My Journey to Immortality

My Journey to Immortality
Ch 66 - Kota Lingko Jatuh.



.


.


.


"Mati kau serangga! Hahaha……!!!"


Pertarungan antara pasukan aliansi dan pasukan pertahanan begitu sengit, meskipun pasukan aliansi jauh lebih banyak tapi keberadaan para cultivator Core Formation dan Nascent Soul First-stage yang berada di sana mampu memberikan perlawanan meskipun jumlah pasukan musuh lebih banyak.


Suara dentingan pedang dan tombak terdengar begitu keras dengan satu-persatu pasukan musuh yang jatuh karena serangan para cultivator Core Formation dan Nascent Soul, pertarungan kedua pasukan begitu hebat dan perlahan-lahan pasukan aliansi yang awalnya berjumlah 5000 terus berkurang dan saat ini menyisakan 500 orang saja akibat serangan-serangan yang yang dilepaskan tiga orang cultivator Nascent Soul.


Di kejauhan para pemimpin pasukan terlihat kesal karena banyak pasukan mereka yang tewas karena serangan tiga orang cultivator Nascent Soul di pihak musuh mereka, perlahan-lahan mereka dapat melihat pasukan mereka dibantai habis dan akhirnya pasukan terakhir mereka juga tewas.


Di pihak pasukan pertahanan sendiri meskipun ada belasan cultivator Core Formation dan tiga orang Nascent Soul tidak bisa menjamin tidak adanya korban jiwa, setidaknya hanya ada sekitar 50 orang yang masih bisa selamat meskipun mengalami luka serius dari 800 orang yang menjaga kota Lingko.


"Sial! Jika saja tidak ada tiga orang jagoan Nascent Soul di pihak mereka maka pasukan kita sudah berhasil menguasai kota itu. Kalian bertiga! Pergi lenyapkan mereka!" Patriark Sekte Kabut Kematian terlihat kesal dan memerintahkan tiga orang jagoan Nascent Soul yang merupakan Patriark dari sekte bawahannya.


Ketiga Patriark berkekuatan Nascent Soul Mid-stage itu segera melesat saat mendapat perintah dari Patriark sekte Kabut Kematian, hanya dalam waktu beberapa tarikan nafas atau beberapa detik mereka telah sampai di depan kota Lingko dan melepaskan serangan yang menyebabkan 50 orang yang tersisa meregang nyawa sementara tiga orang jagoan Nascent Soul yang melihat mereka berkeringat dingin karena bagaimanapun mereka masihlah satu tingkat di bawah musuhnya.


"Sekarag tinggal kalian bertiga! Lenyaplah ********!".


Pertempuran tiga jagoan Nascent Soul First-stage melawan tiga orang yang satu tingkat di atas mereka terjadi dengan cepat, salah satu jagoan yang menjaga kota Lingko melawan seorang musuhnya namun terlihat kewalahan karena telah menghabiskan sebagian besar kekuatannya saat melenyapkan pasukan aliasi tadi.


Hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama dua orang jagoan penjaga kota Lingko tewas menyisakan satu orang yang masih berusaha melawan, orang itu terus saja melepaskan serangan-serangan dengan menggunakan talisman yang dia miliki sementara musuhnya hanya menghindar dan sesekali menebas serangan yang menuju ke arahnya.


Karena kehabisan talisman orang itu maju menyerang musuhnya menggunakan tombak sementara musuhnya sendiri mengeluarkan sebilah pedang panjang dengan ukiran yang sangat menyeramkan, kontak senjata antara mereka terjadi dengan serangan pertama dilepaskan jagoan penjaga kota Lingko yang berhasil sedikit melukai musuhnya.


"Seranganmu bagus juga, pastinya kau memiliki teknik yang kuat dan itu akan kurebut darimu sebentar lagi hahaha…..!!!!".


Jagoan Nascent Soul yang telah hampir kehabisan Qi miliknya menatap ketiga musuhnya dengan tatapan bengis dan kemarahan, dia menatap mayat semua pasukan pertahanan dengan tatapan menyesal karena tidak bisa menyelamatkan mereka dari serangan ketiga musuh di depannya.


"Meskipun kami semua mati disini tapi masih banyak orang aliran netral dan putih yang akan melawan kalian! Kalian bisa tertawa dan berpesta sekarang, tapi nanti kamilah yang akan menertawakan kalian dari atas sana!".


Ketiga musuhnya saling menatap sebelum tertawa dengan keras, mereka merasa perkataan yang mereka dengar hanyalah sebuah lelucon yang tidak akan terjadi karena mereka memiliki seseorang yang jauh lebih kuat dari semua cultivator ketiga aliran sekalipun.


"Yayaya, kami akan tunggu saat itu. Hanya saja hal itu mungkin tidak akan terjadi, jika memang hal itu terjadi maka saat itu kami sudah menguasai semua wilayah benua ini hahaha…..!!!!!".


"Dasar iblis kalian!" Orang itu maju menyerang musuhnya dengan teknik tombak andalannya meskipun dia tahu serangannya tidak akan memberikan kerusakan pada musuhnya.


"Sekarang ucapkan selamat datang di neraka serangga hahaha….!!!".


Sebuah serangan pedang melesat dan menebas anggota tubuh orang yang tersisa dimulai dari tangan, kaki, perut, dan terakhir memotong lehernya membuatnya mati dengan penuh rasa sakit.


"Hahahahaaaaa…….!!!! Sekarang kota ini telah berhasil kita kuasai! Minta senior Patriark Ding untuk mengerahkan pasukan, tangkap semua orang yang masih tersisa untuk kita jadikan mainan malam ini hihihi hahahahaaaa…….!!!!!".


Salah satu dari mereka membentuk segel tangan lalu melepasnya ke atas, saat energi dari segel tangan itu telah berada cukup tinggi energi dari segel tangan itu meledak membentuk sebuah sinyal dan warna merah terang yang dapat terlihat sampai jarak 100km.


Di tempat pasukan aliansi aliran hitam para Patriark petinggi sekte anggota aliansi bisa melihat sebuah sinyal berwarna merah terang dari arah kota Lingko, melihat sinyal itu para Patriark yang ada di sana tertawa puas dan menatap Patriark Ding yang berada di dekat kursi mewah yang diduduki oleh seseorang yang sangat misterius bagi mereka.


"Kerahkan pasukan untuk memasuki kota Lingko dan menangkap semua yang masih berada di sana, jika ada perempuan tangkap mereka untuk kita nikmati malam ini. Jangan lupa sediakan sepuluh perempuan yang paling cantik dan masih suci untukku dan senior ini, jika ada dari pasukan yang menyentuh mainan kami maka ucapkan selamat tinggal untuk hari esok karena bukan hanya dia yang akan dilenyapkan tapi seluruh sektenya. Mengerti!?".


Para Patriark sekte bergetar ketakutan mendengar nada tajam Patriark Ding membuat mereka hanya bisa mengangguk cepat, Patriark Xu Yi hanya bisa menggeleng melihat ekspresi mereka.


"Lebih baik kalian sendiri yang menyiapkan permintaan saudara Ding, jangan sampai nanti ada pasukan kita yang malah menikmati semua budak kita dan membuat sekte kalian binasa".


"Dimengerti senior!".


Semua Patriark itu segera pergi dari hadapan Patriark Ding Dong untuk melaksanakan perintahnya, mereka tidak berani untuk membantah karena tekanan aura yang dikeluarkan orang yang duduk di kursi mewah yang ada di dekat Patriark Ding Dong.


"Saudara Ding dan juga senior, mari kita memasuki kota Lingko" Patriark Xu Yi mengajak kedua orang itu dengan nada sopan, dia sendiri agak takut dengan orang yang berada di dekat Patriark Ding yang hanya memasang wajah bosan bahkan sejak mereka merancang strategi kemarin.


"Tentu saja saudaraku, ayo kita ke sana" Patriark Xu Yi mengangguk dan memberikan perintah bagi pasukan yang tersisa.


"Maju dan masuk ke kota Lingko!".


"HA!".


Rombongan pasukan aliansi aliran hitam bergerak mendekati kota Lingko, sementara itu jauh di arah barat ada sekelompok besar pasukan yang tengah mengintai mereka.


.


.


.


.