
.
.
.
Jauh di kota dari tempat Jenderal Wei dan pasukannya berada tepatnya di gerbang kota Bangau Putih, sebuah minibus menarik perhatian semua orang yang mengantri untuk masuk ke dalam kota Bangau Putih yang merupakan Ibukota dari kekaisaran Lin.
Semua orang yang mengantri untuk memasuki kota memasang wajah waspada dan mencurigai minibus itu sebagai monster besi yang ingin menyerang Ibukota kekaisaran Lin, sementara itu Suja dan rombongannya yang berada di dalam minibus itu hanya santai saja meskipun di luar sudah banyak prajurit kekaisaran yang bersiap menyerang benda dari besi yang mereka sangka adalah monster itu.
"Aih orang-orang jadul! Masa mobil minibus dikira monster sih! Terus apa-apaan itu prajurit pake ngalangin jalan saja!" Gerutuan Suja membuat Liuyun dan para biksu menggeleng pelan.
Sangat wajar bagi mereka orang-orang di jaman itu yang tidak mengetahui apa itu kendaraan bermesin seperti mobil dan motor yang diceritakan oleh Suja beberapa saat lalu saat mereka tengah beristirahat, lain dengan Liuyun yang memandang Suja dengan tatapan rumit namun di dalam tatapan itu juga terlihat jejak kerinduan dan juga rasa cinta yang tersembunyi.
Saat di selesai menceritakan kisah masa lalunya di kehidupan pertama di bumi tanpa dia duga Suja menangis terisak-isak dan meminta maaf padanya, awalnya Liuyun heran dan merasa bahwa kisahnya memang cukup menyedihkan tapi dia sedikit terganggu saat Suja terus-terusan meminta maaf sambil menggumamkan nama putranya di kehidupan pertamanya.
Saat dia bertanya kenapa Suja mengetahui nama putranya akhirnya dia tahu kalau Suja adalah reinkarnasi dari suaminya dulu Letkol Inf. Suja Ashady, Liuyun yang tidak menyangkan dugaan tak berdasarnya akan identitas Suja tepat sasaran dan memang ternyata Suja adalah suaminya yang dulu tepatnya pada kehidupan pertama mereka di Bumi.
Saat minibus yang dikendarai oleh Suja sudah semakin dekat dengan gerbang keluar masuk kota Bangau Putih Liuyun membuka jendela dan mengeluarkan kepalanya, di tangannya terdapat sebuah lencana berbentuk kotak berwarna biru warna kesukaannya dan Suja.
Para prajurit kota menegang saat melihat kepala Liuyun keluar dari mobil, mereka segera memberi jalan agar benda apapun yang dinaiki oleh Liuyun bisa masuk dengan bebas ke dalam kota tanpa pemeriksaan.
Para prajurit kota Bangau Putih adalah cultivator seluruhnya dan mereka juga sering melihat Liuyun keluar masuk kota Bangau Putih entah untuk menjual pil di pelelangan, entah dia sendirian ataupun bersama dengan Tiga Penjaga Mata Angin, maupun bersama dengan Lima Pilar aliran putih dan mereka juga sudah mengetahui kekuatan Liuyun membuat tidak ada satupun yang berani menghalangi kendaraan mereka memasuki kota Bangau Putih.
"Waa~h kota ini indah sekali!".
Kota Bangau Putih adalah Ibukota dari Kekaisaran Lin dan menjadi salah satu tempat berdirinya gedung cabang beberapa sekte besar seperti Sekte Pedang Tunggal, Heaven Mountain Sect juga membangun gedung cabang mereka di kota ini, White Dragon Sect, dan Yellow Furnanca House juga memiliki gedung cabang di kota ini.
Selain keberadaan gedung-gedung cabang perwakilan sekte-sekte besar aliran putih, di kota Bangau Putih juga berdir Kuil Utama dari ajaran kebajikan yakni Light Thunder Temple yang tempatnya sendiri berada di sebelah selatan kota ini di dekat perbatasan selatan dan juga tidak jauh dari Istana Kekaisaran Lin.
Saat ini Suja dan rombongan tengah berjalan langsung menuju Kuil Utama tersebut karena Suja ingin menikmati suasana kota Bangau Putih, kendaraan mereka telah disimpan oleh Suja dan Liuyun serta para biksu menggeleng tak percaya saat melihat Suja yang begitu antusiasnya membeli banyak barang-barang yang dia lihat saat mereka melewati pasar.
"Nee sayangku, bisa nggak sih kamu jangan bersikap seperti itu? Masa calon suamiku yang dulunya mantan Letkol dari Paspampres bersikap seperti bocah! Nggak pantes tau nggak!?".
Suja hanya menatap Liuyun dengan tatapan polos seolah tidak bersalah, memang sejak mereka memasuki pasar kota Suja bersikap seperti anak kecil yang sesuai dengan umurnya yang masihlah sepuluh tahun.
Dari berbagai macam buah-buahan, sayuran, dan manisan diborong oleh Suja sampai-sampai Liuyun mengira Suja adalah seorang perempuan karena biasanya yang memborong banyak bahan makanan dan juga manisan adalah perempuan, para biksu Light Thunder Temple juga tidak kalah terpana dengan sikap Suja yang sangat berbeda dengan sikap yang ditunjukkannya selama ini sat bersama dengan mereka.
"Se-senior, emm apakah saudaraku ini dulunya memang suka memasak dan memiliki sikap seperti ini di kehidupan pertama kalian?" Wu Dao tidak bisa menahan rasa penasarannya saat melihat tingkah Suja, memang tidak bisa dipungkiri di jaman itu seseorang yang bisa memasak terutama jika itu adalah laki-laki sangat sulit untuk ditemukan dan jika memang ada maka dia akan dikenal sebagai laki-laki banci.
"Ha~h tidak, dulu waktu kami masih hidup di bumi dia itu adalah seorang laki-laki yang sangat pengertian dan hebat. Memang dulu dia juga suka memasak, tapi sikapnya tidak seperti ini dulu".
Liuyun menutup wajahnya karena merasa malu saat melihat bagaimana Suja berdebat dengan salah satu penjual makanan manis karena meminta bonus padahal yang dia beli juga cuman dua tusuk manisan buas persik, raut wajah Liuyun semakin merah karena malu saat melihat Suja yang menghentak-hentakkan kakinya karena tidak mendapatkan bonus setelah berdebat lama dengan penjual itu.
"Aku tidak tahu kalau saudara Xi bisa seperti ini, kukira saudara Xi adalah seorang pemuda yang sangat lembut dan juga baik tanpa ada sisi kekanakan seperti ini".
"Senior Wu Dao, apakah penderma Xi itu benar-benar saudara angkatmu?" Junior Wu Dao hanya bisa menggeleng melihat tingkah lucu saudara angkat senior mereka.
"Ayo kita ke lanjut! Dasar penjual pelit! Minta bonus satu manisan doang nggak boleh, mana harganya satu perunggu lagi! Sialan!".
Suja terus saja menggerutu selama perjalanan membuat Liuyun hanya menahan malu sementara para biksu menggeleng-geleng, tingkah Suja benar-benar membuat mereka memandangnya dengan tatapan keheranan dan juga ada satu junior Wu Dao yang menatap Suja dengan tatapan meremehkan.
Setelah berjalan kurang lebih selama satu jam mereka akhirnya sampai di bagian selatan Ibukota Bangau Putih, jauh di depan sana para murid dan biksu pengajar Light Thunder Temple tampak berdiri menunggu kedatangan mereka yang telah dikabarkan oleh Wu Dao dan juga biksu paling senior dalam rombongan mereka.
Suja berjalan dengan gagah dan berwibawa saat mereka sudah semakin dekat dengan rombongan biksu dan murid yang menyambut kedatangan mereka, sikap kekanakan dan wajah kesalnya hilang entah kemana digantikan wajah ramah namun tegas serta penuh keseriusan membuat Liuyun, Wu Dao dan yang lainnya kembali heran dengan betapa cepatnya Suja berganti ekspresi.
"Selamat datang di Kuil Utama Light Thunder Temple tuan muda, senior Teratai Api, dan selamat datang kembali di rumah Wu Dao dan juga saudara".
Wu Ming dan Wu Ling berdiri paling depan dari kerumunan murid dan biksu Light Thunder Temple yang ikut menyambut kedatangan Suja dan rombongan, Suja mengangguk pelan sembari menangkupkan tangannya memberi salam pada Wu Ming dan Wu Ling mengikuti Wu Dao dan yang lain yang juga memberi salam pada dua orang itu.
"Salam senior, kalau boleh junior ini tahu apakah pemuda ini adalah tuan muda Xi Suja pemilik Asosiasi Batik Biru?" Wu Ming bertanya dan diangguki Liuyun, Wu Ming menganga menatap Suja.
'Masih semuda ini tapi sudah memiliki Asosiasi yang sangat besar, tingkatan kultivasinya pun juga tidak bisa kulihat. Entah akan seperti apa dan dan sebesar apa kekuatannya jika dia sudah dewasa, sungguh rasanya aku sedang bertemu seorang jenius generasi muda saat ini'.
"Tentu, tolong tunjukkan jalannya senior".
Suja dan Liuyun mengikuti langkah Wu Ming dan Wu Ling memasuki bangunan kuil utama Light Thunder Temple sedangkan Wu Dao dan juga semua biksu yang sebelumnya ikut bersama Suja dan Liuyun menaiki mobil dihadang para murid, ternyata ada salah satu biksu sempat yang sempat melihat Wu Dao dan yang lainnya turun dari kendaraan besi yang sebelumnya dikira monster besi dan segera mengabarkannya pada para murid dan petinggi Light Thunder Temple.
"Tuan muda Xi dan juga senior, ini adalah ruangan pertemuan yang biasa digunakan oleh kami petinggi kuil dan juga Mahaguru untuk menerima tamu entah itu dari Istana Kekaisaran Lin, tamu dari Istana Kekaisaran Han, perwakilan sekte-sekte aliran putih dan juga netral.
Pada awalnya kami akan menyiapkan ruangan ini untuk tuan muda Xi dan senior bertemu dan juga berbincang dengan Mahaguru, namun Mahaguru meminta agar saat senior dan tuan muda Xi sampai di kuil ini agar langsung diantarkan ke ruang utama di mana Mahaguru dan juga semua penghuni kuil sering melakukan meditasi dan juga melantunkan sutra.
Untuk ruangan yang ini adalah ruang perpustakaan kuil, memang ini bukan perpustakaan utama tapi di dalam tersimpan banyak sekali gulungan-gulungan teknik yang berharga yang telah dikumpulkan para Mahaguru dan petinggi kuil yang sebelumnya.
Ruangan yang ini adalah ruang di mana para murid atau biksu muda yang masih dalam didikan para biksu senior atau para guru mendidik para murid cara bermeditasi dan juga membaca sutra, namun karena hari ini kami kedatangan tamu kehormatan yakni tuan muda dan juga senior Teratai Api maka ruangan ini difungsikan sementara sebagai ruang santap malam nantinya.
Dan di dalam sini adalah ruang utama sekaligus ruangan paling besar kuil kami, ruangan ini adalah ruangan untuk berdoa, meditasi, dan juga membaca sutra seperti yang saya sebutkan tadi".
Sepanjang perjalanan dari pintu masuk Wu Ling dan Wu Ming bergantian memberikan tour singkat pada Suja dan Liuyun dengan memberikan penjelasan-penjelasan yang menurut mereka sudah cukup banyak, mereka berhenti saat telah sampai di depan sebuah pintu berwarna putih dengan ukiran-ukiran petir berwarna biru keputihan serta ukiran-ukiran daratan di pintu itu.
"Mahaguru! Tuan muda Xi Suja dan juga senior Putri Teratai Api telah sampai dan saat bersama kami di depan pintu!" Seruan Wu Ling membuat pintu yang tadinya tertutup secara perlahan terbuka menampakkan isi bagian dalam ruang utama kuil itu.
Di dalam sana tampak seseorang yang tengah duduk sembari melantunkan sutra, saat dia menatap tepat di mata Suja orang itu atau lebih tepatnya Mahaguru Wu Yun sang Great Monk menghentikan lantunan sutra yang dia baca.
"Silahkan masuk Liuyun, dan juga tuan muda Xi Suja!" Suara terdengar pelan namun sangat terdengar jelas di telinga Liuyun dan juga Xi Suja begitu juga dengan Wu Ming dan Wu Ling.
Suja melangkah memasuki ruang utama kuil mendekati Mahaguru Wu Yun diikuti oleh Liuyun dan juga kedua murid sang Mahaguru, saat sampai di dekat Mahaguru Liuyun dan Suja menangkupkan tangan serta menundukkan kepala sedikit memberi salam.
Wu Ming dan Wu Ling agak tersentil hatinya melihat bagaimana Liuyun dan Suja memberikan salam pada Mahaguru mereka, awalnya mereka mengira Suja akan memberikan salam ala seorang bangsawan terutama sebagai seorang anggota keluarga utama dua klan penguasa Kekaisaran Han namun ternyata mereka salah karena Suja hanya menundukkan kepalanya sedikit saja dan itupun hanya sebentar.
Untuk Liuyun sendiri mereka tidak berani mengganggunya karena mereka takut akan menyinggung sang Putri Teratai Api yang sangat terkenal sangat ganas pada musuh-musuhnya tidak peduli dari aliran manapun dia dan akan sangat susah didekati oleh orang aliran putih dan netral jika dia merasa tidak memiliki urusan dengan mereka, sedikit saja mereka menyinggung cara Liuyun memberikan salam pada sang Great Monk yang menurut mereka salah maka sudah bisa dipastikan kepala mereka akan terpisah dari tubuh mereka.
"Tuan muda Xi! Tolonglah lebih sopan sedikit pada guru kami! Jika anda memberi salam tangkupkan tangan dan menunduk dalam, bukan dengan menunduk sedikit bawah dan itupun hanya sebentar saja! Sikap anda sangat melukai kami sebagai murid Mahaguru Wu Yun!".
Wu Ling tidak bisa menahan diri untuk tidak memperingati Suja akan sikapnya yang menurut Wu Ling sangat tidak sopan karena dia sedang berhadapan dengan gurunya sang Great Monk, namun dia tidak menyangka Liuyun akan menatapnya tajam dan menggunakan auranya untuk menekan tubuhnya membuat Wu Ling tersungkur ke lantai dengan sedikit darah segar yang mengalir dari sudut mulutnya.
"Ha~h! Siapa kamu berani berkata seperti itu pada calon suamiku!? Jaga ucapanmu karena kalau tidak kepalamu akan kupenggal sekarang juga!".
Wu Ling gemetar ketakutan saat mendengar perkataan tajam Liuyun dan juga tekanan kuat yang menimpa tubuhnya, dia hanya bisa mengutuk dalam hati karena telah salah bicara dan mengira Liuyun tidak akan melindungi pemuda yang dia anggap hanyalah tuan muda manja dan hanya bisa berlindung di belakang kekuatan Kekaisaran Han.
Suja dan Mahaguru Wu Yun menggeleng pelan, mereka kemudian angkat suara agar suasana bisa kembali tenang.
"Cukup Kia sayangku, tarik kembali auramu….!".
"Tenanglah Wu Ling, aku tidak mempermasalahkan sikap tuan muda Xi Suja karena biar bagaimanapun dia adalah kembaran dari paman guru kalian Cruelest Immortal".
Dengan angkat suaranya Suja dan Mahaguru Wu Yun secara otomatis aura yang dirasakan oleh Wu Ming dan Wu Ling menghilang seketika, namun jika diperhatikan lebih jelas maka mereka bisa melihat ada rona merah yang terlihat di pipi Liuyun karena tersipu akan panggilan Suja.
Jika kalian mengira Liuyun menarik auranya karena menghormati Mahaguru Wu Yun sang Great Monk maka kalian salah besar, Liuyun tidak pernah menghormati Wu Yun karena kekuatan dan pengalamannya dalam bertempur jauh lebih banyak dari sang Great Monk namun dia tetap menganggapnya sebagai paman karena dia dianggap saudara oleh ayah angkatnya Cruelest Immortal.
Lalu kenapa Liuyun menarik auranya?.
Itu karena Suja, lebih tepatnya panggilan yang Suja gunakan untuk menenangkannya.
Azkia, atau Kia adalah panggilan khusus yang digunakan oleh Suja semasa hidup mereka di Bumi dulu dan merupakan panggilan kesukaan Liuyun yang hanya Sujalah yang diijinkan memanggilnya seperti itu.
Sekarang di kehidupan kedua mereka Liuyun bahkan memaksa Suja untuk kembali memanggilnya dengan nama Azkia atau panggilan kesayangannya yaitu Kia, Liuyun atau mulai sekarang kita panggil Azkia juga meminta agar Suja mengganti nama keempat adiknya dengan nama yang biasa dipakai oleh orang Bumi.
.
.
.