
.
.
.
"Kamu mau dengar cerita? Aku punya sebuah kisah yang mungkin akan membuatmu terkejut, kalian juga kalau mau ikut mendengar kisah ini silahkan saja" mendengar perkataan Liuyun Suja yang baru selesai menatapnya kemudian menatap ke samping dan melihat Wu Dao bersama guru dan juniornya juga tengah duduk beralaskan tikar yang ada di dalam kabin.
"Terima kasih senior, kami akan mendengarkan" biksu paling tua dan paling kuat yang ada di rombongan mereka menjawab sembari menangkupkan tangannya.
"Ya aku juga mau dengar kisah itu, kisah apa itu? Apakah seru?" Liuyun menatap Suja lalu menatap langit biru yang cerah nan indah.
"Ini kisah tentang seorang perempuan yang ditinggal pergi suaminya, kisah ini tentang seorang perempuan yang ditinggalkan sendiri dalam keadaan hamil tua dan akan melahirkan dan harus berjuang sendiri untuk melahirkan putranya dengan ditemani keluarganya".
Suja menatap Liuyun sembari memakan cemilan yang dia sajikan untuk mereka, karena Liuyun tidak mau masuk ke dalam kendaraan maka mereka terpaksa menunda perjalanan mereka untuk mendengarkan cerita Liuyun.
.
.
.
Flashback.
.
.
.
Di Jakarta Pusat tepatnya di sebuah kompleks perumahan mewah tinggal seorang perempuan muda yang berusia 25 tahun, dia adalah seorang ekonom terpandang lulusan universitas ekonomi islam terkenal di kota Bogor dan tengah menyelesaikan pendidikan Strata 2 ekonomi islam.
Di dalam sebuah ruangan kerja perempuan itu menatap foto pernikahannya dengan sang suami yang terlihat begitu mewah, dalam foto itu mempelai perempuan mengenakan pakaian berwarna hijau sedangkan mempelai laki-laki mengenakan sebuah seragam berwarna hijau lumut dengan tiga balok emas di pundaknya dan sebuah baret berwarna hijau di kepala plontosnya.
"Cepetan pulang mas, aku punya hadiah spesial buat mas" perempuan itu mengelus perutnya yang masih datar sembari menatap foto pernikahannya, di tangan kanannya tergenggam sebuah testpack berpita merah putih dan juga dua garis merah.
...Letkol Inf. Suja Ashady S.H. M. Psi M. T. Han...
...( Wakil Komandan Grup 1 Pasukan Pengamanan Presiden )....
"Azkiaaaaa……!!!! Sayang aku pulang…..!!!!" Suara teriakan dari luar membuat perempuan itu segera keluar dari ruang kerja itu dengan wajah senang.
Seorang laki-laki berpakaian batik berwarna coklat tampak berdiri di ruang tamu rumah sembari meletakkan persenjataannya, perempuan itu mendekat dan memeluk tubuh laki-laki itu.
"Hmm? Kenapa dek? Apa kamu menginginkan sesuatu? Suami tampan nan rupawan dan paling baik ini siap banget loh buat nurutin apapun yang kamu mau" godaan suaminya membuat perempuan bernama Hidayatul Azkia itu tertawa kecil membuat garis wajahnya yang cantik dan manis semakin terlihat manis dan imut.
"Uh aku diabetes, senyum manis istri mungilku ini benar-benar membuatku terkena diabetes!".
"Ih apaan sih mas ini!" Rona merah menghiasai pipi Azkia yang gembul membuatnya tampak sangat manis sekali, Suja yang melihat pipi istrinya yang merona terkekeh sambil memeluk tubuh mungil nan langsing istrinya itu.
"Mas, tutup mata deh. Aku punya hadiah buat mas".
"Hmm? Hadiah apa dek?"
"Ada deh yang penting tutup mata dulu".
"Sekarang mas bisa buka mata".
Suja membuka mata dan melihat istrinya tengah menyodorkan secarik amplop berkop RSPAD dan sebuah benda panjang, diambilnya kedua benda itu dan menatap benda berbentuk jarum tumpul itu.
"Hmm? Ini kan testpack, dua garis?" Suja menatap dua garis merah terpisah itu dengan pandangan bingung sebelum sesuatu membuatnya termenung.
"Dua garis dua garis, kalo perempuan hamil harus dicek ke rumah sakit atau pake testpack. Kalo testpacknya menunjukkan dua garis maka artinya perempuan itu hamil, sekarang testpack ini garisnya ada dua berarti istriku hamil dong?" Gumamannya bisa didengar oleh Azkia karena dia bergumam dengan suara yang terbilang besar.
Seakan tersadar oleh sesuatu Suja menatap istrinya dengan pandangan terpana dan mulut menganga, dibukanya amplop itu dan mengambil secarik kertas di dalamnya.
Peneriksaan kehamilan pada pasien atas nama Hidayatul Azkia istri Letnan Kolonel Inf. Suja Ashady Wakil Komandan Grup 1 Pasukan Pengamanan Presiden.
Saya Mayor (K) Liliyana selaku dokter kandungan yang berdinas di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto (RSPAD) menyatakan :
Dengan gejala-gejala yang dialami oleh Ibu Suja Ashady, maka saya menyatakan pasien saya positif hamil.
"Positif, hasilnya positif. Istriku hamil, aku akan jadi ayah".
Suja linglung setelah membaca surat itu, dia merasa seakan-akan dirinya mendapatkan sebuah keberuntungan yang luar biasa.
"Ya Allah terima kasih! Terima kasih karena Engkau telah mempercayakan kami untuk mendapatkan keturunan! Terima kasih Ya Allah!".
Azkia hanya menatap sang suami yang tengah bersujud sembari menangis, dalam hatinya dia sangat bersyukur memiliki sesosok suami yang sangat perhatian padanya.
Suja bangkit dari sujudnya dan memeluk istrinya dengan perasaan haru yang luar biasa, tangisnya begitu keras dengan perasaan senang, gembira, dan juga penuh akan rasa syukur atas berkah dan nikmat yang mereka dapatkan.
"Terima kasih sayang, terima kasih! Kamu sudah memberikan aku hadiah yang begitu berharga, terima kasih!".
Azkia dengan senyumannya membalas pelukan sang suami dan mereka pun tenggelam dalam rasa haru karena akan kehamilannya, keduanya tetap berpelukan sampai semenit kemudian Suja membawa sang istri ke dalam kamar mereka.
"Nah sayangku kamu istirahat saja di sini dan jangan ke mana-mana, kalo kamu mau sesuatu tinggal bilang saja oke?".
"Mas ini! Aku kan nggak ke mana-mana dari tadi selepas pulang dari rumah sakit, mas jangan gitu deh".
"Nggak sayangku, kamu itu lagi hamil muda. Orang yang hamil muda itu kadang banyak masalahnya, mual-mual, muntah, nggak selera makan, masih banyak lagi jadi kamu istirahat saja biarkan suamimu ini yang ngerjain pekerjaan rumah selama mas cuti. Oke?!".
"Iya-iya terserah suamiku yang tampan dan juga baik ini deeh, aku kan cuman bisa nurut aja".
Suja agak gemas dengan tingkah istrinya yang cemberut dan menggembungkan pipinya membuatnya tidak tahan dan menciumnya, Azkia yang mendapatkan serangan tiba-tiba tidak bisa menghindar dan hanya menikmati setiap sentuhan sang suami.
Keesokan harinya Letkol Suja berangkat berdinas dengan tatapan sedih, dia memandang istrinya dan juga perut mungil nan rata istrinya itu.
"Mas, kamu jangan sedih dong. Mas ini kan mau pergi dinas, nanti siang juga ibu bapak dateng kok. Jangan sedih lagi ya, yang semangat dinasnya!".
Suja tersenyum mendengar istrinya yang menyemangatinya dengan cara yang sangat imut sekali, dia mencium istrinya sebentar setelah itu berangkat untuk berdinas mengawal keselamatan sang Presiden RI.
.
.
.