
Beberapa hari setelah pesta itu Suja tetap tinggal di Istana sembari bersiap-siap, selama itu pula dia tidak pernah dibiarkan lepas dari pandangan ibunya.
Tang Yue masih sedikit tidak rela membiarkan putranya pergi berkelana walaupun ditemani oleh lima orang jagoan Nascent Soul dan tiga orang penjaga bayangan yang diberikan oleh kakak iparnya, selain ketiga orang penjaga bayangan berkekuatan setara Nascent Soul Mid-stage dia menambahkan lagi penjaga putranya dengan 10 orang jagoan Core Formation Peak-stage.
Cing Cia sampai merengut kesal saat mengetahui ada sepuluh orang penjaga tambahan yang menjaga Suja, selain untuk menjaga keselamatan Suja sepuluh orang itu juga diberikan perintah untuk mengawasi Cing Cia dan mengusahakan agar dia tidak selalu bersama dengan Suja.
Cing Cia semakin kesal saat mengetahui dia dilarang untuk selalu melayani Suja setiap malam, bahkan Cing Cia sampai menangis diam-diam saat dia melihat seorang pelayan perempuan berusia 15 tahun diberikan kepada Suja atas permintaan Tang Yue pada Ibu Suri untuk melayani semua kebutuhan putranya bahkan untuk urusan ranjang sekalipun.
Suja hanya bisa menggelengkan kepala melihat perilaku sang ibu, selain memberikannya pelayan serba guna ibunya juga selalu memintanya untuk menemaninya setiap saat bahkan sampai harus tidur di depan kamar sang ibu.
Selama beberapa hari itu juga Suja selalu giat melakukan praktik ditemani oleh Suqian, kecepatan perkembangan praktik yang dia miliki sangat pesat bahkan menurut Suqian sendiri kecepatan seperti itu bahkan melebihi kecepatan praktik seorang jenius yang lahir seribu tahun sekali.
Bukan hanya Suqian yang terkejut, Tang Yue, dan semua orang yang mengenal Suja sampai memuntahkan seteguk darah saat mengetahui tingkat praktik Suja sudah mencapai Forging Qi tingkat 2 puncak yang sebentar lagi akan menerobos ke tingkat 3.
Suatu malam saat Suja sudah selesai mempersiapkan diri, sebuah gejolak terjadi di dekat dantiannya.
Sesuatu yang sebelumnya menyerap banyak qi itu perlahan menunjukkan reaksi, Suja segera meminta semua penjaganya untuk berjaga di depan kediamannya tanpa memberikan siapapun masuk mengganggunya dengan alasan dia akan melakukan praktik tertutup selama satu hari satu malam.
Setelah merasa aman, Suja langsung memasuki ruang dimensi miliknya dan duduk dalam posisi lotus di tengah kolam air Surgawi dan memasuki alam spiritualnya yang terletak di bawah dantiannya.
Saat dia memasukkan kesadarannya ternyata apa yang menyerap banyak qi itu adalah sebuah cangkang pelindung dari energi asing yang sangat tebal, di dalam cangkang pelindung itu terlihat ada empat buah telur yang mulai menunjukkan retakan kecil yang perlahan membesar.
ROOOAAAARRRRR……..!!!!!!
GRRROOOOAAAARRRRR…….!!!!!!
Dua suara raungan itu memecah konsentrasi Suja, kedua suara itu berasal dari wilayah yang cukup jauh dari tempatnya saat ini namun dia bisa melihat siluet sesosok makhluk yang memiliki panjang lebih dari seratus meter dan dua sosok makhluk berbulu lainnya yang terbang mendekatinya dan satu makhluk yang berukuran sangat besar berjalan lambat namun setiap langkahnya bisa mencapai puluhan meter sekali melangkah.
Keempat makhluk itu adalah Naga yang luar biasa gagah, sosok Harimau Putih yang bagaikan hewan suci dari surga, sesosok makhluk berbuku lainnya memiliki moncong panjang dan memiliki sembilan ekor yang berwarna cerah dan elegan, dan satu sosok lagi bagaikan sebuah gunung yang berjalan di tanah dunia.
Saat keempat sosok makhluk itu semakin mendekat, cangkang pelindung yang diperhatikannya tadi sudah hancur sepenuhnya begitu pula dengan keempat buah telur yang berada di dalamnya juga sudah pecah sebagian.
Dari keempat telur itu keluar makhluk berkaki empat bersisik dan bertanduk, lama-kelamaan terlihat sepasang sayap kecil yang rapuh juga ikut keluar diikuti ekor yang berwarna putih kehitaman, dan terakhir kepala bertanduk bengkok dan terlihatlah sosok aslinya.
Dari telur pertama itu keluar sesosok makhluk berjenis Naga yang hidup di dimensi lain tempat para pembudidaya mana atau bisa disebut sebagai dunia para penyihir, Naga kecil nan imut itu menatap sekelilingnya sebelum pandangannya jatuh pada Suja.
Suja hanya fokus pada makhluk yang keluar dari tekur pertama sehingga melupakan tiga telur lainnya, masing-masing dari ketiga telur itu mengeluarkan sesosok makhluk terbang berbulu indah dan elegan dengan api membara di sekujur tubuhnya, dari telur yang lain keluar makhluk yang sama namun dengan aura dingin serta mahkota dari es di kepalanya.
Telur terakhir mengeluarkan sesosok makhluk berupa kucing besar yang berwarna emas, kucing besar yang masih kecil itu juga mengedarkan pandangannya dan menemukan Suja di dekatnya.
Keempat makhluk yang keluar dari telur itu mendekati Suja dengan bahagia, dua sosok burung indah berbeda element itu terbang dengan pelan karena sayap mereka masih lemah sedangkan kucing besar mungil dan Naga berlari pontang-panting mendekati tubuh Suja.
KYYYAAAARRRRKKK...….!!!!!!
KYYAAARRRKKKK……!!!!
ROOOOAAARRRRR…….!!!!!
GRROOOAAAARRRR…….!!!!!!
Keempat bayi makhluk itu berkerumun seolah memberitahukan bahwa Suja adalah orang tua mereka, Suja yang memang menyukai semua makhluk berbulu kecuali anjing dan **** memeluk dua hewan yang berkaki empat yaitu naga seukuran anjing dewasa dan juga Golden Flame Lion yang berukuran seperti kucing dewasa hanya saja dia adalah kucing besar jadi ukurannya saat ini adalah ukurannya dalam bentuk bayi.
Sementara dua burung berbeda elemen hinggap di kedua pundaknya, mereka mematuk-matuk meminta perhatian sementara Suja merasa geli dengan patukan kedua burung itu.
""""Selamat datang tuan!!!!"""".
Empat makhluk yang tadinya mendekatinya ternyata sudah sampai, keempat bayi binatang itu mengkerut dan bersembunyi di balik tubuh Suja saat empat binatang raksasa melihat mereka.
"Tenang, mereka tidak akan melukai kalian. Ayo keluar, berikan salam pada kakak kalian".
Keempat bayi hewan itu dengan takut-takut menunjukkan diri mereka, mereka berempat menunduk memberikan salam lalu kembali bersembunyi.
Empat hewan raksasa itu mengeluarkan suara seperti orang tertawa tapi dalam bentuk suara hewan, sepertinya mereka cukup terhibur akan perilaku empat bayi hewan di dekat manusia yang mereka anggap sebagai tuan mereka.
"Jadi, apakah kalian adalah Spirit Beast atau mungkin Dao Beast pemberian dari si tua Heaven Seal?".
Great Dragon, Great Turtle, White Tiger, dan Nine Tail Fox yang perhatiannya sedang tertuju pada empat bayi hewan kecil itu mengangguk menanggapi.
"Benar tuan, aku adalah Great Turtle Dao Beast tingkat 4 dalam tingkatan makhluk agung di dunia atas tepatnya di dunia dengan sistem kultivasi yang lebih tinggi dari dunia ini".
Suja mengangguk, pandangannya lalu menyapu tiga hewan lainnya.
"Aku adalah White Tiger, Dao Beast tingkat 2 dan berasal dari dunia yang sama dengan si kura-kura lamban ini tuan".
ROOOOAAAARRR…..!!!!
Raungan si Harimau terdengar keras saat tubuhnya terlempar jauh, setelah berhasil menguasai diri dia terbang mendekati si kura-kura sembari menatapnya tajam.
"Hey lamban! Berani sekali kau menyerang Dao Beast agung sepertiku!" Si kura-kura tampak memutar bola mata malas.
"Memangnya kenapa? Meskipun tingkatanmu diatasku, tapi kekuatan kita tidak berbeda terlalu jauh. Bahkan dengan cakarmu itu saja, aku hanya merasakan seperti kegelian" Harimau terbang itu tampak marah mendengar cakar kesayangannya diejek seperti penggaruk gatal.
Great Dragon dan Nine Tailed Fox menatap kedua hewan itu dengan tatapan datar, Suja yang melihatnya pun sedikit malas melihat perdebatan konyol kedua Dao Beast yang mengaju makhluk kuat itu dan lebih memilih untuk bermain-main dengan empat bayi kecil di dekatnya.
Beberapa waktu kemudian, keempat bayi makhluk imut itu tertidur setelah Suja memberikan mereka energi Qi miliknya bertepatan dengan selesainya perdebatan konyol dua makhluk lainnya.
"Apa kalian sudah selesai berdebatnya?".
Kedua makhluk itu hanya mengangguk dan menunduk, dua makhluk lainnya hanya menggeleng sembari terkikik geli.
"Lalu kalian berdua?".
"Tuan, aku adalah Nine Tailed Fox Dao Beast tingkat 3 dan berasal dari dunia yang sama dengan mereka".
"Dan aku adalah Great Dragon, naga penguasa udara yang gagah perkasa".
Perkenalan yang narsis itu membuat Suja menatap sang Great Dragon malas, tiga Dao Beast lainnya juga tampak malas menghadapi sifat yang ditunjukkan si naga panjang.
"Iya, lalu apa kalian melihat di mana telur makhluk suci milikku yang lainnya?".
Empat Dao Beast itu menggeleng pelan, sepertinya mereka tidak melihat adanya tanda-tanda sebuah telur saat mereka mendekat tadi.
Tiba-tiba tanpa di sangka Suja memuntahkan beberapa teguk darah segar, empat Dao Beast yang melihatnya terkejut dan memeriksa tubuh tuan mereka menggunakan Divine Sense.
Suja yang mengalami hal itu merasa mendapat jawaban setelah beberapa saat kemudian terjadi gejolak di tempat yang tadinya terdapat cangkang pelindung, ternyata di sudut pelindung terdapat sebuah telur yang mulai retak dan mengeluarkan aura yang cukup pekat.
Aura yang dirasakan Suja dan juga dirasakan sedikit oleh empat Dao Beast itu merupakan aura yang luar biasa berat, memberikan perasaan segan, hormat, kagum, dan perasaan takut di saat bersamaan.
Retakan yang terjadi pada sepanjang sisi telur itu mulai melebar dan salah satu sisi retakan pecah, menampilkan kaki mungil sesosok makhluk yang juga merupakan makhluk yang diinginkan oleh Suja.
Beberapa saat kemudian telur itu akhirnya pecah sepenuhnya, dan di dalam telur itu terlihat sesosok makhluk terbang imut yang terlihat sangat agung walaupun masih bayi.
Bayi makhluk terbang itu adalah Raja para burung, musuh abadi para Phoenix. Sahabat sang Dewa Naga, dan juga makhluk suci ciptaan sang Dewa Bumi teman sekaligus pengawas dunia milik sang Dewa Amaterasu.
Makhluk itu memiliki paruh bengkok yang kuat walaupun masih bayi, sayap-sayapnya menampilkan bulu yang tak kalah indah dengan bulu para phoenix dengan berbagai macam warna yang didominasi oleh warna ungu, putih, dan juga hitam.
Kaki-kakinya memiliki cakar dan tanduk yang tampak sudah menunjukkan ketajaman dan keperkasaan, saat bayi makhluk itu berdiri terlihat kegagahan, keperkasaan, keagungan, dan kesuciannya.
Empat Dao Beast menatapnya terpana, sang Great Dragon menundukkan kepalanya menyapa sang bayi burung perkasa sahabat para leluhurnya Great Dragon penjelajah berbagai dimensi.
Suja juga menunjukkan kekagumannya, beberapa kali dia berdecak menatap bayi mungil yang kini berjalan mendekatinya.
Bayi burung itu adalah keturunan dari makhluk yang menjadi lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, tempat tinggalnya di kehidupan pertamanya.
Ya, burung itu tidak lain adalah seekor burung Garuda atau di Jawa disebut sebagai Elang Jawa.
Si burung Garuda berjalan pelan mendekati kaki Suja, saat dia berhasil mendekati kaki Suja dia menggunakan paruhnya yang terlihat cukup tajam untuk mematuk kaki manusia di depannya.
"Aduuuh!".
Suja dan empat Dao Beast terkejut melihat apa yang dilakukan sang burung, tapi mereka lebih terkejut lagi saat melihat apa yang terjadi saat si bayi burung menyedot darah yang keluar dari kaki bekas patukannya.
.
.
.
.
.
.
.