
"Suja Gege, kita mau main apa?".
"Hmmm, main apa yaaa? Aha! Bagaimana kalau kita belajar menghitung saja? Kamu sudah bisa membaca belum?".
Lu Yue hanya menggeleng menandakan dia belum belajar membaca, menulis, maupun berhitung membuat Suja kebingungan karena menurut Haevenseal semua anak-anak di dunia ini seharusnya sudah bisa membaca jika ingin menjadi seorang Kultivator.
"Memangnya kamu tidak diajarkan sama bibi?".
"Heheheeee, aku yang tidak mau belajar kak".
Dengan gelengan pasrah Suja tersenyum dan mulai mengajarkan Lu Yue cara berhitung dasar, Lu Yue yang melihat bagaimana cara Suja mengajarkannya menghitung cukup tertarik karena baru melihat cara belajar yang seperti itu.
Satu-persatu cara dasar menghitung diajarkan Suja, selama itu pula dia dibuat kagum dengan kecepatan pemahaman yang dimiliki oleh Lu Yue membuatnya semakin bergairah untuk mengajarkan lebih banyak lagi ilmu pengetahuan.
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa waktu sudah menunjukkan sebentar lagi sang matahari akan kembali ke peraduannya dan digantikan oleh sinar cerah sang bulan.
Tanpa mereka sadari orangtua mereka memperhatikan bagaimana Xiao Suja mengajari Tang Lu Yue, Tang Nie dan Luye terperangah melihat putri mereka yang dengan patuhnya mau diajari oleh bocah yang ternyata masihlah sepupu dekatnya itu.
"Tak kusangka Tuan Muda Suja bisa membuat putri kita menjadi begitu menurut dan mau belajar, bukankah Suja'er bisa membantu pamannya di istana nantinya Yue'er? Kenapa kamu tidak memberikan kabar kepada Yang Mulia Kaisar?" Luyi tidak bisa menyembunyikan kekagumannya akan kecerdasan yang ditunjukkan oleh Xiao Suja.
Menurut Luyi sendiri, untuk bocah berumur 10 tahun seperti Xiao Suja dia memiliki pemikiran yang luarbiasa yang tidak dimiliki oleh anak seusianya bahkan orang yang sudah berusia 20 tahunpun belum tentu memiliki kecerdasan seperti itu.
"Benar kata ayah, kenapa Meimei tidak membawa Suja'er ke Istana saja? Bukankah di sana ada Ibu Suri yang bisa memanjakannya bahkan kakak sepupunya sendiri Yang Mulia Kaisar Tang Lei Han mungkin akan memberikannya berbagai sumberdaya berharga untuk mengembangkan kecerdasannya".
Ketiga orang dewasa itu hanya memperhatikan dua orang bocah yang sedang berada di halaman dengan serius tanpa memperhatikan raut wajah yang ditunjukkan oleh Tang Yue, Tang Yue sendiri baru menyadari kecerdasan putranya itu saat ini karena baik dia sendiri maupun suaminya tidak pernah mengajarkan Xiao Suja cara berhitung kecuali cara membaca dan menulis.
"Suja'er, kesini sebentar!".
Mendengar panggilan ibunya Suja dan Lu Yue menoleh, saat melihat ekspresi ibunya Suja tanpa sadar menghela nafas panjang dan mendekati keempat orang dewasa itu bersama dengan Lu Yue.
"Ibu, aku akan menjelaskan semuanya".
Luyi, Luye, dan Tang Nie kebingungan mendengar itu, sementara Tang Yue mengangguk pelan dan meminta mereka kembali memasuki rumahnya.
Di dalam rumah, empat orang dewasa dan satu bocah perempuan duduk berdampingan sedangkan Suja duduk di kursi tunggal dalam posisi sebagai terdakwa.
"Suja'er, sekarang bisa kau jelaskan dari mana kau belajar berhitung?".
Tiga orang dewasa lainnya menatap Tang Yue kebingungan "Yue'er, memangnya bukan kamu yang mengajari Suja'er berhitung?".
"Bukan Jie, aku dan Jing Gege cuma mengajarkan cara membaca dan menulis saja. Kami belum mengajarinya berhitung, karena selama ini saat kami akan mengajarinya dia selalu kabur dan sembunyi entah di mana".
Tang Nie mengernyit mendengar ucapan adiknya, begitu pula dengan suaminya dan juga ayah mertuanya. Mereka bertiga memiliki satu pikiran yang sama, dari mana Suja'er belajar berhitung dan memiliki kecerdasan yang begitu tinggi kalau buka dari orangtuanya?
"Ibu, bibi, bisakah aku meminta sesuatu?".
Keempat orang itu kembali sadar dan menatap Suja yang sudah menangis pelan, Lu Yue yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan memeluk Suja memcoba membuatnya berhenti menangis.
"Gege, kenapa Gege menangis?".
Suja mengelus rambut Lu Yue pelan, lalu menatap ibu, bibi, paman, dan kakek dari Lu Yue.
"Kamu mau minta apa nak? Katakan saja".
"Benar nak, kamu bilang saja sama bibi. Bibi akan usahakan mencari apa yang kamu mau".
Suja menggeleng pelan, apa yang dia inginkan berbeda dengan apa yang dipikirkan kedua perempuan itu.
Tang Yue dan Tang Nie saling menatap sebelum mengangguk bersama "Benar nak, bibi adalah kakak ketiga ibumu. Memangnya ada apa?".
Airmata semakin deras keluar tatkala dia mendengar ucapan bibinya, tanpa siapapun yang menyangka Suja bangkit dan duduk di depan ibu dan bibinya lalu bersujud sembari terisak-isak.
"Ibu, bibi, aku minta maaf. Kalau bukan karena keberadaanku Klan Xiao dan Klan Tang akan tetap ada di dekat kalian! Aku minta maaf ibu, bibi!".
Ibu dan bibinya menatapnya tidak mengerti "Apa maksudmu nak? Kenapa kau bilang keberadaanmu membuat kedua Klan bisa tetap ada?".
"Ibu, bibi, akulah penyebab semua yang dialami Klan Xiao dan Klan Tang! Karena keberadaanku Klan Xiao dan Klan Tang dihancurkan Aliran Hitam!".
Tang Nie dan Tang Yue dengan airmata yang mulai mengalir deras, mereka sebenarnya tidak mengerti namun mencoba memahami.
"Nak, ibu dan bibimu sudah mengikhlaskan semuanya. Kamu jangan merasa bersalah karena ini bukanlah kamu penyebabnya".
Suja menggeleng pelan "Ibu tidak mengerti, kehancuran dua Klan keluarga kita adalah satu kejadian besar dalam hidupku yang ada di salah satu jalan takdir yang kumiliki".
Sekarang bukan hanya ibunya dan bibinya saja yang bingung, Luyi dan putranya Luye juga mulai penasaran dan kebingungan akan apa yang dipermasalahkan oleh bocah laki-laki yang duduk di depan mereka.
"Nak, memangnya kamu tahu apa takdirmu? Di dunia ini takdir seseorang sudah ditentukan oleh para Dewa dan Dewi yang mengatur dunia ini, seorang manusia seperti kita yang diciptakan para Dewa dan Dewi untuk hidup dan menjalani kehidupan yang sudah mereka tentukan. Jadi kamu jangan pernah menyalahkan takdir yang kamu sendiri tidak ketahui pastinya, jalani saja dengan baik".
Suja menatap Luyi lalu tersenyum tulus menatap Luyi, meskipun dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tapi kakek Luyi bisa memberikan nasihat yang menurut Suja cukup meringankan sedikit bebannya.
"Kakek terima kasih nasehatnya, tapi kakek bahkan kalian tidak mengerti. Jiwaku ini, maupun ragaku yang sekarang ini bukanlah ciptaan para Dewa Dewi yang kalian puja di dunia ini. Aku memiliki kepercayanku sendiri, karena aku bukanlah entitas makhluk hidup yang seharusnya tidak berada di sini, seharusnya jiwaku sekarang ini sudah memasuki entah surga atau neraka".
Luyi dan Luye menjadi tidak mengerti ucapan Xiao Suja, sementara itu baik Tang Nie maupun Tang Yue terperangah mendengarnya dan pikiran mereka melayang mencoba mengingat entah apa.
"Apa maksudmu nak?".
"Paman, sebenarnya ini adalah kehidupanku yang kedua. Kehidupan pertamaku kujalani di dunia lain, dunia yang jauh lebih maju dari dunia ini dan tidak sekejam dunia yang sekarang kutempati ini".
"Jadi maksudmu, kamu mengetahui banyak hal..........".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.