
Ridwan memacu mobilnya dengan kecepatan penuh menuju kosan Davin. Padahal ia sudah berencana tidur di depan kontrakan Zoya sampai pagi pun tak apa-apa, bahkan sampai sakit seperti dulu pun tak masalah toh akan berakhir di rawat oleh patner kontrakannya. Namun kali ini kenyataan tak sesuai ekspektasi, baru beberapa menit dirinya duduk ponselnya terus berdering. Dengan malas ia mengangkatnya dan seketika hengkang dari kontrakan Zoya.
“Ngapain juga Mami pake nyusul ke kosan Davin sih! Heran gue, nggak bisa banget anaknya bebas dikit.” Ridwan kian memperdalam injakan pada gas nya.
Begitu tiba di kosan Davin, ia segera menghampiri Mami dan Papi nya yang berdiri di depan kamar.
“Mami, ngapain sih Mi malem-malem kesini?” tanya Ridwan, meskipun mood nya acak kadul tapi tetap menyalami mami tersayang, sang papi pun tak terlewat ikut ia salami.
“Sama gue nggak salim, Rid?” Davin ikut-ikutan mengulurkan tangan yang langsung di tampol jauh oleh Ridwan.
“Pulang sekarang! Nggak ada nginep-nginep di kosan Davin lagi! Kalo perlu Davin ikut pindah aja ke rumah kita!” ucap Mami Jesi tak terbantahkan.
“Iya besok pagi aku pulang, Mi. Sekarang Mami sama Papi pulang aja udah malem, nggak baik malem-malem orang tua keluyuran, kena angin malem nggak sehat Mi.” jawab Ridwan. Yang ada di otaknya kini hanya berusaha membuat kedua orang tuanya pulang kemudian ia akan bergegas kembali ke kontrakan Zoya.
“Pulang!” tegas Mami Jesi.
“Udah-udah pulang sana, Rid. Kagak lucu kalo mami lo ceramah disini ntar tetangga kamar gue pada keganggu.” Bisik Davin.
“Pulang sekarang! Mami udah uring-uringan dari tadi, papi sampe pusing.” Ucap Papi Rama.
Ridwan tak bisa berkutik jika papi nya sudah bicara, “oke aku pulang.”
Takut putranya tak pulang ke rumah, mami Jesi sampai berpindah ikut ke mobil Ridwan dan membiarkan suaminya berkendara sendiri demi memastikan sang putra kembali ke rumah.
“Udah sampe nih, puas kan mami aku udah pulang.” Ketus Ridwan.
“Emang seharusnya kamu tidur di rumah kan? Udah masuk sana langsung istirahat.” Jawab Mami Jesi.
Ridwan berlalu masuk lebih dulu meninggalkan mami nya. Sampe di kamar ia sama sekali tak bisa terlelap, keseringan tidur di kontrakan Zoya membuatnya merasa aneh berada di kamarnya sendiri. Demi bisa terlelap Ridwan bahkan pindah tidur ke lantai dengan menggunakan selimut sebagai alasnya, tapi tetap saja matanya enggan terlelap.
Di tempat lain sama halnya dengan Ridwan, Zoya juga tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Gadis itu berulang kali meringkuk kesana-kemari mencari posisi ternyaman tapi tetap saja tak berpengaruh sama sekali. Zoya beranjak dari kasurnya, membawa selimut serta bantal. Ia berencana memberikannya pada Ridwan, ia ingat betul terakhir kali lelaki itu sakit gara-gara tidur diluar.
Zoya membuka pintu perlahan, mengintip lebih dulu sebelum membuka pintu itu lebar-lebar. Sorot matanya sayu begitu tak mendapati Ridwan di depan kontrakan, padahal dua jam lalu lelaki itu terus meminta masuk sampai menendang pintu berulang kali.
“Ternyata beneran pulang.” Ucapnya lirih seraya masuk kembali dan mengunci pintu.
Zoya duduk di atas kasurnya, pikirnya melanglang jauh. Tak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini. Tadi ia yang bersikeras mengusir Ridwan, tapi kini ia pula yang merasa kehilangan. Kontrakannya terasa begitu sepi, kosong dan hampa.
Dulu ia selalu berharap Ridwan cepat-cepat pergi dari kontrakannya karena lelaki itu begitu merepotkan, tapi kini mengetahui kebenaran lelaki itu benar-benar sudah pergi dan kembali ke kehidupannya membuat rasa tak ihklas itu muncul.
Ck! Zoya mengacak rambutnya sendiri. Ia berguling sambil memeluk selimut yang biasa ia gunakan bersama Ridwan. Meskipun ia tidur di kasur dan Ridwan di bawah, tapi mereka tetap menggunakan selimut yang sama.
“Huh! Kamu kenapa sih Zoy?” tanyanya pada diri sendiri.
Zoya menatap lantai tempat biasa Ridwan tidur dengan lesu. Ia tak bisa berkata-kata, bayangan patner kontrakannya tidur disana masih membekas.
“Tidur Zoya, tidur!” ucapnya lirih.
Sebelum subuh Ridwan sudah bangun, meskipun semalam sulit tidur tapi akhirnya ia terlelap. Ridwan buru-buru bangun untuk menyiapkan sarapan dan beres-beres rumah kemudian shalat berjamaah dengan Zoya. Ia menghembuskan nafasnya berat begitu sadar jika dirinya tak lagi di kontrakan Zoya. “Huft… lupa yah gue udah pulang.” Ucapnya yang kemudian pergi ke kamar mandi.
Akibat terbiasa melakukan banyak hal saat pagi hari di kontrakan Zoya membuat Ridwan pergi ke dapur dan memasak. Mami Jesi yang baru ke dapur sampai kaget melihat putranya yang sibuk dengan Teflon serta sutil.
“Ini Mami nggak salah lihat kan?” ucap Mami Jesi seraya menghampiri putranya. Ridwan tak menjawab, ia acuh dan focus dengan masakannya. Ia masih kesal gara-gara di paksa pulang, andai tak pulang pasti sekarang ia sedang masak di kontrakan Zoya.
“Sejak kapan tangan biasanya cuma bisa mijitin HP sama computer sekarang pegang sutil?” Mami Jesi cukup takjub melihat Ridwan bisa membuat telur balado yang terlihat menggugah selera. Ditambah lagi ada cobek yang kotor, dipastikan putranya menghaluskan bumbu secara manual.
“Bisa ngulek bumbu juga kamu, Rid?” Mami Jesi mengikuti putranya yang berjalan ke lemari kemudian mengambil misting dan meletakan masakannya di sana.
“Sisain-sisain mami mau coba!”
“Nggak!”
Raut wajah Mami Jesi cemberut, pikirnya pelit sekali putranya ini. Ridwan beralih mengambil misting baru dan memasukan nasi, kemudian memasukan kedua mistring itu ke tas bekal lengkap dengan air putih.
“Ya ampun kamu masak nasi juga? Wah besok-besok mami nggak perlu masak kalo gitu.” Mami Jesi mengangguk-ngangguk setelah mencicipi nasi yang dimasak Ridwan. Takaran airnya pas sehingga tak terlalu lembek maupun keras. Ia juga mencicipi sisa bumbu balado di Teflon, lumayan enak.
Belum cukup keterkejutannya karena putranya bisa masak, kini Mami Jesi kembali melongo tak percaya melihat Ridwan menyapu ruang tamu. “Ini beneran Ridwan anak aku bukan sih? Kenapa mendadak rajin gini? Biasanya aja suruh sarapan mesti di susul.” Gumamnya.
Berbeda dengan Ridwan yang tetap melakukan rutinitas seperti di kontrakan meski sudah di rumah, Zoya malah temenung sejak bangun tadi. Tak ada yang mengajaknya shalat berjamaah, tak ada yang sibuk di dapur saat dia bangun, tak ada yang ia omeli pagi-pagi. Rasanya begitu sepi dan kosong.
.
.
.
.
Sepi yah, Zoy? Berasa ada yang ilang yah? Sabar yah wkwkwkwk
Jangan lupa like, komen sama subscribe gaes.
Follow tik tok aku @netprofit2704 visual aku up disana.