My Journey to Immortality

My Journey to Immortality
Ch 98 - Konflik Pertama. . . . .



.


.


.


.


Dua hari setelah mereka keluar dari Hutan Neraka Suja dan Lu Yue telah sampai di salah satu dari lima kota yang harus mereka lewati jika ingin mencapai perbatasan, saat ini mereka telah sampai di sebuah kota yang bernama Kota Awan, mereka singgah di sana karena keinginan Lu Yue yang ingin menikmati makanan lezat dan mandi air hangat.


"Berhenti, tunjukkan identitas kalian!"


Seorang penjaga gerbang menghentikan mereka saat ingin masuk ke dalam kota, memang tidak ada antrian satupun saat mereka tiba di sana jadi Suja berpikir kalau mereka bisa masuk dengan mudah, ternyata masih harus menunjukkan identitas.


"Maaf tuan, kami kehilangan identitas kami, semalam kami dirampok kelompok Kalajengking Racun di dalam hutan."


Lu Yue menjawab saat melihat Suja kebingungan, penjaga gerbang yang mendengar jawaban Lu Yue mengangguk pelan, dia sepertinya memang mengetahui sesuatu jadinya tidak mempersulit mereka.


"Memang akhir-akhir ini mereka kembali membuat ulah, kalian boleh masuk tapi harus membayar satu koin perak per orang."


Suja mengangguk pelan kemudian memberikan biaya yang dimaksud, setelah memasuki kota Awan Suja terpana dengan suasana kota yang sangat damai, berbeda sekali dengan saat mereka masih berada di dalam Hutan Neraka yang setiap harinya harus diganggu oleh Demonic Beast ataupun hewan buas biasa.


"Mari kita mencari tempat makan terlebih dahulu, setelah itu mencari penginapan, aku sudah lapar Xiao'er."


"Yue'er, bisakah kau mengubah panggilanmu itu? Akan lebih baik lagi kalau kau memanggilku suami, aku sangat menunggu panggilan itu darimu."


"Huh! Dasar ******** kamu! Jangan pernah berharap aku akan memanggilmu seperti maumu, kau hanyalah ******** yang dengan teganya merenggut kesucian ibumu sendiri!"


Suja hanya tersenyum lebar sembari menjawab "Yue'er, kau bukanlah ibu kandungku, hanya ibu angkat yang merawatku sejak bayi, sekarang aku sudah dewasa jadi jikapun aku ingin menikahimu itu bukanlah masalah, jadi kau harus baik-baik dengan calon suamimu ini."


"Jangan harap!"


Perdebatan mereka terhenti saat mereka telah berdiri di depan sebuah restaurant yang cukup besar dan dengan tiga tingkat, aroma masakan yang cukup sedap menguar dari dalam membuat Suja tertegun dan perutnya yang sudah keroncongan berbunyi keras.


Terlihat di atas pintu masuk rumah makan itu terdapat sebuah plakat yang bertuliskan 'Restaurant Giok Putih', Lu Yue mengernyit saat membaca nama rumah makan di depan mereka.


"Ayo masuk."


Saat mereka masuk mereka langsung melihat lantai satu sudah penuh sesak, mereka kemudian menghampiri salah satu pelayan.


"Kami ingin naik ke lantai dua, berapa yang harus kami bayar?"


"Tuan muda dan Nyonya muda, restaurant kami cukup percaya diri dalam hal makanan, untuk menikmati makanan anda di lantai dua anda hanya perlu membayar sekeping emas, untuk cultivator membayar dengan dua Spirit Stone Low-grade saja, sementara lantai tiga tuan dan nyonya harus membayar empat Spirit Stone low-grade."


"Kami akan ke lantai tiga, tolong antarkan kami."


"Baik tuan muda, mari ikuti saya."


Mereka dibawa naik ke lantai tiga setelah Suja membayar biaya yang diminta, saat mereka sampai di lantai dua semua kursi di sana sudah hampir penuh menyisakan tiga kursi saja yang tersisa, sementara saat mereka sampai di lantai tiga baru hanya dua dari lima kursi yang terisi, mereka duduk di salah satu kursi dekat jendela kemudian memesan hidangan.


Beberapa saat setelah mereka memesan sekelompok orang dalam rombongan yang berisi sepuluh orang memasuki lantai tiga rumah makan itu, dari pakaiannya sepertinya tujuh orang di antara mereka hanyalah pengawal sementara tiga lainnya adalah yang dikawal, tiga orang itu adalah sekelompok pemuda yang memiliki paras yang cukup tampan, jubah yang mereka kenakan sendiri memiliki ukiran Harimau yang tengah menggigit Matahari.


"Sekte Harimau Api, asal sekte mereka sungguh luar biasa."


Meskipun Lu Yue menggumam sangat pelan, tapi Suja yang sudah memiliki 5000 bola Mana Jiwa dan telah ditempat fisiknya oleh Mana bisa mendengar gumamannya dengan jelas, pandangan Suja beralih menatap rombongan ketiga pemuda itu sebelum menikmati arak yang ada di mejanya.


"Senior semua, kami dari sekte Harimau Api telah menyewa lantai tiga ini, kami ingin kalian pergi sekarang juga!"


Sombong, arogan, tidak memiliki tata krama.


Mungkin tiga kata itulah yang pantas disematkan pada salah satu dari tiga pemuda yang memakai jubah sekte Harimau Api, pemuda itu dengan sangat berani bertindak arogan meskipun mengetahui ada dua pelanggan yang mempunyai praktik ranah Core Formation Late-stage dan satunya ranah Nascent Soul.


"Siapa kau sehingga berani mengaturku!? Lebih baik kalian yang pergi sebelum aku memberikan pelajaran pada kalian!"


"Senior, meskipun kau berada di ranah Nascent Soul tapi guru kami sudah lebih dulu berada di sana selama ratusan tahun, apa kau tidak takut pada guru kami?"


"Memangnya siapa guru kalian itu hah?!"


"Guru kami bernama Yu Mian, beliau memiliki gelar sebagai Sword Pillar, apa sekarang kau takut senior rendahan?!"


Ejekan pemuda itu terdengar lantang bahkan mungkin bisa sampai ke lantai dua, jagoan Nascent Soul yang mendengar nama yang disebutkan si pemuda bergetar pelan sebelum mengajak rekannya untuk meninggalkan lantai tiga diikuti semua yang ada di sana kecuali Suja dan Lu Yue, Suja sendiri tidak mengetahui apa itu Sword Pillar jadi dia tidak menganggap itu sebagai ancaman baginya, lagi pula siapa yang mampu melawan seorang pemuda yang memiliki 5000 Mana Jiwa? Kecuali dia berada di ranah Nascent Great Soul Late-stage ke atas, maka mereka bukanlah tandingan seorang Suja.


"Dasar rendahan…..! Memang sepantasnya kalian pergi jika tidak ingin ditemui guru kami...! Hahaha...!!!"


Melihat itu Suja sedikit melirik mereka sebelum melanjutkan minum arak, sementara pemuda tadi menghentikan tawanya saat melihat ada yang masih bertahan di lantai tiga.


"Kalian, usir sampah rendahan itu dari sini….!!!"


"Baik senior…!!!"


Dua orang yang berperan menjadi pengawal tiga pemuda itu mendekati tempat duduk Suja dan Lu Yue, tatapan keduanya terlihat sekali meremehkan Suja dan berusaha menekan Suja dan Lu Yue menggunakan aura cultivator ranah Foundation Realm, dengan sekali lihat Suja dan Lu Yue yang sudah berada di ranah Core Formation peak-stage bisa melihat kedua orang itu hanya memiliki pondasi di tingkat Mortal Foundation dengan Core berwarna merah, sedangkan yang lain berada di warna hijau, ketiga pemuda itu sendiri berada di ranah Core Formation First-stage dengan core berwarna Biru.


"Hei, kalian lebih baik pergi sekarang juga, jika tidak kami akan memberi kalian pelajaran….!!!"


Tindakan arogan kedua orang itu membuat Suja terganggu, sejak dulu dia tidak suka jika ada yang bertindak arogan di depannya, terlebih dia sekarang tengah bersama dengan Lu Yue wanita kesayangannya.


"Pelajaran apa yang kalian maksud…??? Sekarang kalian lebih baik pergi atau aku akan memberikan kalian jalan untuk bertemu Raja Neraka….!!!!"


Bukan hanya dua orang itu yang tertegun mendengar Suja berbicara, tapi tiga pemuda dan lima junior mereka yang menjadi pengawal ketiganya juga sedikit tertegun, Suja memang hanya berbicara pelan dan santai tapi aura dari Mana Jiwa miliknya menguar keluar dan sedikit menekan mereka.


"Berani sekali kau menekan kami dengan aura rendahanmu itu!"


Ketiga pemuda itu melapisi tubuh mereka dengan Qi untuk menghilangkan tekanan yang mereka dapatkan, saat mereka telah tidak merasa tertekan lagi mereka semua langsung mengeluarkan semua aura yang mereka miliki.


Selain mengeluarkan semua aura, sepuluh orang itu juga mulai menatap Suja dengan pandangan tajam dan menyelidik, tapi saat pandangan mereka tertuju pada Lu Yue yang tengah duduk santai tatapan mereka berubah menjadi penuh nafsu apalagi kecantikan Lu Yue bisa dibilang sangat memukau dan indah bagi mereka.


Suja yang bisa mengerti akan tatapan mereka mulai tampak geram karena telah berani memandang wanitanya tepat di depan matanya sendiri, tanpa basa-basi dia langsung mengeluarkan aura Mana Jiwa miliknya menggunakan 500 bola Mana Jiwa, tekanan yang dirasakan oleh mereka mulai membuat mereka memuntahkan seteguk darah segar, itu karena tekanan dari aura yang mereka rasakan setara dengan aura serang Cultivator ranah Nascent Soul Mid-stage, pandangan mereka yang pada awalnya dipenuhi nafsu binatang dan penuh kesombongan segera berubah menjadi ketakutan karena menyadari siapa yang telah menekan mereka.


Tekanan aura yang dikeluarkan Suja juga dapat dirasakan oleh orang-orang yang berada di bawahnya bahkan pondasi bangunan restaurant itu mulai bergetar, terlihat sekali kalau aura Suja telah berhasil membuat sepuluh murid sekte tersebut semakin ketakutan karena baru menyadari kalau mereka telah menyinggung orang yang tidak seharusnya mereka singgung.


“Kalian telah berani menatap wanitaku dengan pandangan kalian yang seperti binatang, maka tidak ada yang pantas bagi kalian selain menerima hukuman dariku….!!! Kalian hanyalah semut-semut yang mencoba menggigit harimau di depanku, maka terimalah hasil perbuatan kalian ini…!!!”


Suja mungkin berkata dengan nada tenang, namun setiap perkataannya mampu membuat semua yang mendengarnya bergetar ketakutan.


“””””AAAAAAAAARRRRRRRGGGHHHHHH…….!!!!!!”””””


Tidak ada dari mereka yang mengetahui apa yang telah menyerang mereka, hanya tangan mereka telah mengalami luka bakar yang sangat parah saat mereka merasakan rasa sakit dan melihat di mana rasa sakit yang mereka rasakan itu berada, teriakan mereka bersepuluh sangat keras bahkan sampai membuat lantai tiga rumah makan itu sedikit bergetar.


“Sekarang sebaiknya kalian cepat pergi dari hadapanku…!!! Oh iya, katakan pada siapapun guru kalian itu, aku Xi Suja tidak pernah takut pada siapapun, jika dia akan membalas atas semua yang kulakukan pada kalian, maka tunggulah aku di perbatasan Kekaisaran Han dan Kekaisaran Tang….!!!”


Saat Suja telah selesai berkata mereka semua segera keluar dari sana, tidak ada dari mereka yang berani membantah ataupun mengeluarkan satu katapun saat Suja telah melukai mereka, aura yang dikeluarkan Suja sangat membuat mereka tertekan dan merasa terhina.


Lu Yue yang melihat semua yang dilakukan Suja untuk membelanya merasakan rasa hangat di hatinya, entah apa yang dia pikirkan karena wajahnya mulai memerah, dia tidak lagi menghiraukan apapun karena masih menelisik perasaannya sendiri, bahkan Suja yang memperhatikannya saja tidak dia tahu.


Beberapa saat kemudian makanan pesanan mereka, mereka makan dengan tenang, Suja dan Lu Yue memakan makanaj mereka sendiri tanpa mengetahui akan masalah yang akan menimpa mereka nantinya.


.


.


.


.


.