelukan Ridwan tapi lelaki itu malah kian mengeratkan pelukannya.


“Lepasin, Mas. Takutnya dilihat Tante Jesi sama Pak Darmawan.”


“Nggak apa-apa, gue mau kayak gini aja terus. Biar kita langsung dinikahin.”


“Mas!”


"Apa sayang? bobo sini yah, biar digrebeg mami terus nikah deh."


Zoya menjambak kepala Ridwan dengan keras, "jangan ngawur deh!"