My Journey to Immortality

My Journey to Immortality
Ch 60 - Kabar Mengejutkan.



TOK TOK TOK…..!!!!!!


"Air Kehidupan jatuh pada senior Pedang Nyawa dengan harga 100 Spirit Stone High Grade, silahkan untuk senior mengambil barang anda di belakang panggung setelah lelang sesi pertama selesai".


"Bagus, sekarang aku bisa menguji seberapa kuat kekuatan jiwa itu hehehe!".


Pedang Nyawa dengan perasaan senangnya menatap para hadirin yang kecewa karena tidak berhasil mendapatkan Air Kehidupan, tapi itu tidak berlangsung lama karena ketua Baiyi berbicara lagi.


"Bagi hadirin sekalian yang masih tertarik dengan Air Kehidupan agar mohon bersabar, pada sesi lelang kedua kami akan melelang kembali Air Kehidupan sebanyak dua botol giok dengan ukuran yang sama dengan yang didapatkan senior Pedang Nyawa".


"Bagus, senior Baiyi tolong sisihkan untukku! Akan kubeli berapapun harganya!".


"Aku juga senior!".


Ketua Baiyi tidak mengindahkan permintaan mereka dan langsung mengeluarkan barang selanjutnya, para hadirin dapat melihat barang itu adalah sebuah senjata karena ditempatkan di dalam sebuah kotak panjang yang entah bagaimana mengeluarkan aura yang membuat mereka sedikit tertekan.


"Ini adalah barang utama nomor tiga, sebelum itu saya peringatkan agar tidak membuat keributan berlebih yang mungkin bisa mengancam nyawa kalian jika tuan muda di ruang VIP 1 tersinggung" para hadirin menatap ke arah ruangan yang dimaksud dan mereka memang bisa melihat ada seorang pemuda dan seorang perempuan di sana.


"Memangnya siapa yang menempati ruangan itu?".


"Entahlah?".


"Baiklah para hadirin sekalian, barang ini adalah barang istimewa nomor tiga karena barang ini adalah pedang yang sangat langka sekali.


Pedang ini bernama Pedang Api Hitam, seperti namanya pedang ini akan mengeluarkan sebuah api berwarna hitam jika dialiri Qi dan sangat cocok untuk mereka yang memiliki elemen api.


Pedang ini berada di tingkat Sky-grade Top-tier, harga awal satu juta Spirit Stone High-grade dengan kelipatan lima ratus setiap penawarannya!".


"2 Juta!"


"2,5 juta!"


"3 juta!"


"5 juta!"


Penawaran terus naik sampai akhirnya pedang itu jatuh pada seorang cultivator yang ada di kursi biasa dengan harga 25 juta, dua pedang yang lain juga masing-masing terjual dengan harga 30 dan 36 juta Spirit Stone High-grade.


Lelang sesi pertama selesai dengan total pendapatan yang didapatkan Suja dari empat barang yang dilelang sekitar 60 juta Spirit Stone High-grade, tentunya itu total yang sangat besar untuknya yang baru pertama kali mendapatkan uang dari hasil lelang barang miliknya.


Setelah lelang selesai Suja mengajak Liuyun pergi entah kemana, Liuyun sendiri tetap mengikuti Suja dengan wajah berseri yang entah karena hal apa.


.


.


.


.


.


.


Di sebuah ruangan yang ada di lembah tak dikenal, terdapat empat orang yang tengah berdiskusi dengan serius.


"Patriark Ding, kami sudah berhasil melenyapkan keluarga Kekaisaran Wei. Saat ini pasukan kita tengah mempersiapkan serangan selanjutnya, kekaisaran mana yang akan kita serang terlebih dahulu?".


"Apa kalian sudah benar-benar memastikan keluarga kekaisaran telah dilenyapkan? Jangan sampai ada kalian biarkan lolos karena mereka bisa saja meminta bantuan aliran putih, jika sampai itu terjadi maka rencana kita bisa kacau!".


Tiga orang yang berada di sana mengangguk bersamaan, mereka bertiga adalah orang yang telah diberikan tugas untuk mengambil alih kekaisaran dari Kaisar Wei yang terlalu berpihak pada aliran putih membuat rencana mereka harus ditunda beberapa kali.


"Kami yakin Patriark, sudah tidak ada satupun yang dibiarkan hidup. Dan juga kami telah mendapatkan informasi mengenai orang itu".


Patriark Ding menoleh menatap salah satu dari tiga orang bertanduk merah kehitaman di depannya, dia terlihat senang saat mengetahui bawahannya telah menemukan siapa orang itu.


"Patriark, dari informasi yang kami dapatkan orang itu adalah seorang pemuda yang berasal dari kekaisaran Han. Kami juga tidak sengaja mendengar kalau dia memiliki hubungan dengan keluarga kekaisaran Han, dia juga disinyalir memiliki hubungan dengan Asosiasi Batik Biru yang telah menguasai pasar sumber daya di kekaisaran Han".


"Benarkah? Tapi bagaimana mungkin dia berasal dari sana? Kekaisaran itu hanyalah kekaisaran yang sudah melemah, apa kalian yakin tidak salah informasi?".


"Kami yakin Patriark, bisa dipastikan dia memang berasal dari sana".


Patriark Ding terlihat merenung sejenak, bisa dibilang informasi yang ditemukan anak buahnya akan mengubah rencana mereka.


Pada awalnya mereka berencana untuk menyerang kekaisaran Lin karena di sana terdapat banyak sekali sekte besar aliran putih dan juga satu kekuatan aliran netral yang bisa menghambat rencana mereka untuk menguasai Benua Bintang Timur, jika memang benar bahwa pemilik aura menekan yang mereka rasakan sebelumnya berada di kekaisaran Han maka mereka harus menyerang kekaisaran itu lebih dulu untuk melenyapkan ancaman yang lebih besar dari aliansi aliran putih sekalipun.


"Baiklah, katakan pada semua pasukan kita akan menunda serangan ke kekaisaran Lin dan akan menyerang kekaisaran Han! Pastikan semua telah siap, dan segera undang para perwakilan sekte besar aliran hitam untuk membentuk aliansi!".


"Siap Patriark!".


Ketiga orang itu pergi dari hadapan Patriark Ding untuk menjalankan tugas mereka, sementara itu Patriark Ding berjalan menuju ruang bawah tanah yang berada di bawah ruangan tempat mereka berdiskusi tadi.


Ruang bawah tanah itu kecil tapi dipenuhi dengan aura kematian yang sangat pekat, di salah satu dinding terlihat sebuah cermin besar berwarna putih.


Patriark Ding meneteskan setetes darahnya pada permukaan kaca membuatnya cahaya kemerahan seperti darah yang bersinar terang, perlahan-lahan cahaya itu hilang digantikan dengan sosok pria berjubah merah darah dan dua buah tanduk melengkung berwarna keemasan.


Saat Patriark Ding melihat sosok itu dia langsung bersujud rendah, sosok itu sendiri tampak duduk di kursi hitam menyeramkan  memperhatikan Patriark Ding yang memberikan penghormatan padanya.


"Hormat dari yang rendah ini pada Yang Mulia Demon Emperor, semoga Yang Mulia dianugerahi umur panjang sampai beribu-ribu tahun!".


"Kuterima hormatmu Ding Dong, apa yang membuatmu sampai menghubungiku seperti ini? Pastinya itu sesuatu yang penting bukan?!".


Patriark Ding yang masih bersujud terlihat gemetar mendengar pertanyaan tajam sosok Kaisar Iblis di depannya, meskipun mereka terpisah oleh lautan dan pelindung magis yang kuat tapi dia masih bisa merasakan tekanan kuat menekan tubuhnya hanya dengan mendengar suara sosok Kaisar Iblis itu.


"Mohon ampun Yang Mulia, tapi yang rendah ini membawa kabar buruk untuk kelanjutan rencana yang Yang Mulia susun. Mohon Yang Mulia bersedia mendengar kabar dari yang rendah ini".


"Katakan!".


"Mohon ampun Yang Mulia, sebelumnya yang rendah ini mohon ampun karena tidak memberitahukan kabar ini sebelumnya.


Beberapa waktu yang lalu yang rendah ini merasakan suatu kekuatan yang sangat besar berada di Benua lemah ini, saat itu yang rendah ini menyangka itu hanyalah aura penduduk benua lemah ini yang telah mencapai ranah Deva Realm.


Tapi saat yang rendah ini merasakan tekanan aura itu, yang rendah ini menyadari bahwa aura itu adalah aura dari seseorang yang telah mencapai ranah Deva General Realm bahkan mungkin Deva King Realm.


Mohon ampun Yang Mulia, yang rendah ini hendak meminta bantuan pada Yang Mulia untuk mengirimkan salah satu Demon General untuk membantu melenyapkan sosok itu".


BRAK!.


Suara keras dari kursi yang diduduki Kaisar Iblis itu terdengar dan membuat Patriark Ding semakin bergetar ketakutan, meskipun sosok itu hanya berada di dalam cermin tapi dia bisa merasakan aura seseorang yang telah mencapai tahap Nirvana Realm yang begitu menekan untuknya.


"Kuterima permintaanmu dan kumaafkan kesalahanmu Ding Dong, namun aku tidak mau mendengar kau menahan kabar sepenting ini lagi! Apa kau mengerti!?".


"Mengerti Yang Mulia, yang rendah ini sangat berterimakasih atas kebaikan yang mulia".


"Tunggulah di sana, akan kukirimkan salah satu Demon General untuk membantumu! Jangan lupa untuk memastikan dia lenyap dari dunia ini!".


"Dimengerti Yang Mulia!".


Setelah itu cermin itu kembali seperti cermin biasa tanpa adanya tampilan sosok menyeramkan lagi, Patriark Ding masih tetap dalam posisi bersujud sampai beberapa menit sebelum berdiri dan keluar dari ruang bawah tanah itu.


.


.


.


.


.