
Dengan sangat pelan-pelan Ridwan mengambil ponsel Zoya dari saku sweater yang dikenakan gadis itu, “KinderZoy sorry yah gue pinjem HP lo bentar.” Tangannya meraih ibu jari Zoya dan menempelkannya pada layar hingga kunci ponsel itu terbuka.
Ridwan beranjak meninggalkan Zoya dan pergi ke kamar Lea. Ponsel di tangannya sudah ready untuk mengabadikan bukti supaya ia bisa segera pulang dan menyadarkan sang Mami. Meskipun tinggal bersama Zoya cukup nyaman tapi jujur dilubuk hatinya yang terdalam tetap merindukan keluarga. Mami Jesi yang cewet, Papi yang selalu percaya pada dirinya dan sudah tentu kedua keponakan kesayangannya pun ia rindukan.
Ridwan mengetuk pintu di depannya, tak lama pintu terbuka.
“Kak Ridwan?” Lea terlonjak kaget. Dirinya hanya menggenakan bathrobe putih dengan rambut yang masih Panjang.
“Kak Ridwan kok bisa kesini?” tanyanya dengan wajah kaget yang jelas terlihat.
“Minggir!” Ridwan menerobos masuk dan mencari selingkuhan tunangannya. Dari mulai ranjang, kolom ranjang, gordeng hingga ke kamar mandi tak lepas dari jangkauannya. Namun tak seorang pun ia temukan disana.
"Kak! Kak Ridwan nyari apa sih?” tanya Lea yang mengikuti Ridwan kesana kemari. Kali ini ia berharap Refan jangan kembali dulu. Saat dirinya datang tadi lelaki itu tak ada di kamar, alhasil Lea menghubunginya dan ternyata dia keluar sebentar untuk membeli pengaman dan beberapa camilan guna menemani malam Panjang mereka nanti.
Tak mendapatkan apa yang ia inginkan Ridwan beranjak pergi begitu saja. Lea tak mencegahnya, dia justru bisa sedikit lega saat ini. “Untung nggak ada Refan. Kalo ketahuan sama Refan bisa tamat Riwayat gue.” Ucapnya lirih.
Ridwan mengepalkan kedua tangannya, kesal. Usahanya sia-sia, sampai detik ini ia belum memiliki bukti betapa bobroknya calon istri pilihan maminya itu. Ridwan mengembalikan ponsel Zoya ke sakunya dan segera membangunkan gadis itu dengan pelan.
“KinderZoy bangun! Kita pulang.” Ridwan menggerakan tangan Zoya perlahan. Tak perlu susah payah gadis itu langsung bangun.
“Udah selesai Mas?” tanyanya dengan suara yang begitu lirih.
“Iya udah. Kita pulang sekarang.” Jawabnya.
Malam itu Ridwan masih terjaga meski Zoya sudah terlelap sejak pulang tadi. Gadis itu bahkan langsung tidur tanpa memakan sate yang sudah ia beli, hingga subuh menjelang ia baru bisa terlelap. Namun naas, baru setengah jam terlelap Zoya sudah membangunkannya untuk shalat subuh. Seperti biasa selepas shalat subuh ia tak bisa lanjut tidur karena tak mau kena omel patner kontrakannya. Ridwan pikir lebih baik tidur nanti saat Zoya sudah berangkat ke kantor saja. Gadis itu ada wawancara di LoveWAre jam delapan pagi.
“Mas, gimana kalo aku pake baju ini bagus nggak?” tanya Zoya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan setelan formal rok pendek dan kemeja putih yang dilengkapi blazer. Gadis itu berputar pelan menunjukan penampilannya di depan Ridwan yang sedang membuat telur dadar untuk sarapan.
“Bagus.” Jawabnya singkat dan buru-buru mengalihkan pandangannya dari Zoya. jujur, gadis itu terlihat tetap imut meski dalam balutan pakaian formal.
“Serius, Mas? marketing kan penampilannya harus menarik. Aku takut kurang menarik nih. Apa aku ganti rok yang lebih pendek lagi aja yah?” tanyanya.
“Lo mau kerja di kantor bukan pemandu karouke plus-plus, nggak usah pendek-pendek. Segitu udah pas.”
“Beneran?”
“Iya. Segitu penampilan udah oke. Wawancara itu yang penting bisa jawab, terus tunjukin skill yang kita punya.” Jawab Ridwan. “Lagian ngapain lo kayak nggak percaya diri gitu? Biasanya juga nyerocos non stop. Udah mateng nih sarapannya, makan dulu sebelum berangkat.”
“Iya, makasih.” Jawab Zoya.
“Gue siapin bekal juga deh buat lo. Takutnya ntar lo nunggu lama nanti.”
“Tumben Mas Ridwan baik banget, sampe nyiapin bekal segala.” Ledek Zoya.
“Ya udah kalo gitu nggak jadi gue bikinin bekal!” Ridwan meletakan kembali misting yang baru ia buka ke dalam rak piring.
“Bikinin lah, Mas. Gitu aja marah.”
“Abis lo ngeselin banget, nggak bisa dibaikin.” Cibir Ridwan, tapi tangannya dengan cekatan memasukan nasi beserta telur dadar ke dalam misting. Tak lupa botol berisi air putih pun ia masukan ke dalam tas bekal.
“Cepetan berangkat ntar telat lagi, dah jam tujuh tuh.” Ucap Ridwan.
“Bentar, Mas.” Zoya malah memilah buku catatan dan memberikannya pada Ridwan.
“Hari ini Mas Ridwan narik kredit sendiri yah. Kumpulan alamat sama no teleponnya udah ada di buku catatan.” Lanjutnya seraya memberikan buku.
“Ini buat ongkos sama beli es kali aja haus nanti.” Zoya memberikan uang seratus ribu.
“Libur dulu lah kelilingnya, Zoy. Nanti aja barengan, males gue dikerumunin emak-emak.” Tolak Ridwan.
“Nggak boleh males! Harus narik kredit! Kalo nggak narik kredit Mas Ridwan mau ngapain di rumah? Mau tidur?” tebak Zoya.
“Masa aku mati-matian cari kerja Mas Ridwan Cuma mau rabahan? Nggak adil dong!”
“Pokoknya aku pulang nanti harus ada setoran lima juta. Tarikan hari ini totalnya lima juta. Nggak boleh kurang, kalo lebih boleh. Apalagi dapat konsumen baru.” Lanjutnya.
Dari pada kena ceramah Panjang lebar dari Zoya, menjelang siang meski cuacanya sangat panas, Ridwan pergi ke alamat yang sudah di berikan oleh Zoya. Saat ini diirnya benar-benar seperti sales perusahaan Papi nya sendiri, membawa banyak produk dan beberapa katalog. “Nasib gini amat. Kalo keliling sendirian kayak gini nggak asik banget. Nggak ada kinderzoy rasanya sepi banget dah.” Gumamnya lirih.
Sementara di salah satu rumah rekan arisannya, Jesi sedang berseteru dengan temannya. Pasalnya temannya itu melihat calon menantu kesayangannya keluar dari salah satu kamar hotel dengan laki-laki.
“Bu Jesi, beneran loh tadi pagi saya lihat calon menantu ibu keluar hotel bareng laki-laki.”
“Nggak mungkin bu. Bu Ima pasti salah lihat deh. Tadi pagi saya telpon katanya dia di butik, habis ini saja saya mau ke butik buat bantuin dia.” Ucap Mami Jesi.
“Ya ampun Bu Jesi, saya berani sumpah deh. Yakin yang saya lihat tadi tuh Lea. Iya Lea kan namanya? Gadis yang beberapa kali pernah bu Jesi ajak arisan?” jawab Bu Ima. “Saya nggak mungkin salah lah, orang kamarnya sebelahan sama kamar sepupu saya. Tadi pagi saya kesana mau jemput sepupu eh malah liat Lea.” Lanjutnya.
“Bu Ima jangan sembarangan ngomong, takut jadi fitnah. Apalagi di depan temen-temen kayak gini, kita jatuhnya malah kayak lagi ngegosip.” Ucap Mami Jesi yang tak percaya.
“Kita nggak ngegosip bu Jesi. Cuma sharing informasi aja. Kalo bu Jesi nggak percaya yah tidak apa-apa.”
“Ya jelas saya tidak percaya, masa calon menantu saya keluar kamar hotel sama laki-laki, orang dia anaknya polos lugu gitu.” Ucap Mami Jesi.
“Ya ampun bu Jesi kayak nggak tau aja… zaman sekarang wajah bisa nipu. Tuh anaknya Jeng Mirda yang keliatannya polos banget nggak pernah kemana-mana, eh tau-tau hamil diluar nikah.” Sindir bu Ima.
.
.
.
Lama-lama kok aku jadi pengen nimpuk Mami Jesi pake sendal, biar sadar. Dari dulu ngampang banget dikibulin.
Udah pada nggak sabar kan Ririd pulang? Sabar yah, semua akan indah pada waktunya.
Jangan lupa like, komen sama awur-awur bunga plus kopi yah🤗🤗