My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Telepon tiba-tiba Aron



[Kamu sudah berangkat?]


Isi pesan dari nomor Dirga ke ponsel Amelia.


[Baru sampe kantor.]


Setelah membalas pesan dari kekasihnya itu, ia mulai berkutat dengan pekerjaannya yang sudah siap ia eksekusi.


Hari ini Dirga mulai dinas ke luar kota. Baru pertama kalinya sejak mereka berpacaran, Dirga meninggalkan kekasihnya itu untuk urusan pekerjaan.


"Mel, nanti tolong kamu lanjutin laporan yang minggu lalu aku kasih yah?" kata Mesi pada Amelia.


"Ah iya, ini lagi aku kerjain kok," ucap Amelia tersenyum.


"Ok deh. Nanti kalo udah, kasih tahu aku yah, Mel?"


"Siap!" jawab Amelia dengan kedua mata yang kembali fokus ke depan layar komputer.


Amelia menjalani hari tanpa Dirga dengan hati bahagia. Pasalnya, meski kekasihnya itu tidak berada dekat dengannya, namun tak sedetik pun Dirga lupa akan status dirinya yang telah memiliki kekasih.


Setiap ada waktu senggangnya ketika rapat bersama para klien itu, Dirga pasti menyempatkan untuk mengirim pesan pada Amelia. Ya, hanya pesan bukan telepon. Dirga tahu diri, di mana kekasihnya itu tidak ingin diganggu bila masih berada di jam kerja.


"Kamu sudah makan?" tanya Amelia pada Dirga melalui sambungan telepon ketika ia sedang istirahat di mejanya.


Siang itu ia sengaja membawa bekal dari rumah, karena ia sudah merencanakan akan makan di mejanya saja, biar bisa mengobrol dengan Dirga tanpa ada teman-temannya yang tahu.


[Baru saja akan. Kamu sendiri? bukankah ini sudah jam makan siang di kantor.]


"Ini aku sedang makan."


[Oh .... Rupanya kamu sudah siap hubungan kita diketahui oleh yang lain?]


"Kenapa kamu bicara begitu?"


[Kamu sedang makan siang tapi sambil bicara denganku di telepon, apakah tidak akan ada yang bertanya kamu sedang bicara dengan siapa?]


"Tadi pagi aku sengaja bawa bekal dari rumah. Jadi sekarang aku sedang makan di mejaku sendiri dan tidak ada orang yang lihat aku sedang menelepon siapa."


[Wah, sudah kamu rencanakan sepertinya?] terdengar tawa dari seberang suara.


"Kenapa kamu tertawa?"


[Tidak ada. Aku hanya merasa kekasihku ini sangat pandai.]


"Terimakasih."


[Ya sudah, kamu lanjutkan lagi makan siangnya. Aku akan telepon kamu lagi nanti.]


"Iya, baiklah."


Amelia menaruh kembali ponsel itu ke dalam tasnya. Namun, baru saja akan melanjutkan makan, ponsel itu kembali berdering.


"Ada apa lagi?" gumam Amelia yang menyangka bahwa kekasihnya --Dirga-- kembali menelepon.


"Nomor siapa ini?" tanya Amelia pada dirinya sendiri, ketika nomor yang tercantum di layar ponselnya itu tidak ada namanya.


Ingin ia mengabaikan, namun rasa penasaran di hatinya tiba-tiba muncul.


"Hallo!" akhirnya ia memutuskan untuk menjawab panggilan itu.


[Hallo, Amelia.]


"Eh, kenapa pria ini tahu namaku?" gumam Amelia.


"Maaf, ini siapa yah?"


[Amelia, kamu sudah lupa dengan suaraku?]


Amelia mengernyitkan dahinya. Ia berusaha mengingat suara yang saat ini didengar.


[Hei, kamu benar-benar sudah lupa, Mel?]


Kenapa orang ini seperti pernah akrab denganku. Amelia.


Tunggu! ini sepertinya suara pria itu. Pria yang telah melakukan hal yang tidak baik padanya waktu itu.


"Aron!"


[Syukur ternyata kamu masih inget denganku, Mel.]


"Ada perlu apa kamu nelepon aku, Aron?" Nada suara gadis itu telah berubah. Masih ada rasa kesal di hatinya pada pria yang saat ini tiba-tiba meneleponnya.


[Ayolah, Mel. Aku 'kan sudah minta maaf sama kamu. Dan aku juga sudah mengikuti permintaan kamu kemarin untuk tidak bertemu. Saat ini aku hanya ingin menelepon kamu saja. Sudah lama kita tidak mengobrol.]


Amelia tidak menjawab. Sejujurnya ia malas bicara dengan Aron. Perbuatannya sungguh membuat ia jadi membencinya.


[Mel, kami masih di situ?]


"Hem."


[Mel, gimana kabar kamu?]


"Baik."


"Kamu tahu darimana?"


[Ada deh. Nggak penting 'kan, Mel, aku tahu dari mana.]


"Penting buat aku, karena tidak banyak orang yang tahu aku bekerja di mana sekarang. Lagipula kenapa orang itu harus kasih tahu kamu tempat kerja aku."


[Mel, jangan selalu menyalahkan orang. Aku tahu bukan dari orang lain, tapi aku tahu sendiri. Minggu lalu aku lihat kamu keluar dari PT GeHa pada saat jam bubar kantor.]


Amelia bergeming. Ia tak berniat sama sekali untuk mengobrol lebih jauh dengan Aron.


[Mel, kamu pulang jam berapa hari ini?]


"Kenapa kamu menanyakan jam aku pulang kantor?"


[Barangkali kita bisa ketemuan dan bisa ngobrol lagi kaya dulu.]


"Aron dengar yah, permintaan aku agar kita tidak pernah bertemu lagi, itu masih berlaku sampe sekarang."


[Mel, apa kesalahan aku benar-benar tidak bisa kamu maafkan?]


"Aku sudah bilang, kalo kamu ingin aku maafkan, kita tidak perlu lagi bertemu atau mengobrol lagi kaya dulu. Anggap saja kita tidak pernah kenal satu sama lain."


[Tapi Mel ...?]


"Sudah yah, Aron, jam istirahat aku udah habis. Aku tutup teleponnya sekarang."


[Mel ... ]


Amelia memutuskan sambungan teleponnya dengan amarah yang masih tertahan di wajahnya.


"Hei, Mel! Kamu kenapa?" Tiba-tiba Sofi yang baru datang dari kantin mengagetkannya.


"Ah, nggak kenapa-kenapa kok, Sof."


"Nggak kenapa-kenapa tapi mukanya kusut gitu. Kaya yang lagi marah."


"Masa sih?" ucap Amelia yang reflek memegang wajahnya.


"Iya. Abis berantem apa sama pacar kamu?"


"Hah, pacar apaan?" sahut Amelia gelagapan.


"Biasa aja reaksinya." Sofi sukses menggoda Amelia.


"Ih, dasar kamu, Sof!"


Sofi tertawa di balik meja kerjanya melihat wajah kesal Amelia yang telah ia jahili.


***


Cuaca alam tiba-tiba berubah ketika waktunya jam pulang kantor. Amelia yang baru saja selesai dengan tugas hariannya, memandang lemas saat di luar jendela ruangannya tetesan air hujan mulai turun membasahi bumi.


"Baru juga semangat karena hari ini nggak lembur, eh tetep aja mesti tunggu hujan reda dulu baru bisa pulang." Mesi yang berada tidak jauh dari meja Amelia, terdengar mengeluh karena turunnya hujan di saat mereka akan bersiap pulang.


"Ya kamu pulang aja, Mes, kok gitu aja repot," seru Abi yang masih belum selesai dengan tugasnya.


"Hujannya lumayan deres, Mas," sahut Mesi.


"Ya naik taksi aja, biar nggak kehujanan."


"Ide bagus tuh, Mas. Tapi aku bareng sama kamu aja yah, nanti kamu yang bayarin." Mesi terlihat terkekeh.


"Enak aja. Kamu bayar sendirilah," sewot Abi di seberang meja.


Semua yang mendengar percakapan mereka tak bisa menahan tawa.


Di saat mereka masih becanda ria sambil menunggu hujan reda, pintu ruangan manajer --Bu Susi-- tiba-tiba terbuka.


"Loh, ini masih pada betah kerja?"


"Masih deres, Bu, hujannya," jawab Mirna.


"Oh, pada takut basah yah?" sahut Bu Susi tersenyum.


Semuanya tertawa mendengar gurauan manajer mereka.


"Ada yang mau pulang bareng saya? Atau mau saya tambahin kerjaan biar pada lembur aja sekalian?" tanya sang manajer keuangan itu santai.


"Aku ambil pilihan yang pertama deh," seru Abi dari meja kerjanya.


"Oh, boleh. Ayo pulang bareng saya, Bi."


"Nggak kok, Bu, becanda. Kerjaan saya belum kelar, kecuali kalo ibu mau nungguin saya." Abi tertawa karena telah berani menggoda manajernya.


"Enak aja. Mending saya pulang duluan aja!" sahut Bu Susi pura-pura kesal. Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan divisi keuangan.


"Ibu pulang duluan yah, maaf nggak bisa nemenin kalian menunggu hujan reda, ada perlu soalnya, mesti buru-buru."


"Iya, Bu. Hati-hati di jalan." Kompak semuanya bersuara.


***