
Ridwan mengendarai mobilnya dengan suka cita, dia sudah tak sabar untuk melihat Zoya pagi ini. Ia melihat tas bekal yang diletakan di kursi sebelahnya. “Meskipun nggak bareng, tapi kayak biasa gue bikini bekal buat lo, KinderZoy!” gumamnya sambil tersenyum.
Sampai di perusahaan, di lobi sudah berjajar banyak karyawan yang menyambutnya. Ridwan balas tersenyum ramah pada mereka. Dari sekian banyak karyawan tentu matanya hanya menelisik dimana keberadaan gadis yang sudah ia tetapkan menjadi calon istri. Ridwan tersenyum gemas saat melihat Zoya tampak bersembunyi di balik tubuh karyawan lain meski matanya tetap curi-curi pandang padanya, terlihat jelas dari bagaimana gadis itu beringsut gugup saat tak sengaja bersitatap dengan dirinya.
“Gemes banget dah. Sekarang bisa sembunyi, liat aja ntar KinderZoy!” batinnya.
Setelah Ridwan dan Papi Rama masuk kedalam lift bersama sekretarisnya, satu persatu karyawan mulai kembali ke ruangan masing-masing. Zoya pun bisa bernafas lega, ia melakukan hal yang sama dengan yang lainnya meski kebanyakan karyawan perempuan masih berkumpul dan memuji-muji ketampanan Ridwan.
Zoya mulai focus bekerja tak peduli Sisil terus membahas soal Ridwan disela-sela pekerjaan mereka. Zoya merasa lega karena dari pagi hingga menjelang siang dirinya tak diganggu Ridwan. Sejak pagi ia sudah khawatir akan dipanggil kemudian dipecat oleh Ridwan gara-gara mengusirnya semalam.
“Zoya Vivantie!”
“Ya, saya.” Zoya langsung berdiri saat terdengar suara yang memanggilnya. Mikayla, perempuan itu tersenyum ramah padanya.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya Zoya.
“Ikut saya, Pak Ridwan manggil kamu.” Jawab Kayla.
Zoya menelan salivanya susah payah, tenggorokannya mendadak terasa kering kerontang. “jangan-jangan beneran dipecat ini.” Batinnya.
Dengan perasaan takut campur aduk, Zoya mengetuk pintu ruangan Ridwan. Ia benar-benar takut dipecat seperti ancaman Ridwan semalam. Disaat seperti ini sungguh ia menyesal telah mengusir lelaki itu malam tadi, selain kesepian di kontrakan sendiri ternyata hal itu juga berimbas pada kelangsungan hidupnya di perusahaan. Masa belum genap sebulan bekerja sudah mau dipecat? Mana belum pernah gajian pula.
“Masuk.” Zoya semakin dag dig dug setelah mendapat jawaban dari dalam. Dengan langkah ragu ia masuk dan duduk setelah pemilik ruangan mempersilahkannya.
Zoya mengamati ruangan kerja Ridwan, lebih luas dan elegan dibanding ruangan tempatnya bekerja. Lelaki itu juga nampak serius dan begitu dingin, sejak ia masuk tak sekalipun Ridwan melihat ke arahnya, membuatnya Zoya semakin ketar-ketir takut dipecat.
Cukup lama Zoya menunggu hingga Ridwan beranjak dari meja kerjanya. Semakin Ridwan mendekat, Zoya justru semakin takut. Entah hanya karena pikirannya saja atau laki-laki di depannya memang sedang mengeluarkan aura mencekam.
Ridwan duduk di depan Zoya, “Gue manggil lo kesini-
“Tadi malam sebenernya aku keluar mau ngasih selimut sama bantal tapi Mas eh Bapak udah nggak ada.”
Ridwan menahan tawa melihatnya. Sikap Zoya berbanding seratus delapan puluh derajat dengan tadi malam. “Panggil kayak biasanya aja nggak apa-apa.”
“Pokoknya aku minta maaf, Mas. Serius, minta maaf banget. Jangan di pecat yah… aku bakal ngelakuin apa aja deh asal nggak di pecat, Mas.”
“Siapa juga yang mau mecat lo, KinderZoy!” Ridwan mengusak gemas rambut Zoya. “gue manggil lo kesini buat makan siang bareng. Tuh udah gue masakin, ambil.” Lanjutnya seraya menunjuk tas bekal di meja kerjanya.
“Ya ampun kirain…” Zoya bisa bernafas lega sekarang. Ia lantas mengambil tas bekal dan menyiapkannya di meja.
“Tapi beneran lo bakal ngelakuin apa aja asal nggak di pecat?”
“Iya, Mas.”
“Kalo gitu nikah yuk!”
Uhuk! Zoya yang sedang mengunyah makanan tersedak mendengarnya. Ia buru-buru meraih botol yang disodorkan Ridwan dan meneguk isinya.
“Mas Ridwan ngomong apa barusan?”
“Nikah!” jawab Ridwan begitu enteng dan Zoya hanya bisa melongo mendengarnya. Menikah sama sekali tak ada di list nya tahun ini.
“Mau nikah sama gue apa dipecat? Katanya tadi mau ngelakuin apa aja asal jangan dipecat.”
“Hah?” Zoya berusaha mencerna ucapan Ridwan baik-baik. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba diajak nikah. Namun sedetik kemudian ia tertawa, “Mas kita ke dokter aja yuk! Kayaknya Mas Ridwan perlu di periksa deh.”