
Setelah melenyapkan Xu Ying, Suja sudah tidak memiliki nafsu makan lagi sehingga dia mendatangi cabang Asosiasi Batik Biru yang ada di sana dan memberikan persediaan sumber daya yang akan dipasarkan oleh cabang Asosiasi miliknya.
Pengelola Asosiasi cabang kota Lingko terkejut saat melihat tanda pengenal khusus yang ditunjukkan oleh Suja, tanda pengenal itu berupa sebuah plakat berwarna emas dengan tambahan warna biru dan memiliki hiasan berbentuk ukiran kain batik di tengahnya.
Plakat itu adalah plakat khusus yang hanya dimiliki oleh pemilik tunggal Asosiasi, semua pengurus Asosiasi cabang manapun pastinya mengenal plakat itu karena mereka diperlihatkan salinannya saat mereka dilatih untuk mengurus setiap cabang Asosiasi.
Setelah menyelesaikan urusannya di Asosiasi cabang Suja kembali melanjutkan perjalanan menuju kuil utama Light Thunder Temple yang berada di Kekaisaran Lin, setelah melewati perbatasan Suja disuguhi pemandangan hutan hijau yang segar membuatnya merasa nyaman.
Setelah berkendara selama dua hari dia singgah di salah satu kota yang terdekat dari perbatasan, kota itu bernama kota Api dan merupakan salah satu kota yang berada di bawah kekuasaan Sekte Api Abadi salah satu sekte bintang delapan yang bermarkas di dekat perbatasan ketiga Kekaisaran.
"Hei, kau dengar kabar yang beredar beberapa hari belakangan ini?".
"Kabar apa?".
"Katanya Menara Harta Giok akan mengadakan lelang, banyak orang yang mengatakan akan ada banyak sumber daya dan barang-barang berharga lainnya yang akan di lelang di sana".
"Benarkah? Wah ini tidak boleh dilewatkan!".
Suja tampaknya tertarik dengan pembicaraan dua orang pemuda berpakaian hitam dengan ukiran api menyala di dekatnya, saat ini dia tengah berada di dalam salah satu bar yang ada di kota Api.
"Boleh saya duduk di sini?" Kedua pemuda tadi menatap Suja yang berdiri di samping mereka, saat mereka tidak bisa membaca tingkat praktik Suja mereka segera merubah sikap.
"Tentu senior, silahkan duduk".
Suja tersenyum dan memanggil pelayan, kedua pemuda tadi duduk kembali dengan perasaan canggung dan ketakutan karena merasa salah bicara.
"Kalian tenang saja, aku hanya ingin bertanya beberapa hal".
"Maaf senior, kalau kami boleh tau apa yang senior ingin tanyakan?".
"Aku ingin informasi tentang lelang yang kalian bicarakan tadi".
Kedua pemuda itu saling pandang, mereka merasa ragu sejenak tapi kemudian memilih memberikan informasi yang diinginkan oleh Suja.
"Ehhmm, jika senior menanyakan tentang pelelangan senior bisa mengikuti lelang yang akan diadakan Menara Harta Giok yang akan diadakan lusa.
Di sana mereka melelang banyak barang-barang berharga untuk cultivator, senior bisa melihat banyak senjata-senjata dari Mortal Mid-tier sampai Heaven-tier sesuai dengan keinginan senior. Selain senjata, mereka juga melelang pil dan berbagai sumber daya lainnya.
Mungkin jika di Kekaisaran Han Asosiasi Batik Biru adalah pemasok utama sumber daya, tapi di Kekaisaran Lin ini Menara Harta Giok adalah tempat banyak sumber daya dan barang berharga lainnya yang bisa ditemukan" Suja mengangguk-angguk mengerti.
"Lalu di mana aku bisa mendaftar jika ingin mengikuti lelang ini?".
"Senior bisa mendaftar di cabang Menara Harta Giok yang ada di kota ini, kebetulan lelangnya akan diadakan di sini. Cabang Menara Harta Giok sendiri berada gedung persatuan Alchemist yang ada di tengah kota dekat dengan kediaman Walikota, di sana senior setidaknya harus menjual sesuatu jika ingin mendapatkan tempat khusus".
"Hmm, sepertinya bagus juga. Terima kasih informasinya, dan ini untuk kalian".
Setelah memberikan sekantung bayaran Suja meninggalkan mereka berdua dan keluar untuk mencari gedung Persatuan Alchemist yang di maksud, dia tidak melihat ekspresi kedua pemuda yang tercengang melihat sekantong Spirit Stone Mid-grade yang mereka dapatkan.
"Astaga! Entah aku harus bersujud atau menangis, senior itu memberikan Spirit Stone Mid-grade seperti membuang batu. Dengan ini, kita mungkin bisa mendapatkan senjata yang kita inginkan" kedua pemuda itu dengan cepat menyimpan Spirit Stone yang mereka dapatkan dengan wajah berseri-seri.
Suja berkeliling mencari gedung Persatuan Alchemist, beberapa saat kemudian dia menemukan gedung itu yang ternyata letaknya memang berdekatan dengan kediaman Walikota dan juga salah satu restoran yang pernah dia masuki yaitu Blue Scale Restaurant.
"Ada urusan apa?!" Seorang penjaga pintu menghalanginya saat dia akan memasuki gedung itu.
"Dari informasi yang kudapat katanya di sini aku bisa mendapatkan kartu atau apalah untuk mengikuti lelang Menara Harta Giok, apa itu benar?".
"Benar, jika ingin mengikuti lelang bisa mendapatkan kartu peserta untuk kursi biasa di sini. Jika tuan muda ini ingin mendapatkan ruangan khusus, setidaknya tuan muda harus melelang sesuatu yang cukup berharga".
Suja berpikir sejenak, selama dia mencari barang apa yang akan dia lelang penjaga itu terus menatapnya curiga.
"Baiklah, aku akan melelang sebuah pedang. Di mana aku bisa melelangnya?".
"Jika tuan muda ingin melelang sebuah pedang, pedang itu harus dinilai terlebih dahulu oleh kepala penilai. Silahkan ikuti saya tuan muda, saya akan mengantar anda ke tempat kepala penilai" Suja hanya mengangguk dan penjaga itu membawanya ke dalam gedung Persatuan Alchemist.
Saat mereka masuk Suja melihat interior gedung itu dengan pandangan kagum, interiornya benar-benar mewah menandakan mereka adalah persatuan Alchemist yang memiliki harta yang sangat besar.
Selain sebagai gedung Alchemist, ternyata gedung itu juga berguna sebagai tempat mereka menjual berbagai macam pil yang dihasilkan oleh Alchemist-Alchemist anggota mereka.
Gedung itu sendiri sangat besar dan memanjang ke belakang, di setiap ruangan yang bisa dilihat bagian dalamnya terlihat benda-benda yang dibuat dari emas dan giok putih yang begitu berharga dan ada yang membuat Suja tertarik tapi tidak bisa memilikinya.
Setelah berjalan beberapa lama dan naik ke lantai lima, Suja melihat penjaga itu berhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan 'Baiyi'.
TOK TOK TOK!!!
"MASUK!".
Penjaga itu masuk dan meminta Suja untuk mengikutinya, di dalam terlihat seorang pria paruh baya yang wajahnya seperti orang berusia 50-an tengah duduk sembari menyesap segelas teh.
"Maaf mengganggu Ketua Baiyi, saya mengantar tuan muda ini yang latanya dia ingin melelang pedang" Ketua Baiyi mengangguk lelan kemudian menyuruh si penjaga pergi meninggalkan mereka.
"Silahkan duduk tuan muda, anda mau teh atau kopi?".
"Kopi kalau ada".
"Baiklah, sebentar".
Sebuah benda menarik perhatian Suja saat dia duduk, benda itu adalah benda yang biasa digunakan untuk merokok bagi orang-orang di dunianya dulu.
"Hmm? Apa di dunia ini ada tembakau?".
"Tembakau? Oh mungkin maksud tuan muda Daun Lima Ruas yang sudah dikeringkan, biasanya daun itu digunakan untuk menenangkan pikiran dengan cara dihisap karena daun itu sangat berkhasiat sekali untuk menenangkan pikiran jika sedang pusing" Suja terkejut mendengar perkataan Ketua Baiyi, sepertinya dia mendengar gumaman Suja meskipun dia bergumam dengan suara kecil.
Ketua Baiyi sendiri perawakannya sangat bugar dan tidak seperti orang tua, tingginya 170 cm dan memiliki rambut yang sudah sedikit memutih. Satu hal yang sangat mengejutkan untuk Suja, ternyata Ketua Baiyi memiliki pencapaian kultivasi di ranah Nascent Soul Late-stage yang mana sangat sulit dilihat bila itu di tempat biasa.
"Silahkan diminum, setelah itu kita membahas bisnis".
Suja melirik cangkir yang berisi cairan kecoklatan, dengan rasa penasaran dia menyesap isi cangkir itu.
"Hmm, teh yang enak dan bagus. Rasanya aku mendapatkan inspirasi, teh yang anda punya benar-benar luar biasa!" Ketua Baiyi hanya bisa tersenyum.
.
.
.
.