MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Garis



Berbeda dengan Sisil yang super panik, beruntung Romi dan Gilang masih waras. Alih-alih menghubungi polisi ataupun ambulance keduanya memilih menyusul Ridwan di ruangannya. Lelaki itu begitu terkejut mendengar Zoya tak sadarkan diri. Ia bahkan tak tau jika istrinya masuk kerja hari ini karena telah menitipkannya pada sang Mami pagi tadi.


Begitu tiba di toilet Ridwan langsung menggendong Zoya ke luar dan membaringkannya di sofa. Tak lama istrinya itu sadarkan diri.


“Udah bangun hm?”


“Bagian mana yang sakit?” Ridwan mengelus sayang kepala istrinya. Tak peduli banyak karyawan yang mengerumuni mereka.


Melihat Zoya yang sudah sadar, Sisil berinisiatif memberi minum. “Kasih teh manis dulu Pak.”


“Terimakasih.” Jawab Ridwan seraya menerima secangkir teh manis hangat. “Minum dulu sayang.” Lanjutnya pada Zoya. Istrinya itu justru menggelengkan kepala sambil menutup mulutnya menggunakan tangan.


“Nggak mau, Mas. Jauhin teh nya! Bau nya bikin mual.”


“Iya udah nggak usah di minum. Kita pulang aja yah.”


“Tapi kerjaan aku masih banyak, Mas. Udah nggak apa-apa kok.”


“Nggak! Kita pulang sekarang. Jangan ngeyel! Kerjaan ada yang lain, bisa handle.” Tegas Ridwan.


“Iya, Zoy. Pulang aja nggak apa-apa. Kerjaan udah mau beres, bisa kita handle bertiga. Aman lah.” Sambung Romi.


“Iya, istirahat aja sampai bener-bener sehat.” Timpal Gilang.


“Iya-iya pulang aja.” Sisil ikut nimbrung. “Sebaiknya nanti di rumah di kasih minum yang banyak Pak, biar makin kekuras isi perutnya. Takutnya ada yang ngeracunin.”


“Ngomong apa sih? Ngaco!” Gilang membungkam mulut Sisil.


“Bawa pulang aja. Pastiin dia baik-baik aja. Inget janji lo ke gue, jagain dia.” Lanjutnya pada Ridwan tanpa mempedulikan jabatan Ridwan.


“Nggak perlu lo suruh, udah kewajiban gue. Ingat, dia istri gue. Tanggung jawab gue. Ayo sayang! Kita pulang.” Jawab Ridwan seraya mengendong Zoya.


“Mas! malu ih!” Zoya membenamkan wajahnya di dada sang suami. Diperlakukan seperti ini di depan banyak orang.


Sampai di rumah Mami Jesi langsung panik melihat Zoya dengan wajah pucat digendong Ridwan ke kamar.


“Zoya kenapa?”


“Pingsan di kantor, Mi. Kan aku udah bilang titip Zoya tadi pagi, kenapa dibiarin pergi sih?” ucap Ridwan. “Kan malah kayak gini jadinya. Mami gimana sih dititipin? Katanya oke, tapi oke oke doang.” Lanjutnya seraya menyelimuti istrinya.


“Mas…” panggil Zoya lirih. “Jangan nyalahin Mami. Tadi Mami udah ngelarang aku pergi, tapi emang akunya yang maksa.”


“Maafin aku yah, Mi.” lanjutnya pada Mami Jesi.


“Nggak apa-apa, sayang. Mami bikinin teh anget yah? Biar enakan.” Ucap Mami Jesi.


“Jangan, Mi. Dia makin muntah-muntah nanti. Tadi aja Cuma nyium bau teh langsung mual katanya.” Jawab Ridwan. “Air putih aja Mi yang banyak. Takutnya beneran keracunan, mual-mual terus.” Lanjutnya.


“Mual-mual terus?” gumam Mami Jesi.


“Bentar… bentar!”


“Ya ampun jangan-jangan…” tanpa menyelesaikan kalimatnya Mami Jesi langsung berlari keluar dari kamar Ridwan.


“Sayang, kamu belum makan kan? Aku ambilin yah. Dari tadi muntah terus harus ada yang masuk biar perutnya nggak kosong.”


“Aku nggak pengen makan, Mas. Ambilin susu vanilla dingin punya Jeli aja.” Jawab Zoya.


“Iya nanti boleh minum susu tapi makan dulu. Aku ambilin bentar.” Dengan sikap Ridwan pergi ke dapur dan kembali dengan membawa makanan untuk istrinya.


“Aku suapin, aaa…” Ridwan menyodorkan sendok berisi nasi dan sayur bening.


Alih-alih membuka mulut, Zoya malah berlari ke kamar mandi dan kembali muntah-muntah. Ridwan menyusulnya ke kamar mandi. “Aku bilang juga apa? Makan! Asam lambung naik nih kayaknya kurang makan.”


“Zoya, Ridwan! Kalian dimana?” teriak Mami Jesi yang sudah kembali.


“Kamar mandi, Mi.” jawab Ridwan.


Mami Jesi masuk ke dalam kamar mandi dan melihat menantunya yang semakin pucat. “Muntah-muntah terus, Mi. Jangan-jangan istri aku beneran keracunan ini?”


“Iya, keracunan kecebong kamu kayaknya. Kita tes dulu yah.” Mami Jesi memberikan tespek pada Zoya.


“Bisa sendiri apa mau Mami bantuin sayang?” tanya Mami Jesi.


Zoya termenung menerima tespek dari mertuanya. Hamil? Mungkinkah? Jika diingat-ingat sejak menikah ia memang belum mendapatkan tamu bulanannya lagi.


“Aku bisa sendiri, Mi.” jawab Zoya.


“Ya udah Mami tunggu diluar yah.” Mami Jesi berlalu meninggalkan kamar mandi.


Zoya menatap suaminya yang masih berada di kamar mandi. “Mas Ridwan nggak keluar?”


“Nggak, sayang. Aku nemenin kamu disini. Takut kenapa-kenapa.”


Zoya sudah menampung urin di dalam wadah. Dengan gemetar ia meletakan tespek itu kedalam wadah. “Kalo garisnya satu berati aku nggak hamil. Kalo garisnya ada dua berate hamil.” Ucap Zoya menjelaskan.


“Oh gitu.” Ridwan mengangguk paham.


Sedetik dua detik keduanya menatap tespek yang mulai muncul satu garis berwarna merah terang. Zoya cukup lega karena tak ada garis lain yang muncul.


Zoya menghela nafas panjang, “nggak hamil Mas. kayaknya aku kecapean aja sama telat makan kemaren makanya mual terus.” Ucapnya kemudian berlalu pergi keluar dan kembali meringkuk di ranjang.


“Gimana hasilnya?” tanya Mami Jesi.


“Garis satu, Mi. Aku kecapean aja kayaknya.” Meski berharap banyak tapi tak ada raut kecewa sedikit pun di wajah Mami Jesi. Begitu pun dengan Ridwan, dia dengan telaten menyelimuti istrinya.


.


.


.


.


Gimana pemirsa tebakan kalian? Bener apa bener? wkwkwkwkwk😛