
.
.
.
.
Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Azkia atau ibu Suja tampak menunggu kedatangan keluarganya ditemani oleh dua orang ajudannya yang berasal dari Kowad dan dua orang prajurit berpangkat Serda yang menjaga mereka bertiga dengan membawa senjata lengkap, para calon penumpang maupun yang menjemput selalu memandangi wajah Azkia yang sangat cantik dan manis membuat Azkia risih sehingga para pengawal dan ajudannya membawanya menuju sebuah ruang istirahat di dalam area tunggu.
"Lettu Nindya, bagaimana kabarmu dan pacarmu?".
"Alhamdulillah baik buk, sebentar lagi kami akan menikah karena dia sudah melamar saya dua hari lalu" perempuan berpangkat Letnan Satu dengan brevet komando berwarna merah itu tampak tersipu malu, tiga orang lainnya hanya menatap interaksi mereka dengan senyuman.
"Ah bagus kalau begitu, saya doakan kalian tetap langgeng sampai maut memisahkan kalian nanti".
"Aamiin, terima kasih ibuk".
Setelah menunggu selama setengah jam dari pintu kedatangan keluar rombongan para penumpang, Azkia keluar dari ruangan dan menuju pintu kedatangan untuk menunggu keluarganya.
Tak berapa lama kemudian terlihat serombongan besar keluarganya terlihat berjalan keluar dari pintu kedatangan, ada dua pasang orang tua berusia sekitar 60 dan 64 tahunan ditemani dua pasangan berusia 30 dan 35 tahunan serta dua orang bocah lelaki dan seorang bocah perempuan imut yang berjalan menuju tempat Azkia berdiri.
"Bibiii……!!!!! Yastha kangen bibi!" Seorang dari dua bocah laki-laki itu segera menerjang Azkia dengan tangan pendeknya sedangkan para orang tua di belakangnya hanya geleng-geleng.
"Uh Yastha sayang, bibi juga kangen sama kamu sayang. Kamu sehatkan, nggak mabukkan di pesawat?".
"Nggak dong bibi, Yastha kan kuat! Itu adek Nisa aja tuh yang muntah-muntah tadi di pesawat, adek Nisa kan emang lemah hehehee….!!!" Wajah sok dan juga sombong bocah itu terlihat sangat imut dan juga menggemaskan membuat kedua ajudan bibinya mendekan dan langsung mencubit kedua pipinya sedangkan dua pengawal Azkia bersalaman dengan keluarga besar komandan mereka.
"Aduh sakit tante! Pipi aku jangan dicubit entar tambah tembem!" Protesannya malah membuat kedua Kowad itu semakin mencubitnya berkali-kali lalu mencium wajahnya bergiliran.
.
.
.
Oke sebelum melenceng jauh kita percepat saja.
.
.
.
Kehidupan kedua insan itu terasa sangat bahagia karena kehamilan Azkia tengah menginjak 5 bulan, Suja meskipun sangat sulit mendapatkan waktu luang ataupun cuti selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk calon anaknya dan juga istrinya Azkia selama sang istri mengandung anak mereka.
Saat memasuki bulan kesembilan kehamilannya sebuah tragedi terjadi membuat kedua insan ini terpisah, Azkia saat tragedi itu terjadi tengah berjuang untuk melahirkan anak mereka sementara jauh di negeri asing Suja berjuang bersama dengan para anggotanya untuk menyelamatkan seorang pemimpin negara.
Saat itu dua hari sebelum tragedi itu terjadi Suja berpamitan pada istrinya Azkia dan juga keluarga mereka yang menjaga Azkia selama dia bertugas, dalam tugas yang akan dia lakukan kali ini dia sudah memiliki firasat bahwa dia akan gugur dalam tugas jadinya dia telah menyiapkan wasiat dan juga memeluk istrinya sepanjang malam sebelumnya.
Azkia hanya bisa memandang kepergian sang suami yang berangkat bertugas dengan dijemput ajudannya, keluarganya dan juga mertuanya menenangkan Azkia dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Dua hari setelahnya Azkia mengalami kontraksi sebagai tanda bahwa dia akan melahirkan anaknya, keluarganya membawanya ke RSPAD dan langsung dimasukkan ke ruang VIP karena kontraksinya masih berada pada pembukaan lima dan ketubannya juga belum pecah.
Nan jauh di Amerika sana Suja tidak bisa menutup kegelisahannya selama bertugas membuat komandannya Kolonel Agung selaku Komandan Grup 1 Paspampres menegurnya, setelah mendapat teguran Suja menenangkan dirinya meskipun rasa cemas, takut, dan juga firasat buruk yang dia rasakan sebelumnya kembali dia rasakan dan kali ini semakin membuatnya takut.
Dua jam kemudian bersamaan dengan dimulainya persalinan istrinya Azkia yang tengah berjuang melahirkan anak mereka Suja juga berjuang melawan para ******* yang menyerbu gedung tempat PBB melaksanakan perundingan, Suja harus melawan belasan sampai puluhan orang yang membawa senapan serbu dan senapan mesin ringan untuk menyelamatkan nyawa Presiden Indonesia yang dia jaga dan pertahankan.
Di Indonesia bertepatan dengan gugurnya Suja istrinya Azkia melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat tampan, meskipun begitu Azkia tidak bisa tersenyum karena sang suami tidak ada di dekatnya dan dia juga mendapatkan firasat buruk tentang suaminya.
Satu hari kemudian saat Azkia tengah menyusui putranya kakak iparnya pertamanya datang membawa kabar yang membuatnya membeku dan menangis histeris, kabar yang dibawa oleh kakak iparnya adalah kabar tentang gugurnya Komandan dan Wakil Komandan serta enam orang Prajurit Paspampres Grup 1 karena serangan ******* saat puluhan pemimpin dunia tengah mengadakan perundingan dan persidangan di gedung PBB yang ada di kota New York.
Dunia seakan runtuh menimpa kepalanya membuat Azkia pingsan seketika, bayi laki-laki yang semula tengah menyusu juga menangis keras saat kabar kematian ayahnya diberitahu kan pada sang ibu, bayi itu seolah-olah mengetahui bahwa ayahnya telah tiada meninggalkannya yang baru saja lahir di dunia dan juga ibundanya yang masih baru sehari melahirkannya.
Jasad Letkol (Inf). Suja Ashady tiba di bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta satu 12 jam setelah Presiden berhasil diselamatkan, Azkia bersama dengan keluarganya menunggu kedatangan jasad delapan prajurit Paspampres yang gugur termasuk dua orang Komandan mereka.
Sore itu delapan orang istri dan juga keluarga serta calon istri dari para prajurit yang gugur dalam bertugas menangis menerima jasad suami, keluarga, pacar, dan juga putra mereka yang diturunkan dari pesawat dalam keadaan telah berada di dalam peti jenazah.
Azkia menatap wajah lembut suaminya yang telah meninggal dengan air mata yang mengalir sambil menggendong putranya yang juga menatap jenazah sang ayah, kepergian suaminya membuat Azkia benar-benar terpukul karena kabar kematian sang suami datang sehari setelah dia melahirkan di mana dia tengah menunggu kepulangan sang suami untuk memberikannya kejutan.
Setelah jenazah sang suami dimandikan dan disemayamkan jenazah dibawa ke pulau Lombok tepatnya di Lombok Timur atas permintaan ibunda sang suami yang menginginkan putranya dimakamkan di tempat asalnya, Azkia memaksa untuk ikut pulang ke Lombok sehingga putranya yang baru saja dilahirkan dua hari itu terpaksa dititipkan pada kakak iparnya yang merupakan istri dari kakak kedua sang suami.
.
.
.
.
Bertahun-tahun kehidupan Azkia terasa sangat sulit dijalani karena dia harus mengurus putranya seorang diri di Jakarta meskipun kadang keluarganya dan juga mertua serta iparnya datang menjenguknya, selama bertahun-tahun Azkia membesarkan putranya seorang diri sebagai seorang single parents sekaligus ekonom terpandang yang telah menyelesaikan pendidikan S3 dengan dibiayai oleh negara sebagai bentuk tanggung jawab serta bantuan atas jasa suaminya yang telah menyerahkan jiwa dan raganya untuk memastikan tetap terjaganya kehidupan Presiden.
Satu tahun.
Dua tahun.
Lima tahun.
Sepuluh tahun.
Lima belas tahun.
Delapan belas tahun.
Dua puluh tahun kemudian kehidupan Azkia telah benar-benar bahagia meskipun terasa kosong karena tidak adanya sang suami di dekatnya, putranya telah berusia 20 tahun dan telah mendapatkan pangkat Letnan Satu Infanteri atas jasanya sebagai anggota Intelijen BIN sama seperti sang ayah yang juga menjadi Letnan Satu atas dan masuk menjadi anggota TNI atas promosi dan juga penghargaan negara padanya.
Dua tahun kemudian putranya menikah dan satu tahun kemudian dia memiliki cucu, kehidupannya benar-benar terasa sangat sempurna walaupun dia tidak merasa bahagia karena suaminya tidak berada di sampingnya.
.
,
.
.
.
TAMAAAAAAATTTTTT…..!!!!!!
Hehee maaf ya kalau dua chapter ini tidak bagus, saya sebelumnya sangat pusing mengatur alur pertempurannya jadi dibuatlah dua chapter ini sebagai pendingin kepala dulu hihihi…..