My Journey to Immortality

My Journey to Immortality
Ch 86 - Melihat Masa Depan.



Gejolak energi akibat fluktuasi energi terjadi di sebuah tempat yang didominasi oleh warna putih dengan sedikit warna dari berbagai elemen alam atau bisa disebut sebagai warna elemen sihir, di tempat itu terlihat empat sosok yang sebelumnya mengawasi Suja tengah menunggu kedatangan seseorang.


Tempat itu berbeda dengan tempat mereka mengawasi Suja sebelumnya yang serba putih, tempat itu bisa dibilang sebagai tempat yang merepresentasikan berbagai elemen dunia seperti ruang, waktu, api, air, dan yang lainnya dengan berbagai warna dengan warna putih yang lebih mendominasi.


Tiba-tiba sebuah portal ruang terbentuk di depan mereka, keempat orang itu terlihat antusias melihat portal ruang di depan mereka mengeluarkan dua sosok berbeda wujud.


"Mereka sudah datang….!!!" (Laki-laki 2).


"Benar, mari bersiap-siap….!!!!" (Perempuan 2).


Dua sosok berbeda wujud keluar dari portal ruang itu, satu sosok seperti pria tampan berumur dua puluh lima tahun padahal umurnya sudah sepuluh ribu tahun dan satu jiwa tanpa raga yang hanya bisa melayang mengikuti pria tampan itu.


"Selamat datang Heavenseal, dan jiwa lemah yang bodoh dan penuh dosa….!!!!".


Suja yang dalam bentuk roh terkejut mendengar ucapan seseorang berwujud pria paruh baya di depannya, dia sedikit bergetar karena aura milik pria itu begitu kuat dan menakutkan untuknya.


"Salam senior sekalian".


Heavenseal menunduk memberi salam, Suja yang melihat itu ikut menunduk walaupun sedikit di tengah rasa takutnya.


"Kami terima salammu Heaven Seal, terima kasih sudah membawa jiwa bodoh ini ke hadapan kami" (laki-laki 2).


"Itu sudah tugas junior ini, apakah masih ada lagi yang harus junior ini lakukan senior?".


"Tidak ada, kau boleh pergi…!!!!" (Perempuan 1).


"Ba-baik senior….!!!".


Heaven Seal tanpa menunda lagi langsung menghilang dari sana, Suja hanya menatapnya dengan datar mencoba menutupi rasa takut yang dia rasakan.


"Nah sekarang hanya kita berlima saja di sini, siapa yang ingin bicara lebih dulu?" (Laki-laki 1).


Empat sosok yang berada di hadapan Suja saling pandang namun pada akhirnya kesempatan pertama jatuh pada si laki-laki kedua yang ada di sana, orang yang mendapatkan kesempatan pertama menatap Suja tajam membuat roh Suja semakin samar karena ketakutannya.


"Suja Andy atau sekarang bernama Xi Suja, jiwa yang seharusnya melatih diri untuk mempertahankan dunia tempatnya hidup kedua kali.


Seharusnya kau berlatih dengan giat karena itu adalah langkah pertama untuk memulai tugas yang kau emban, namun bukannya berlatih kamu malah enak-enakan bermain perempuan dan meninggalkan semua latihanmu…!!!" (Laki-laki 2).


"Kau sudah kami berikan kesempatan untuk hidup kedua kalinya meskipun di dunia yang berbeda, kau kami berikan kesempatan karena pada kehidupan pertama di Bumi jiwamu adalah jiwa yang sangat luar biasa.


Pantang menyerah, selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, bahkan meninggalkan kehidupan normalmu demi mempertahankan negaramu.


Tapi kenapa pada kehidupan ini kau malah mengecewakan kami?" (Perempuan 1).


"Kami memberikanmu kesempatan untuk hidup kedua kalinya, bahkan kami juga mereinkarnasikan jiwa istrimu ke dalam raga salah satu bayi yang lahir di sana.


"Oleh karena itulah, saat ini kami akan memutuskan kemana jiwamu akan kami buang karena kamu telah mati untuk kedua kalinya saat ini" (Perempuan 1).


"Sebelum itu lihatlah nasib keluargamu setelah ini, karena kau telah mengecewakan kami maka kami tidak akan pernah menyelamatkan keluargamu…!!!" (Laki-laki 1).


Sebuah layar proyeksi sihir dengan besarnya seperti baliho 3x6 meter terpampang di depan mereka, Suja bisa melihat kondisi keluarganya dari layar itu.


Yang pertama dia lihat adalah Tang Yue, ya sosok yang pertama kali dia lihat dari proyeksi itu adalah ibunya Tang Yue.


Dari layar itu dia bisa melihat kondisi ibunya dan juga semua anggota keluarganya yang tidak lain adalah anggota keluarga kekaisaran, setelah keluarganya dia melihat kondisi semua kenalannya baik itu dari Light Thunder Temple maupun sahabat ayahnya dari Heaven Mountain Sect dan juga para Pilar, Raja, dan empat penjaga mata angin.


Lalu tayangan berpindah ke sebuah benua yang sangat besar yang mungkin besarnya dua kali dari Benua Bintang Timur, di sana dia melihat ada lebih dari jutaan pasukan berkulit merah kehitaman bermata merah dan juga bertanduk yang tengah terbang ke tengah lautan.


Saat mereka berada di tengah lautan tiba-tiba saja langit seolah terbelah atau mungkin seperti cermin yang hancur dan menampakkan sebuah benua yang cukup jauh dari tempat mereka melayang, setelah mereka melihat pulau itu mereka terbang mendekat dengan cepat.


Saat mereka telah sampai di pesisir lautan tepatnya di atas pantai benua itu mereka mendarat satu-persatu kemudian berlari cepat semakin memasuki wilayah daratan, saat ada beberapa dari mereka menemukan pemukiman puluhan sosok bertanduk yang tidak lain adalah iblis itu mulai menyerang pemukiman.


Suara teriakan kesakitan terdengar sangat keras dan bisa Suja lihat para ras iblis yang menyerang pemukiman mulai membantai para penduduk tanpa pandang bulu, para laki-laki baik tua, muda, bocah, bahkan bayi laki-laki mereka cincang seperti tahu.


Para perempuan di pemukiman yang mereka serang juga mereka tawan sedangkan mereka yang sudah tua mengalami nasib seperti para laki-laki, mereka diperlakukan seperti mainan dengan dipotong-potong pelan seolah-olah mereka tengah mengiris bawang.


Teriakan kesakitan, permintaan tolong, dan suara para korban yang memohon ampun tidak digubris para iblis itu yang terlihat asyik menyiksa para korbannya.


Setelah selesai membantai semua penduduk di pemukiman itu dan menawan semua penduduk perempuan para iblis itu mulai berpesta, para perempuan yang mereka tawan entah itu yang masih berusia lima tahun sampai ratusan tahun asalkan berwajah cantik dan tubuh menarik mereka mainkan bersama-sama.


Para tawanan diperlakukan bagaikan anjing yang harus melayani kemauan mereka tanpa diberikan waktu istirahat, satu anak perempuan yang masih berumur delapan tahun harus melayani nafsu setan para iblis itu tanpa henti.


Anak perempuan itu hanya bisa menangis menahan sakit dan terus dipaksa melayani para iblis, saat satu iblis sudah selesai menikmati tubuh mungilnya iblis yang lain akan menggantikan. Kejadian itu terus menerus terjadi sampai berulang kali, pada akhirnya anak itu meninggal saat harus dipaksa melayani dua iblis sekaligus setelah melayani 50 iblis lainnya.


Nasib yang dialami anak itu juga dialami oleh belasan anak lainnya yang seumuran dengannya ataupun yang diatasnya, mereka tewas setelah iblis kelima puluh memainkan tubuh mereka.


Berbeda dengan para anak-anak yang digilir bergantian satu-persatu, para perempuan dewasa harus merelakan tubuhnya dinikmati oleh dua orang iblis sekaligus.


Para tawanan perempuan itu terus mengalami pelecehan sampai pada akhirnya semua tawanan mereka tewas mengenaskan, saat mengetahui tawanan mereka telah tewas semua para iblis itu mencincang tubuh mereka dan membakarnya seperti membakar sate.


.


.


.


.