MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Klinik



“Assalamualaiku, Jeli datang nih.” Gadis kecil itu setengah berlari menghampiri orang-orang yang tengah berada di ruang tamu. Ia lantas menyalami Oma dan Tantenya sementara si Om masih anteng dengan perut istrinya.


“Om Ririd nggak mau salim?” tanya Raizel. Pria itu hanya mengulurkan tangannya tanpa bicara.


“Om Ririd kenapa Tante?” tanyanya kemudian pada Zoya. Belum sempat Zoya menjawab, gadis kecil itu sudah beralih pada meja yah penuh makanan.


“Wah banyak makanan. Jeli mau ini, mau ini juga.” Dia mengambil dua buah es krim yang hampir meleleh dari sana. “Boleh yah, Oma?” lanjutnya meminta izin sebelum memakannya.


“Boleh, sayang.” Jawab Mami Jesi yang kemudian memangku Raizel. Seperti biasa cucunya langsung bercerita tentang kegiatannya di sekolah.


Lengkara yang baru masuk ke dalam rumah dan duduk di samping Mami nya menatap heran pada sang adik yang tak melepaskan pelukan dari perut istrinya. “Kenapa si Ririd, Mi?”


“Lagi maksa calon anaknya biar ngidam dia. Aneh.” Jawab Mami Jesi.


“Wih beneran mau jadi bapak ini bocah? Serius?”


“Iya, Mba.” Jawab Zoya.


“Wah selamat yah. Aku ikut seneng dengernya. Jeli, kamu bentar lagi punya temen main. Tante botol mau punya dede kecil tuh.” Seru Lengkara.


“Dede kecil? Jeli mau dedek kecil, Mama.” Raizel langsung melompat dari pangkuan sang Oma dan menghampiri Zoya.


“Om Ririd, awas! Jeli mau liat dede kecil.”


“Dede kecilnya lagi bobo. Jeli makan aja sana.” Perkara ponakannya ingin mengelus perut Zoya saja tak diizinkan.


“Pelit banget lo sama anak kecil juga.” Sela Kara.


“Diem ah! Anak gue belum ngidam ini, padahal gue udah siap direpotin.”


“Dasar gebleg! Mana bisa ngidam dipaksa! Nggak usah aneh-aneh. Lo tuh harusnya bersyukur Zoya nggak ngidam. Belum tau aja lo ngadepin orang ngidam, repot!” ucap Kara.


“Belum tau gimana? Gue udah pengalaman. Dari zaman laki lo yang ngidam, emang siapa yang ikut repot? Belum lagi waktu lo hamil Jeli, pengen ini itu gue juga yang ikut repot. Sekarang gue pengen direpotin sama anak sendiri, kenapa malah nggak ngidam sih! huft." Ridwan menghembuskan nafasnya kasar.


“Besok gue mau tanya ke dokter takutnya ada masalah, soalnya Zoya nggak ngidam. Takut anak gue kenapa-kenapa.”


“Bukan anak lo yang kenapa-kenapa tapi otak lo yang oleng. Orang ngidam dipaksa.” Ejek Lengkara.


Esok paginya, Ridwan sudah bersiap untuk lebih dulu pergi ke dokter kandungan sebelum ke kantor. ia bahkan bangun lebih awal dan menyiapkan susu vanilla dingin begitu Zoya bangun tidur. Tak hanya sampai situ, dia juga memasak untuk Zoya. Meskipun Mami Jesi sudah menghandle semuanya, tapi tetap saja Ridwan ingin istrinya memakan masakan buatannya.


Zoya begitu bersyukur memiliki mertua seperti Mami Jesi. Keluarga Ridwan sangat perhatian padanya, mereka bahkan ikut-ikutan tak makan nasi demi menantunya supaya tak mual apalagi muntah-muntah.


“Maaf yah, Papi sama Mami jadi ikut-ikutan nggak makan nasi gara-gara aku.”


“Nggak apa-apa. Kita tetep makan nasi kok, di jam makan siang. Yang penting kamu sama calon cucu papi sehat.” Ucap Mami Rama.


“Zoya jadi nggak enak. Ngerepotin terus.”


“Nggak ada yang direpotin. Ayo abisin sarapannya terus ke dokter, nanti di temenin Mami.” Jawab Papi Rama.


“Enak? Kalo kurang enak harus maklum yah, soalnya aku pake bumbu racik. Kapan-kapan aku belajar bikin bumbu sendiri biar lebih enak.” Ucap Ridwan.


“Enak kok, Mas. Makasih udah masak buat aku.”


“Sama-sama, sayang.”


Usai sarapan, Ridwan dan Zoya pergi ke rumah sakit dengan Mami Jesi. Di perjalan Ridwan berhenti lebih dulu dan membeli aneka jajanan pasar yang berjajar di pinggir jalan.


“Buat jaga-jaga takutnya nanti kamu ngidam.” Ridwan meletakannya di depan Zoya.


“Aku nggak pengen loh, Mas. Kayaknya Mas Ridwan yang ngidam deh. Ngidam belanja, soalnya aku amatin dari kemaren Mas Ridwan tuh selalu beli ini itu nggak berenti-berenti. Iya kan, Mi?”


“Haha… iya kayaknya gitu. Udah biarin aja suka-suka dia, Zoy.” Jawab Mami Jesi dari belakang.


“Aku kan jaga-jaga, sayang. Suami siaga.” Ujar Ridwan.


“Iya, makasih yah Mas. Udah super siaga buat kita berdua.” Zoya tersenyum simpul.


Sampai di salah satu klinik dokter kandungan ternama, mereka langsung menunggu di depan ruangan dokter. Mami Jesi memang lebih merekomendasikan menantunya ke klinik ini karena fasilitas dan layanan yang menurutnya lebih memuaskan di banding rumah sakit. Meskipun harganya jauh lebih mahal tapi pelayanan disini tak diragukan lagi, antriannya pun tak sebanyak di rumah sakit.


Selama menunggu, Ridwan tak henti-hentinya menawarkan makanan pada Zoya. Meskipun istrinya berulang kali menolak tapi ia tak mau kalah terus saja membujuk. Hingga saat Mami Jesi memanggil nama seseorang membuatnya seketika menengok.


“Lea, kamu ngapain disini?”


Lea yang baru keluar dari ruangan dokter sedikit gugup. “Abis konsul, Tan. Saudara aku hamil muda, dia nggak bisa kesini jadi aku wakilin. Ini udah dapat resepnya.” Dia menunjukan selembar kertas di tangan kanannya.


“Oh, Tante kira kamu yang hamil.” Ucap Mami Jesi.


Lea tersenyum kaku, “ya nggak mungkin lah, Tan. Gimana mau hamil, nikah aja belum.”


“Bercanda, sayang. Tante seneng lihat kamu sehat. Tente kesini nganterin Zoya. Ridwan mau jadi ayah loh.” Mami Jesi pamer. “Salam yah buat Ayah sama ibu kamu.” Lanjutnya sebelum masuk ke ruangan dokter bersama Ridwan dan Zoya.


Sampai Zoya selesai di periksa, Lea masih ada di sana menunggu diberi obat. Ia bahkan duduk tak jauh dari Ridwan, Zoya dan Mami Jesi.


“Atas nama ibu Lea, atas nama ibu Zoya.” Saat kedua nama tersebut di panggil bersamaan, Ridwan dan Lea sama-sama beranjak untuk mengambil obat.


“Katanya yang hamil saudara? Kok yang dipanggil nama lo?” sindir Ridwan, “jangan-jangan lo berdua berhasil yah tanam sahamnya? Buruan minta tanggung jawab deh, jangan sampe pas nikah perut lo udah gede. Kasihan bokap nyokap, malu.” Lanjutnya.


“Bukan urusan lo!” ketus Lea kemudian pergi lebih dulu.


Lea terisak di balik dinding, menatap Ridwan bersama istri dan mami nya yang terlihat begitu bahagia. Sementara dirinya harus menjalani hidup yang tak menyenangkan akhir-akhir ini. Kedatangannya kesini untuk memeriksa apakah janinnya baik-baik saja? Yang ia harapkan tentu janinnya dalam keadaan yang tak baik supaya bisa digugurkan. Tapi sial, janinnya begitu sehat meskipun ia selalu meminum minuman keras bahkan aneka obat yang bisa mengakibatkan keguguran. Dan lebih naasnya lagi dia harus bertemu dengan Ridwan dan Mami nya hari ini.


Lea nyaris melempar ponselnya asal kala membaca chat masuk dari Revan. “Ke apart sekarang! Layanin gue!”


“Si al!” Lea mengumpat kesal. Sekarang ia tak lebih dari layaknya pelayan yang harus melayani semua keinginan Revan. Dari mulai hubungan intim hingga sejumlah uang yang harus ia berikan secara rutin tiap kali lelaki itu meminta. Semua demi menjaga kehamilannya supaya tak terdengar oleh kedua orang tuanya.


“Liat aja nanti kalo ini anak udah gue gugurin. Gue bakal balas lo Revan!” gerutunya.