MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Like Queen



Zoya mengerjapkan mata, tidurnya kali ini sangat lelap jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Dirinya tak pernah kesulitan tidur bahkan selalu tidur teratur dari jam sepuluh hingga jam empat lebih dua puluh menit. Tapi hari ini benar-benar tidur yang sangat berkualitas baginya. Tidur ternyaman sepanjang hidupnya.


"Pagi..." Sapa Ridwan yang sudah berpakaian santai dengan rambut yang masih sedikit basah. Tangannya membelai sayang wajah Zoya. Meski cuaca di luar sedang hujan, tapi wajah Ridwan terlihat begitu cerah pagi ini. Dirinya yang sudah bangun lebih awal dan menyiapkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan Zoya dari mulai pakaian hingga sarapan telah tersedia.


"Hm Mas Ridwan udah bangun? Kenapa nggak ngebangunin aku sih?"


"Jam berapa sekarang?" Lanjutnya seraya mencari-cari ponsel yang biasanya selalu ia letakan di samping bantal.


"Jam delapan sayang."


"Apa??" Zoya spontan beranjak dari tidurnya.


"Aku ada kuliah pagi ini." Ia bahkan hampir tak sadar jika tubuhnya tan mengenakan sehelai benang pun.


"Ya ampun... Ya ampun..." Buru-buru Zoya menaikan selimut untuk menutupi tubuhnya sebelum turun.


"Aww..." Pekiknya saat satu kakinya menyentuh lantai. Tubuhnya terasa remuk, bahkan untuk jalan saja rasanya tak nyaman.


Ridwan turun mengitari ranjang dan berhenti di depan Zoya, "makanya jangan grasak grusuk. Sini biar gue eh aku bantuin." Ridwan membopong Zoya ke kamar mandi.


"Sakit tau, Mas." Keluhnya.


"Harus sekali lagi sih biar nggak sakit." Jawab Ridwan.


"Itu sih maunya Mas Ridwan. Nggak ngerasain sih perihnya."


"Masa perih? Semalem kayaknya keenakan. Ntar malem boleh minta lagi yah?" Tawarnya.


"Mas, ini aja masih sakit ih."


"Ya udah kalo gitu pulang ngampus deh biar nggak kelamaan."


"Mas Ridwan!"


"Bercanda, sayang. Sekarang mandi dulu, aku tunggu di luar." Ridwan menurunkan Zoya ke dalam bathup yang sudah ia isi air hangat.


"Apa mau sekalian aku bantu mandiin? Sekalian dipijit juga biar enak." Lanjutnya.


"Mas!"


"Iya-iya aku keluar. Kalo butuh apa-apa tinggal panggil aja."


Setelah Ridwan pergi, Zoya menikmati berendam di air hangat sambil memijat sendiri badannya yang terasa remuk.


"Semalem, ya ampun." Zoya menggelengkan kepala kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Entah kenapa ia tiba-tiba malu mengingat penyatuan mereka tadi malam.


"Duduk sini!" Ridwan menarik Zoya supaya duduk di depan cermin. Tangan terampilnya mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut Zoya.


"Aku bisa sendiri, Mas."


"Nggak apa-apa, biar aku aja." Jawab Ridwan.


"Makasih, Mas."


"Nggak usah makasih sayang, ini tugas suami." Ridwan mengecup puncak kepala Zoya begitu selesai mengeringkan rambut.


"Baju buat kuliah udah aku pesenin, tinggal pilih aja mau pake yang mana."


"Sarapan juga udah ready. Sekarang ganti baju, kita sarapan bareng."


Zoya melihat ke arah meja, benar saja sarapan super lengkap sudah tersedia disana. Begitu pun dengan beberapa pilihan baju yang ada di atas ranjang.


"Mas Ridwan yang nyiapin semua?" Zoya mengambil salah satu pakaian pilihannya.


"Maaf, harusnya aku yang nyiapin semua kebutuhan Mas Ridwan, eh ini malah kebalik."


"Kondisional, sayang. Kan kamu pernah bilang kalo suami idaman itu suami yang saling bantu dalam berbagai hal."


"Makasih, Mas."


"Jangan makasih-makasih terus sayang. Aku ngelakuin apa pun nggak masalah asal KinderZoy ini seneng." Ridwan mencubit gemas pipi Zoya.


"Sama satu lagi, sayang." Imbuhnya.


"Apa?"


"Main lagi ntar malem."


"Mas! Pantesan baik banget, ternyata ada maunya." Zoya mencebikan bibirnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.


Setelah selesai berpakaian, Zoya lantas sarapan bersama suaminya. Ridwan benar-benar memperlakukannya dengan begitu baik. Sampai sarapan pun disuapi meskipun dirinya sudah menolak tapi katanya bagian dari kewajiban suami. Entah menemukan dasar dari mana tapi ia beralasan jika memberikan nafkah hingga menyuapkan makanan ke dalam mulut istri maka pahalanya lebih besar dari pada sebatas memberikan jatah bulanan saja. Entah memang benar adanya atau hanya sekedar modus belaka, tapi tak dipungkiri Zoya begitu senang diperlakukan seperti ini.


"Sampe jam berapa kuliahnya? Kalo udah beres langsung kabari nanti aku jemput." Tanya Ridwan begitu mereka meninggalkan kamar.


"Jam dua juga kayaknya selesai, Mas. Cuma dua mata kuliah hari ini."


"Siap. Nanti telpon aja kalo udah selesai." Sepanjang jalan menuju keluar Ridwan terus mengandeng lengan Zoya. Ia bahkan sesekali mengecup tangan istrinya penuh sayang.