
Lampu-lampu kecil yang menghiasi sudut-sudut cafe, menambah kesan hangat dan romantis bagi setiap orang yang datang. Meski suasana di luar terlihat terang, karena waktu masih menunjukkan jam makan siang. Tapi suasana di dalam cafe terlihat cukup remang.
Cafe itu memang bukan dikhususkan bagi anak-anak muda saja. Orang-orang yang datang bersama keluarga pun ada. Karena konsep dari cafe ini memang mengusung tema kekeluargaan. Manajemen Cafe sepertinya ingin membuat tempat ini nyaman bagi siapa saja yang datang. Layaknya sebuah restoran pada umumnya namun ini adalah versi mini nya.
Kedua insan yang dipertemukan oleh suatu keadaan yang sulit untuk diterima oleh akal sehat, nampak mengisi salah satu meja yang berada di area outdoor cafe. Dirga dan Amelia.
Pada akhirnya, Amelia menerima tawaran dari Dirga untuk memberikan sedikit waktunya bagi pria di hadapannya itu. Dorongan hatinya yang membuat Ia menerima tawaran itu.
Masih dengan ekspresi kepura-puraan di wajahnya. Amelia sebisa mungkin menghindari tatapan dari Dirga. Meski pria itu terus saja melihatnya tanpa mengalihkan sedikit pun tatapannya ke arah yang lain.
Di sudut meja lain, Juna sang asisten masih setia menemani atasannya. Namun Ia sudah larut menikmati suasana cafe yang menenangkan sambil kedua matanya fokus ke layar ponsel di tangannya. Sejenak Ia bisa sibuk dan perhatian terhadap kehidupannya sendiri setelah seharian ini berkutat dengan kehidupan pekerjaan dan tentu saja kehidupan Bosnya itu. Ia tidak akan ambil pusing dengan apa yang akan dilakukan atasannya saat ini terhadap gadis yang ada di depannya itu.
Biar saja apa yang mau dan akan Bos lakukan.
"Nona Amelia?" tanya Dirga menyadarkan lamunan Amelia yang sedari tadi nampak tidak fokus di tempatnya.
"Ehm iya."
"Benarkah kamu tidak tahu siapa saya?" tanyanya to the point.
"Bapak Dirga Narendra. Bukankah tadi anda sudah mengenalkan diri anda pada saya."
Masih berusaha mengeles.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" masih memancing dan memastikan.
"Euh.. Maaf Pak, seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak pernah mengenal Bapak apalagi bertemu."
Apa yang sebetulnya ingin dibicarakan oleh orang ini.
"Lantas bagaimana kalau saya mengatakan, jika kita pernah bertemu sebelumnya?" senyum muncul di wajahnya, menunggu reaksi dari gadis itu.
Tuhan... Tolong aku....
"Apa kamu tidak mengingat sesuatu dengan mendengar nama saya?" masih mencecarnya.
Muka gadis itu terlihat semakin merah. Ia nampak terkejut dengan pertanyaan dari pria itu yang mengarah pada kejadian di malam lalu.
Oh Tidak, jangan raut wajah seperti itu yang kau tampakkan, Nona. Aku bisa membawamu ke kamar hotel lagi saat ini. Dirga
Aku harus bagaimana, dia sepertinya ingin memberitahuku bahwa Ia adalah pria yang membawaku ke hotel tempo hari. Amelia
"Maaf Pak, maksud anda apa yah?"
"Tolong jangan panggil saya Bapak, sepertinya saya belum terlalu tua mendapat panggilan itu," meski tidak suka tapi Dirga masih memperlihatkan senyuman manisnya.
"Tapi sepertinya anda adalah orang penting di PT. EsKa, tempat saya tadi melakukan panggilan interview. Bukankah saya memang harus menghormati anda?" jawab Amelia sopan.
"Tapi saat ini kita tidak sedang berada di dalam perusahaan. Lagipula nona Amelia masih sebatas calon pegawai saja bukan."
"Ehm iya. Tapi...."
"Tak perlu tapi-tapi, panggil saja saya Dirga. Karena saya rasa umur kita tidak berbeda jauh."
"Ya baiklah, jika itu mau anda," Amelia menyudahi perdebatan kecil tersebut.
"Jadi kembali ke pertanyaan saya tadi sebelumnya, apakah nona Amelia."
"Amelia saja," potong gadis itu.
Sebaris senyum nampak dari wajah Dirga.
"Apakah Amelia tidak teringat akan sesuatu hal setelah mendengar nama saya?"
"DNr....?" selanya.
"Apakah kamu masih belum mengingatnya juga?"
Seketika Amelia terkejut, feelingnya tepat bahwa pria di depannya ini ingin memberitahukan siapa Ia sebenarnya. Gadis itu tidak berani berbicara takutnya malah menjadi boomerang baginya.
"Hari sabtu malam minggu, hotel Zet?"
Dirga sungguh menikmati perubahan wajah dari gadis yang sudah berkali-kali membuat hatinya berdesir itu.
"Maaf," hanya kata itu yang Amelia ucapkan.
"Untuk apa?"
Maaf untuk apa? Aku sendiri tidak tahu. Lalu apa yang anda inginkan tuan tampan, bila kata maaf dariku tidak anda butuhkan. Amelia
Amelia terdiam. Takut mengeluarkan kata-kata yang salah lagi.
"Apakah sekarang kamu mau mengatakan bahwa kamu sudah mengingat saya?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
Amelia hanya bisa mengangguk pasrah. Anggukan yang sangat lambat.
"Apakah kamu baik-baik saja ketika bangun pagi kemarin?" Dirga bertanya perihal kondisinya setelah malam sebelumnya gadis itu kehilangan kesadaran akibat obat perangsang yang masuk ke dalam tubuhnya. Tatapan Dirga berubah sedikit sendu.
Apa??
"Apakah akal pikiran anda sehat sehingga bisa dengan mudahnya menanyakan hal yang demikian?" seketika Amelia seolah mendapat pecutan di wajah.
Namun sepertinya Ia salah menangkap maksud pertanyaan dari pria itu. Ia nampak sedikit emosi setelah mendengar barisan kata yang Dirga ucapkan.
"Tentu saja akal pikiran saya sehat. Apa maksud kamu menyangsikan kesehatan otak dan pikiran saya?" berusaha bersikap biasa, namun sedikit heran karena sepertinya gadis di depannya ini memberikan jawaban yang tidak nyambung.
"Maaf Bapak Dirga."
"Dirga..."
"Ya...Tuan Dirga yang terhormat, apa anda pikir saya akan baik-baik saja demi melihat keadaan tubuh saya pagi itu, ditambah kondisi dimana saya terbangun di atas tempat tidur kamar hotel?" katanya sambil mengecilkan volume suaranya.
"Apakah anda masih berpikir saya akan baik-baik saja ketika itu, demi menyadari saya seorang diri di kamar dan hanya ada catatan kecil dari seorang pengecut yang beraninya cuma membawa seorang gadis lalu pergi meninggalkannya tanpa berani mempertanggung jawabkan perbuatannya?"
Kedua bola matanya mulai tidak bisa dikondisikan. Rasa mengganjal yang ingin Ia lepaskan setelah sesi curhatnya selesai bersama sahabatnya, Boby kemarin, akhirnya Ia tumpahkan saat ini pada orang yang sejujurnya memang ingin Ia temui.
Beberapa pertanyaan yang muncul di kepalanya sejak kemarin, ingin Ia keluarkan seluruhnya.
Amelia sendiri tidak tak tahu, perasaan apa yang ada dalam dirinya saat ini, ketika sosok pria yang membawanya ke kamar hotel kemarin, berada duduk di hadapannya saat ini.
Perasaan malu, marah atau kah mungkin perasaan ingin mengucapkan terimakasih atas inisiatif pria itu yang berusaha menyelamatkan nya kala itu.
Lihat.. bisa-bisanya Ia tersenyum. Amelia
"Sepertinya kamu salah mengartikan pertanyaan saya," sahut Dirga.
"Apa maksud anda?" Amelia terheran.
"Saya menanyakan kondisi tubuh kamu saat bangun, karena malam sebelumnya saya membawa kamu dalam keadaan tubuh yang tidak baik. Kamu terlihat lemah dan menderita ketika saya mengangkat dan membawa kamu ke hotel."
"Ah maaf," Amelia merasa ingin mencari lubang persembunyian saja saat ini serta memasukkan wajah malu nya di sana.
***