
.
.
Note : Chapter ini adalah chapter khusus yang saya buat karena kepala saya agak pusing memikirkan alur pertempuran yang tengah saya buat.
So, enjoy read teman-teman.
Saat ini rombongan Suja telah seperempat jalan lagi sebelum mencapai Ibukota kekaisaran Lin yakni kota Bangau Putih, saat Suja akan menyalakan mesin setelah mereka selesai menyantap makan siang berupa sup jamur lima akar salah satu tanaman herbal yang ada di ruang dimensi pagoda miliknya.
"Kenapa ini? Kok mesinnya nggak nyala-nyala sih?" Gerutuan Suja terdengar membuat semua penumpangnya menoleh, Liuyun yang sejak kemarin selalu melamun juga ikit menoleh dan melihat speedometer minibus yang mereka gunakan telah berada di tanda merah.
"Bahan bakarnya habis, apa kamu masih punya bahan bakar?" Suja menoleh menatap Liuyun sebelum mengalihkan pandangannya pada speedometer yang ternyata memang penunjuk bahan bakarnya telah berada di tanda merah.
"Ah ternyata begitu, pantes na ndek mele nyala mesin benuk ye buek bensin…....!!!!!! (Pantas saja mesinnya tidak mau nyala ternyata bensinnya habis…….!!!!!)" Gerutuan Suja yang menggunakan bahasa yang aneh membuat kelima biksu menatapnya heran, lain dengan Liuyun yang menatap Suja dengan tatapan yang terlihat mengandung pertanyaan.
"Lah anta ngumbe ndek mele merhatiang minyak na angkak? Muna arak bensin simpenan mek jelapan isik a!".
Mendengar Liuyun menggunakan bahasa yang sama dengannya membuat Suja menatapnya penasaran namun memilih untuk menanyakannya nanti dan mengisi bahan bakar kendaraan mereka, Liuyun tentu sadar dengan apa yang dirasakan oleh Suja karena dia sengaja melakukannya untuk melihat ekspresi Suja.
Saat melihat Suja terlihat penasaran dengan bagaimana dia menggunakan bahasa sasak membuat Liuyun semakin yakin dengan dugaannya bahwa Suja adalah reinkarnasi dari dunia yang sama dengannya, dugaannya bukan tidak berdasar karena dia sudah penasaran dengan sosok Suja yang pernah membentaknya di kota Xudong beberapa waktu lalu dan sempat menggunakan bahasa sasak seperti beberapa saat lalu.
"Se-senior, mohon maaf tapi kenapa kita belum berangkat?" Salah satu biksu dengan kekuatan Nascent Soul yang bersama dengan mereka dengan takut-takut bertanya pada Liuyun karena dia menyadari identitas Liuyun yang luar biasa.
"Hmm? Kalian tenang saja, sebentar lagi kita akan berangkat. Saat ini Suja sedang mengisi bensin kendaraan ini, tunggu saja sebentar lagi" biksu itu mengangguk dan merasa lega karena dia mendapat respon baik dari Liuyun yang entah mengapa begitu menakutkan dan membuatnya merasa segan sejak mereka bertemu tiga hari yang lalu di kota Api setelah mereka keluar dari gedung Persatuan Alchemist.
Liuyun menatap Suja yang tengah mengisi bensin sembari bernyanyi membuatnya merasa penasaran dan memutuskan untuk keluar dari kabin dalam kendaraan, saat Liuyun keluar dari kendaraan para biksu yang ada di bagian kabin belakang serempak membuang nafas lega.
"Guru, senior perempuan itu sangat menakutkan" salah satu junior Wu Dao tiba-tiba membuka suara membuat dua biksu yang menjaga mereka dan juga Wu Dao melotot menatap mereka yang terlihat ketakutan.
"Diam! Jangan sampai kalian mengatakan hal seperti itu lagi! Ingatlah senior itu adalah salah satu orang terkuat nomor satu di Benua ini! Dia adalah murid pertama sekaligus anak angkat pertama kakek guru kalian, jangan pernah kalian mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya tersinggung! Mengerti!?" Dua biksu junior itu mengangguk serempak dengan wajah takut, Wu Dao hanya bisa menggeleng-geleng menatap kedua juniornya itu.
"Guru, kalau boleh kami tahu siapa kakek guru yang kalian maksud?" Wu Dao membuka suara dengan pertanyaan.
"Kalian tahu tentang Ring Staff bukan?" Ketiga biksu muda mengangguk.
"Kalian tahu siapa yang memberikan harta berharga itu pada kuil kita?" Ketiganya menggeleng pelan.
"Yang memberikan harta itu adalah paman guru Cruelest Immortal, dari gulungan sejarah di perpustakaan kuil dijelaskan bahwa Mahaguru yang dulu tepatnya Mahaguru Wu Xiun yang menjabat lima generasi sebelum senior Mahaguru Wu Yun mendapat Ring Staff dari paman guru Cruelest Immortal atas hal yang masih dirahasiakan.
Paman guru Cruelest Immortal sendiri seperti yang sudah kalian pelajari dari semua yang diceritakan guru kalian yang lainnya berasal dari dunia lain, dunia tempatnya berasal diyakini merupakan dunia cultivator yang ratusan kali lipat jauh lebih kuat dari pada dunia kita ini.
Dan juga guru pernah membaca salah satu gulungan tua, disana dijelaskan paman guru Cruelest Immortal mendatangi dan tinggal di dunia ini karena mendapatkan tugas dari sosok yang menguasai semua dunia di alam semesta ini.
Jika kalian ingin tahu lebih banyak maka pelajarilah semua gulungan sejarah di perpustakaan kuil, terutama kamu yang tidak pernah mau belajar!".
Oke kita kembali ke Liuyun.
Liuyun bersandar di dekat Suja sembari memperhatikan pemuda itu mengisi ulang bahan bakar kendaraan mereka, dalam hati dia bertanya-tanya dan juga memiliki harapan Suja adalah reinkarnasi seseorang di masa lalunya.
Suja sendiri merasa risih diperhatikan oleh Liuyun yang kadang-kadang akan memelototinya terutama jika dia bergumam dengan bahasa tempat asalnya, jika Liuyun penasaran akan asal-usulnya maka Suja penasaran kenapa Liuyun selalu memperhatikannya dan kadang-kadang dia memelototinya beberapa kali terutama saat dia memasak menggunakan kompor surya.
"Nee Suja, pire taon umur mek? (Berapa tahun umurmu?)".
"Hmm? Sepulu taon (Sepuluh tahun)".
"Wah anta muni anta ini mantan Letkol Paspampres kan? (Pernah kamu berkata kamu ini mantan Letkol Paspampres kan?)".
Suja mengangguk pelan meskipun heran kenapa Liuyun menanyakan hal itu " memangnya kenapa? Apa ada sesuatu yang membuatmu penasaran?".
"Hmm? Endek, leguk bedeang eku cerite sik ngisahang prajurit Paspampres si mate le gedung PBB. Mun dek na salak le New York kan aran na? (Tidak, tapi aku punya cerita yang mengisahkan kematian prajurit Paspampres di gedung PBB. Kalo tidak salah di New York kan namanya?)".
"Apa cerite na? (Apa ceritanya?)".
Liuyun menatap Suja dengan pandangan yang entah mengapa bisa Suja lihat kalau dalam tatapannya itu ada sedikit harapan dan juga kerinduan, entah apa yang diharapkan oleh Liuyun dan juga siapa atau apa yang dia rindukan dalam tatapannya itu membuat Suja penasaran dan juga sedikit terganggu.
"Nee dengan nine menyebalkan! Badak eku sei si kangenang bi! Kemu ine calon seninekku! Ndek bi bou nginget dengan lein kecuali mun bi mele mbatalang nikahan ta! (Nee perempuan menyebalkan! Katakan padaku siapa yang kamu rindukan! Kamu ini calon istriku! Kamu tidak bisa merindukan orang lain kecuali kamu ingin membatalkan pernikahan kita!)".
TAK!.
"ADDOOOWWHH…..!!!! APA SALAK KU!? (APA SALAHKU!?".
Liuyun menatap Suja kesal, sementara Suja juga menatapnya tak kalah kesal karena dipukul tiba-tiba.
.
.
.
.
Note : kalo ada yang salah tolong bantu koreksi, dan juga bagi readers yang mungkin bertanya tentang bhs daerah yang sering saya masukkan.
Bahasa daerah yang saya masukkan di chapter ini dan juga satu atau dua chapter sebelumnya adalah bahasa Sasak Lombok, saya menggunakan bahasa sasak dengan aksen atau logat lombok timur tepatnya logat orang kerumut kecamatan pringgabaya.
Ini hanya pemberitahuan, jadi tidak perlu diingat kalau tidak mau hehehhee…...