
“Ehm, Zoy.” Teriak seseorang dari depan pintu. Sejak tadi ia mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban. Ia juga cukup terkejut melihat Zoya tertawa sambil menyuapi seorang laki-laki yang baru pertama kali ia lihat. Hampir tiga tahun berteman dekat dengan Zoya baru kali ini ia melihat ada laki-laki yang masuk ke kontrakan Zoya selain dirinya.
Zoya menoleh, pintu kontrakannya memang dibiarkan terbuka sedikit barangkali ada konsumen yang mau ambil produk. “A Gilang…” ucapnya lirih sambil tersenyum.
“Mas Ridwan abisin makannya.” Lanjutnya seraya memberikan sendok dan piring sebelum berlalu pergi.
Ridwan melirik sekilas lelaki yang baru saja datang, bisa ia tebak mungkin teman kuliah Zoya karena membawa tas serta beberapa berkas yang kemungkinan tugas kuliah.
“Oleh-oleh nih dikit.” Gilang memberikan paper bag cokelat pada Zoya. “Itu sepupu kamu dari kampung?” lanjutnya.
Zoya tersenyum, “Makasih A. kok Aa tau sih dia sepupu aku? Kita duduk di teras aja yah.”
“Anak-anak heboh tadi di kelas. Mereka titip salam juga buat sepupu kamu.” Gilang melihat sekilas pada Ridwan, “Banyak fans Bang di kampus.” Lanjutnya kemudian mengikuti Zoya untuk duduk di teras. Ridwan acuh saja sambil meneruskan makannya.
“Kenapa tadi nggak ngampus? Tugas hari ini aku bawain nih, sama resume nya juga.”
“Mas Ridwan sakit, jadi aku jagain dia.”
“Oh gitu. Ngomong-ngomong dia beneran sepupu kamu, Zoy? Kok aku nggak tau yah?” tanya Gilang.
“Bukannya sepupu kamu yang cowok tuh yang bunuh diri gara-gara ditinggal nikah? Anak paman kamu kan tinggal yang cewek-cewek dua.” lanjutnya. Soal keluarga Zoya, Gilang lumayan paham. Keduanya memang cukup dekat sejak awal tingkat dua dulu. Baik kaluarga Gilang maupun Zoya sudah saling mengenal. Zoya bisa jadi member di LoveWare juga Karenna bantuan kakaknya Gilang yang merupakan kepala marketing disana. Gilang juga selalu senantiasa membantu Zoya jika membutuhkan bantuan. Singkatnya pemuda itu menaruh perhatian lebih untuk Zoya hanya saja gadis itu belum membuka hati hingga detik ini. Bagi Zoya yang anak tunggal, Gilang layaknya sosok kakak yang selalu ada untuknya.
“Jujur, Zoy!” ucap Gilang. Melihat Zoya tak langsung menjawabnya saja sudah membuat Gilang bisa menyimpulkan jika gadis itu menyembunyikan sesuatu.
Zoya tersenyum, “Kalo aku jujur A Gilang mau bantu supaya semuanya baik-baik aja?”
“Kapan aku pernah nggak bantu kamu, Zoy?” tanya balik Gilang.
Zoya mengangguk berulang kali. “Iya, A Gilang emang selalu bantu aku. Jujur, Mas Ridwan bukan sepupu aku.”
“Udah bisa aku tebak. Jadi dia siapa? Sekarang ini banyak orang jahat, Zoy. Jangan asal nolongin orang kalo ujung-ujungnya kamu yang kena masalah.”
“Orang yang nggak sengaja aku tolongin pas mau bunuh diri.” Jawab Zoya enteng.
“Terus kamu bawa pulang?”
Zoya mengangguk, “abis kasihan A. Mas Ridwan kayak gelandangan waktu itu. Udah empat harian lah bareng aku, tapi dia baik kok. Mau bantu-bantu aku, penjualan aku juga naik loh.”
“Ya ampun Zoya, kamu tuh polos banget sih jadi orang! Main bawa pulang aja. Suruh dia pulang, lagian nggak baik kamu tinggal sama orang yang nggak tau asal usulnya.”
“A Gilang katanya mau bantu? Kok malah mau ngusir?” sindir Zoya.
“Meskipun aku nggak tau asal usulnya tapi dia baik kok, A. Buktinya dia nggak ngapa-ngapain aku. Meskipun ngeselin dan suka minta yang aneh-aneh tapi dia mau bantu-bantu, bisa saling gitu.”
“Aku belum tanya-tanya sih dia punya masalah apa sampe nggak mau pulang, katanya sih ribut sama mamanya, tapi aku nggak kepo lebihnya, ntar kalo dia ngerasa bisa beresin masalahnya juga pulang.”
“Gimana kalo dia Cuma manfaatin kamu, Zoy?”
“Tapi kan seenggaknya waktu itu aku tau kamu satu kampus sama aku. Lah dia?” Gilang melirik Ridwan di dalam sana sekilas.
“Udah lah nggak usah diperpanjang A Gilang, dia baik kok. Kalo pun dia manfaatin aku juga nggak apa-apa toh aku juga manfaatin dia buat jualan. Hasilnya laris manis.” Jawab Zoya yang kemudian masuk ke dalam karena Ridwan memanggilnya. Gilang juga mengikutinya masuk ke dalam dan duduk tak jauh dari tempat Ridwan yang kini bersandar di dinding.
“Lama banget sih di luar? Kepala gue pusing ini.” Ucap Ridwan sambil memijit pelipisnya berpura-pura. Jujur ia hanya bosan karena ditinggal sendiri sementara Zoya asik dengan orang lain.
“Kayaknya harus minum obat lagi deh Mas, takut demamnya naik lagi. Aku ambilin obatnya bentar.”
Saat Zoya pergi ke dapur, Gilang menghampiri Ridwan dan membuat perhitungan dengannya. “Gue tau lo bukan sepupunya. Awas aja kalo berani macem-macem sama cewek gue!”
Zoya kembali dengan air putih dan satu tablet obat yang langsung ia berikan pada Ridwan. “Dia cowok lo?” tanyanya setelah meminum obat.
“A Gilang? Bukan. Dia temen kuliah aku.” Jawab Zoya.
“Oh.” Ucap Ridwan sambil melirik sinis pada Gilang yang menatapnya tak kalah sinis.
“Kepala gue pusing, lo pijitin sebelah sini. Berat banget ini rasanya.” Lanjutnya yang membuat Gilang kian kesal menatapnya.
“Ya udah Mas Ridwan tiduran lagi biar aku pijitin.” Jawab Zoya. Jika Ridwan sudah mengeluh sakit si cerewet langsung berubah jadi mode perawat yang khawatir.
“Manja banget lo jadi laki.” Sindir Gilang. “Biar aku aja Zoy yang mijitin dia.”
“Nggak apa-apa A, biar aku aja. Kasihan A Gilang kan cape baru pulang dari kampus. Btw makasih buat oleh-oleh sama resume tugasnya.” Ucap Zoya.
“Sama-sama. Kalo gitu gue pulang dulu yah.” Pamit Gilang dengan sedikit kecewa. Apa dirinya harus sakit dulu supaya mendapat perhatian Zoya?
“Iya, A. hati-hati.”
“Iya, A. Hati-hati.” Ridwan menirukan ucapan Zoya. “Kalo sama dia aja lembut banget lo, kalo sama gue galak.” Lanjutnya.
“Ya beda lah, Mas. A Gilang udah kayak keluarga aku sendiri.” Jawab Zoya.
“Lah terus kalo gue nggak kayak keluarga lo gitu?”
“Nggak, Mas Ridwan beban keluarga.” Ledek Zoya.
“Enak aja. Gue sultan, Zoy.”
“Sultan gelandangan.” Ejek Zoya. “Udah jangan ngomong mulu, istirahat, tidur.”
“Makasih yah udah mau ngurus gue yang gelandangan ini.” Ucap Ridwan lirih sambil menatap intens gadis yang memijit keningnya.
Ridwan menahan senyum melihat Zoya yang tenyata bisa salting jika diperhatikan seperti ini, lucu. Gadis itu berusaha menghindari tatapannya dengan pipi bersemu. “Jangan ngeliatin aku terus!”