My Journey to Immortality

My Journey to Immortality
Ch 05 - Awal Perjalanan Xiao Suja.



Sudah satu minggu berlalu setelah penyerangan pasukan Aliansi Aliran Hitam yang melenyapkan dua Klan yaitu Klan Xiao dan Klan Tang, dunia persilatan Kekaisaran Han terkejut saat mengetahui dua Klan besar nan kuat yang berada di Kekaisaran Han berhasil dilenyapkan oleh Aliansi Aliran Hitam yang dipimpin oleh Patriarch sekte Harimau Hitam.


Berbagai sekte Aliran Putih dan Netral menanggapi kabar lenyapnya dua klan besar dengan berbagai tanggapan, beberapa sekte besar bintang sepuluh menanggapi berita itu dengan membentuk Aliansi Putih Netral untuk menyerang sekte-sekte Aliran Hitam yang telah melenyapkan kedua Klan yang memiliki kekuatan cukup besar itu.


Sementara sekte-sekte menengah Aliran Putih dan Netral menanggapi itu dengan mengirimkan murid-murid mereka untuk mencari dan melenyapkan para Kultivator Aliran Hitam di sekitar wilayah mereka, bersama beberapa sekte kecil Aliran Putih dan Netral mereka menyerang sekte-sekte dan para Kultivator Aliran Hitam yang mereka temukan.


Kaisar Kekaisaran Han sendiri sangat terpukul mendengarnya karena bagaimanapun kedua Klan itu adalah pendiri Kekaisaran yang sekarang dia pimpin, Xiao Chen adalah Kaisar ke-15 Kekaisaran Han yang naik tahta setelah Kaisar sebelumnya meninggal dunia. Kaisar yang memimpin saat ini adalah Putra dari seorang perempuan yang berasal dari Klan Xiao dan ayahnya dari Klan Tang. Ibundanya yaitu Permaisuri terdahulu adalah kakak sulung dari dari Ayah Xiao Suja yang artinya dia memiliki ikatan kekeluargaan dengan Xiao Suja sebagai saudara sepupu.


Kaisar Han meminta beberapa sekte Aliran Putih yang mendukungnya dan juga beberapa regu pasukan untuk mencari dan menyelamatkan Xiao Suja dan Ibunya yang dia ketahui selamat dari pembantaian itu setelah disembunyikan oleh Xiao Jing atas perintah Ibu Suri yang ingin merawat keponakan dan adik bungsunya.


Sementara itu Xiao Suja dan ibunya Tang Yue yang berhasil selamat melarikan diri dan bersembunyi di sebuah desa terpencil di perbatasan Kekaisaran Han dan Kekaisaran Wei, desa kecil tempat mereka bersembunyi merupakan desa terpencil dan tersmbunyi yang berada di dekat Lembah Kematian dan merupakan desa tempat tinggal para Kultivator tua maupun rakyat yang terbuang.


"Suja'er, mulai sekarang kita akan tinggal di sini agar orang yang membunuh ayahmu tidak bisa menemukan kita sayang".


Xiao Suja, hanya diam mengikuti kemanapun ibunya membawanya karena masih merasakan kesedihan karena semua yang terjadi terhadap Klan ayahnya dan juga Klan ibunya merupakan kejadian yang ada di dalam garis takdir yang dimilikinya.


Selama dua minggu pertama Xiao Suja hanya berdiam diri di rumah sederhana milik mereka yang dibangun dengan bantuan penduduk desa lainnya, penduduk yang lain menerima mereka dengan tangan terbuka tanpa mencari tahu apa yang mereka alami karena kebanyakan penduduk di desa itu adalah orang-orang terbuang baik manusia biasa maupun para Kultivator dari Aliran Putih, Netral, dan Aliran Hitam.


Seminggu kemudian Xiao Suja akhirnya membuka diri membuat ibunya senang, dengan sedikit rasa lapang Xiao Suja keluar dari rumahnya dan bermain-main di depan rumahnya yang memiliki halaman cukup luas.


"Hei, kamu main apa?".


Xiao Suja terkejut dan tanpa sadar kakinya tidak menapak dengan baik membuatnya oleng dan terjatuh ke tanah, tepat sebelum punggungnya menyentuh tanah dia merasakan seseorang menahan tubuhnya.


Setelah berdiri dia menoleh dan menemukan sesosok pria tua yang masih cukup tampan berdiri sembari tersenyum, di sebelahnya ada dua orang pasangan yang terlihat cukup tua juga sesosok gadis kecil yang tersenyum cerah menatapnya.


"Terima kasih kek, maaf merepotkan kakek".


Pria tua itu hanya tertawa kecil "tidak apa-apa nak, tadi kebetulan kakek sama anak dan menantu serta cucu kakek sedang jalan-jalan di sekitar sini. Apa kamu penduduk baru yang disebutkan kepala desa?".


"Benar kek, aku dan ibuku baru datang dan tinggal di sini tiga minggu lalu. Perkenalkan kek, namaku Suja".


"Hmmm anak yang baik dan cerdas, wajahmu juga cukup rupawan hahahaa......perkenalkan nama kakek Luyi, ini putra kakek Luye, yang ini menantu kakek Tang Nie, dan yang ini cucu kakek satu-satunya namanya Tang Lu Yue sekarang dia berumur 8 tahun".


Dua orang pasangan itu menatap Suja dengan senyuman, sementara si gadis kecil sepertinya cukup antusias untuk berkenalan dengan ekspresi senang dan menggemaskan miliknya.


"Dalam paman, bibi, dan adik. Perkenalkan namaku Suja, aku tinggal dengan ibuku".


Luye tersenyum tulus sembari memandang Suja"Nak, di mana ibumu?".


"Ibu ada di dalam paman, apa paman dan bibi serta kakek ingin menemui ibu?".


"Bisakah?".


"Bisa paman, tunggu sebentar".


Suja memasuki rumahnya dan beberapa saat kemudian dia keluar diikuti seorang perempuan muda yang terlihat sangat cantik meskipun usianya sudah menginjak 300 tahun.


"Suja'er kamu ini bagaimana, ada tamu kok nggak diajak masuk! Awas saja kamu nan.......".


Tang Yue tidak bisa melanjutkan omelannya begitu melihat sesosok perempuan yang berdiri di depan rumahnya, Tang Nie yang melihat perempuan yang keluar dari dalam rumah juga mematung beberapa saat dengan titik airmata yang keluar.


"Nie Jiejie?".


"Meimei?".


Luyi, Luye, dan Suja menatap mereka kebingungan karena penasaran dengan hubungan kedua perempuan itu sementara Tang Lu Yue hanya menatap mereka dengan tatapan polos.


"Ibu, apa ibu mengenal bibi Tang Nie?".


Tang Nie menatap Suja dengan mata berair, dia mengamati tubuh bocah laki-laki yang menyebut adiknya dengan panggilan ibu.


"Yue'er, jadi ini keponakanku?".


Tang Yue mengangguk dengan berlinang airmata"Benar Jie, lalu gadis ini keponakanku kan?"


"Jadi ini adalah putra dari Xiao Jing, benar-benar tampan seperti ayahnya!".


Suja yang mendengar nama ayahnya disebut menunduk muram, kesedihan karena kehilangan seorang ayah masih ada di hatinya. Ibunya juga menjadi muram saat nama suaminya disebutkan.


"Kalian kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?".


"Jiejie, lebih baik kita masuk dulu. Akan kuceritakan semuanya di dalam".


Tang Yue mengajak ketiga orang dewasa itu untuk memasuki rumahnya"Suja'er, kamu ajak Meimeimu bermain dulu ya. Ibu sama bibimu mau bicara dulu di dalam".


Suja hanya mengangguk patuh lalu mengajak Tang Lu Yue untuk bermain di sekitar halaman mereka, sementara di dalam ibunya mulai menceritakan semua yang dia ketahui sebelum pingsan dan menemukan tubuh keluarganya telah meninggal.


Tang Nie hanya diam mendengar semua yang diceritakan oleh adiknya, sesekali dia akan merasa senang saat diceritakan bagaimana bandelnya Xiao Suja dan hanya menurut saat diancam dikurung di kediamannya dan saat mendengar cerita bagaimana keluarganya baik dari Klan Xiao maupun Klan Tang terbunuh saat penyerangan Aliansi Aliran Hitam membuatnya menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya Luye.


Sementara itu Luyi dan Luye putrnya tidak menyangka bahwa istri dan menantunya berasal dari keluarga yang cukup terpandang dan baru mereka ketahui sekarang saat mendengar cerita dari Tang Yue, memangnya siapa yang tidak mengenal Klan Xiao dan Klan Tang.


2000 tahun yang lalu Klan Tang dan Klan Xiao adalah pendiri Kekaisaran Han yang berdiri hingga saat ini, Kaisar yang bertahta pertama kali adalah seorang pemuda luarbiasa dari Klan Xiao sementara Klan Tang mendukung Kaisar dengan demua keturunannya menjadi Perdana Menteri dan Menteri Keuangan. Baru beberapa ratus tahun yang lalulah posisi Kaisar diserahkan kepada Klan Tang yang dalam catatan sejarahnya baru ada dua orang yang menjadi Kaisar dari Klan Tang yaitu Kaisar terdahulu dan Kaisar yang memimpin Kekaisaran Han saat ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.