
.
.
.
.
Di sebuah ruangan yang sangat besar dengan banyak patung-patung para Buddha dan praktisi Taoisme yang dianggap telah mencapai ranah dewa, seorang pria tua berambut putih tipis tengah membaca serat sutra dengan wajah yang begitu jelas memendam kekhawatiran mendalam.
Orang itu adalah Wu Yun sang Great Monk Mahaguru pemimpin tertinggi Light Thunder Temple, saat dia tengah membaca sutra dua orang biksu dengan paras layaknya pria 30-an memasuki ruangan dan memberikan hormat padanya.
"Ada kabar apa Wu Ming, Wu Ling?" Wu Ming dan Wu Ling menunduk sebentar sebelum tangan keduanya terulur dengan masing-masing menyerahkan satu jade slip yang segera diambil oleh sang Mahaguru.
Tubuh Mahaguru Wu Yun bergetar hebat saat mengetahui isi dari jade slip pemberian Wu Ling, ekspresi tubuh Mahaguru Wu Yun tentu disadari oleh kedua orang muridnya itu sehingga menimbulkan tanya dan keresahan pada diri mereka.
"Ternyata inilah penyebab Light Staff terus bergetar beberapa kali sejak dua hari yang lalu, apa yang dikatakan senior Cruelest Immortal benar-benar terjadi".
Ekspresi dan pernyataan guru mereka membuat Wu Ming dan Wu Ling semakin merasakan resah, Mahaguru sendiri terlihat membaca sutra setelah itu membiarkan kedua muridnya terdiam menunggunya berbicara.
Sekitar lima menit kemudian Mahaguru mengambil dan melihat isi jade slip pemberian Wu Ming, ekspresi yang ditunjukkannya saat mengetahui isi jade slip itu sedikit lebih baik dari sebelumnya.
"Kalian murid-muridku yang sangat berbakat dan membanggakan, jagalah kuil kita dan ajaran Dao yang kita sebarkan jika musuh kita nanti benar-benar datang ke sini. Semoga kalian selalu dilindungi Sang Buddha, apapun yang terjadi nanti janganlah kalian ditelan perasaan duniawi".
Wu Ming dan Wu Ling saling menatap dengan tatapan yang penuh tanda tanya dan juga keresahan, Mahaguru Wu Yun sendiri terlihat terdiam menenangkan dirinya.
"Guru, kalau boleh kami tahu apakah yang sebenarnya tengah terjadi?
Dan siapa yang dimaksud paman guru Cruelest Immortal? Apakah kita menghadapi sesuatu yang sangat serius?".
Mahaguru Wu Yun menatap Wu Ling sebelum menjawab.
"Paman kalian kakak Cruelest Inmortal pernah mengatakan padaku, dia berkata 'akan datang suatu masa di mana Benua Bintang Timur akan diserang oleh penduduk Benua lain yang jauh lebih kuat dari kalian. Wu Yun, jika suatu saat nanti kamu menjadi Mahaguru Light Thunder Temple dan melihat Light Staff yang kuberikan pada Mahaguru kalian 1900 tahun lalu maka persiapkanlah dirimu dan kekuatan kuil ini untuk menghadapinya.
Kamu jangan khawatir dan merasa tidak mampu melawan musuh kalian yang akan datang nanti, aku adalah seorang penjaga sementara dan aku akan meninggalkan dunia ini jika Sang Terpilih telah lahir ke dunia'.
Itulah pesan dari paman kalian, jika memang pasukan aliansi aliran hitam telah bergerak untuk menyerang kekaisaran Han dan diantara mereka ada sosok yang lebih kuat bahkan dari Pilar Tombak maka itu berarti musuh yang dikatakan oleh kakak Cruelest Immortal telah datang".
Wu Ling dan Wu Ming kembali saling pandang, dari perkataan Mahaguru Wu Yun mereka bisa mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh Mahaguru Wu Yun telah terjadi.
"Guru, apakah itu berarti paman guru Cruelest Immortal telah meninggalkan dunia ini?".
"Itu belum pasti sebelum kita bertemu dengan Sang Terpilih, namun sampai saat ini kita tidak mengetahui seperti apa sosoknya selain isyarat dari Light Staff yang terus bersinar terang selama sepuluh hari tepat sepuluh tahun yang lalu".
"Guru, bukankah itu berarti Sang Terpilih saat ini masih berusia sepuluh tahun?".
"Benar, dan saat ini dia tengah berada di kota Api mengikuti pelelangan yang juga diikuti perwakilan kita.
Dari jade slip ini aku mendapat pesan dari adik kalian Wu Dao yang mengabarkan mereka berada dalam perjalanan dan akan sampai dua hari lagi, segera persiapkan para murid untuk menyambut Sang Terpilih karena dia adalah tulang punggung sumber daya yang akan kita dapatkan nantinya".
""Murid mengerti guru….!!!"".
"Kakak, apakah saat ini kau memang telah meninggalkan dunia ini? Apakah dia Sang Terpilih mampu membantu kami bertahan dari serangan musuh kami seperti yang kau katakan dulu?".
Tidak mau larut dalam keresahan dan kesedihan Mahaguru Wu Yun melantunkan serat sutra untuk menenangkan dirinya, dia membiarkan para muridnya dan juga para biksu muda menjalankan aktivitas mereka seperti biasa sebelum nantinya mereka menghadapi perang yang kemungkinan besar akan membuat kuil mereka mengalami kemerosotan.
.
.
.
.
"Ding Dong, persiapkan pasukanmu! Kita akan bergerak menyerang mereka besok pagi, aku sudah tidak tahan berada di tempat busuk ini!".
Patriark Ding hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Demon General di depannya, dia hanya mengangguk pelan dan meninggalkan tenda tempat mereka berada saat ini.
.
.
.
.
Di lain tempat sebuah kendaraan besi beroda enam berbentuk kotak tengah berjalan menyusuri jalanan menuju ke Ibukota kekaisaran Lin tempat kuil utama Light Thunder Temple berdiri, di dalam benda itu terlihat lima orang biksu yang terlihat keheranan dan penasaran akan kendaraan yang mereka naiki saat ini karena tidak memerlukan kuda untuk menariknya dan juga mengeluarkan suara keras yang belum pernah mereka dengar.
Selain mereka berlima ada juga Liuyun dan juga Suja yang mengendarai kendaraan itu, Liuyun sendiri sejak kemarin mereka melanjutkan perjalanan menuju Ibukota kekaisaran Lin bersama para biksu Light Thunder Temple selalu menatap Suja dengan perasaan penasaran dan rasa ingin tahu.
"Apa yang ingin kamu tanyakan perempuan menyebalkan?" Pertanyaan Suja membuatnya mendelik kesal.
"Berhenti memanggilku perempuan menyebalkan! Ingatlah ini bocah, aku ini calon istrimu begitu juga saudaraku yang lainnya! Dan dari mana kamu mendapatkan minibus ini? Dari mana juga kamu belajar menyetir?".
"Tentu saja minibus ini milikku, meskipun ini milikku aku hanya punya satu dari setiap jenis kendaraan sipil. Selain kendaraan sipil seperti ini aku juga memiliki banyak kendaraan militer dan juga persenjataan dunia modern yang diberikan kembaranku, untuk menyetir sendiri ya tentu aku bisa karena aku adalah mantan seorang Letkol di Paspampres.
Yah tapi kamu juga belum tentu mengetahui apa itu Paspampres dan dunia modern, biar kutebak kamu mengetahui tentang minibus dan juga cara menyetir dari Cruelest Immortal bukan? Apa dia sering mengajak kalian bepergian menggunakan kendaraan?".
Liuyun membeku sembari menatap Suja yang tengah fokus menyetir, air mata menetes deras membasahi pipinya yang sedikit besar seperti bakso.
Suja sendiri tidak memperhatikan ekspresi Liuyun karena dia lebih fokus menyetir dan sesekali juga menatap para biksu yang dibawanya melalui kaca tengah, dia tidak memperhatikan ekspresi Liuyun yang menatapnya rumit dan sesekali melamun entah memikirkan apa.
Wu Dao dan dua guru serta dua juniornya menatap Suja dan Liuyun dengan tatapan penasaran, mereka semakin penasaran saat mendengar Suja menyebut nama Cruelest Immortal dengan santainya dan semakin penasaran lagi akan kenapa Liuyun tampak menangis setelah Suja selesai berbicara.
.
.
.
.