
Ridwan ketar ketir di dalam di ruangannya. Sudah berusaha memanggil Zoya dengan berbagai alasan tapi tetap saja gadis itu tak datang, yang datang malah staf marketing lain. Sepertinya gadis itu benar-benar tak memperdulikan ancamannya.
“Ngapain lo mondar-mandir kayak ayam mau nelor?” tanya Mikayla yang datang membawa beberapa berkas.
“Seenak jidat aja lo ngomong! Gini-gini gue bos lo. Susulin Zoya suruh kesini!”
“Baca dulu nih, kalo udah oke tinggal lo tanda tangan.” Mikayla memberikan berkas yang ia bawa. “Ingat sekarang masih jam kerja, Rid. Jangan lo campur aduk urusan kerja sama urusan pribadi. Ingat salah satu prinsip manajemen, kepentingan perusahaan diatas kepentingan pribadi.” Lanjutnya.
“Ngomong enak, nggak ngalamin sih lo!”
“Udah jangan ngomong mulu. Pelajari itu berkas!” sentak Mikayla. Sekretaris ayahnya itu memang rada lain. Mungkin karena masih saudara sehingga berani pada Ridwan.
“Semakin cepat lo beresin itu berkas, semakin cepat lo bisa beresin urusan lo sama Zoya.” lanjutnya.
“Lagian heran gue sama lo, Rid. Urusan game aja pinter banget, tapi urusan ngeluluhin hati cewek lo nol besar. Zero!” ejek Mikayla.
“Mau ngeluluhin cewek tapi pake ngancem, yang ada makin kabur. Lagian bisa-bisanya lo nggak cerita soal Lea ke Zoya.” Mikayla menggelengkan kepalanya.
Ridwan menatap ponakan tantenya itu dengan pasrah. “Terus gue mesti gimana, Mikay?”
“Pikir aja sendiri!” ejek Mikayla kemudian meninggalkan ruangan Ridwan.
“Haish dasar!” Ridwan melempar map di depannya ke arah pintu. Niatnya supaya mengenai Mikayla tapi gadis itu sudah hilang dibalik pintu sebelum terkena lemparan.
“Kenapa sih semua cewek sama aja! Bikin masalah jadi ribet. Padahal si KinderZoy tinggal ngaku aja cemburu sama gue gara-gara ada Lea tadi, wajar sih ngambek tapi kenapa nggak mau dengerin penjelasan gue? Ribet banget dah.” Ridwan terus menggerutu sambil memungut berkas yang tadi ia lempar kemudian mempelajarinya meski tak focus. Otaknya saat ini benar-benar hanya berisi Zoya, Zoya dan Zoya. Serta bagaimana cara membujuk kembali gadis itu jika untuk menemuinya saja sudah tak mau.
Selesai dengan pekerjaannya, Ridwan pergi ke ruangan Zoya tapi gadis itu sudah pulang lebih dulu. Dan yang lebih mengesalkan lagi adalah mengetahui kebenaran jika Zoya pulang bersama Gilang.
“Udah lama mereka pulangnya?” tanya Ridwan pada Sisil yang masih berada di sana karena pekerjaannya belum selesai.
“Udah sepuluh menitan, Pak.” Jawab Sisil setelah melihat jam di layar komputernya.
“Si al! bisa-bisanya itu anak memanfaatkan keadaan.” gumamnya kemudian berlalu pergi.
Tak putus asa Ridwan menyusul Zoya ke kontrakan, namun lagi-lagi ia belum berhasil menemui gadis itu. Pintu kontrakannya tertutup rapat, kunci cadangan yang ia miliki saja tak bisa ia gunakan karena Zoya menguncinya dari dalam. Akhirnya Ridwan pulang dan mencari cara lain untuk bisa membujuk Zoya. Mungkin membawa Raizel ke kontrakan Zoya akan sangat membantu mengingat Zoya sangat dekat dengan keponakannya.
Sampai rumah Ridwan mencari keberadaan keponakannya. Dari ruang keluarga hingga ke kamarnya tapi gadis kecil itu tidak ada.
“Jeli mana, Mi?” tanyanya pada Mami Jesi.
“Di rumahnya lah. Udah pulang dari tadi dia.”
“Kalo gitu aku ke rumah Kaleng sekarang. Aku butuh bantuan Jeli buat bujukin Zoya. Dia marah gara-gara Lea datang ke kantor tadi dan bikin semuanya jadi kacau.” Jelas Ridwan.
“Terus Mami jawab apa?”
“Ya Mami bilang udah batal.”
“Sip kalo gitu, Mi. Sekarang Mami tinggal bantuin aku bujuk Zoya. Jelasin semua ke Zoya, Mi. Kalo Mami yang jelasin pasti mau ngerti. Dia nggak mau ketemu sama sekali sama aku, Mi.” Ridwan memohon.
“Jelasin aja sendiri, belajar. Siapa coba yang kemaren-kemaren bilang nggak butuh bantuan Mami buat nyari calon istri? So, sekarang beresin masalah kamu sendiri. Mami nggak ikut-ikutan.”
“Mi! jangan gitu lah. Bantuin yah…” Ridwan memelas.
“Sampe aku ancam mau dipecat aja Zoya nggak peduli.” Lanjutnya.
Ck Ck! Mami Jesi menatap kesal pada putranya. “Gitu cara kamu ngebujuk? Bener-bener dah.”
“Ya terus aku mesti gimana, Mi?”
“Pikir aja sendiri!” jawab Mami Jesi.
“Mami udah siapin makan malam. Kamu mandi terus makan biar otaknya rada waras. Biar tau cara ngebujuk cewek yang marah, bukannya malah ngancam.”
“Ribet lah! Semua pada bilang pikir aja sendiri, padahal kalo aku tau caranya juga nggak bakalan nanya.” Jawab Ridwan.
“Mending Mami siapin foto copy kartu keluarga deh buat daftar nikah, berkas Zoya aku udah punya lengkap. Biar sat set besok pagi langsung bawa Zoya ke KUA. Beres dah semuanya.”
Mami Jesi menoyor kepala putranya lumayan keras, “udah nggak waras kamu!”
“Biar nggak ribet, Mi.”
“Nggak kayak gitu caranya nikahin anak gadis orang, Ridwan! Minimal dilamar dulu, datengin orang tuanya, kasih hadiah, siapain gaun, undangan sama resepsi juga. Ini orang lagi marah mau main nikah aja. Meskipun Mami suka banget sama Zoya tapi Mami nggak setuju kalo kayak gitu!” cerocos Mami Jesi Panjang lebar.
“Ya udah kalo gitu aku nggak mau makan, biar sakit. Kalo sakit kan Zoya pasti mau ngerawat terus kita baikan deh. Dia kan paling nggak tega liat aku sakit.”
“Heh! Malah ngikutin Jeli kamu!” sentak Mami Jesi.
“Nggak apa-apa, Jeli aja kalo mogok makan selalu dapetin apa pun yang dia pengen.” Balas Ridwan kemudian berlalu ke kamar. Ia merasa sudah menemukan cara ampuh tanpa perlu cape-cape membujuk Zoya, gadis itu pasti akan datang sendiri jika tau dirinya sakit.
“Tapi kamu bukan Jeli, Ridwan. Kamu tuh Om nya, udah tua, bukan anak kecil lagi.” Teriak mami Jesi. Putranya hanya tertawa tanpa dosa di tengah tangga, kemudian bersiul menuju kamarnya.
Mami Jesi menghela nafas Panjang, “ya ampun punya anak laki-laki gini amat. Udah nggak peka, minim usaha pula.”