My Journey to Immortality

My Journey to Immortality
Ch 93 - Mengulang Kembali . . . . . .



Sebuah pemandangan yang cukup menyesakkan terjadi di depan Permaisuri Kekaisaran Han, di depannya Putra sulungnya sendiri tengah telanjangi, dihina, dicaci-maki, dan disiksa hanya karena kedapatan memetik sebuah apel di taman Istana.


Beberapa saat sebelumnya Pemuda yang saat ini tengah di disiksa yang tidak lain adalah Pangeran Mahkota Kekaisaran Han memetik sebuah apel, dia memetik buah itu karena rasa laparnya setelah sebelumnya tidak diberikan makanan sama sekali oleh para koki istana sejak pagi hari.


"Hentikan…!!! Yang Mulia…!!! Apakah anda tidak sedikitpun memiliki rasa kasihan pada putra anda sendiri…!!!".


Jeritan Permaisuri membuat Kaisar Han menoleh dengan pandangan marah, dia menatap Permaisurinya dengan tajam karena membela putranya.


"Diam Permaisuri….!!! Sampah tidak berguna sepertinya tidak pantas diberi hati….!!! Bukan hanya sampah yang tidak bisa berkultivasi, dia bahkan mencuri apel di taman Istana…..!!!! 


Sampah ini, bahkan bukanlah putraku ataupun putramu….!!! Dia hanya anak Mantan Kaisar yang kurebut kekuasaannya hahahaha……!!!!!!"


Permaisuri tertegun tidak percaya, apakah Kaisar baru saja menghina anaknya sendiri? Bukankah pohon apel yang di tanam di taman istana itu milik Pangeran Mahkota? Apel itu ditanam oleh Pangeran Mahkota sendiri, lalu kenapa dia tidak boleh memetik buah dari pohon yang ditanamnya sendiri?


Saat Permaisuri akan berbicara, Kaisar Han sudah lebih dulu mengucapkan sesuatu yang membuat Permaisuri jatuh tidak berdaya.


"Mulai hari ini….!!! Sampah tidak berguna ini bukan lagi Pangeran Mahkota….!!! Status Pangeran Mahkota akan diberikan pada Pangeran Feng putraku dari Selir Kehormatan…..!!!!


Selain dicopot posisinya sebagai Putra Mahkota, gelar Pangeran yang dia sandang juga diambil, mulai hari ini tidak ada lagi nama Xiao Suja di dalam silsilah keluarga Kekaisaran Han…..!!!!


Buang sampah tidak berguna ini ke hutan Neraka….!!!".


Permaisuri Kekaisaran Han tertegun, hatinya terguncang saat mendengar putranya akan dibuang ke Hutan Neraka yang berada di perbatasan Kekaisaran Han dan Kekaisaran Tang.


Sementara itu Putra Mahkota yang telah dicabut semua gelar dan posisinya hanya bisa menunduk dengan perasaan marah dan benci di hatinya, dia tidak bisa melawan karena tidak memiliki kekuatan sama sekali, selain itu dia juga tidak ingin membuat Ibundanya Permaisuri Kekaisaran Han semakin tersudut.


"Yang Mulia….!!! Hamba mohon jangan buang putra kita….!!! Dia masih pemuda belasan tahun, mohon belas kasih anda Yang Mulia….!!!"


Kaisar Han sama sekali tidak bergeming, dia menatap para prajurit dan menganggukkan kepala, para prajurit itu menyeret tubuh lemah mantan Putra Mahkota yang telanjang dan penuh bekas luka.


"Yang Mulia…!!! Jika anda membuang putra kita maka aku tidak akan memaafkanmu selamanya…..!!!"


Teriakan putus asa permaisuri membuat Kaisar Han tersenyum sinis, dia mengayunkan tangannya memanggil beberapa prajurit lagi.


"Mulai saat ini, posisi Permaisuri yang diduduki oleh Lu Yue dicabut dan diberikan pada Selir Kehormatan….!!! Permaisuri yang telah dicabut kedudukannya juga akan dibuang ke Hutan Neraka….!!!


Buang dia ke bersama anaknya yang sampah itu….!!! Oh iya satu lagi, kalian boleh menikmati tubuhnya jika kalian mau…."


"Baik Yang Mulia….!!!!".


Suara tawa menjijikkan terdengar dari segala arah, para prajurit yang menyeret tubuh mantan Permaisuri juga menampilkan senyum menjijikkan, mereka tidak pernah membayangkan akan dapat merasakan tubuh mantan Permaisuri yang masih berumur 26 tahun itu, namun mereka tidak pernah juga terpikirkan kalau itu akan menjadi hari terakhir mereka melihat sinar matahari.


.


.


.


"Ugh di mana ini? Kenapa tubuhku terasa sedang di seret?"


Roh Suja tersadar dari pingsannya setelah melakukan perjalanan dimensi, dia hanya bisa membuka matanya sedikit namun itu sudah cukup untuk melihat kondisi tubuhnya saat ini, saat dia akan bergerak tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit, kepingan-kepingan ingatan memasuki kepalanya.


Setelah menyerap semua ingatan itu akhirnya dia paham situasinya, dia menampilkan wajah dingin meskipun tidak akan terlihat karena tubuh yang sekarang dia miliki tengah diseret dalam posisi tengkurap.


"Tenang saja Pangeran, akan kupastikan semua hakmu akan kembali kuambil!"


.


.


.


Mereka terus menyusuri hutan gelap itu sembari menyeret si pemuda sedangkan perempuan yang terikat itu dipanggul salah satu prajurit, sepanjang perjalanan para prajurit itu menatap tubuh lemah yang tidak lain adalah mantan Permaisuri Kekaisaran Han dengan wajah penuh nafsu, mereka seperti binatang yang tidak sabar menyantap buruannya.


"Sepertinya kita sudah sampai di perbatasan Hutan Neraka bagian luar dengan bagian dalam, kalau begitu sekarang buang tubuh sampah ini ke sana, setelah itu mari kita nikmati tubuh ****** ini."


Dua orang prajurit membuang tubuh pemuda itu kemudian kembali mendekati atasan mereka, sementara prajurit yang memanggul tubuh mantan Permaisuri membuang tubuh perempuan itu begitu saja ke tanah, Permaisuri yang sebelumnya pingsan tersadar dan menjerit saat tubuhnya menghantam tanah, pandangannya masih belum jelas tapi dia sudah mengetahui apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi.


Saat semua prajurit itu akan menjamah tubuh mantan Permaisuri, sebuah serangan menembus tubuh kepala para prajurit itu membuatnya tersungkur jatuh dengan kepala berlubang dan mati seketika, saat mereka melihat atasan mereka mati tanpa sebab yang diketahui para prajurit itu bergetar ketakutan, mereka mengedarkan pandangan mereka sampai akhirnya menyadari ada seseorang yang sedang berdiri dan menatap mereka tajam.


"Ba-bagaimana, bagaimana dia bisa masih hidup….????!!!!"


"Bukankah dia sudah mati……???? Bagaimana mungkin dia masih hidup…!!!???"


Semua prajurit itu jumlahnya sekitar sepuluh orang belum termasuk atasan mereka yang telah mati, mereka semua bergetar saat melihat sesosok pemuda yang mereka yakini telah mati kini tengah menatap mereka dengan pandangan tajam dan senyum tipis yang terlihat mengerikan.


"Bukan hanya telah membunuhku, kalian juga ingin melecehkan ibuku, maka matilah kalian."


Perkataan pemuda itu memang pelan dan tidak terdengar nada dingin ataupun kemarahan, namun setiap kata yang terucap bagaikan kata-kata dari dewa kematian yang datang pada mereka.


"Selamat tinggal, semut-semut sekalian."


Pemuda itu semakin menampilkan senyum tipisnya, sebuah benda berbentuk pendek dengan genggaman tangan dan terbuat dari besi tergenggam di tangan si pemuda, hanya dengan sedikit gerakan tangan benda itu sudah terkokang kemudian diarahkan pada kumpulan prajurit itu.


KLEK..!!!


DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR….!!!!


"Aaaarrrrgggghhhh….!!!!"


Teriakan tertahan terdengar dari mereka semua, mereka tidak mengetahui apa yang terjadi, benda apa yang dipegang si pemuda itu pun mereka tidak tahu, yang mereka tahu hanya benda itu mengeluarkan suara yang sangat keras dan salah satu tangan ataupun kaki mereka terasa ditembus sesuatu, pandangan mereka berubah menjadi ketakutan saat melihat pemuda itu.


"A-am-puuun, to-tolong, tolong jangan bunuh kami."


Salah seorang prajurit memohon ampun membuat si pemuda semakin tersenyum lebar, melihat senyumnya para prajurit itu merasa nyawa mereka sudah tidak bisa ditolong.


"Baiklah, kulepaskan kalian, asalkan kalian kembali dan katakan pada si ******** pencuri tahta ayahku itu….!!!!


Aku Xiao Suja, keturunan terakhir Kaisar Xiao Jing akan membalaskan dendam atas kematian ayahku yang dia bunuh…..!!!


Dan aku akan merebut kembali hak yang seharusnya menjadi milikku, tahta Kekaisaran Han adalah milik Pangeran ini…..!!!!!


Apa kalian mengerti…???!!!"


"Ka-kami me-mengerti….!!!"


"Bagus, pergilah sebelum aku berubah pikiran!."


Para prajurit itu segera membantu sesamanya dan berusaha pergi secepat mungkin, mereka masih bisa mendengar tawa mengerikan Suja yang sudah terpaut jarak 100 meter dari mereka.


.


.


.


.


.


.