
Disela-sela pesta Zoya menawarkan dagangannya, banyak dari mereka yang memesan membuat Zoya senang bukan main karena pesta Raizel membawa berkah tersendiri untuknya. Saat lampu-lampu taman menyala dan Adzan magrib berkumandang seketika membuat Zoya ingat jika Ridwan akan menemuinya di kontrakan.
“Mesti pulang nih.” Zoya beranjak menemui keluarga Raizel untuk berpamitan meski puncak acara belum dilaksanakan.
"Nanti aja pulangnya, kakak botol. Kan Jeli belum tiup lilin.” Gadis itu merajuk, bahkan menolak kado yang diberikan Zoya.
“Iya, nanti aja pulangnya kalo pestanya udah selesai. Sekarang istirahat dulu shalat magrib nanti lanjut lagi.” Ucap mami Jesi.
“Opa, kakek sama neneknya Jeli belum pada datang. Om nya Jeli juga belum datang. Nanti mami kenalin sama Om nya Jeli, dia jomblo bakalan cocok sama kamu. Mau yah?” lanjutnya dengan santai.
“Hah?”
“Jadi mantu mami.” Ucap Mami Jesi. Zoya hanya bisa hah heh hoh saja.
“Om nya Jeli nggak kalah ganteng sama Papa nya Jeli. kamu lihat aja nanti, pasti suka. Anaknya baik kok, perhatian meskipun cuek. Pokoknya klop deh sama kamu.” Lanjutnya.
“Tapi bu, aku…” Zoya sampai kesulitan untuk berbicara karena mami Jesi terus nyerocos tanpa henti.
“Udah kamu temui aja dulu nanti. Tunggu bentar lagi pasti datang, harusnya dia udah datang dari tadi sih, biar mami telpon dulu.”
Saat mami Jesi menelpon Ridwan, Zoya melirik ponselnya yang sejak tadi bergetar. Ada nama Ridwan terpampang di layar benda pipih itu.
“Cih! Susah banget sih ini anak sibuk mulu nomornya.” Gerutu mami Jesi.
“Pokoknya kamu tunggu aja dulu disini, mami mau kenalin anak mami nanti.” Tegas mami Jesi pada Zoya.
“Tapi, bu…”
“Mami borong semua yang ada di katalog kamu!” ucap Mami Jesi.
Mulut Zoya langsung menganga, borong? Semua yang ada di katalog? Uwow! Masa bodoh dengan Mas Ridwan yang penting banjir orderan saja dulu. Ia lantas mengirim pesan singkat pada Ridwan jika saat ini dirinya sedang dalam acara penting dan tak mau diganggu.
“Beneran bu?” tanya Zoya.
“Bener.” Jawab Mami Jesi. “Lengkara juga bakal ikutan ngeborong. Iya kan sayang?” lanjutnya pada Kara.
“Mi…” Kara langsung melirik maminya begitu melihat katalog. Pikirnya untuk apa membeli produk yang perusahaannya saja milik keluarganya.
Sst! Mami Jesi memberi kode. “pesen aja!” tegasnya pada Kara.
“Produknya bagus-bagus kan yah kakak botol…” lanjutnya pada Zoya.
“Iya bagus-bagus, bu. Pokoknya rekomendasi banget deh.” Zoya langsung memasarkan produknya. Seperti mami Jesi, Kara iya-iya saja dan memesan semua produk milik perusahaan papi nya.
Berbeda dengan Zoya yang bahagia karena banjir orderan, Ridwan justru sedang uring-uringan di depan kontrakan Zoya. Apalagi setelah mendapat pesan jika Zoya tak mau diganggu, pikirannya jadi kacau tak karuan. Bang Ahmad dan Teh Ismi sampai heran melihatnya, kenapa Ridwan bisa sekesal itu hanya karena tau sepupunya pergi bersama Gilang.
“Beneran tadi perginya sama Gilang, Bang?”
“Iya tadi sore dijemput. Neng Zoya sama Gilang udah jadian kah? Tadi Neng Zoya beda loh, rambutnya aja digerai. Lebih cantik dari biasanya." Teh Ismi yang menjawab.
“Apa!!”
“Jangan emosi gitu! Mereka cocok, lo ngalah lah. Gilang juga nggak bakalan mau sama lo. Dia normal.” Timpal Bang Ahmad, semakin membuat Ridwan kesal. Apalagi ponsel Zoya tak kini malah tak aktif dan sialnya sang mami malah terus menerus menelponnya ditambah dengan puluhan chat yang memintanya segera datang ke rumah Lengkara.
“Nggak cocok sama sekali.” Jawab Ridwan kemudian berlalu pergi begitu saja.
“Bisa-bisanya gue keduluan sama gilingan tepung!” gerutunya. Ia lantas menghubungi Mikayla, “Gue nggak mau tau, pokoknya mulai besok gue mau staf marketing yang namanya Gilang lo pindahin ke kantor cabang!” ucapnya singkat kemudian mengakhiri panggilan setelah selesai bicara tanpa menunggu respon Mikayla. Otaknya benar-benar kacau saat ini, tanpa sadar malah reflek mengsimulasikan Zoya yang sedang makan malam romantic dengan Gilang.
Ridwan tiba di rumah kakaknya dengan wajah lesu. Tak peduli dengan sang mami yang terus mengoceh perkara calon istri baru, otak Ridwan masih menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Zoya dan Gilang saat ini. Benarkah mereka sudah jadian seperti yang dikatakan teh Ismi?
“Ridwan! Kamu denger mami ngomong nggak sih?” Mami Jesi memukul pelan lengan putranya. “pokoknya nanti kamu harus ramah sama calon pilihan mami, jangan cuek kayak waktu ketemu Lea dulu." lanjutnya.
“Iya, Rid. Gue udah klop anaknya imut kayak gue, nggak neko-neko juga. Dan yang terpenting pekerja keras.” Imbuh Lengkara.
Huft… Ridwan hanya menghela nafas Panjang seraya memejamkan matanya sejenak, sudah pusing memikirkan Zoya kini malah ditambah ocehan Panjang lebar Mami dan kakaknya.
Ridwan tersenyum miris kala membuka mata dan melihat Zoya lewat di depan ruang keluarga sambil menuntun Raizel. “Gue pasti udah nggak waras.” Gumamnya.