My Journey to Immortality

My Journey to Immortality
Ch 95 - Mencoba Membuka Dunia Jiwa . . . . . . .



Hari demi hari berlalu dengan cepat, tidak terasa Suja dan Lu Yue telah tinggal di Hutan Neraka selama satu tahun, tepat hari ini Suja juga sudah berusia enam belas tahun, selama satu tahun itu Suja selalu memperbanyak bola Mana di dalam tubuhnya yang pada akhirnya berhasil dia perbanyak, saat ini jumlah bola Mana yang dia miliki sekitar 5000 bola Mana, jika diukur itu setara dengan Qi yang dimiliki oleh Cultivator ranah Foundation Realm tahap puncak.


Selain bertambahnya jumlah bola Mana miliknya, kekutan fisiknya juga semakin kuat, hanya dengan kekuatan fisiknya saja dia sudah bisa menghadapi cultivator ranah Foundation Realm tahap awal dengan imbang, namun selama ini dia hanya melakukan latih tanding dengan Demonic Beast maupun Spirit Beast yang setara dengan cultivator ranah Forging Qi tingkat satu sampai lima belas saja, seperti yang dia lakukan saat ini.


DUUUAAAARRRR…..!!!!!


ROOOOAAAAARRRR……!!!!!


Seekor beruang biasa tengah bertarung dengannya, meskipun beruang itu bukanlah termasuk Demonic Beast ataupun Spirit Beast, tapi kekuatan dan ketahanan setara dengan seorang cultivator ranah Forging Qi tingkat 15, selain itu bisa dibilang beruang itu sudah seperempat jalan menjadi entah Demonic Beast atau Spirit Beast.


"Meskipun kau hanya beruang biasa tapi kekuatanmu mengimbangi cultivator Forging Qi, yah setidaknya cukup menjadi teman latihan ku," Suja mengambil kuda-kuda untuk menyerang beruang itu.


"Majulah beruang sialan, mari kita lihat sampai kapan ketahanan tubuhmu bisa bertahan melawanku," seolah mengerti dirinya sedang diejek, beruang itu maju menyerang Suja.


Cakar tajam si beruang mencoba memberikan luka namun berhasil ditahan oleh Suja, saat si beruang akan mundur Suja menggunakan kesempatan itu untuk memberikan sebuah tendangan.


Sebuah tendangan dilepaskan oleh Suja ke arah kepala si beruang, sayang beruang itu telah lebih dulu sedikit menggeser kepalanya sehingga tendangan itu meleset, merasa Suja sudah tidak memiliki momentum, si beruang kembali mencoba mencakar Suja, tapi tidak dia duga Suja sudah mempersiapkan tendangan berikutnya.


BAM..!!!


Tendangan dan cakar bertemu mengakibatkan suara benturan yang keras, setelah suara benturan itu terjadi Suja melangkah mundur dengan ekspresi kesakitan, genangan darah yang cukup banyak muncul di tanah yang berasal dari telapak kaki Suja.


Saat Suja melihat kondisi kakinya dia tercengang begitu lebar saat melihat telapak kakinya terluka begitu dalam akibat tusukan salah satu cakar si beruang, saat dia melihat kondisi beruang itu dia lebih terkejut lagi, ternyata salah satu kaki yang berbenturan dengan kaki Suja telah kehilangan semua cakarnya yang saat ini tergeletak di tanah.


 GRROOOOAAAAARRRRR…..!!!!!


Raungan beruang itu sangat keras sekali, semua burung-burung yang hinggap di pepohonan dekat tempat mereka bertarung terbang karena terkejut, terlihat sekali bagaimana marahnya si beruang melihat salah satu kaki depannya telah kehilangan semua cakarnya.


"Hah? Kau marah karena kehilangan semua kuku jelekmu itu? Hei, memangnya apa bagusnya punya kuku hitam, kotor, melengkung, jelek seperti itu?"


Mata beruang itu berubah menjadi merah, entah dia mengerti atau tidak saat Suja mengejek kukunya, tapi terlihat sekali kalau beruang itu sangat marah karena kehilangan kuku-kuku yang sekarang telah tergeletak di tanah.


"Hah baiklah, karena kau lebih suka dengan kuku jelek milikmu itu, maka akan kuantar kau untuk bertemu mereka beruang besar."


Suja melangkah maju mendekati si beruang, tangan kanannya terkepal dengan sedikit energi yang terlihat berkumpul di sana.


"Mana control : Pukulan Kembar….!!"


Dua kali pukulan dilesatkan oleh Suja pada titik yang sama, kedua pukulan itu dengan telak menghantam tepat di leher di mana sebuah lubang besar tercipta di leher beruang itu yang membuatnya kehilangan nafas.


BRUK….!!!


Suara keras terdengar saat tubuh beruang yang telah mati akibat lubang di lehernya, Suja dengan tenang menyeret tubuh beruang yang beratnya hampir 50 kilogram dengan entengnya, semua itu wajar karena selama setahun dia terus menempa fisiknya dengan pelatihan keras ala pendidikan tentara di sela-sela aktivitasnya meningkatkan jumlah bola Mana yang dia miliki.


.


.


.


"Aku pulang..!!!"


Sesosok perempuan cantik keluar dari dalam rumah, perempuan itu shock saat melihat seekor beruang yang telah mati ditarik dengan entengnya oleh si pemuda 16 tahun di depannya.


"Xiao'er, kau sungguh sangat kuat, jika ada orang dari sekte yang melihat kau membunuh beruang dengan sekali pukul, mungkin mereka akan memaksamu bergabung dengan mereka," Suja menggeleng mendengar itu.


Sepertinya si perempuan cantik yang tidak lain adalah Lu Yue sedikit salah paham, perempua  itu mengira Suja membunuh beruang itu dengan sekali pukuk karena melihat lubang bekas pukulan di leher mayat beruang, jika saja dia tahu kalau beruang itu dibuat sebagai bahan latihan oleh Suja entah bagaimana ekspresinya.


Meskipun Suja membunuh beruang itu dengan dua kali pukul, tapi karena dia memukul di titik yang sama maka hasilnya terlihat seperti bekas sekali pukulan, sepertinya itu yang membuat Lu Yue salah paham da  mengira Suja hanya membunuhnya dengan sekali pukul.


"Sudahlah bibi, aku ingin istirahat dulu, membunuh beruang jelek ini sungguh melelahkan," Suja melangkah memasuki rumah tanpa mempedulikan Lu Yue yang menatapnya heran.


.


.


.


.


.


Di kamarnya Suja tengah mencoba membuka kembali dunia jiwa miliknya, selama setahun ini dia sudah berusaha sangat keras untuk mencoba membuka akses yang mengunci dunia jiwa miliknya namun terus saja gagal, saat ini dia ingin mencobanya lagi karena dia telah memiliki 5000 bola Mana, dengan jumlah sebanyak itu ada kemungkinan dia akan mampu membuka akses yang menutup dunia jiwa miliknya.


"Semoga saja dengan lima ribu bola Mana ini aku bisa membuka dunia jiwa milikku, jika aku bisa membukanya maka sudah tidak ada alasan lagi untuk bersembunyi di dalam Hutan Neraka ini," dengan tekad itu di mulai duduk bermeditasi.


Setelah merasa nyaman, Suja mulai memasukkan kesadarannya ke dalam jantungnya atau jiwa miliknya, di dalam jiwanya itulah tempat bola-bola Mana miliknya berada, sebenarnya terdapat dua penyimpanan bola Mana yang dia miliki, satu adalah di pusarnya yang mana di sana terdapat dua ribu bola Mana berwarna merah, sementara yang di jiwanya berwarna putih.


Perbedaan keduanya adalah bola Mana yang ada di pusarnya adalah Mana tubuh, sementara yang di jiwanya adalah Mana jiwa, Mana jiwa lebih kuat dari mana tubuh, sementara mana tubuh lebih lemah lagi dari Mana alam.


Sederhananya Mana miliknya adalah bentuk yang lebih murni dari Qi, karena saat Qi memasuki tubuh perlu melewati Meridian dan diolah di sana, sementara Mana hanya memasuki tubuhnya tanpa perlu diolah lagi karena sudah murni sejak awal.


Mana tubuh dua kali lebih kuat dari Qi, Mana alam empat kali lipat lebih kuat, dan Mana jiwa seratus kali lipat lebih kuat lagi.


Jika dia melawan cultivator ranah Nascent Soul Mid-stage dengan mana tubuh mungkin dia tidak akan bisa bertahan, melawan menggunakan Mana alam hanya bisa bertahan, melawan dengan Mana jiwa sudah bisa dipastikan dia akan bisa menang bahkan jika lawannya berada di ranah Nascent Great Soul Late-stage sekalipun.


.


.


.


.


.


.


.


.