
Sekesal-kesalnya Ridwan tetap saja tak bisa jika tak menuruti perintah Zoya, ia memilih menurut dari pada harus mendengarkan ocehannya yang tiada henti. Status WA nya saja dipenuhi dengan aneka produk loveware dan setiap hari ia membalas semua pesan yang masuk, sudah seperti admin pribadi Zoya saja. Agenda hariannya penuh dari mulai beres-beres kontrakan bersama, ikut ke kampus, narik kredit, hingga memprospek pelanggan baru. Tak hanya itu sejak kemarin Zoya mulai mengajarinya masak, katanya supaya bisa gantian masak. Naas sekali pokoknya nasib Ridwan setelah bertemu Zoya, dia yang tak pernah masak jadi harus bisa setidaknya menggoreng telur.
“Mas kita hari ini sarapan diluar aja yah? Aku lupa stok bahan makanan udah habis, padahal minggu kemaren aku belanja buat satu minggu tapi baru tiga hari udah habis, kan berdua yah jadi cepet abis. Tenang aja nggak bakal aku potong uta…” belum selesai bicara Zoya langsung kesal karena melihat Ridwan yang bukannya menyapu malah tidur lagi menggunakan selimut tebalnya. Padahal dua hari ke belakang Zoya sudah senang karena Ridwan mulai paham tugasnya tiap pagi tanpa harus ia ingatkan.
“Mas! Kok malah tidur lagi sih!” teriak Zoya sambil menarik selimutnya, “Mas udah lupa yah tugas Mas Ridwan kalo pagi tuh…”
“Mas…” Zoya berlutut di depan Ridwan. Ia reflek memegang kening lelaki itu setelah sebelumnya berusaha menarik Ridwan untuk bangun supaya beres-beres.
“Panas banget. Mas Ridwan sakit?” tanyanya. “Kita ke dokter yah.” Lanjutnya.
“Nggak. Gue nggak apa-apa Cuma kurang tidur, biarin gue tidur.” Jawab Ridwan dengan pelan.
“Nggak bisa, kita harus ke dokter. Aku takut Mas Ridwan kenapa-kenapa. Ke dokter aja yah? Biayanya nggak bakal aku potong utang kok.” Ajak Zoya.
Ridwan menahan senyum, “tumben? Biasanya dikit-dikit potong utang. Gue nggak apa-apa, beliin paracetamol aja ntar juga sembuh. Udah biasa kalo kurang tidur pasti kayak gini.”
“Makanya jangan suka gadang, Mas. Kan aku udah bilang kalo malem tuh tidur! Susah banget dibilangin.” Ucap Zoya seraya membenarkan selimut yang tadi ia tarik.
“Kan gue udah bilang kalo gue tuh biasa gadang terus tidur siang, tapi lo nggak ngasih waktu buat tidur siang.”
“Jadi salah aku dong yah Mas Ridwan sakit?” Zoya menatapnya dengan wajah khawatir.
“Udah nggak apa-apa, gue tidur aja ntar juga sembuh. Beliin parasetamol sebelum lo berangkat ke kampus.”
Zoya membelikan bubur untuk Ridwan dan menyuapinya. “Sengaja bubur doang nggak pake topping supaya gampang makannya nggak usah dikunyah.”
“Gue cuma kurang tidur Kinderzoy, bukan bayi yang makan bubur doang.”
“Gue bisa sendiri.” Tolak Ridwan saat gadis itu menyodorkan sendok ke mulutnya.
“Udah sih nurut aja lagi sakit juga. Aaaa….” Ridwan terpaksa menerima suapan demi suapan yang diberikan Zoya, dia tak memiliki tenaga untuk berdebat dengan gadis cerewet itu pagi ini.
“Obatnya…” Zoya memberikan satu tablet paracetamol dan segelas air. “Kalo sampe siang nanti demamnya nggak turun kita ke dokter." lanjutnya.
"Hm." jawab Ridwan singkat kemudian kembali merebahkan tubuhnya dan terlelap.
Cukup lama Ridwan terlelap hingga akhirnya ia terbangun karena lengan kirinya terasa begitu pegal. Saat ia membuka mata, Zoya tengah menjadikan tangan kirinya sebagai bantal. Gadis itu terlelap dengan tangan memegang kain basah yang bisa Ridwan tebak sisa mengompres dirinya.
“Gue kira lo ke kampus.” Ucap Ridwan lirih. “Biar cerewet sama suka nyuruh-nyuruh sesuka hati, ternyata lo perhatian juga sama gue.” Ridwan mengusap pelan puncak kepala Zoya.
Ridwan segera memejamkan matanya kembali berpura-pura tidur saat Zoya mulai menggerakan kepalanya. Sepertinya gadis itu terusik gara-gara kepalanya diusap-usap.
“Ya ampun aku malah ketiduran.” Ucap Zoya begitu bangun. Ia melihat Ridwan yang masih terlelap dan memegang keningnya, “lumayan panasnya udah turun.” Lanjutnya seraya kembali memasangkan kompresan ke kening Ridwan.
.
.
.
Segini dulu jangan lupa like komen sama votenya bisa ririd cepet sembuh…