
“Makasih udah nganterin aku pulang Mas.” tanpa menunggu respon dari Ridwan, Zoya langsung turun dan meninggalkan lelaki yang selalu mengakui sebagai calon suaminya itu.
Setelah kejadian di pesta ulang tahun Raizel tadi benar-benar membuatnya merasa nano-nano tak karuan. Antara shock campur bingung, plus malu karena Lengkara terang-terangan membahas tentang orang special yang ia akui saat di kamar Raizel tadi. Sungguh malunya sampe ke ubun-ubun saat Lengkara membongkar sosok yang membuat dirinya nyaman di depan Ridwan. Lelaki yang selalu mengklaim dirinya sebagai calon istri tentu senang bukan main, dia malah makin semangat untuk menikah. Andai kantor urusan agama buka dua puluh empat jam, mungkin malam ini status dirinya sudah berubah menjadi seorang istri. Perkara wali entahlah, duo anak dan mami nya tadi benar-benar rusuh. Untung masih ada Papi Rama dan Dirga yang paling waras diantara mereka.
Melihat Zoya yang pergi begitu saja membuat Ridwan enggan beranjak dari sana. Wajah terkejut, bingung dan malu-malu gadis itu sungguh sangat disayangkan jika harus dilewati begitu saja. Lagi pula jarum jam masih menunjuk angka Sembilan lebih tiga puluh menit, belum terlalu malam untuk menemani calon istrinya dulu sebelum pulang.
Ridwan turun dari mobilnya membawa beberapa bingkisan dari ulang tahun Raizel. Sengaja ia bawa untuk Bang Ahmad, pemilik kontrakan dan beberapa tetangga mereka. Ridwan menghampiri Bang Ahmad yang hanya mengenakan kaos oblong serta sarung yang hanya dililit begitu saja.
“Abis treatmen yah, Bang?” tanya Ridwan, “ada sedikit makanan nih Bang, lumayan. Dibagi-bagi yah sama yang lain.” Lanjutnya.
“Makasih. Rejeki emang abis olahraga, cape.” Ucap Bang Ahmad.
“Ketemu dimana sama Zoya? tadi berangkat morang maring, pulang cengar cengir nggak jelas lo.” Lanjutnya yang merasa aneh dengan perubahan sikap Ridwan.
“Ada deh.” Jawab Ridwan asal kemudian berlalu ke kontrakan Zoya. “Jangan lupa bagiin yah, Bang!” ucapnya sebelum pergi.
Ridwan masuk ke kontrakan Zoya, gadis itu sedang mencacat list orderan ke laptopnya. “Mas Ridwan kok kesini? Nggak pulang?”
“Kan ini gue udah pulang.” Ridwan duduk di samping Zoya. “lagi ngapain?”
“Lagi ngapain?” Zoya mengulang pertanyaan Ridwan. “Kan bisa lihat sendiri aku lagi ngapain. Lagi makan nih.” Jawabnya ngawur. Sebisa mungkin Zoya bersikap biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa. Hal itu satu-satunya cara supaya ia tak canggung di hadapan Ridwan.
“Ya ampun kok KinderZoy nya gue sewot sih? Padahal tinggal jawab aja, lagi ngelist orderan Mas Ridwan sayang.” Ledeknya.
“Apaan sih! Mas Ridwan ngeselin. Pulang aja sana!” usir Zoya, tangannya reflek menabok lengan Ridwan.
“Yakin nih disuruh pulang? Siapa yang tadi nolak dijodohin sama Om Malaikat gara-gara udah punya orang yang bikin nyaman hm? Orang yang manggil pake sebutan KinderZoy.” Ledek Ridwan.
“Ngomong-ngomong siapa yah suka manggil Zoya Vivanti pake sebutan kinderZoy? Gue jadi penasaran loh. Se special itu yah dia.” Ledeknya lagi.
“Mas!” Zoya menabok lengannya lagi.
“Belum rumah tangga udah KDRT duluan nih.”
“Ngeselin!” ketus Zoya.
“Tapi special kan?” Ridwan mencubit kedua pipi Zoya.
“Tau ah! Kesel! Aku mau tidur. Mas Ridwan pulang aja sana.” Zoya menepis kedua tangan Ridwan kemudian meringkuk di kasur.
Ridwan menggeser duduknya ke dekat kasur Zoya. “lampunya matiin apa biarin nyala?”
“Biarin aja. Biasanya juga nyala.” Jawab Zoya lirih.
“Ya udah, tidur yang nyenyak calon istri gue.” Ucapnya seraya mengelus kepala Zoya. ia lantas ikut tertidur di lantai hanya beralaskan karpet.
Zoya belum terlelap saat tangan Ridwan berhenti mengelus kepalanya. Ia lantas membuka selimutnya supaya lebih lebar untuk menyelimuti Ridwan.
“Dasar ngeselin!” mengira Ridwan sudah terlelap Zoya balas menoel-noel pipi Ridwan. Ingin balas mencubit tapi takut lelaki itu bangun.
Heh! Zoya langsung beringsut kembali ke kasurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut saat mendapati Ridwan tiba-tiba membuka mata dan tersenyum mengejek padanya. Bahkan selimut yang semula ia lebarkan supaya bisa menyelimuti Ridwan kini kembali tertarik ke tubuhnya semua.
“Mau pegang lagi juga boleh. Nih…” ledek Ridwan. Ia tersenyum gemas melihat sikap Zoya yang kekanakan.
“Apaan sih! Nggak!”
“Iya-iya nggak deh. Udah tidur lagi aja. Nih gue tepuk-tepuk punggungnya biar nyenyak tidurnya. Kayak si Jeli, lucu banget sih.” Ucap Ridwan.
Zoya mengumpati kebodohannya sendiri di balik selimut. Tapi jujur ia senang, meski campur malu tapi akhirnya malam ini ia kembali bisa tidur nyenyak karena patner kontrakannya ada disini.
Pagi harinya, Ridwan menunggu Zoya untuk shalat berjamaah tapi gadis malah beranjak ke dapur dan bersiap untuk masak.
“Shalat dulu!”
“Oh…” Ridwan hanya mengangguk. “Langsung siap-siap aja nggak usah masak. Sarapan bareng di rumah gue.” Lanjutnya.
Awalnya Zoya menolak untuk ikut ke rumah Ridwan, tapi lelaki itu terus memaksa hingga akhirnya ia menurut. Sampai rumah Ridwan, Zoya disambut heboh oleh mami Jesi. Wanita itu senang sekali Zoya datang ke rumahnya pagi-pagi sekali, sesuai permintaannya tadi malam.
“Masuk sayang, mami udah masak banyak banget. Special buat kamu.” Ucap Mami Jesi. “Biasanya Ririd suka masak pagi-pagi tapi hari ini dia nggak masak, semalem nggak tidur di rumah. Pasti tidur di kosan Davin!”
“Ngaku! Iya kan!” lanjutnya pada Ridwan yang hanya pergi melengos ke kamarnya.
“Davin itu temen sekolahnya dulu, temen main juga. Si Ririd kan gila game, kamu mesti sabar ngadepinnya. Dia kabur-kaburan mulu, sering tidur di kosan Davin dari pada di rumah. Nanti kamu bilangin Ririd supaya tidur di rumah.”
“Iya, bu.” Jawab Zoya lirih. Rasanya sedikit berdosa menjawab iya-iya saja padahal ia tahu jika selama ini Mami Jesi dibohongi putranya. Ridwan selalu tidur di kontrakannya, bukan di kosan Davin.
Bukan hanya sarapan bersama, Zoya bahkan berangkat bersama Ridwan. Kedatangan mereka yang berjalan bertiga bersama Papi Rama mengundang banyak perhatian. Apalagi Ridwan yang secara terang-terangan mendanggandeng tangan Zoya dan tak melepaskannya meski gadis itu berusaha melepaskan diri makin menyita perhatian. Grup chat kantor yang Sebagian besar digunakan untuk ghibah saat tak ada kerjaan saja dipenuhi oleh bahasan terkait hubungan Zoya dan anak pemilik perusahaan. Banyak diantara karyawan yang tadinya bersikap biasa saja pada Zoya menjadi lebih sopan bahkan terkesan cari muka. Zoya sampai merasa risih karena sikap para karyawan yang berlebihan.
“Temen-temen hormat dulu, calon mantunya bapak direktur datang nih.” Ledek Sisil.
“Apaan sih, Sil! Ngaje banget.” Ucap Zoya. Ia sebisa mungkin bersikap professional.
Namun susah payah bersikap professional malah kembali berkahir di ruangan Ridwan. Karena baru dua jam berlalu setelah berpisah ke ruangan masing-masing dirinya sudah dipanggil kesana. Aslinya malas, tapi dari pada Ridwan yang mendatanginya dan menimbulkan kehebohan yang berlebihan maka tak ada salahnya dirinya mengalah.
“Permisi, Bapak manggil saya?” tanya Zoya dengan formal begitu masuk ke ruangan Ridwan.
“Bapak! Bapak! Panggil sayang dong. Sama calon suami sendiri juga.” Balas Ridwan.
“Kan lagi kerja, Mas.” jawab Zoya.
“Bawel ngejawab mulu. sini! Duduk sini!” Ridwan menepuk sofa di sampingnya.
Zoya menurut, ia duduk tepat di samping Ridwan. Tapi begitu dia duduk, lelaki itu malah beranjak dan berpindah berlutut di depannya.
Ridwan mengeluarkan cincin berlian yang rencananya akan ia gunakan untuk melamar Zoya tadi malam namun berakhir lupa. Bingung juga harus berkata apa karena tanpa persiapan sama sekali dan baginya hal-hal seperti ini tak penting. Maklum lah selama ini kan dirinya hanya focus pada game. Namun Davin dan Mikayla tetap menyarankannya melamar Zoya secara benar, bukan sekedar kata-kata klain calon istri. Karena selain pembuktian, perempuan membutuhkan pernyataan.
Ridwan mengambil tangan kiri Zoya dan memasangkan cincin itu dijari manisnya. “Jadi istri gue yah…”
“Hah?”
Ridwan mencubit gemas kedua pipi Zoya. “kebiasaan hah heh hoh mulu!” ejeknya.
“Udah gue lamar yah! Jadi mulai sekarang gue nggak ngaku-ngaku lagi. Lo emang calon istri gue.” Tegas Ridwan.
“Tapi kan aku belum jawab Mas.” ucap Zoya.
“Udah nggak usah dijawab, ini Cuma formalitas kok. Besok kita nikah!” pungkas Ridwan.
“Hah?”
“Hah heh hoh terus dari semalem! sekarang lamarannya udah selesei, lo boleh lanjut kerja lagi.” Ucap Ridwas seraya mengantar Zoya hingga depan pintu.
Zoya menengok sekilas sebelum jauh, Ridwan melambaikan tangan padanya. “Mas Ridwan udah gila! Lamaran apaan kayak gitu.” Gerutu Zoya. Ia memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya, “cantik banget.” Gumamnya sambil tersenyum.
.
.
.
Warning!
Kalian nggak usah ikut senyam senyum! Yang dilamar Ririd si KinderZoy bukan kamu wkwkwkwkkwk