MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Oh, kirain...



“Duh, Bu Iis maaf yah anak saya nggak sabaran. Main kabur aja padahal masih jam segini.” Sumpah demi apa pun Mami Jesi merasa malu pada besannya. Tak habis pikir kenapa putranya berubah sangat banyak. Apakah efek terlalu sering bermain game dan tak pernah peduli soal hubungan hingga sekalinya menemukan orang yang ia sukai begitu tak sabaran serta tak peduli akan lingkungan sekitar?


Sejak awal alasannya buru-buru menjodohkannya dulu adalah karena putranya seolah tak tertarik pada wanita. Game adalah segalanya untuk putra bungsunya. Tak dipungkiri Ridwan pernah pacaran meski hanya sekali, itu pun dengan kakak kelasnya saat SMA dulu. Alasannya tentu karena mereka satu server, sama-sama penyuka game online. Namun hubungan mereka tak bertahan lama, mereka putus dalam bulan kedua setelah jadian. Mami Jesi tak tau persis kenapa mereka putus, tapi berdasarkan informasi dari Sasa, mereka putus karena Ridwan menganggap pacarnya terlalu sering membuatnya tim nya kalah setiap kali bermain, berefek pada winstreak mereka yang menurun.


“Kita nikmati sajian yang ada saja yah, Bu. Saya benar-benar tidak enak ini karena Ridwan main pergi gitu aja.” Sekali lagi Mami Jesi meminta maaf karena tak enak hati.


“Tidak apa-apa Bu Jesi. Saya bisa maklum, sejak awal Ridwan memang keliatan buru-buru. Tapi kami selaku orang tua Zoya senang dengan sikapnya yang tak bertele-tele.” Jawab Bu Iis.


“Terima kasih banyak Bu Iis sudah mau memaklumi anak saya. Maaf karena acara hari ini juga hanya ala kadarnya. Karena jujur semua ini benar-benar dadakan. Saya sampe ketar-ketir tadi malam telpon sana sini nyiapin ini semua.” Jelas Mami Jesi.


“Ala kadarnya bagaimana? Ini luar biasa loh Bu Jesi. Bikin acara dadakan tapi bisa seperti ini, sajiannya saja banyak banget ini.” Puji Bu Iis.


“Bu Iis bisa aja, ini bener-bener ala kadarnya. Tapi nanti saya mau bikin resepsi yang mewah buat mereka. Gimana kalo nanti kita persiapkan resepsi pernikahan mereka bareng-bareng Bu?” tanya Mami Jesi.


“Bu Iis pengen pake konsep apa buat resepsi nanti?”


“Eh nanti aku kasih lihat referensinya deh supaya kita bisa mix an macth gitu.” Lanjutnya begitu heboh. Otaknya sudah membayangkan Zoya mengenakan gaun cantik di tengah-tengah pesta yang megah.


“Saya terserah Bu Jesi saja. Saya orang kampung tidak paham yang konsep-konsep apa itu lah Bu. Saya taunya kalo di tempat saya tuh yah hanya nikahan pakai kebaya putih terus ganti baju dua kali ya gitu-gitu aja. Jadi saya ngikut gimana pilihan Bu Jesi saja.” Jawab Bu Iis.


“Nanti kita pilih sama-sama aja, Bu.” Pungkas Mami Jesi.


Disela-sela menikmati aneka hidangan keduanya mulai membahas konsep pesta untuk resepsi. Percakapan ibu-ibu itu makin ramai saat Alya yang memiliki WO hadir bersama suaminya. Mereka kian semangat dengan persiapan super sat set itu. Alya merekomendasikan konsep yang menurutnya menarik. Raya mengajukan tim MUA nya untuk mengurus gaun dan make up, terakhir ditambah Miya selaku besan pertama yang siap menghandle hidangan di acara nanti.


Berbeda dengan ibu-ibu yang heboh membahas persiapan pesta, Zoya justru sedang duduk mematung di ranjang Ridwan. Ia bingung harus melakukan apa karena begitu tiba di kamar, Ridwan menurunkannya di ranjang. Lelaki itu juga tak berkata apa pun, hanya berjongkok di depannya sambil menatapnya lekat. Sesekali bibirnya tersenyum tipis, membuat Zoya mendadak merasa canggung.


“Akhirnya jadi istri gue, eh Mas. Ah susah banget harus mas masan.” Ridwan memprotes panggilannya sendiri.


“Panggil kayak biasanya aja yah? Gue susah pake mas masan malah geli sendiri.” Lanjutnya.


“Terserah Mas Ridwan aja. Lagian dari dulu juga seenaknya sendiri kan? Nikah aja nggak ngajak diskusi dulu.” Jawab Zoya lirih.


“Eh kan gue udah ngajak diskusi kok tadi malem sebelum lo pulang. Kan lo bilang iya. Inget nggak?”


“Iya inget, tapi kan!” Zoya menghembuskan nafas kasar, tapi kan tetap saja menyebalkan baginya.


“Tapi kan apa hm? Karena nikahan kita nggak ada pestanya? Tenang aja nanti dibikinin pesta yang penting sah aja dulu.”


“Tau lah kesel. Orang mau kerja malah nikah!”


“Udah yah KinderZoy nya gue jangan marah-marah. Mau sekarang atau pun besok atau bulan depan sekalipun lo tetep nikah sama gue. So lebih cepat lebih baik.” Jawab Ridwan dengan santai seperti biasa.


“Maaf kalo semuanya serba mendadak, tapi jujur gue sayang banget sama lo. Intinya cinta aja gitu lah, gue nggak bisa kalo nggak ada lo, berasa ada yang ilang.” Zoya sedikit tersenyum mendengarnya.


“Lo juga cinta kan sama gue? Ngaku aja! Kalo nggak, kagak bakal lo ngambek waktu Lea ke kantor.” Zoya hanya diam kemudian mengangguk.


“Nah kalo lo senyum gitu kan makin cantik.” Puji Ridwan.


“Sekarang biar gue bantuin buka asesoris nggak jelas di kepala lo ini.” Ridwan mulai membuka dengan asal aneka benda yang menempel di rambut istrinya.


“Aw! Sakit Mas! pelan-pelan!” teriak Zoya.


“Ini udah pelan, sayang. Ribet banget pake dipasang kayak ginian bikin lama aja.” Gerutu Ridwan.


Ridwan belum selesai membuka semua hiasan di kepala Zoya tapi ia sudah tak tahan lagi, hingga menarik gadis itu supaya rebahan di ranjang dan segera berbaring di sebelahnya.


“Gue udah kangen banget dari kemaren nggak tidur sama lo.” Jawabnya, “gue udah nggak kuat ini. Boleh yah?” lanjutnya dengan suara lirih.


“Ta ta tapi Mas… aku belum nggak siap.” Jawab Zoya sedikit gugup. Pikirannya sudah tak tentu arah dengan jantung yang tiba-tiba berdebar lebih cepat.


Ridwan melepas mengendurkan pelukannya dan menatap lekat-lekat istrinya. “Siap nggak siap pokoknya harus siap!” ledeknya.


“Mas!” protes Zoya. “Mas Ridwan tuh Bos LoveWare bukan Bos tahu bulat, tapi kenapa seneng banget serba dadakan sih!” lanjutnya sambil cemberut.


Ridwan tersenyum, lantas mengecup kedua mata Zoya bergantian hingga gadis itu spontan terpejam. “Mas…”


“Hm? Apa?”


“Jangan sekarang lah.”


“Sekarang aja, gue udah nggak kuat!” Ridwan kali ini mengecup kening Zoya. Gadis itu kian mematung di pelukannya.


“Tidur! Gue udah nggak kuat, ngantuk banget ini. Semaleman ngapalin ijab Kabul takut salah.” Lanjutnya.


“Oh mau tidur… kirain…” Zoya tersenyum lega.


“Kirain apa hm?” tanya Ridwan.


“Nggak.”


“Sabar yah, sayang. Sekarang tidur dulu, nanti malem baru bikin cucu buat Mami.” Ucap Ridwan.


“Apaan sih Mas! siapa juga yang nggak sabar.” Gerutu Zoya. “Aku bukan Mas Ridwan yah yang apa-apanya nggak sabaran gradag grudug nggak jelas.” Zoya jadi mengomel kesana kemari tapi yang diomeli tak menjawab sekalipun.


“Mas! Mas Ridwan!”


“Beneran tidur ternyata.” Gumam Zoya setelah melihat lelaki yang mendekapnya sudah terlelap.


Sementara itu di lantai bawah Raizel sedang berusaha mengajak Mama dan Omanya ke kamar Ridwan. Ia ingin menyelamatkan kakak botol kesayangannya. Ia takut Zoya kenapa-kenapa karena tadi ia mendengar suara Zoya berteriak dari sana.


“Mi, gimana ini?” tanya Lengkara. Putrinya super kepo hingga ia kesulitan menjelaskan alasan yang kira-kira bisa diterima gadis kecil itu. Sejak tadi ia sudah berusaha menahan Raizel supaya tak pergi ke kamar Ridwan. Tapi sepertinya ia lengah karena malah ikut heboh bersama mami dan para ibu-ibu dalam menyiapkan pesta.


“Ayo Mama cepetan! Tadi Kak Botol teriak-teriak. Sakit-sakit! Pelan-pelan!” Raizel menirukan suara yang ia dengar.


“Ayo Mama cepetan! kita tolongin kakak botol!” Raizel merengek. Ia bahkan mulai menarik tangan mama nya supaya cepat berdiri.


“Iya-iya sayang nanti kita tolongin yah. Sekarang mending Jeli makan jajan dulu nih ada banyak.” Jawab Kara mencoba mengalihkan perhatian putrinya.


“Nggak mau, Mama. Kita lihat kakak botol aja dulu yuk!” ajak Raizel.


Lengkara menghela nafas dalam. Ia harus berusaha keras mengalihkan perhatian Raizel. “Ridwan si a lan! Mainnya brutal banget pasti itu anak.” Batinnya.


.


.


.


Kata Jeli jangan lupa vote nya yah kakak-kakak!