MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Terciduk



“Ya Allah…” Zoya memastikan ulang apakah nama yang berada di urutan pertama itu benar-benar namanya. Matanya nyaris tak berkedip memandangi daftar pelamar yang diterima bergabung bersama Loverware.


“Mas Ridwan… liat nih. Ya ampun Mas…” teriaknya dari dapur. Gadis itu memang tengah memasak mie instan karena perutnya minta diisi kembali, dari pagi sampai sore hanya makan nasi dan telur dadar, wajar jika baru tiga jam berlalu cacingnya sudah kembali minta diberi makan.


“Mas!” teriaknya lagi karena Ridwan tak kunjung menghampirinya.


“Iya apa? Mau marah-marah lagi? Please, jangan lah! Ini telinga sampe nguing-nguing.” Jawab Ridwan tanpa bergeser satu centi pun dari posisi duduknya yang sudah pewe sambil membalas chat masuk dari teman-teman kampus Zoya yang masih saja PDKT berkedok beli produk.


“Mas Ridwan lagi ngapain sih? Dipanggil nggak nyamperin! HP mulu! lama-lama aku jual deh HP nya.” Zoya cemberut. Ia lantas mengintip sedikit layar benda pipih itu.


“Apa? Mau lihat? Nih liat aja.” Ridwan memberikan ponselnya pada Zoya.


“Ya kan takutnya Mas Ridwan lagi treatmen masuk neraka.” Sindir Zoya. Bukan apa-apa, ia hanya takut kalo sampai Ridwan mengoleksi video-vidio treatmen dari Bang Ahmad, secara mereka tadi terlihat sangat akrab.


Ck! Ridwan menatap Zoya dengan sengit. “Akhir-akhir ini otak lo perlu di sapu yah! Kotor mulu! su’udzon mulu sama gue.”


“Seenaknya aja bilang treatmen masuk neraka. Lo nggak tau aja kalo ponakan gue manggil gue tuh Om Malaikat. Lo tau kan malaikat penjaga pintu surga?”


Zoya termenung sebentar, di dalam hati ia menyebutkan sepuluh malaikat dan tugasnya yang pernah dihafalkannya saat sekolah agama dulu. “Malaikat Ridwan.” Jawab Zoya. “Eh iya yah, sama kayak nama Mas Ridwan.” Lanjutnya.


“Nah makanya kalo lo pengen masuk surga harus baik-baik sama gue, jangan ngomel-ngomel mulu sama gue. Mau lo nggak gue kasih tiket masuk surga?” ledek Ridwan.


“Ngaco! Itu sih maunya Mas Ridwan aja.” Jawab Zoya asal. Matanya focus membaca satu persatu chat masuk dari teman-temannya di HP Ridwan.


“Ck! Pada keganjenan banget.” Zoya menggelengkan kepala kemudian melempar ponsel itu ke kasur.


“Ancur dah itu HP. Udah HP kentang main lempar aja.” Gerutu Ridwan.


“Abisnya pada ngeselin. Mulai besok yang pada keterlaluan nggak usah diladenin Mas. Apalagi yang ngajak jalan sampe pura-pura jadi pacar, jangan digubris yang itu.” Ketus Zoya.


Ridwan lumayan kaget dengan kalimat yang baru saja keluar dari bibir seorang yang biasanya gila uang, apa pun caranya asal penjualan meningkat akan dilakukan tapi kali ini mendadak lain. Jangan digubris? Padahal pelanggan itu akan membeli dua set senilai tujuh juta asal dirinya mau berpura-pura jadi pacar demi memanasi sang mantan.


Ridwan menempelkan punggung tangannya di kening Zoya, “nggak panas tapi kok lo oleng yah?”


“Apaan sih! Aku nggak sakit. Pokoknya mulai sekarang nggak usah ngelayanin yang keganjenan!” ucap Zoya.


“Jangan-jangan lo jealous yah? Tadi diajak nikah kagak mau, sekarang gue balesin chat doang kagak boleh.” Ledek Ridwan.


“Apaan sih, Mas! nggak yah.” Ketus Zoya. “Nggak usah ngeledek mulu kalo nggak mau aku usir dari sini.” Ancamnya kemudian.


“Iya, iya ampun jangan diusir.” Ucap Ridwan lirih.


“Mulai besok Mas Ridwan nggak usah ngelayanin temen-temen kampus aku lagi. Besok aku mulai kerja di loveware, Mas. Aku diterima loh alhamdulillah. Nih liat, beneran nama aku kan ini?” Zoya menunjukan pengumuman di website loveware.


“Zoya Vivanti.” Ridwan membacanya kemudian mengangguk. “Selamat bergabung di loverware.” Lanjutnya seraya menepuk kedua Pundak Zoya.


“Nggak usah makasih sama gue. Kan gue nggak ngelakuin apa-apa. Lo berhak kerja disana sih, effort lo nggak main-main. Berarti mulai besok gue nggak perlu jualan misting lagi yah? Kan lo udah kerja di perusahaannya langsung. Mending lo beliin gue HP yang bagus, kalo HP nya bagus gue bisa ngehasilin banyak uang buat lo.” Ucap Ridwan.


Zoya langsung menjauhkan kedua tangan Ridwan dari bahunya. Tadi ia sempat terpaku saat pemuda itu mengucapkan selamat dan pujian atas usahanya, tapi ujung-ujungnya sangat tidak menyenangkan. Berhenti jualan? Big no. kalo bisa dapat double dari gaji perusahaan sama penjualan mandiri, why not?


“Maksud aku tuh Mas Ridwan berenti ngelayanin temen-temen aku yang ganjen, bukan berhenti jualan. Enak aja!”


“Mas Ridwan focus anterin pesanan sama narik kredit aja. Focus pelanggan emak-emak.” Tegas Zoya.


Esok harinya usai sarapan, Zoya sudah dijemput Gilang. Lelaki itu berpenampilan sudah layaknya pengusaha muda sukses saja. Berbanding terbalik dengan dirinya yang hanya mengenakan kaos dan celana jeans Panjang.


“Mas Ridwan awas yah hari ini jangan sampe kayak kemaren, bisa rugi besar aku kalo tiap hari kayak gitu." Ucap Zoya sebelum pergi.


“Iya.” Jawab Ridwan datar. Mood nya langsung anjlog melihat Zoya duduk di samping Gilang.


“Jangan iya-iya doang! Numpang harus tau diri.” Ejek Gilang sebelum melajukan mobilnya.


Ridwan mengunci pintu kontrakan sambil mendumel. “numpang harus tau diri, awas aja ntar gue depak lo dari kantor.” Batinnya.


Kata orang jika pagi-pagi mood kita sudah rusak biasanya akan berpengaruh ke segala aspek di hari itu. Seperti saat ini, Ridwan tengah berada di salah satu rumah pelanggan VVIP. Baru kali ini ia datang kesini, kata Zoya pemilik rumah akan memesan banyak untuk souvenir pernikahan putrinya, tapi dia harus menunggu sangat lama karena si ibu sangat plin plan saat memilih.


“Semuanya bagus-bagus aya jadi bingung ini.” Ucap si ibu sambil membuka katalog. Sesekali ia juga mengamati beberapa sample yang Ridwan bawa.


“Ternyata emang sebagus ini, pantesan Bu Alya ngerekomendasiin saya buat pake Loveware untuk souvenir.” Lanjutnya.


“Bu Alya?” tanya Ridwan. “Nggak mungkin yang dia maksud tuh Tante Alya, adeknya papi kan?” batinnya.


“Iya bu Alya yang punya Aljus flower itu loh. Kebetulan saya beli bunga dari bu Alya buat dekorasi nikahan nanti, kalo bunga asli kan lebih bagus.” Jawab si ibu.


“Apa saya milihnya nanti saja yah? Nanti bu Alya kesini mau ngecek tempat dekorasi sekalian ngitung kebutuhan bunganya. Nanti biar dibantu pilih sama bu Alya aja. Kamu nunggu bentar tidak apa-apa kan?” lanjutnya.


“Gini bu saya masih…” belum selesai berucap Ridwan hanya bisa menghela nafas Panjang melihat Tantenya sudah datang bersama seseorang yang bisa dipastikan akan memecah ketenangan saat ini juga.


“Mam pus gue.” Batin Ridwan.


.


.


.


Hi semuanya! mana nih suaranya yang kemaren nggak sabar Ririd balik sultan????


jangan lupa like, komen sama hadiahnya🤗🤗