My Journey to Immortality

My Journey to Immortality
Ch 11 - Bertamu di Istana.



Dua minggu setelah Xiao Suja atau yang sekarang menggunakan nama Xi Suja membuka semua rahasia yang telah disimpannya selama 10 tahun terakhir tentang siapa dia sebenarnya, kemarin mereka telah sepakat akan berangkat menuju istana kekaisaran Han pada hari ini setelah dua hari sebelumnya dia sudah bisa kembali mengakses semua yang ada di ruang dimenisnya secara bebas dan tanpa pembatasan dengan kata lain ruang dimensinya sudah menjadi miliknya kembali sepenuhnya.


Siang harinya mereka sudah selesai bersiap-siap, ibunya, bibinya, pamannya, adiknya sepupunya, dan kakek Luyi sudah menunggunya di depan halaman rumah sementara ia sendiri tengah berada di dalam ruang dimensinya untuk mengambil beberapa senjata api dan pedang Katana yang akan dia gunakan sebagai pertahanan diri.


"Jadi kita akan berangkat sekarang?" Tepat saat dia keluar dari ruang dimensi Luye bertanya untuk memastikan.


"Iya paman, aku sudah siap. Ayo kita pergi".


Mereka langsung melesat menggunakan ilmu peringan tubuh kecuali Xi Suja dan Xi Lu Yue yang masih belum menjadi cultivator, Suja digendong oleh kakek Luyi sementara Lu Yue digendong ayahnya. 


Mereka melesat dari pohon ke pohon dan terkadang berhenti untuk menyingkirkan beberapa demonic beast yang menghalangi jalan mereka, mereka tidak membawa barang-barang karena semua barang mereka telah dimasukkan ke dalam cincin penyimpanan yang merupakan Spirit Tool mortal mid-tier yang mampu menyimpan banyak barang dengan kapasitas sebanyak 500m2 atau setara dengan dua puluh rumah dijejer rapi sementara Suja tetap membawa sebuah senapan serbu SS-2 V4HB dan dua pucuk pistol G-2 Combat sebagai senjatanya dan beberapa kali dialah yang menyingkirkan beberapa penghalang mereka di tengah jalan entah itu demonic beast maupun kelompom perampok dan bandit hutan mengingat daerah tempat tinggal mereka berada di dalam hutan yang cukup terkenal angker dan ditakuti.


Sebenarnya bukan hanya mereka saja yang berangkat menuju ibukota kekaisaran melainkan bersama dengan beberapa warga desa lainnya, semua warga desa yang awalnya mengasingkan diri karena sudah tidak mampu menaikkan tingkatan kultivasi baik dari foundation realm entah itu mortal realm maupun earth realm, cultivator core formation, maupun cultivator Nascent Soul yang berasal dari ketiga aliran berbeda.


Semua orang-orang itu menyatakan kesetiaan mereka setelah Suja menjanjikan akan memberikan mereka dan keluarga mereka kehidupan yang lebih baik membuat semua warga desa kecil itu menyatakan sumpah setia mereka, sekitar 10 orang cultivator Nascent Soul first-stage dan mid-stage serta lima cultivator core formation mengawal mereka dalam perjalanan sedangkan 50 orang lainnya beserta keluarga mereka telah berangkat lebih dulu untuk mencari sebanyak mungkin rogue cultivator sesuai permintaan Suja yang akan digunakan sebagai penjaga dan pasukan rahasia yang akan menjaga keluarganya dan juga Asosiasi yang akan dia bangun nantinya.


Setelah melewati dua hari perjalanan yang menegangkan bagi dua orang bocah meskipun salah satunya cukup membingungkan karena selama perjalanan selalu saja tersenyum senang yang tampak mengerikannsaay menghabisi para perampok dengan senjata aneh miliknya, akhirnya rombongan mereka sampai di depan gerbang kota Chang An yang sangat besar dan megah.


Beberapa prajurit bertombak dengan kekuatan setara dengan cultivator core formation memeriksa setiap orang yang hendak memasuki kota dan mengambil biaya masuk sebesar dua keping perak, dengan penjaga gerbangnya saja memiliki kekuatan setara core formation menandakan keamanan kota benar-benar ditingkatkan setelah penyerangan aliansi aliran hitam beberapa waktu lalu.


Begitu mereka memasuki kota, Suja memandang sekitarnya dengan tatapan kagum karena baru pertama kalinya baginya melihat keramaian rakyat dan megahnya kota Chang An yang menjadi ibukota kekaisaran begitu pula dengan Lu Yue yang sejak lahir belum pernah dibawa ke ibukota membuatnya antusias dan menarik lengan Suja mengajaknya berkeliling ibukota.


"Gege! Yueyue mau itu!".


Melihat manisan apel yang diinginkan Lu Yue membuat Suja juga ingin merasakannya, bersama dengan Luye mereka membeli beberapa tusuk manisan apel sedangkan rombongan yang lain menunggu mereka di tempat sebelumnya.


"Tuan muda dan nona kecil, apa kalian mau manisan apel ini?".


Dengan mata dewa naga yang dia miliki membuat Suja mampu melihat masalah yang tengah dihadapi kakek penjual manisan apel itu, setelah menerima sepuluh tusuk manisan Suja memberikan sekeping emas untuk membayar.


Kakek penjual manisan gemetar menerima kepingan emas yang diberikan bocah kecil di depannya, dengan cemas dia menatap si bocah sebelum menyodorkan kembali keping emas yang dia terima sebelumnya.


"Tuan muda, yang kecil ini mohon maaf. Yang kecil ini tidak memiliki kembalian untuk manisan yang tuan muda ambil, keping emas ini terlalu berlebihan untuk hamba".


Suja tersenyum lembut "Tidak apa-apa kek, uang itu untuk biaya cucu kakek yang sedang sakit jadi ambillah".


Kakek penjual itu membungkuk beberapa kali sembari mengucapkan terima kasih, setelah itu dia merapikan dagangannya sedangkan manisannyang tersisa dibagikan kepada beberapa anak kurang mampu yang berada di sekitarnya.


"Nak, bukankah itu terlalu banyak?" Luye penasaran dengan apa yang dilakukan keponakan istrinya itu dan sedikit menyayangkan apa yang dilakukan si bocah karena sepuluh manisan apel hanya 1 perunggu pertusuknya sedangkan bocah itu memberikan sekeping perak untuk membayar manisan yang dia ambil.


"Tidak apa paman, cucunya sedang sakit sedangkan mereka tidak memiliki uang untuk membayar tabib. Memberi sedikit bantuan tidak akan membuat kita kekurangan, malah akan membuat kita menjadi semakin kaya dan dihargai orang-orang. Oh iya ajak juga semua pengemis dan anak-anak terlantar yang ada di kota ini, mereka semua akan menjadi pegawai Asosiasi nantinya setelah mereka diberikan pendidikan tentunya".


Tanpa peduli dengan apa yang dipikirkan oleh Luye, Suja membagi manisan apel yang dia beli dengan Lu Yue dan menikmatinya dengan bahagia. 


Luye bingung dan tidak mengerti tapi mengerjakan juga permintaan Suja, lebih dari seratus pengemis dan anak terlantar dikumpulkan olehnya dan dibawa menuju sebuah rumah singgaj sementara yang sudah disiapkan beberapa bawahan Suja yang berasal dari desa kecil tempat mereka bersembunyi.


Setelah puas menjelajahi pasar dan mencoba banyak jajanan akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan, kali ini hanya Suja dan yang lain yang menuju ke istana sedangkan para bawahannya menuju rumah singgah mereka untuk istirahat dan menunggu perintah selanjutnya.


Saat sampai di depan gerbang istana beberapa prajurit menghalangi mereka saat mereka akan masuk, Tang Nie dan Tang Yue menunjukkan plakat tanda pengenal mereka sebagai anggota keluarga utama klan Tang dan klan Xiao sekaligus sebagai anggota keluarga kekaisaran.


Wajah para prajurit itu pucat pasi melihat plakat yang ditunjukkan dua perempuan itu "Silahkan masuk nyonya, maafkan kami karena mengganggu perjalanan anda!".


"Tidak apa, lanjutkan pekerjaan kalian!".


Di dalam lingkungan utama istana kekaisaran terlihat sangat sibuk dengan banyaknya pelayan dan kasim yang berlalu lalang, pemandangan itu membuat Suja dan Lu Yue penasaran sementara para orangtua hanya menatapnya seolah itu hal yang biasa mereka lihat meskipun memang begitulah kenyataannya.


Di dalam ruang kerja kekaisaran kaisar han saat ini tengah memeriksa beberapa dokumen saat mendengar seruan kasim kepercayaannya dari luar.


"Nyonya Tang Nie beserta keluarga dan Nyonya Tang Yue beserta tuan muda Xiao telah tiba!".


Kaisar langsung bangkit dan melangkah cepat membuka pintu ruang kerjanya, di luar dia melihat ada dua orang bibinya yang cukup dirindukan oleh sang ibunda ibu suri dan dua orang bocah yang masih kecil serta dua orang pria yang bersama mereka.


Selain Suja yang hanya menunduk sedikit, yang lainya membungkuk dalam memberikan penghormatan pada Kaisar. Tindakan Suja membuat beberapa penjaga dan dua orang kasim menatapnya marah dan ingin menebas kepalanya, sebelum mereka mengambil senjata Kaisar terlebih dahulu memberikan tanda kepada mereka.


"Salam bibi Nie, bibi Yue, dan selamat datang di istana kekaisaran. Bibi berdua tidak perlu memberikan penghormatan karena aku bagaimapaun adalah keponakan bibi berdua, kalau ibunda tau mungkin aku akan diberikan hukuman. Apakah bibi berdua baik-baik saja?".


Di tengah ketiga orang itu berbincang sekaligus mengenalkan suami dan mertua Tang Nie, Suja menerobos masuk ruang kerja Xiao Chen diikuti Lu Yue yang begitu antusias sejak memasuki istana.


Tindakan mereka berdua membuat para penjaga kembali marah karena merasa mereka tidak memberikan penghormatan dan memberi muka kepada kaisar, akan tetapi kaisar sendiri cukup heran dengan keberanian mereka meskipun dia juga menunjukkan kekaguman akan keberanian bocah laki-laki yang tidak memberinya salam dengan baik bahkan mengacuhkan para penjaga yang menatap mereka dengan marah.


"Bibi, apakah mereka adalah adikku?" Tanya Xiao Chen mekipun sedikit penasaran dengan muka serius yang ditunjukkan oleh si bocah laki-laki saat menatap dan membaca sebuah gulungan kulit di meja kerja miliknya.


"Benar Chen'er, yang perempuan adik Nie'jie dan yang laki-laki putraku. Sebaiknya kita masuk, sepertinya Xi'er memiliki beberapa pendapat yang bisa membantumu".


Kaisar Xiao Chen mengernyit pelan "Xi'er? Bukankah marganya Xiao? Kenapa jadi Xi bibi?".


Tang Yue tersenyum pelan "Dia mengganti marganya, dia juga berencana meminta ijin beberapa hal darimu. Sekarang lebih baik ayo kita masuk dan dengarkan apa yang dia katakan, mungkin bisa membantu masalahmu".


"Dari mana bibi mengetahui aku mendapat masalah?".


Tang Yue tertawa pelan "Chen'er, bibi sudah merawatmu sejak kecil. Apa yang tidak bibi ketahui tentangmu? Bahkan kenakalanmu dulu saja masih bibi ingat, tapi sepertinya kamu sudah berubah sejak naik tahta".


Kaisar Xiao Chen tersenyum malu "Tolong lupakan itu bibi, ayo masuk dulu. Biar nanti pelayan membawakan kita minuman, ibunda juga pasti merasa senang mendengar kalian baik-baik saja apalagi kalau mengetahui bibi Nie juga pulang membawakannya keponakan baru".


Sementara itu Suja tengah meneliti dengan serius beberapa gulungan yang dia baca, beberapa gulungan itu merupakan laporan rutin yang diberikan oleh para menteri tapi dia menemukan beberapa masalah yang sepertinya cukup berat.


"Didi, apa kamu menemukan sesuatu?".


Suja tersentak pelan, sepertinya dia terlalu serius sehingga tidak menyadari kaisar sudah duduk dan memperhatikannya.


"Gege! Hmm, hehehe maaf aku tidak tahu nama gege".


Xiao Chen ikut tertawa kecil "Nama gege Xiao Chen, ingat itu jangan sampai kamu lupa".


"Baik gege, sekarang mari kita bahas semua masalah yang gege hadapi".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


jangan lupa berikan vote dan komentar yang membangun para pembaca sekalian.