My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Ternyata?



"Ada apa ini?" seru seseorang yang ada di depan pintu.


Semua orang yang ada di dalam melihat ke arah asal suara. Di sana berdiri seorang wanita yang terlihat heran karena melihat ruangannya seolah tak berpenghuni.


"Bu Susi!" Kompak semuanya.


Mereka memberi akses bagi sang manajer, yang berjalan menghampiri kerumunan. Saat tiba di tengah-tengah kerumunan yang terjadi, Bu Susi semakin heran dengan pemandangan yang nampak di depannya.


Seorang gadis yang merupakan anak buahnya, tengah terduduk seolah sedang disidang oleh beberapa karyawan lainnya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Bu Susi kepada semua yang berada di sana.


Tak ada yang menjawab, semua terdiam. Semenit, dua menit, hingga lima menit tak muncul juga suara yang menjawab pertanyaannya. Semua terdiam dan sama-sama menunduk.


"Mirna! Ada apa ini?" Pada akhirnya, sang sekertaris menjadi tujuan Bu Susi untuk jadi juru bicara.


"Tidak ada apa-apa, kok, Bu Susi!" jawab Mirna.


"Kenapa dengan Amelia?" tanya Bu Susi lagi.


"E-eh, maaf Bu, tapi sebetulnya ini tidak seperti yang ibu bayangkan."


"Memangnya kamu tahu saya membayangkan apa?"


"E-eh ... maaf, saya tidak tahu, Bu." Mirna kembali terdiam.


"Lalu, kalau tidak ada apa-apa, kenapa kalian tidak bekerja, tapi malah mengerubungi Amelia seperti ini? Apakah ia tengah melakukan kesalahan, sehingga kalian menyidangkannya?" tanya Bu Susi masih dengan nada yang biasa saja.


"Tidak, Bu. Maaf." Suara Mesi kini.


Di tengah kebingungan sang manajer, tiba-tiba bunyi suara telepon di atas meja Mirna mengagetkan semua yang ada di sana.


"Ya selamat pagi, dengan divisi keuangan di sini." Mirna menjawab panggilan telepon setelah mendapat kode dari sang manajer.


"Eh, Pak Dirga. Eh, maaf, Pak. Iya sebentar." Mirna menatap Bu Susi, "Pak Dirga ingin bicara dengan Ibu!" ucap Mirna sembari memberikan telepon kepada Bu Susi.


Dengan raut heran dan terkejut, ibu manajer menerima gagang telepon yang diberikan oleh sekertarisnya.


"Selamat pagi, Pak Dirga!"


[Selamat pagi, Bu Susi. Apakah Anda baru sampai kantor?]


"Iya, Pak Dirga, betul. Saya baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Maaf Pak Dirga, apakah ada yang bisa saya bantu? sampai Bapak menghubungi saya pagi-pagi begini?"


[Mungkin sedikit bantuan yang saya butuhkan dari Bu Susi.]


"Iya, Pak Dirga."


[Tadi saya baru saja dari ruangan divisi keuangan.]


"E-eh, apakah Bapak mencari saya?"


[Oh, tidak. Bukan. Saya kesana karena saya mengantar kekasih saya ke tempatnya bekerja!]


"E-eh, apa?" Bu Susi nampak terkejut. Namun beberapa saat kemudian, sepertinya ia mulai mengerti situasi serta kondisi yang saat ini tengah terjadi di ruangannya.


[Saya rasa, Bu Susi paham maksud dari bantuan yang saya bicarakan!]


"Ah, iya. Sepertinya saya sudah paham."


[Baiklah kalau begitu, saya rasa, saya tidak perlu menjelaskan secara detail apa yang ingin saya sampaikan. Saya bersyukur Bu Susi mengerti akan maksud dari pembahasan ini.]


"Iya, Pak Dirga."


[Kalau begitu, terimakasih sebelum dan sesudahnya atas bantuan yang Bu Susi akan lakukan untuk saya.]


"Sama-sama, Pak Dirga." Ditaruhnya kembali gagang telepon kantor pada tempatnya.


"Apa yang ingin kalian tanyakan pada Amelia, sekarang bisa kalian tanyakan juga kepada saya!" Bu Susi menatap satu persatu karyawannya, terutama para wanita yang saat ini nampak penasaran dengan sesuatu hal yang masih membutuhkan jawaban pasti.


"Apakah betul kalau Amelia adalah kekasih Pak Dirga, pemimpin kita?" tanya Mesi akhirnya, sedari tadi memang ia yang nampak terlihat penasaran.


"Iya, kamu betul, Mesi!" Bu Susi menatap Mesi seperti Mesi menatapnya.


Suara hening tadi kini berubah menjadi keriuhan. Namun Amelia masih enggan mengangkat wajahnya. Saat ini ia sudah tidak mau memikirkan apapun juga.


"Apakah ini sebuah masalah untuk kalian?" tanya Bu Susi, tajam tanpa basa-basi.


"Tidak, Bu. Kami tidak masalah sama sekali. Justru kami sangat senang." Mesi dan yang lainnya kini menampakkan wajah senang dan antusias.


"Ya ampun, Mel. Kenapa selama ini kamu enggak bilang sama kita-kita?" Felis menyahuti.


"Ho-oh!!" timpal yang lainnya.


Suasana yang kini nampak di dalam ruangan divisi keuangan, ternyata jauh berbeda dari yang Amelia bayangkan sejak tadi. Kini gadis itu berani mengangkat wajahnya, menatap wajah-wajah teman kerjanya.


Ya, mereka nampak bahagia. Bukan wajah kemarahan yang ada dalam mimik muka teman-temannya saat ini, seperti yang Amelia bayangkan sedari malam kemarin.


Sofi mendekati Amelia, "kamu pinter banget sih, Mel, nyimpen semuanya tanpa aku tahu!"


Gadis itu bingung bagaimana harus menjawab dan bersikap. Ia hanya mampu tersenyum, senyuman yang sebetulnya ia sendiri tidak tahu untuk apa.


Ruangan itu kini telah berubah suasana. Suasana yang sangat berbeda sejak kedatangan Dirga dengan segala kehebohan yang ia timbulkan.


***


"Sepertinya aku harus membicarakan keinginan untuk menikahi Amelia kepada kedua orangtuaku." Dirga berbicara pada Juna disaat mereka tengah mengerjakan dokumen-dokumen penting perusahaan.


"Iya, Pak," jawab Juna.


"Ah iya, apakah ada perkembangan terbaru dari kasus kemarin?" tanya Dirga seolah diingatkan sesuatu hal penting lainnya.


"Saya mendengar kabar terbaru dari tim pengacara, jika sempat akan ada yang menjamin penangguhan penahan bagi lelaki itu, Pak!"


Dirga menghentikan aktifitasnya saat mendengar informasi yang diberikan asistennya.


"Siapa yang hendak menjamin lelaki brengsek itu?" Ada raut kemarahan di wajah Dirga.


"Sepertinya orangtuanya, Pak!"


"Kurang ajar! Lantas?"


"Pihak kepolisian tidak memberikan hak itu, Pak. Karena untuk kasus seperti ini, tidak mudah bagi para pelaku mendapatkan jaminan penangguhan apalagi kebebasan, apalagi jika bukti dan saksi sangat cukup."


"Bagus! Jangan sampai lelaki itu bebas sebelum menerima hukumannya. Aku mengandalkanmu untuk mengurus masalah ini."


"Siap, Pak!"


Teet! Teet! Teet!


Terdengar bunyi telepon di atas meja Dirga.


"Ya!" Juna yang mengangkat.


[Maaf, Mas Juna. Ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Bapak Dirga. Saat ini dia sedang menunggu di lobi.]


"Siapa? Apakah dia sudah ada janji sebelumnya?"


[Menurut catatan yang aku punya, Pak Dirga hari ini tidak memiliki janji dengan siapapun!]


"Siapa memangnya orang itu?"


***