My Journey to Immortality

My Journey to Immortality
Ch 79 – Pertarungan Suja II. . . . . . .



"Kuakui kau cukup kuat bocah, tak kusangka kamu bisa memperkuat dirimu dalam beberapa saat seperti tadi. Tapi jangan senang dulu, karena sekuat dan sebesar apapun kekuatanmu bertambah kamu tidak akan bisa mengalahkanku!”.


Suja mengernyit dan mulai merasa kesal, memang serangannya tidak ada yang mampu melukai si iblis itu dengan serius tapi setidaknya dia bisa mengulur waktu beberapa jam sampai Mahaguru Wu Yun selesai menerobos ke ranah Deva Realm.


Suja kembali melesat menyerang si iblis itu dengan katana miliknya, setiap dia menyerang dengan teknik-teknik miliknya entah itu dengan teknik pedang dari pencak silat ataupun teknik pedang kenjutsu dan ninjutsu tidak ada lagi satupun yang mampu memberikan luka-luka serius pada musuhnya kecuali jurus pedang pembasmi iblis yang dia gunakan barusan.


“Hah, aku bosan meladeni serangan payahmu itu. Sekarang lebih baik kita bertarung adu tangan kosong, kulihat kau lebih menguasai ilmu tangan kosong dari pada menggunakan senjata”.


Suja tertegun sejenak sebelum menyeringai lebar, bertarung dengan bela diri tangan kosong memang adalah hal yang sangat dia kuasai.


Jika jendral iblis itu menantang Suja bertarung dengan tangan kosong maka sudah bisa dipastikan Suja bisa bertahan meskipun dia tidak bisa memenangkan pertarungan mereka saat ini.


“Sesuai dengan kemauanmu jendral iblis sialan, mari kita beradu pukulan!”.


“Huh! Jangan sombong kamu bocah! Rasakan ini!


Seni Tangan Iblis : Tapak Racun Iblis Ular….!!!!”.


Sebuah serangan tapak dilayangkan si jendral iblis saat jarak mereka telah tersisa satu meter, serangan tapak itu mampu ditahan oleh Suja dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya digunakan untuk memukul dada si iblis tepat di jantungnya namun berhasil dihalau oleh iblis.


Pukulan demi pukulan dan tendangan-tendangan mereka layangkan saat menyerang lawan mereka masing-masing, dalam waktu singkat mereka berdua telah bertukar puluhan pukulan dan tendangan yang kebanyakan mampu dihindari oleh si jendral iblis itu sementara Suja hampir semua serangan pukulan dan tendangan dari si iblis dengan telak mengenai tubuh dan kadang kepala ataupun lehernya.


Suja mengambil langkah menjauh menciptakan jarak puluhan meter dari lawannya, saat dia berhasil menciptakan jarak dia langsung memuntahkan beberapa teguk darah segar yang membasahi pakaiannya yang telah robek di sana-sini.


Kondisi Suja sangat memprihatinkan sekali saat ini, jika dihitung mungkin mereka telah bertarung selama setengah batang dupa atau satu jam saja, namun pihak yang terdesak adalah dia selain karena musuhnya telah berada di ranah Deva King Realm yang mana sangat jauh di atasnya dia juga telah kehilangan banyak Qin yang terbagi untuknya dan juga ratusan klon yang dia sebar ke banyak tempat.


Suja membentuk sebuaqh rune sihir di udara secara langsung tanpa menggunakan media apapun, dia mengalirkan mana ke tangan kanannya dan melukis sebuah rune sihir yang dia bayangkan seolah-olah tengah menggambar udara kosong.


Beberapa saat kemudian rune sihir yang dia buat bercahaya sangat terang sekali, dari kejauhan terlihat ratusan cahaya emas keputihan yang mendekat ke arahnya dan langsung memasuki tubuhnya dan membuat Dantiannya terisi oleh ratusan benang Qi yang cukup tebal.


Semua cahaya yang memasuki tubuhnya itu adalah semua clone yang dia buat kecuali clone yang saat ini berada di Light Thunder Temple dan di Five Poison Valley, alasan dia tidak menarik keduanya karena mereka sedang berbincang dengan orang lain yang cukup penting seperti dua pamannya dan juga dua biksu murid sang Great Monk yang saat ini tengah menunggu dan juga menjaga guru mereka yang akan memasuki ranah Deva Realm.


Jendral iblis yang melihat musuhnya tiba-tiba menjadi bertambah lebih kuat lagi dan juga auranya semakin terasa berat menekan tubuhnya merasa heran, dia memang melihat ada ratusan cahaya emas keputihan yang datang entah dari mana dan memasuki tubuh lawannya namun dia tidak mengetahui dari mana asalnya dan juga cahaya apa itu.


“Sekarang kita bisa melanjutkan lagi pertarungan kita jendral iblis sialan! Rasakan ini! Aura Dewa Naga, tapak aura!”.


Aura agung yang sangat kuat menekan si jendral iblis membuatnya tidak bisa aha maksudnya sulit bergerak saat Suja mendekatinya dengan cepat dan melayangkan sebuah serangan tapak berbalut aura emas yang sangat terang.


BUK….!!!!!


UHUK UHUK UHUK……!!!!!!


Serangan Suja dengan telak mengenai dada kiri si iblis membuatnya memuntahkan seteguk darah berwarna hitam kemerahan, Suja yang melihat warna darah si jendral iblis itu terbelalak kaget karena warna darah yang seperti itu bisa berarti musuhnya adalah salah satu ahli racun dari ras iblis di benua seberang.


“Seorang iblis yang ahli dengan racun, sekarang aku tahu kenapa kamu bisa dengan mudah menggunakan racun sekuat itu. Sayang sekali racun itu malah menjadi nutrisi untukku, jika kamu adalah ahli racun maka aku memiliki cara yang efektif untuk melawanmu hahahaha….!!!!!”.


Si jendral iblis menatap Suja dengan tatapan heran, dia tahu ada elemen yang bisa menjadi lawan alami dari racun tapi dia belum pernah mengetahui ada seseorang yang mengetahuinya dan menggunakannya selain mereka para ras iblis.


Racun sendiri bisa dinetralkan dengan beberapa cara, cara yang paling efektif adalah menggunakan anti racun atau elemen yang bisa menetralkan keganasan dari sifat merusak racun itu sendiri.


Elemen yang menjadi lawan alami dari racun adalah elemen air dan juga elemen kayu, jika racun dilawan dengan air maka racun itu akan menyatu dengan air dan keluar melalui air seni sedangkan jika dilawan dengan elemen kayu maka racun itu akan terus ditekan sampai titik di mana racun itu tidak akan bisa bekerja dan membahayakan nyawa orang yang terkena racun tersebut.


“Jangan senang dulu kau bocah! Meskipun kamu bisa menghilangkan racun dengan elemen air atau kayu tapi aku memiliki banyak jenis racun yang bisa membunuhmu dengan sangat cepat!”.


“Oh aku takut~! Hahahaha…..!!!!!


Biar kuberitahu kau iblis sialan, semakin banyak kau menyerangku dengan racun itu akan membuatku semakin kuat, kenapa? 


Karena aku memiliki Pure Spirit Root elemen racun, jadi semua racunmu akan menjadi Qi untukku hahahaha…..!!!!!”.


“Kalau begitu, maka serangan ini adakn bisa membunuhmu bocah sialan!”.


Jendral iblis itu membentuk segel tangan dengan gerakan yang sangat cepat sehingga Suja tidak bisa melihat segel apa yang akan digunakan untuk menyerangnya, tak berapa lama kemudian dari segel tangan itu keluar puluhan ular berwarna hijau  yang sangat beracun sekali yang bernama Green Poison Snake.


Ular-ular itu dengan cepat melata mendekati Suja sambil menghembuskan nafas beracunnya, melihat banyaknya ular yang dikeluarkan oleh jendral iblis itu membuat Suja meneteskan keringat dingin dan merasa ketakutan.


Dia memang memiliki elemen Spirit Root elemen racun yang bisa menyerap esensi racun-racun dari semua ular itu dan mengubahnya menjadi Qi, tapi jika yang menyerangnya adalah puluhan ular beracun ganas seperti itu maka dia tetap akan mengalami luka dalam yang sangat parah dan mungkin akan lama sembuh bahkan meskipun dia menggunakan elemen kayu dan airnya untuk menghilangkan semua racun itu.


“Bukankah kau mengatakan memiliki Spirit Root elemen racun? Kalau begitu silahkan serap semua racun dari ular-ular milikku ini, jika memang kau bisa menyerapnya dan masih bisa bertahan aku akan mengeluarkan lebih banyak lagi hewan-hewan beracun ganas milikku untuk memberi asupan Qi dari racun mereka hahahaha…….!!!!!!”.


“AAAAAAAARRRRRRRRRGGGGGGHHHHHHHH……….!!!!!!!!!”.


Teriakan kesakitan terdengar sangat keras, iblis yang melihat lawannya kesakitan karena serangan ular-ular beracun miliknya sangat senang sekali.


“Bukankah kau bilang kau punya elemen racun? Dan juga kau juga mempunyai elemen yang merupakan lawan alami dari racun? Kenapa kau tidak menggunakannya untuk menekan semua racun-racun yang diberikan oleh semua ular-ular itu? Atau kau memang Cuma hanya membual saja agar aku mengeluarkan semua serangan rahasiaku? Ayo jawab!” si iblis mencoba memprovokasi Suja agar Suja kehilangan konsentrasi sehingga memudahkannya untuk menyerang dan menghabisi Suja yang tengah kesakitan karena racun dari ular-ular miliknya itu.


Meskipun dia adalah seorang Demon General atau jendral iblis tapi dia masih mengetahui saat di mana dia bisa menyerang lawannya dan saat di mana dia harus mencari celah baru menyerang saat sang lawan telah lengah, Suja sendiri meskipun saat ini tengah merasakan rasa sakit yang luar biasa karena banyaknya racun-racun ganas yang memasuki tubuhnya secara bersamaan masih tetap berusaha agar tidak membuat celah yang bisa digunakan untuk menyerangnya oleh musuhnya.


Suja masih mencoba untuk menyerap semua esensi dari racun-racun ular itu untuk mengisi kembali Spirit Root elemen racunnya yang telah hampir habis persediaan Qi di dalamnya, meskipun begitu tidak semua racun-racun itu bisa diserap secara bersamaan karena banyaknya racun belum lagi semua ular-ular itu masih saja tetap menyerangnya dengan racun-racun mereka sehingga racun yang memasuki tubuh Suja menumpuk terlalu banyak membuatnya tidak bisa menetralkan ataupun menyerap semuanya sehingga mengakibatkan Suja pingsan di tempat.


“Hahahahahaha…..!!!!! rasakan itu bocah sialan…!!! Sekarang saatnya untukku mengambil kepalamu hahahaha……!!!!!”.


Dengan rasa senang dan mulai membayangkan apa saja hadiah yang akan dia dapatkan nantinya saat memberikan kepala dari bocah itu kepada Demon Emperor, si jendral iblis itu mendekati tubuh tak berdaya Suja yang tergeletak dengan belasan ekor ular yang masih saja menyerangnya dengan nafas racun mereka meskipun Suja saat ini telah tak sadarkan diri.


“Hah! Ternyata apa yang ditakutkan oleh Yang Mulia Kaisar sama sekali bukan ancaman, bisa-bisanya juga si Ding Dong itu mengatakan ada seseorang yang sudah berada di ranah Deva Realm padahal tidak ada sama sekali. Ckckckck….!!!!!”.


Sebuah pedang besar dikeluarkan oleh si jendral iblis dan bersiap untuk memenggal kepala Suja yang masih tak sadarkan diri, saat dai mengayunkan pedangnya dan hanya tinggal beberapa jengkal saja sebelum leher Suja terpotong pedang itu langsung terpental jauh bersamaan dengan tubuh si jendral iblis yang juga terlempar puluhan meter ke belakang.


“Ap-apa itu…!? Aura apa yang melindunginya tadi itu…!!? Sial ternyata anak ini memang bukanlah anak biasa, pastinya saat ini ada seseorang yang memang sudah berada di Deva Realm yang melindunginya entah dari mana…!!?”.


Saat jendral iblis itu masih menggerutu dan bangkit dari tempatnya tersungkur tadi  satu entitas berupa cahaya berwarna merah keluar dari tubuh Suja, cahaya merah itu perlahan-lahan membentuk tubuh seekor Harimau Putih yang tak lain adalah Radit yang menerobos keluar saat tuannya sedang didekati oleh si jendral iblis.


“Apa yang kau inginkan ras terkutuk……!?”.


Jendral ras iblis itu terkejut saat melihat seekor harimau berwarna putih yang keluar dari tubuh Suja yang masih pingsan, dia merasa dia pernah mendengar atau mengetahui sesuatu tentang harimau yang berada di depannya itu tapi dia tidak bisa mengingat kapan tepatnya dia mengetahui atau mendengarnya.


“Apa mauku? Tentu saja aku ingin memenggal kepala bocah lemah yang ada di sana itu…..!”.


Radit si harimau putih terlihat marah mendengar jawaban si jendral iblis, geraman kemarahan yang diperdengarkan oleh Radit nampaknya disalah pahami oleh si jendral iblis sehingga dia kembali mendekati tubuh Suja.


ROOOOOOOOAAAAAARRRRRRRR…………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!.


Melihat iblis itu mendekati tuannya Radit meraung kesal dan mengeluarkan aura miliknya untuk menekan si jendral iblis tidak tahu diri itu, aura yang dikeluarkan sangat kuat karena bahkan mereka yang berjarak lima mil saja bisa merasakan tekanan yang diberikan oleh aura kultivasi yang dikeluarkan oleh Radit.


“Uhhh…..!!!!! Tekanan dari mana ini? Tekanan ini sangat kuat, pasti ada seseorang yang mengeluarkannya tapi siapa?”.


Jendral iblis itu bisa merasakan tekanan kuat yang membuat tubuhnya terasa sangat berat dan sulit digerakkan, kaki dan tangannya seolah-olah ditimpa beban ratusan ton beratnya.


Radit yang melihat kondisi jendral iblis itu tersenyum meremehkan dan menggeram pelan sebelum mendekati tubuhnya tuannya yang masih terbaring tidak sadarkan diri dengan puluhan ular hijau yang masih berada di sekitarnya, ular-ular itu awalnya tidak menganggap kedatangan Radit sebagai ancaman dan terus memasukkan racun-racun mereka untuk membunuh Suja secara perlahan-lahan namun saat Radit mengeluarkan auranya mereka sadar bahwa mereka telah melakukan hal yang menyinggung harimau itu.


“Se-senior, ke-kenapa senior mendekati kami!?” Seekor Demonic Lord Beast yang memimpin puluhan ekor ular itu bertanya dengan gugup saat Radit mendekati mereka dengan wajahnya yang menyeramkan.


“Kenapa aku mendekati kalian? Tentu saja untuk melenyapkan kalian karena kalian telah berani menyerang tuanku dengan racun kalian, meskipun kalian melakukannya atas perintah tuan kalian tapi aku tidak akan pernah melepaskan siapapun yang telah melukai tuanku!”.


Demonic Lord Beast dan kawanannya yang mendengar jawaban Radit menelan ludah ketakutan, mereka melirik tubuh Suja yang sudah sepenuhnya menghitam bagaikan gelapnya malam yang menandakan racun yang mereka gunakan untuk membunuh anak manusia itu telah bekerja sepenuhnya.


Radit ikut memperhatikan kondisi tuannya, saat dia melihat kondisi tubuh tuannya yang telah sepenuhnya menghitam membuatnya semakin marah.


ROOOOOOOOOOAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRR………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!.


Raungan yang sangat keras terdengar sampai bermil-mil jauhnya dan menggetarkan tanah sampai sejauh 500 km, para kawanan ular yang mendengar raungan kemarahan Radit semakin bergetar ketakutan bahkan ada yang sudah tidak sadarkan diri saat Radit meraung keras di dekat mereka.


“Kalian telah melakukan kesalahan yang sangat besar…….!!!! LONG…!!! TASYA…..!!!!”…………….


.


.


.


.


.


.