My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Ekstra Bab 2



Cup!


Terdengar sebuah kecupan di bibir Evelyn yang tiba-tiba terjadi, saat gadis berusia tujuh belas tahun itu terjatuh akibat tubrukan dari seorang laki-laki, yang entah dari mana datangnya.


Sedetik, dua detik hingga lima detik lamanya, kedua orang berlainan jenis itu terdiam mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Hanya dua pasang mata yang saling terbuka lebar, melotot, karena terkaget.


Saat terdengar teriakan dari seorang gadis, "Ziellll??!!" dengan derap langkah kaki terburu-buru setengah berlari, menghampiri keduanya yang masih belum tersadar.


Posisi yang sebelumnya, si gadis terbaring di lantai dengan tertindih sosok lelaki di atasnya, setelah mendengar teriakan dari seorang gadis lain, langsung membuat kesadaran keduanya kembali pulih.


Sang lelaki langsung terbangun dibantu dorongan yang sangat kuat dari gadis di bawahnya.


"Hei! Ziel? Maksud lo apa? Main sosor seenaknya aja!" Evelyn berkata dengan menggebu-gebu sambil mengelap bibir yang sebelumnya bersentuhan dengan bibir si lelaki bernama Ziel, yang merupakan teman sekolahnya.


"Sory, Eve, gua enggak sengaja!" jawab Ziel, nampak cuek.


"Bohong banget lo! Enggak mungkin banget. Lo pasti sengaja." Evelyn masih terlihat kesal. Bagaimana tidak, kejadian yang terjadi di lorong sekolah itu, merupakan hal yang memalukan karena disaksikan oleh banyak murid yang saat itu tengah duduk santai di pinggir lorong.


"Ziel!!" teriak seorang gadis bernama Danish. "Kamu tega banget sih sama aku! Ngapain kamu cium cewek bar-bar ini?" teriak Danish sambil jarinya yang menunjuk wajah Evelyn.


"Hei! Cewek ganjen, maksud lo apa'an?" Evelyn membalas ucapan Danish dengan sama kerasnya.


"Apa lo bilang? Ganjen? Lo tuh yang bar-bar, jadi cewek kok enggak ada manis-manisnya!"


"Eh, suka-suka gua yah! Apa pedulinya sama hidup lo?" balas Evelyn tak mau kalah.


Evelyn seorang gadis cantik, sebenarnya, hanya karena penampilannya yang sedikit tomboy, membuat ia tidak terlihat sebagai seorang gadis yang cantik dan berkelas, meski sebetulnya dia adalah seorang putri dari pengusaha terkenal bernama Dirga Narendra dan Amelia Sarawijaya.


"Ziel, kamu ngapain lari dari aku sih? Jadinya 'kan kamu harus malu gara-gara cewek ini!" ucap Danish sambil mata yang melotot ke arah Evelyn.


"Eh, Ganjen! Kalo mau juga gua yang malu tahu enggak! Makanya kalo punya cowok dijagain yang bener, jangan sampai kabur, kalo bisa lo ikat pakai tali!" Cerocos Evelyn yang masih emosi. "Sial banget gue hari ini, mesti buru-buru ke dokter deh, biar bibir gue enggak kena virus!" serunya menatap tajam Ziel.


"Eh, cewek bar-bar, sembarangan aja lo ngomong. Emang gua penyakit yang nyebarin virus!" Kini Ziel balik menatap tajam Evelyn.


Keduanya saling berhadapan dengan mata yang sama-sama menatap tajam. Bukan cerita baru bagi seluruh penghuni sekolah Budi Bangsa, melihat pertengkaran yang terjadi antara Evelyn si gadis tomboy dan Ziel si lelaki playboy. Kejadian ribut antara keduanya sudah terjadi sejak awal mereka masuk sekolah.


Saat itu, Ziel yang tengah bermain basket bersama kawan-kawan barunya, berniat mengoper bola ke arah temannya, tapi tanpa sengaja malah meleset dan terlempar keluar lapangan. Bisa ditebak, saat itu ada Evelyn dan Dita --kawan barunya-- yang tengah berjalan di sisi lapangan hendak menuju kantin.


Tak ayal sang gadis jatuh terjerembab akibat hantaman bola yang lumayan keras mengenai kepalanya. Ziel yang menyadari kesalahannya, langsung menghampiri Evelyn. Berusaha membangunkannya, namun ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.


"Maaf yah, aku enggak sengaja. Kamu enggak apa-apa 'kan?" ucap Ziel meminta maaf.


"Enggak apa-apa gimana, kepala aku bocor nih!" seru Evelyn yang Ziel tahu itu sangat berlebihan. Sebenarnya kepalanya tidak terlalu sakit, tapi rasa malu yang membelenggu dirinya sebab jadi bahan tontonan murid yang lain, membuat ia kesal kepada Ziel.


"Eh, jangan berlebihan dong. Aku lihat kamu enggak apa-apa kok. Ini bola, Non, bukan batu. Masa bisa bikin kepala bocor. Aneh-aneh aja!" sahut Ziel yang mulai terlihat emosi.


"Kalo ada apa-apa sama organ dalam kepala aku gimana? Lemparan bola kamu bikin aku terjungkal tadi."


"Iya, aku tahu. 'Kan aku udah minta maaf. Aku enggak sengaja. Lagian kamu ngapain ada di sini coba."


"Loh, kok kamu jadi terkesan nyalahin aku. Jelas-jelas aku yang jadi korban di sini, tapi malah dibikin jadi tersangka."


"Siapa yang nyalahin kamu?'


" Lah itu tadi, kamu sendiri yang bilang. Dasar orang yang aneh. Pokoknya aku enggak mau tahu, kalo ada apa-apa sama kepala aku, kamu akan aku cari meski pun kamu sembunyi sampai lubang semut sekali pun."


"Sorry yah, aku enggak akan sembunyi tuh. Tenang aja, kalo ada apa-apa sama kepala kamu, aku akan tanggung jawab."


Sejak saat itulah, Evelyn dan Ziel seperti kucing dan anjing. Keduanya kerap kali bertengkar jika terjadi gesekan. Padahal keduanya berbeda kelas, tapi setiap harinya ada saja yang terjadi yang menyebabkan si bar-bar dan si playboy bertengkar.


Seperti siang itu. Keduanya yang tengah menanti penyerahan ijazah sekolah, harus kembali bertengkar akibat kejadian yang sebetulnya romantis bagi orang yang sedang jatuh cinta, tapi sayangnya hal itu tidak berlaku bagi Evelyn dan juga Ziel.


Ya, Evelyn dan Ziel sudah dinyatakan lulus sebagai murid SMA, dan kini mereka diharuskan datang ke sekolah untuk mengambil ijazah dan berkas administrasi sekolah lainnya.


Evelyn yang saat itu hendak menuju ruang kelasnya, tiba-tiba ditubruk oleh Ziel, yang sedang lari dari kejaran Danish, teman sekelasnya yang sejak dulu memang menyukai dirinya, tapi tak kunjung mendapatkan cinta sang playboy. Akibat tubrukan itu, Evelyn terjatuh ke lantai sekolah dan tertindih oleh Ziel. Selain itu, tubrukan yang sangat kuat dari Ziel, menyebabkan bibir keduanya harus beradu.


"Gua tadinya udah baik-baik yah minta maaf sama lo, tapi respon lo kaya gini, gua cabut deh kata maaf gua." Ziel pergi meninggalkan Evelyn yang terbengong dan juga Danish yang sedari tadi ia cueki.


"Cowok sialan! Playboy cap cicak! Awas lo yah!" Evelyn terus mengumpat di tengah senyuman para murid yang sedari awal menyaksikan pertunjukan seru dan gratis yang ada di depan mereka.


***


"Apa!" pekik Evelyn pada kedua orangtuanya.


Dirga dan Amelia, menutup daun telinga masing-masing, saat mendengar suara kencang dari sang putri. Keduanya sudah siap dengan reaksi yang akan putrinya berikan ketika mengutarakan suatu berita yang mereka anggap penting.


"Mom!" lirih suara Evelyn kepada ibunya.


Sejak kecil gadis itu memang memanggil Amelia dengan panggilan Momy. Hal itu bermula ketika ia memiliki tetangga masa kecil yang berkewarganegaraan Inggris bernama William.


Teman kecilnya itu, memanggil ibunya dengan sebutan Momy. Dari situlah, Evelyn mengikuti William memanggil dengan panggilan yang sama terhadap Amelia.


"Dad!" Kini ia beralih pada sang ayah.


"Hem!" jawaban singkat yang Dirga berikan.


"Are you serious?" tanya Evelyn pada Dirga.


"Ya, Ayah serius!" jawabnya mantap.


"Dad, aku ini masih tujuh belas tahun. Masih panjang cita-cita yang aku impikan supaya bisa terwujud. Masa aku udah mau dinikahin. Yang bener aja dong. Apa putri Daddy ini enggak cantik dan enggak akan laku nanti?"


"Siapa bilang kamu enggak cantik! Kamu cantik kok, cantik banget malah."


"Ya, makanya kalo emang Daddy enggak ragu dengan wajah aku, kenapa Daddy seolah ragu kalo nanti aku enggak akan dapat jodoh tanpa harus kalian jodohkan kaya gini!"


"Justru karena kamu ini cantik dan sebagai orang tuamu, kamu ini adalah gadis yang istimewa, makanya kami berniat menikahkan dengan seorang lelaki baik yang kami kenal keluarganya."


"Tapi, Dad. Aku masih tujuh belas tahun. Masa aku menikah muda. Lagian juga aku enggak kenal siapa lelaki itu. Apakah buruk rupa atau bagaimana!" Sekali lagi ia menegaskan.


"Dia lelaki baik dan juga tampan!" sahut sang bunda.


"Momy, enggak usah ikutan deh. Momy ini aneh, sama-sama perempuan tapi kok enggak memahami aku sebagai putrinya," ucap Evelyn seperti akan menangis, dan dibalas oleh sang bunda dengan mengangkat kedua bahunya.


"Enggak usah pura-pura, Eve. Kamu itu bukan gadis yang cengeng, Ayah tahu itu. Lagian juga kalian enggak harus menikah sekarang-sekarang kok, perkenalan dulu. Kalo udah cocok dan cukup mengenal, baru kalian kami nikahkan."


"Sial!" gumamnya. Rencananya tidak berhasil. "Ok, kalo begitu apakah aku boleh tahu siapa lelaki itu?"


***


"Apa sama cewek bar-bar itu? Aku enggak mau!" teriak Ziel pada kedua orang tua dan kakeknya.


"Kamu jangan sembarangan, Ziel! Evelyn itu gadis baik-baik. Dia cucu dari Harsa Narendra, seorang pengusaha yang sangat baik dan dermawan, dan beliau adalah sahabat kakek sejak dulu," ucap Pak Rifki --kakek Ziel.


"Kakek dan keluarga Evelyn mungkin kalian kenal dengan baik, tapi cewek itu, kalian belum tahu saja sifat dan sikap aslinya." Kalimat Ziel nampak sekali kesal.


"Apakah kamu pernah memiliki masalah dengannya, Nak?" tanya Bu Sita --ibunya Ziel.


"Bukan pernah lagi, tapi hampir setiap hari," kesal lelaki itu menatap sang ibu.


"Ya bagus dong, itu lebih memudahkan perkenalan kalian, karena kalian berdua sudah saling mengenal satu sama lain!"


"What? Kakek ini kenapa sih, kok ngotot banget ngejodohin Ziel sama cewek tomboy itu!"


"Pokoknya kamu enggak bisa nolak perjodohan ini. Sudah lama kakek dan kakeknya Evelyn berencana menjodohkan putra atau putri kami. Namun, takdir Tuhan berkata lain, perjodohan ini terlaksana melalui cucu kami masing-masing."


"Enggak tahu ah, pokoknya Ziel tetap pada pendirian awal. Ziel tidak mau dijodohkan terlebih dengan seorang cewek bar-bar itu." Setelah berbicara kalimat terakhir itu, Ziel pergi meninggalkan keluarganya menuju kamar.


"Biarkan saja, nanti juga dia bakalan mau, percaya sama Bapak." Pak Rifki berkata pada sang menantu --ibu Ziel-- yang terlihat khawatir.


***


Hai reader, suka kah dengan akhir dari cerita Amelia dan Dirga?


Bab ini aku kasih epilog untuk kalian.


"Thor, kok ceritanya nanggung?"


"Thor, ada lanjutannya enggak?"


Pasti pertanyaan kalian seperti itu 'kan.


Jawabannya, ada lanjutannya atau enggak, aku sendiri belum tahu.


Terus ceritanya kenapa nanggung, karena aku suka aja pas nemu ide nulis epilog itu. Jadi, ya...begitulah hasilnya.


Dan Semoga kalian suka!


😍😍🤗🤗


***