MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Adil



“Akhirnya kalian nongol juga.” Seru Mami Jesi begitu melihat anak dan menantunya lewat ruang tamu. “Sini dulu bantuin Mami.” Lanjutnya.


“Bantuin apa sih, Mi? kita mau jalan-jalan ke taman nyusul Jeli.” meski enggan, Ridwan menghampiri Mami nya, begitu pun dengan Zoya.


Mami Jesi memberikan setumpuk undangan ke hadapan Ridwan dan Zoya, “Sisa kuota tamu undangan buat kalian seratus orang. Dibagiin hari ini aja, kalo misal kurang pake undangan digital aja. File nya nanti Mami kirim.”


“Undangan? Resepsi kita, Mi?” tanya Zoya. Tak mungkin kan mertuanya bisa menyiapkan resepsi hanya dalam hitungan hari.


“Iya lah, sayang. Masa resepsi mami sama papi.” Jawab Mami Jesi. “Pokoknya hari ini harus selesai sebar undangan.”


“Mami serius? Cepet banget. Kalo di kampung aku mau hajatan aja persiapannya bisa berbulan-bulan. Maksimal satu bulan sebelum acara saja udah ngabarin kesana-sini.” Zoya begitu takjub dengan kemampuan mertuanya yang tak kalah sat set dengan suaminya. Kini ia yakin jika sifat sat set Ridwan itu mungkin menurun dari mami mertuanya.


“Mami bener-bener luar biasa.” Pujinya kemudian.


“Biasa aja, sayang. Padahal Mami bisa aja langsung bikin resepsi nikahan kalian sehari setelah kalian nikah, tapi ibu sama bapak kamu butuh waktu buat persiapan pesta di kampung, jadi mami sengaja sedikit mengulur waktu. Nanti setelah pesta disini selesai kita lanjut pesta di kampung kamu. Ibu sama bapak kamu udah siapin semuanya. Nanti kita semua kesana rame-rame.” Jelas Mami Jesi.


Zoya mengangguk paham, pantas saja ibu dan bapaknya buru-buru pulang kemarin dan meminta izin tak mengikuti resepsi disini, rupaya mereka ingin menyiapkan pesta juga untuk dirinya.


“Kalo kalian ada permintaan khusus buat acara bilang aja ke tante Raya yah.” Ucap Mami Jesi.


“Aku nggak ada permintaan apa-apa, Mi. Bisa diterima dikeluarga mami udah luar biasa banget.” Jawab Zoya.


“Kamu jangan gitu, Yang. Disaat-saat seperti ini jiwa itungan kamu tuh harus muncul. Cepetan minta apa pun sama Mami, pasti dikabulin. Jangan segan-segan, mertua kamu sultan yang udah kebingungan uangnya mau dipake buat apa.” Sela Ridwan.


“Mi, aku request mobil baru, kalo bisa sekalian helicopter supaya kalo kemana-mana nggak perlu beli tiket pesawat.” Ledek Ridwan.


“Mas!”


“Mami nanyanya sama Zoya, bukan sama kamu.” Ucap Mami Jesi. “Zoya beneran nggak mau minta apa pun sama Mami?” tanyanya kemudian.


“Nggak, Mi. Aku udah punya segalanya. Ibu sama Bapak yang pengertian, mertua yang memperlakukan aku seperti anaknya sendiri, keponakan yang gemes-gemes, sama suami seperti Mas Ridwan. Semuanya udah lebih dari cukup.” Jawab Zoya yang membuat Mami Jesi terenyuh. Dirinya benar-benar tak salah memilih menantu kali ini. Zoya sama sekali tak gila harta.


“Mami bangga sama kamu. Nggak salah Ridwan punya istri kayak kamu.” Puji Mami Jesi.


“Pilihan siapa dulu dong!” Ridwan membanggakan diri. “Iya-iya deh Zoya pilihan mami juga.” Selanya sebelum sang mami nyerocos.


“Kita pamit dulu, Mi. Biasalah mantu mami ini mau narikin kreditan lagi meskipun udah jadi sultan. Nanti sekalian aku bagiin udangannya.” Pamit Ridwan.


Keduanya lantas pergi meninggalkan rumah. Mereka menemui Raizel yang bermain di taman sebentar kemudian melanjutkan perjalanan untuk menagih kreditan serta sebar menyebar undangan.


Tagih menagih kreditan beres, kini mereka tinggal membagikan undangan. Beberapa undangan tadi sudah ia bagikan pada konsumen-konsumen yang selalu mengambil banyak barang, tapi sisa undangan di tangan Zoya masih banyak. Teman kuliah sudah ia share undangan digital, sedang untuk teman-teman di kantor ia tak perlu mengundangnya karena sudah masuk list undangan mertuanya.


“Masih sisa banyak undangannya, Mas. Mas Ridwan mau ngundang siapa lagi? Perasaan dari tadi belum satu pun kita ngasih undangan buat temen Mas Ridwan.”


“Undangan buat temen aku nanti biar Davin yang bagiin. Kita ke kosan dia aja bentar, abis itu kita jalan-jalan.” Jawab Ridwan.


Tak pelu waktu lama Ridwan dan Zoya sudah tiba di kosan Davin. Seperti biasa lelaki itu sibuk dengan HP layar miringnya. “Kirain udah lupa sama temen mentang-mentang punya bini.” Sindirnya.


“Nggak lah, mana ada gue lupa sama lo.” Jawab Ridwan seraya meletakan setumpuk undangan di depan Davin.


“Perasaan gue nggak enak.” Ucap Davin lirih.


“Sesuai dugaan lo. Gue minta tolong yah bagiin ke anak-anak.” Jawab Ridwan.


“Kebiasaan!” cibir Davin.


“Maaf yah jadi ngerepotin Mas Davin.” Zoya ikut bicara.


“Gudang parabot dapur?” heran Zoya. “Mas Davin juga usaha dibidang parabot dapur? Kita bisa kerjasama kalo gitu. Mas Davin jualan produk apa? Aku jualan produk perusahaan Papi Rama. Kalo barang-barangnya berkualitas aku mau join ikutan jualan." jiwa dagangnya langsung meronta-ronta. Zoya bahkan penasaran ingin melihat produk parabot dapur yang dijual sahabat suaminya itu.


“Sayang, sayang, sayang… udah sore kita jalan-jalan aja. Nggak usah liat produk si Davin, dia jualan baskom sama ember. Kuliatas standar yang lima belas ribuan.” Ridwan buru-buru menarik istrinya supaya tak masuk ke kosan Davin.


“Gue cabut yah. Jangan lupa udangan lo bagiin. Makasih.” Ridwan buru-buru membawa Zoya pergi. Bahaya kalo istrinya tau selama ini ia hanya menimbun barang jualan di kosan Davin tanpa laku satu pun.


Ingin rasanya Davin mengambil beberapa botol dan misting yang sudah memenuhi kamarnya dan meleparkannya pada Ridwan. “baskom sama ember katanya. Dasar!”


Di dalam mobil Ridwan terus menggerutu pada Zoya lantaran memanggil Davin dengan sebutan Mas. dirinya tak terima, katanya panggilan itu khusus hanya untuk dirinya saja.


“Iya, Mas. Besok kalo ketemu lagi aku nggak manggil kayak gitu. Aku panggil Aa aja biar kayak A Gilang.”


“Nah gitu dong. Pokoknya cuma aku aja yang boleh dipanggil pake sebutan Mas.” Ridwan tersenyum puas.


Semua orang turut bahagia mendapat undangan pernikahan Ridwan dan Zoya. Para karyawan mengucapkan selamat baik pada Zoya maupun Ridwan. Yang mereka tau keduanya belum menikah dan baru akan menikah esok hari sesuai dengan tanggal yang tertera di undangan.


“Calon manten masih kerja aja padahal besok udah mau nikah. Bener-bener panutan.” Ledek mba Sarah.


“Tau nih harusnya kan di rumah aja. Persiapan gitu.” Sambung Sisil. “Btw selamat yah, Zoy. Gila banget sih lo, diam menjadi karyawan bergerak jadi mantunya Pak Darmawan.” Lanjutnya heboh.


Lain halnya dengan semua orang yang turut bahagia. Lea datang ke ruangan Ridwan dan membuat kekacauan disana.


“Kak Ridwan, apa maksudnya ini!” Lea melempar undangan ke wajah Ridwan.


“Kakak bener-bener mau nikahin ayam kampus itu? Aku kurang apa kak? Kakak nggak malu kalo aku sebarin video kalian berdua?”


“Aku dari kemarin nahan diri buat nggak lapor ke Mami Jesi. Aku pengen lihat itikad baik kakak, tapi ternyata ini yang aku dapetin? Udangan pernikahan? Besok?” Lea berbicara dengan begitu sinis.


“Jangan bilang kak Ridwan kepaksa nikahin dia karena hamil? Jangan mudah percaya Kak, bisa aja dia pura-pura hamil biar bisa nikah sama pewaris kaya raya.”


Ridwan mengambil gelas dan menyiramkan isi gelas itu pada wajah Lea, “jaga mulut lo! Dia bukan lo yang mandang harta!”


“Hamil?”


“Dia bukan cewek murahan kayak lo yang bersikap so polos padahal udah polos-polosan tiap malem!” Ridwan mengambil ponselnya dan memperlihatkan video dirinya dan Refan yang keluar masuk hotel.


Lea terbelalak melihatnya. Tenggorokannya terasa kering dan tercekik menyadari Ridwan mengetahui semuanya.


“Gue punya yang lebih dari ini. Apa harus gue kirim video ini ke Om Kohar? Atau ke Tante Ria aja langsung? Supaya mereka tau kelakuan putri polosnya.” Ancam Ridwan.


Lea langsung gelagapan, bisa tamat riwayatnya jika kedua orang tuanya tau. “Kak Ridwan jangan macam-macam yah!”


“Kirim aja! Mereka nggak akan percaya toh sekarang banyak video editan beredar.” Lanjutnya berusaha menenangkan diri. Ia yakin Ridwan tak akan setega itu.


Ridwan tersenyum jahat, “oke sesuai permintaan lo. Gue kirim sekarang.”


“Kak Ridwan jangan!” Melihat Ridwan serius dengan ponselnya, Lea langsung bersimpuh di lantai dan memegang kaki lelaki itu dengan wajah melas. “Ampun Kak! Jangan sampe ibu tau. Ibu bisa sakit.” Lanjutnya menghiba.


Ridwan menarik kakinya hingga terlepas dari pegangan Lea. “Kita main adil aja. Selama lo nggak ganggu keluarga gue, video ini nggak bakal sampe ke orang tua lo. Tapi sekali aja lo ganggu ketentraman keluarga gue, bisa gue pastiin nggak cuma video ini tapi video yang lebih panas dari ini bisa sampe ke tangan ibu lo kurang dari satu menit.” Ancamnya kemudian.


“Iya, Kak. Paham.” Jawab Lea kemudian berpamitan dengan baik. Sepanjang jalan ia terus mengumpat dengan kasar. Diperlakukan seperti itu sungguh merusak harga dirinya.


“Si al! awas aja nanti! Gue balas!”