
Mami Jesi menatap kesal putranya yang terlihat terkejut, tumbler pink yang sedang dipegang Ridwan saja sampai jatuh karena melihat sang mami berdiri di belakang tantenya. Jesi, wanita itu tak berniat mencari Ridwan hari ini. Ia hanya ingin menemani adik iparnya survei lokasi untuk memastikan kebutuhan bunga yang harus disiapkan untuk acara pernikahan klien mendatang. Namun siapa sangka saat tak dicari, putranya malah berada di depan mata, sementara saat ia mencari mati-matian tak nampak sama sekali batang hidungnya.
“Pulang!” ucap Jesi dengan nada tingginya, seraya menarik lengan Ridwan.
“Mi, aku…” Ridwan menghela nafas panjang, tak ada cara untuk menghindari mami nya saat ini.
“Mami nggak nerima alasan! Pulang sekarang!” sentaknya.
Alya mencoba menenangkan keduanya, jika dibiarkan rumah kliennya bisa jadi tempat ribut kakak ipar dan keponakannya. Jesi tipikal orang yang akan terus bicara jika dilawan, dan dia tak peduli sedang berada dimana pun.
“Jes… “ Ucap Alya lirih. Ia berusaha melepas cengkraman tangan Jesi pada lengan Ridwan.
“Ini di rumah klien aku loh, jangan sampe kamu ribut disini.” Bisiknya.
“Ridwan, kamu juga harus nurut. Pulang dulu, selesein semua di rumah. Jangan ngebantah mami kamu disini, rumah orang ini.” Lanjutnya pada Ridwan.
“Iya, tante.” Pewaris yang kini menjadi sales itu hanya mengangguk pasrah.
Dari pada tak bisa focus dalam perencanaan acara, Alya mengantar Jesi dan Ridwan ke depan. “Tahan, Jes. Kamu marah-marahnya nanti di rumah aja. Eh jangan marah-marah tapi nasehatin pelan-pelan, Ridwan pasti punya alasan sendiri.” Ucapnya sebelum Jesi masuk ke dalam mobil.
“Kamu jangan belain Ririd, Al. Dia dibelain terus jadi ngelunjak ntar, susah diatur.” Jawab Mami Jesi.
“Aku nggak belain Ridwan, Jes. Tapi setiap orang pasti punya alasan atas tindakan yang ia lakukan.” Ucap Alya. “Udah nggak usah dijawab, yang penting sekarang Ridwan udah ketemu.” selanya sebelum mami Jesi nyerocos.
“Ridwan, hati-hati bawa mobilnya.” Ucapnya pada Ridwan.
“Iya, Tan.” Jawab Ridwan, sopan. “Tante, aku minta tolong catetin list pesanan loveware nya. Soalnya tadi belum milih katanya bingung jadi nunggu tante.” Lanjutnya.
“Oke.” Jawab Alya.
Sepanjang perjalanan Mami Jesi terus berbicara Panjang lebar. Dari mulai usahanya mencari kesana kemari, berbohong pada calon besan tentang keberadaan putranya hingga memarahinya karena ke hotel bersama Lea tanpa memberi tahu dirinya. Kemarin saat calon menantu kesayangannya digosipkan ke hotel bersama laki-laki, mami Jesi sepulang dari tempat arisan langsung menuju butik Lea dan menanyakan kebenaran hal itu. Lea membenarkan gossip tersebut dan berkata jika laki-laki yang bersama dirinya adalah Ridwan.
“Kamu nggak mau ngomong sama Mami?”
“Ridwan!”
Ridwan melihat mami nya sekilas, ia hanya menghela nafas Panjang kemudian kembali focus ke jalan. Bibirnya tersenyum tipis, “mirip.” Ucapnya lirih. Cara mami nya berbicara panjang lebar non stop mirip dengan Zoya saat sedang memarahinya, tapi sang mami lebih ngegas sih.
“Ridwan!” sentak Mami Jesi. “Kamu denger mami ngomong nggak sih!”
“Denger, Mi.”
“Terus kenapa nggak dijawab?”
Ridwan hanya tersenyum pada mami Jesi. Bukan tak ingin menjawab, tapi menjawab pun akan sia-sia dan hanya buang-buang tenaga. Mami nya bukan tipe orang yang percaya hanya lewat omongan. Ridwan tau betul akan hal itu, ia perlu bukti untuk menyadarkan mami nya supaya tak terus membanggakan Lea.
“Ridwan!” Teriak Mami Jesi saat putranya turun begitu saja ketika tiba di rumah. Dia bahkan meninggalkan dirinya yang masih berada di dalam mobil.
“Perasaan Karam nggak cuek kayak gini deh, anaknya ampun deh. Mami nya sendiri dikacangin.” Gerutu mami Jesi. Ia lantas menelpon suaminya supaya pulang lebih awal hari ini.
Masuk ke dalam rumah, Mami Jesi langsung pergi ke dapur dan menyiapkan makanan kesukaan Ridwan. Meski masih kesal tapi ia senang putranya kembali dalam keadaan baik-baik saja.
“Kata Jeli, Ridwan jualan sosis bakar tapi tadi kok malah jualan tumbler?” gumam Mami Jesi di sela-sela masaknya.
Mami Jesi sedang menata hidangan di meja makan saat suaminya tiba. “Mana Ridwan?” tanyanya.
“Kamar, Pi. Mami panggilin yah biar kita makan siang bareng.” Jawab Mami Jesi.
“Nggak usah. Mami selesein aja itu, biar Papi yang panggil Ridwan.” Jawab Papi Rama. Bukan tanpa alasan, ia ingin berbicara lebih dulu dengan Ridwan tanpa istrinya. Jika bersama mami Jesi, bisa dipastikan putranya tak akan punya kesempatan untuk bicara.
“Oh iya, Papi barusan juga udah ngabarin Kara kalo Ridwan udah pulang. Dia mau kesini sama anak-anak, sekarang udah dijalan. Kita makannya nunggu mereka aja biar rame.” Lanjutnya sebelum pergi.
“Lah kenapa Papi nggak bilang dari tadi sih? Makanannya kurang ini, mami masak lagi deh.” Papi Rama hanya tersenyum melihat istrinya kembali sibuk di dapur.
“Pi, sekalian nasehatin Ririd suruh kerja di perusahaan aja. Masa anak pemilik loveware malah jualan loveware ketengan.” Teriak Mami Jesi dari dapur.
Papi Rama sempat menghentikan langkahnya mendengar teriakan istrinya. Putranya jualan loveware ketengan? Rasanya tak mungkin, Ridwan itu hanya focus pada game.
Papi Rama masuk ke kamar putranya yang tak dikunci. Kamar yang dindingnya penuh dengan gambar-gambar karya Raizel. “Akhirnya pulang juga.” Ucap Papi Rama begitu mendudukan diri di ranjang Ridwan. Sementara si pemilik kamar sibuk dengan komputernya.
Mendengar suara papinya, Ridwan lantas mem pause game nya dan menghampiri Papi Rama. Ia menyalami papi nya penuh hormat. “Sebenernya belum mau pulang, tapi malah ketemu mami. Dari pada ribut di rumah orang, malu.” Jawab Ridwan.
“Lagi pula Papi nyuruh orang juga kan buat nyari aku? Pasti cepat atau lambat bakal ketahuan juga. Makanya ya udah pulang aja pas ketemu Mami sama Tante Alya tadi.” Imbuhnya.
Papi Rama menepuk Pundak putranya. “Papi seneng kamu udah pulang. Ada yang mau kamu jelasin ke Papi?” tanyanya.
“Kenapa milih kabur tanpa alasan yang jelas?”
“Atau kenapa malah jadi sales padahal Papi nyuruh kamu kerja di perusahaan?”
“Jadi sales tuh terpaksa Pi.” Jawab Ridwan lirih. Ia lantas menceritakan tentang Lea ke bu su kan Lea yang terbungkus dengan apik selama ini. Tentang tinggal bersama Zoya tentu ia tutupi rapat-rapat dan beralasan tinggal bersama di kosan Davin selama ini.
“Butuh bantuan?” tanya Papi Rama. “Kamu bisa pake orang-orang Papi buat nyelidikin Lea.” Lanjutnya.
“Nggak, Pi. Biar aku cari bukti sendiri asal balikin semua fasilitas aku. Papi tinggal tunggu hasil aja nggak usah repot-repot.”
“Kerja di perusahaan bakal Papi balikin semua fasilitas kamu.” Jawab Papi Rama.
Ridwan diam sejenak, berfikir. “Oke, Pi. Aku mau kerja di perusahaan.”
“Bagus. Kunci mobil sama dompet kamu ada di laci.” Papi Rama menunjuk nakas di samping ranjang Ridwan. “Kita makan siang bareng, Papi tunggu di bawah.” Lanjutnya sebelum pergi.
“Iya, Pi. Nanti aku nyusul.” Jawab Ridwan. Ia berjalan ke nakas dan mengambil kunci serta dompetnya.
“KinderZoy, sampe ketemu di loveware!” ucapnya lirih.
.
.
.
Sampe ketemu di up selanjutnya.
Jangan lupa like, komen sama vote nya buat Ririd yang baru balik jadi sultan.