
Setiap kali melihat jari jemarinya yang sedang bergerak lincah di keyboard laptop, Zoya tersenyum. Jika biasanya gadis itu mengetik tanpa melihat keyboard dan focus pada hasil ketikan dilayar, kini malah sengaja mengetik dengan melihat Gerakan jarinya sendiri, seperti orang yang baru belajar mengetik dan tak hapal tata letak setiap huruf. Namun bukan itu alasan Zoya, tapi karena cicin putih yang melingkar di jari manisnya, membuatnya ingin selalu melihat benda itu. Setiap kali melihatnya selalu mengingatkan pada wajah Ridwan yang duduk di depannya tadi sambil mengajaknya nikah. Meski tak romantic sama sekali tapi Zoya suka, lelaki itu tak basa basi. Meski pun tak dipungkiri ia juga ingin lah dilamar romantic seperti cerita sisil yang ditembak pacarnya dengan buket mawar. Sedangkan dirinya? Jangankan ditembak, ngelamar aja nggak nunggu jawaban. Pemaksaan!
“Zoy, lo sehat kan? Cengar cengir mulu dari tadi.” Tanya Romi yang mejanya tepat berada di depan meja Zoya hanya terpisah sekat kubikel.
Zoya mengangguk, “sehat, A. ini lagi kerja, bentar lagi tugas aku selesai.”
“Ya udah selesein cepet jangan senyam senyum terus, nanti pas Sisil sama Gilang datang harus udah beres.” Ucap Romi. Meskipun sudah mendengar kehebohan Zoya yang datang bersama Ridwan dan atasannya tapi tak lantas membuatnya cari muka pada gadis itu. Toh dari awal ia sudah memperlakukan Zoya dengan baik, maka kali ini pun sudah sepatutnya bersikap biasa saja. Sampai Zoya beneran memiliki hubungan special dengan Ridwan pun bukankah urusan pekerjaan dan pribadi memang terpisah?
“Siap, A.” balas Zoya.
Zoya baru saja menyerahkan hasil pekerjaannya pada Romi untuk diperiksa sebelum dibawa ke rapat nanti. Pasalnya pada rapat hari ini semua anggota diperbolehkan ikut dan menyuarakan ide atau gagasan mereka guna menentukan strategi pemasaran yang lebih segar. Mereka yang terhitung masih baru kini bisa bersaing dengan tim marketing senior yang lebih berpengalaman.
“Gue rasa udah cukup oke.” Ucap Romi di sela-sela membaca berkas Zoya. “Kita tunggu pendapat Sisil sama Gilang nanti.”
“Nah kebetulan lo berdua udah balik. Rencana pemasaran tim kita nih, kata mba Rika kalo plan kita di acc pas rapat nanti bisa langsung dapat proyek sendiri. Kemaren-kemaren kan kita Cuma bantuin tim pemasaran lain.” Jelas Romi.
“Iya, kita harus dapat sih biar nggak dianggap anak bawang terus.” Jawab Gilang.
“Tapi kan kita emang anak bawang, Lang! masih baru kita tuh.” Ucap Sisil dengan santai. “Kalo gue sih nggak menang proyek nggak apa-apa, kerja santai kayak gini udah oke. Toh gajinya sama Cuma beda bonus doang. Gue sih tipe-tipe mengalir aja lah nggak ambis.”
“Lagian kita kan punya calon menantunya pak Darmawan pasti aman lah.” Lanjutnya seraya melirik Zoya. Yang dilirih malah tak sadar karena terus melihat cincinnya.
“Gue lihat, Zoy!” Sisil menarik tangan Zoya, “gila! Ini cincin limited idition yang baru keluar itu kan? Gue liat iklannya doang beberapa hari kebelakang. Asli ini kayaknya…” Sisil menyentuh cincin putih itu dengan hati-hati.
“Apaan sih, Sil! Ini imitasi kok.” Zoya menyembunyikan tangannya.
“Nggak mungkin, gue tau kok barang imitasi kayak gimana.”
“Imitasi, Sil. Ini beli di pasar malam kemaren, lima ribuan.” Jawab Zoya sedikit gugup.
“Jujur deh, Zoy!” desak Sisil. “Dari pak Ridwan yah?” tebaknya kemudian.
“Sisil! Apa-apaan sih lo gangguin Zoya terus! Beresin kerjaan lo aja.” Sela Gilang.
“Lo aja yang beresin, tinggal edit dikit juga.” Ketus Sisil, ia kembali menatap Zoya penuh maksud.
“Iya kan dari pak Ridwan?” tanyanya lagi.
“Nggak, bukan. Dibilangin imitasi kok, lima ribuan. Nggak percayaan banget sama aku.” Jawab Zoya.
“Kalo emang imitasi ya udah buat gue aja sini, lo tinggal beli lagi. Nih gue kasih cepe, kembaliannya buat lo.” Sisil meledek dengan menarik paksa cincin itu dari jari Zoya.
Zoya menepis tangan Sisil, “nggak boleh. Iya deh aku jujur, dari Mas Ridwan. Dia ngelamar aku tadi.” Ucap Zoya dengan polosnya.
Gilang dan Romi yang sibuk menyiapkan presentasi tim mereka mendadak diam, terutama Gilang. Dia hanya menatap Zoya sekilas sembari menghela nafas dalam kemudian mencoba kembali focus pada pekerjaannya meski sulit.
Romi menepuk Pundak Gilang beberapa kali, “biar gue aja yang lanjutin. Lo cari udara segar aja dulu sana.”
“Thanks.” Gilang berlalu pergi tanpa pamit pada Zoya dan Sisil yang heboh perkara cincin.
Gilang kira dengan tidak melihat Zoya dan Sisil maka ia bisa sedikit tenang karena tak mendengar bahasan perkara Ridwan, Ridwan dan Ridwan lagi. Namun salah, bahkan di pantry tempatnya berada kini pun masih mendengar bahasan Ridwan dan Zoya. malah lebih heboh karena hampir setiap karyawan yang datang untuk sekedar mengambil air ataupun camilan selalu membahas soal Ridwan dan calon istrinya dari salah satu anggota tim pemasaran.
Saat jam istirahat tiba, Zoya dan Sisil pergi ke kantin untuk makan. Zoya sangat senang karena setelah beberapa minggu kerja di kantor baru kali ini ia akan menikmati menu kantin mereka.
“Hari ini nggak makan siang sama Mas calon, Zoy?”
“Mas calon apaan sih! Udah cepetan kita pesan. Aku udah lapar banget.” Jawab Zoya.
“Calon suami lah, Pak Ridwan.” Ledek Sisil. “seisi kantor juga udah tau kali kalo lo calon istrinya pak Ridwan.” Lanjutnya seraya menunjukan grup ghibah kantor. bahkan foto dirinya ada di sana dengan cincin yang sengaja diberi lingkaran supaya jelas.
“Dasar gossip mulu ih! Pantesan semua jadi pada beda ke aku. Jadi pada nunduk gitu sambil senyum.” Jawab Zoya.
“Kamu lagi sekarang ngapain ikutan nunduk-nunduk gitu?” Zoya cemberut.
“Tidak apa-apa ibu Zoya. Saya ada perlu sebentar, permisi.” Ucap Sisil begitu formal, kemudian berlalu pergi.
“Mas Ridwan?”
“Eh Pak Ridwan.” Ralatnya cepat.
“Panggil kayak biasanya aja, jangan manggil bapak!” Ridwan menarik Zoya untuk duduk di salah satu meja.
“Aku mau ke Sisil, Mas.” ucap Zoya.
“Disini aja, makan siang sama gue!” Ridwan memaksa seperti biasanya.
Zoya tak menikmati makan siangnya gara-gara semua mata memandang padanya. Membuatnya buru-buru menghabiskan makanannya supaya bisa cepat pergi dari kantin karena tatapan yang mengarah padanya tak semuanya tatapan suka, binar-binar kebencian juga bisa Zoya dapati dari beberapa karyawan muda. Meskipun mereka ramah padanya tapi Zoya tak bodoh untuk membedakan mana yang benar-benar ramah, formalitas dan yang pura-pura.
Waktu rapat penentuan tim marketing untuk menentukan tim mana yang layak mendapat proyek untuk peluncuran produk baru telah tiba. Zoya dan tim nya duduk berhadapan dengan anggota tim pemasaran lain yang lebih senior.
Rapat siang itu dihadiri Papi Rama seperti biasa, namun yang berbeda kali ini beliau tak langsung memimpin rapat melainkan hanya hadir sekedar untuk menonton. Membiarkan putranya memimpin rapat.
Rapat kali ini berjalan cukup lama karena masing-masing tim mempresentasikan ide mereka dengan detail. Papi Rama cukup puas melihat kinerja Ridwan, meskipun terkesan masih terpaksa bekerja di perusahaan tapi nyatanya lelaki itu bisa mengambil keputusan dengan bijaksana.
“Tim empat selamat, proyek peluncuran produk baru saya percayakan pada kalian.” Ucap Ridwan sebelum menutup rapat siang ini.
Zoya dan tim nya tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Sisil bahkan teriak paling heboh hingga tim lain melirik kearah mereka dengan sinis.
Sebelum pergi Ridwan menghampiri Zoya, ia mengelus sayang kepala gadis itu. “Selamat yah. Tapi jangan puas dulu, buktiin kalo rencana besar tim lo tuh bisa terealisasi.”
“Siap, Pak.” Jawab Zoya, formal.
“Panggil apa barusan hm?”
“Mas Ridwan, bukan bapak.” Jawab Zoya.
“Good. Anak baik. Nanti pulang gue anterin. Jangan pulang bareng Gilang!”
“Iya, Mas.” jawab Zoya, patuh.
Setelah Ridwan pergi, Sisil kembali heboh. “Cie Mas Ridwan…”
“Apaan sih gaje, Sil! Kita balik ruangan yuk!” ajak Zoya.
“Iya balik ruang ayo! Kerja! Kerja! Jangan ngerumpi terus!” imbuh Romi, sementara Gilang sedari tadi sudah tak ada suaranya, dia sibuk menata hati.
Berbeda dengan teman-temannya yang kembali ke ruang kerja mereka, Zoya berbelok ke toilet lebih dulu. Dia membasuh kedua tangannya seraya memegang cincin pemberian Ridwan, senyumlah spontan muncul setiap kali menatap benda mungil itu.
“Eh mba Sarah, sore mba…” sapanya sopan pada senior marketing yang baru saja masuk dan berdiri di sampingnya seraya mengulaskan lipstick.
Wanita ini menatap jijik pada Zoya seraya menutup lipstiknya. “Jangan so hebat mentang-mentang tim lo menang proyek. Gue tau lo main belakang kan sama anaknya pak Darmawan?”
“Sepanjang gue kerja disini baru sekarang gue kalah sama anak baru kayak lo, sama tim lo yang nggak jelas itu.”
“Mending lo kasih tau tim lo buat nyerah terus serahin proyek ke tim gue, sebelum perusahaan rugi gara-gara produk baru dihandle sama tim anak kemaren sore!” sentaknya kemudian.
Zoya hanya tersenyum mendengar cercaan seniornya. “Mba Sarah… main belakang apa yang mba maksud?”
“Kalo mba Sarah mau proyek ini bilangnya ke atasan dong, jangan sama aku.” Jawab Zoya santai.
“Kalo emang menurut mba, tim mba lebih layak dari pada tim aku, tinggal protes aja langsung, jangan malah ngancam aku.” Lanjutnya.
“Zoya! berani lo sama gue!” sentak Sarah dengan tatapan penuh emosi. “jangan mentang-mentang lo deket sama anak direktur aja bisa seenaknya! Lo kira gue takut karena lo deket sama Pak Ridwan? Nggak! Gue orangnya professional!”
“Kalo mba emang professional nggak gini dong sikapnya. Aku permisi, mba.” Pamit Zoya kemudian berlalu pergi tanpa peduli seniornya masih mencaci maki namanya disana.
“Dikiranya aku bakal takut digituin? Sorry aja.” Gumamnya.