MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
24/7



Ridwan membelai sayang wajah Zoya yang pucat. Meski merasa lemas tak berdaya Zoya tetap tersenyum pada suaminya. Ada rasa bersalah saat menatap Ridwan, meski tak menunjukan kekecewaan tapi Zoya yakin suaminya menaruh harapan besar mengingat sejak awal lelaki itu memang tak berniat menunda momongan meskipun dirinya memberi banyak alasan. Perasaan lega saat melihat satu garis tadi kini beralih jadi rasa bersalah, seolah ia tertawa puas diatas kekecewaan suaminya.


“Kenapa hm?”


“Nggak apa-apa, Mas.” Zoya menggelengkan kepalanya.


“Kalo gitu istirahat yah.” Ucap Ridwan.


“Mau susu vanilla dingin punya Jeli, Mas.” pinta Zoya lirih.


“Makan dulu sedikit, baru nanti boleh minum susu.” Ridwan meraih piring dan menggambil satu suapan untuk Zoya, tapi istrinya itu malah balik meringkuk ke arah lain.


“Sayang, makan dulu.” Bujuk Ridwan. “Dikit aja biar perutnya nggak kosong.” Lanjutnya seraya menarik punggung Zoya supaya berbalik ke arahnya. Tapi nihil, istrinya malah kian menjauh dari jangkauannya.


Mami Jesi yang masih ada di sana segera keluar, tak lama ia kembali membawa dua susu kotak vanilla dingin milik cucunya.


“Nih udah Mami ambilin. Diminum yah! Kalo kurang tinggal bilang aja sama Mami.” Ucap Mami Jesi seraya memberikan kedua susu kotak itu.


“Mi, dia belum makan.” Ucap Ridwan.


“Biarin aja. Udah nggak usah dengerin Ridwan, kalo pengen susu tinggal minum aja.”


“Makasih, Mi.” Zoya begitu semangat dan menyedot habis susu kotak dingin pemberian mertuanya.


“Enak?” tanya Mami Jesi begitu Zoya sudah menghabiskan satu kotak dan lanjut ke kotak keduanya.


Zoya mengangguk. “Enak, Mi. Seger. Perut aku langsung berasa dingin sama tenang.” Jawabnya seraya mengusap perut.


“Syukurlah kalo gitu. Sekarang istirahat yah. Kalo pengen apa-apa tinggal bilang aja sama Mami.” Ucap Mami Jesi.


“Iya, Mi. Makasih.” Jawab Zoya yang kemudian kembali merebahkan dirinya. Matanya terasa sangat berat.


“Sama-sama. Mami tinggal yah.” Sebelum pergi Mami Jesi lebih dulu mengambil tespek Zoya di kamar mandi.


Setelah Mami nya pergi, Ridwan ikut bergabung merebahkan diri. Dia langsung memeluk erat Zoya dari belakang. “Aku peluk tidurnya biar nyenyak.”


Tak seperti biasanya yang langsung menolak tidur siang dipeluk, kali ini Zoya malah tak menolak sama sekali. Ia justru mengusap-usap tangan Ridwan yang melingkar di perutnya.


“Mas…”


“Hm?”


“Mas Ridwan kecewa yah aku nggak hamil?” Zoya berbalik menatap suaminya.


Ridwan menyelipkan beberapa sulur rambut yang menutupi wajah Zoya. “Nggak, kita jalani aja semuanya. Mungkin belum waktunya. Bukannya kamu pengen lulus kuliah dulu hm?”


“Jangan bohong! Mas Ridwan pasti kecewa. Maaf yah…”


“Nggak apa-apa, sayang. Udah jangan nangis.” Ridwan mengecup kilas bibir Zoya kemudian menghapus air mata gadis itu.


“Nggak apa-apa.” Ulangnya lagi seraya mengecup bibir mungil itu lebih lama. Tak disangka si pemilik justru membalasnya dengan begitu dalam. Ridwan lumayan terkejut, baru kali ini istrinya begitu aktif. Zoya bukanlah tipe wanita yang aktif di awal, ia tipe malu-malu yang harus dipancing dulu.


Ridwan menyelimuti Zoya setelah aktivitas panas mereka. Ridwan tak menyangka jika disaat sakit ternyata istrinya membutuhkan sentuhan lebih. Ridwan tak tidur sama sekali setelahnya, ia terus menatap Zoya yang terlelap hingga gadis itu terbangun.


“Lagi nggak?” goda Ridwan.


Zoya tersipu. “Apaan sih, Mas! aku mau mandi. Ambilin susu vanilla dingin lagi, aku haus.” Tanpa menunggu tanggapan suaminya, Zoya langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia menggosok tubuhnya dengan pelan sambil beberapa kali menggelengkan kepala. Tak menyangka dirinya bisa meminta nafkah batin disiang bolong seperti ini, padahal kondisi tubuhnya sedang begitu lemas.


Saat Ridwan menuju dapur, ia dibuat heran oleh Mami Jesi yang mondar-mandir di ruang tamu. “Mami ngapain sih mondar mandir gitu?”


“Nggak ngapa-ngapaian. Zoya gimana? Udah baikan?”


“Mendingan. Dia minta susu dingin lagi, ini mau aku ambilin.” Jawab Ridwan yang nyelonong pergi ke dapur sementara si mami kian mondar mandir. Pasalnya ia yakin jika menantunya itu kemungkinan hamil, tapi kenapa tespek menunjukan hasil negative? Mami Jesi jadi makin menerka-nerka.


“Mana sih Pi lama banget dokternya. Papi beneran udah ngehubungin Papa nya Mikay kan?” gerutu Mami Jesi yang sudah tak sabar.


“Udah. Sabar lah, jam segini jalanan macet.” Jawab Papi Rama.


Selang satu jam dokter yang merupakan ayah dari Mikayla datang. Aldi, lelaki itu tak sendiri. Istri dan anaknya turut serta. Putrinya Mikayla yang kini jadi sekretaris Papi Rama, dan istrinya Naura yang merupakan sabahat serta mantan sekretarisnya dulu, merangkat saudara juga karena adik dari suaminya menikah dengan adiknya Papi Rama, Alya.


“Lama banget sih, Mba? Menantu aku udah lunglai muntah-muntah terus.” Mami Jesi langsung memeluk wanita yang dulu merupakan mentornya saat magang.


“Macet, Jas Jus. Mau nambah cucu kali makanya muntah-muntah terus.” Jawab Naura.


“Wah kalo iya aku mesti buru-buru nikah dong. Kesalib sama Ririd.” Cetus Mikayla.


“Bosen mama dengernya. Nikah! Nikah! Tapi nggak jadi-jadi. Nikah Cuma wacana kamu tuh. Nggak punya pacar tapi ada yang ngelamar di tolak semua.” Gerutu Naura.


“Kan belum nemu yang cocok, Ma.” Timpal Mikayla.


“Udah-udah malah cekcok disini. Kita lihat istrinya Ridwan dulu.” Lerai Aldi. “Kalian yakin menantu kalian tidak hamil? Soalnya dari tanda-tanda yang disebutkan Jesi sepertinya dia hamil.” Lanjutnya.


“Udah di tes hasilnya negative. Makanya aku takut dia kenapa-kenapa soalnya muntah terus. Wajahnya aja pucet banget nggak masuk makanan soalnya.” Jelas Mami Jesi.


Mereka semua pergi ke kamar Ridwan. Disana Zoya sudah terkulai lemas di tempat tidur. “Maaf yah biar Om periksa dulu.”


Zoya hanya mengangguk. Pagi ini ia benar-benar sudah tak berdaya. Mau bilang tak apa-apa nyatanya tubuhnya menunjukan keadaan yang sebaliknya.


“Gimana istri aku, Om?” tanya Ridwan setelah Aldi selesai memeriksa.


“Nggak gimana-gimana. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Nanti langsung ke dokter kandungan aja supaya lebih jelas.” Jawab Aldi.


“Dokter kandungan? Mantu aku hamil? Serius?” Mami Jesi teriak paling heboh, sementara Ridwan dan Zoya masih saling tatap dalam diam.


“Iya. Berhubung aku bukan dokter spesialis kandungan jadi tidak bisa menerangkan lebih jauh. Tapi dari hasil pemeriksaan aku yakin dia hamil. Bisa kita tes aja jika perlu.” Jawab Aldi.


“Tapi kemarin sudah di tespek hasilnya negative, Dok.” Ucap Zoya.


“Coba di tes lagi saja.” Aldi mengambil tiga buah tespek dan memberikannya pada Zoya.


Ridwan yang menerima ketiga tespek itu. “Aku temenin.” Zoya mengangguk.


Di dalam kamar mandi Zoya dan Ridwan lagi-lagi menatap tespek yang baru saja ia celupkan ke dalam urin. “Mas, kalo ternyata aku nggak hamil maaf yah…” ucap Zoya lirih. Ia takut membuat suaminya kecewa lagi.


“Nggak apa-apa, sayang. Kita lihat dulu saja.” Jawab Ridwan seraya mengecup puncak kepala Zoya.


“Sayang! Ya Allah…” Ridwan langsung memeluk erat istrinya saat garis merah kedua muncul dengan begitu jelasnya. Setelah itu ia melepas pelukannya dan keluar untuk memberitahu yang lain, sementara Zoya memegang tespek lain yang menunjukan hasil sama.


“Mami, aku mau jadi ayah.” Teriak Ridwan. “Lihat! Hasilnya garis dua.” Ridwan menunjukan tespek itu pada mami Jesi. Wanita itu langsung memeluk putranya dan turut bahagia.


“Tapi kok bisa tespek yang dari Mami kemaren negative yah? Apa kadaluarsa soalnya itu udah lama banget sih.”


“Nggak tau, Mi. Yang penting Zoya hamil.” Ucap Ridwan, “Ya ampun Zoya mana?” Ridwan melihat ke sekitar, saking senangnya ia sampai lupa meninggalkan istrinya di kamar mandi.


“Aku disini, Mas.” jawab Zoya yang sudah duduk di ranjang.


Ridwan segera menghampiri istrinya dan memeluk erat gadis itu. “Masih pengen susu vanilla dingin nggak? Maaf yah dari kemaren nggak peka. Kamu pasti ngidam malah aku larang-larang.”


“Nggak apa-apa, Mas.”


“Nanti aku beliin satu showcase biar kamu punya stok susu kotak dingin banyak.” Ucap Ridwan seraya mengelus perut Zoya. “Atau sekalian aku beliin saham susu kotak biar kamu jadi bagian dari pemiliknya hm?”


“Ya ampun kamu berlebihan, Mas.”


“Nggak ada yang berlebihan buat anak kita sayang! Pokoknya kalo mau apa pun tinggal bilang. Aku ready dua puluh empat jam tujuh hari buat kamu sama anak kita.”